Dokter jaga istana datang dengan napas terengah dan tas peralatan di tangan. Namanya dokter Hanafi—laki-laki lima puluhan dari tim dokter kepresidenan yang sudah bertahun-tahun mendampingi Adam, dan yang kini memandang Aroha dengan raut yang tidak bisa ia sembunyikan: raut orang yang tahu sesuatu.
Pemeriksaan di anak tangga itu berlangsung cepat. Nadi, tekanan darah, rekaman jantung dari alat kecil yang ia keluarkan dari tasnya. Aroha membaca garis-garis di layar alat itu dari balik bahu sang dokter, dan setiap garis yang ia baca membuat tengkuknya semakin dingin.
“Stabil untuk sekarang,” kata dokter Hanafi akhirnya. “Bapak harus istirahat total. Besok pagi kita lakukan pemeriksaan lanjutan.”
“Dokter.” Aroha tidak memakai suara anak. Ia memakai suara residen tahun kelima yang sudah ratusan kali berdiri di samping ranjang pasien jantung. “Saya residen bedah toraks kardiak vaskular. Saya mau lihat semua hasil pemeriksaan Ayah sebelumnya.”
Dokter Hanafi menoleh kepada Adam. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara. Lalu Adam mengangguk, sangat pelan, seperti orang yang akhirnya meletakkan barang yang terlalu lama ia pikul sendirian.
Mereka memindahkan Adam ke sofa panjang di ruang kerjanya yang tidak jauh dari ujung tangga, karena kamar tidur di ujung lorong terasa terlalu jauh. Dokter Hanafi pergi mengambil berkas. Aroha duduk di lantai di samping sofa itu, masih menggenggam botol kecil yang tadi menggelinding ke kakinya.
“Nak,” bisik Adam. “Jangan bilang ibumu dulu. Biar Ayah yang—”
“Nggak, Yah.”
“Aro—”
“Bilang apa ke Ibu?”
Mereka berdua menoleh ke pintu. Revana berdiri di sana dengan kimono tidur dan rambut yang belum disisir, wajahnya pucat seperti orang yang terbangun oleh suara langkah tergesa di lorong dan sudah menduga yang terburuk di sepanjang jalan menuju ruangan itu.
Tidak ada yang menjawab. Revana melihat suaminya di sofa, melihat putrinya di lantai, melihat botol di tangan putrinya. Ia mengerti sebelum siapa pun membuka mulut.
“Mas,” katanya. Hanya itu.
Adam menutup mata. Ketika membukanya lagi, ia menceritakan semuanya.
Tentang peresmian bendungan hampir lima bulan lalu, ketika dadanya terasa diremas di depan podium dan pandangannya mulai berbintik. Tentang pemeriksaan-pemeriksaan sesudahnya yang dilakukan diam-diam, pada malam hari, di ruang medis istana dan sekali di rumah sakit militer dengan nama samaran. Tentang hasilnya: beberapa pembuluh darah jantungnya menyempit, dua di antaranya parah. Tentang saran tim dokter yang sejak awal sama—operasi bypass, secepatnya.
“Lalu kenapa belum?” Suara Revana bergetar.
“Karena pelantikan tinggal beberapa bulan.” Adam menatap langit-langit. “Presiden yang dioperasi jantung menjelang akhir masa jabatan, Ren. Bayangkan pasar. Bayangkan lawan-lawan politik. Bayangkan masa transisi yang seharusnya tenang berubah jadi pertanyaan siapa yang sebenarnya memimpin negara. Dokter bilang kondisiku bisa dijaga dengan obat dan istirahat sampai saat itu. Jadi aku menjadwalkannya seminggu setelah pelantikan.”
“Itu dua bulan lagi,” kata Aroha.
“Dua bulan lebih sedikit.”
“Dan Ayah baru kambuh malam ini?”
Adam diam terlalu lama.
“Yang ketiga,” akhirnya ia mengaku. “Yang kedua di tanggul, waktu kunjungan banjir. Ayah tidak lapor ke dokter.”
Aroha memejamkan mata. Di kepalanya, ia melihat ayahnya mendaki tanggul berlumpur di bawah terik dengan pembuluh darah jantung yang nyaris tertutup, lalu menolak naik mobil. Ia ingin berteriak. Ia ingin menangis. Ia tidak melakukan dua-duanya, karena dokter Hanafi kembali dengan tablet dan map tebal, dan tangannya yang terlatih sudah lebih dulu meraih semua itu.
Ia membaca setiap halaman dalam diam. Hasil kateterisasi. Gambaran pembuluh darah. Catatan tim dokter dengan tanggal-tanggal yang semuanya jatuh sesudah peresmian bendungan. Ia membaca seperti membaca berkas pasien mana pun, dan justru karena itu setiap angka terasa seperti pisau.
Kondisi ini bisa ditangani. Ia tahu itu. Ia sudah melihat puluhan pasien dengan gambaran serupa keluar dari ruang operasi dan pulang berjalan kaki. Ia juga tahu persis apa yang bisa terjadi selama dua bulan menunggu.
Ia mengangkat wajah dan menatap dokter Hanafi. “Dokter tahu saya residen BTKV. Dokter tahu saya pulang ke rumah ini hampir tiap minggu.”
Dokter Hanafi tidak menghindar dari tatapan itu. “Bapak pasien saya, Dok. Beliau meminta kerahasiaan, dan permintaan itu saya catat di rekam medisnya.” Ia diam sebentar. “Tapi saya juga sudah tiga kali meminta Bapak memberi tahu keluarga. Yang terakhir minggu lalu.”
Aroha ingin marah kepada laki-laki di depannya. Ia ingin marah kepada seluruh tim dokter yang selama ini tersenyum sopan kepadanya di lorong istana. Ia mencari-cari tempat yang adil untuk meletakkan marah itu, dan untuk saat ini, ia membiarkan dirinya marah tanpa tempat.
Di sofa, Revana duduk di samping suaminya. Ia tidak berteriak. Ia tidak memukul. Ia hanya memegang tangan Adam dan menatapnya dengan mata yang basah.
“Kamu bicara soal mati di depan anakmu,” katanya lirih. “Di kamarnya. Di depanku. Tapi kamu nggak bicara soal ini sama aku.” Suaranya pecah. “Lima bulan, Mas. Kamu tidur di sebelahku setiap malam selama lima bulan.”
“Aku takut, Ren.”
“Aku juga bisa takut. Kamu nggak kasih aku kesempatan.”
“Maaf.”
“Maafmu nanti.” Revana menyeka matanya dengan ujung lengan kimono, lalu meraih selimut tipis dari sandaran sofa dan membentangkannya di atas kaki suaminya dengan gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali selama tiga puluh lima tahun. “Sekarang kamu diam dan istirahat. Marahku juga nanti.”
Aroha menurunkan tablet itu ke pangkuannya. Kalimat ayahnya hampir dua bulan lalu kembali kepadanya, utuh, di rumah yang sama tempat ia dulu berteriak memotongnya. Permintaan pertama dan terakhir sebelum Ayah mati.
“Jadi itu,” katanya. “Itu sebabnya Ayah tiba-tiba ngedesak. Itu sebabnya Ayah ngomong soal mati.”
Adam menatap putrinya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis.
“Ayah takut tidak sempat melihat kamu didampingi orang yang tepat.”
“Aku nggak butuh didampingi, Yah. Aku butuh Ayah jujur.”
“Ayah tahu.” Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, gerakan yang membuatnya terlihat jauh lebih tua dari umurnya. “Kalau bukan karena Alvar siang itu, mungkin sampai sekarang Ayah sendiri belum tahu ada yang salah.”
Aroha berhenti bernapas sejenak.
“Mas Alvar?”
“Dia yang memanggil dokter di bendungan. Padahal Ayah sudah melarangnya.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi. Aroha menatap ayahnya, lalu menatap botol kecil yang masih ada di genggamannya, lalu menatap jendela yang gelap.
Besok pagi Alvar bertugas di istana. Aroha hafal jadwalnya, sama hafalnya seperti ia hafal jadwal ruang operasi.
Malam itu ia tidak tidur sama sekali.