Dua hari, kata Aroha waktu itu. Ia menepatinya.
“Mas, bisa ke kedai yang kursinya goyang jam lima sore? Saya udah punya jawaban.”
Balasan datang dalam empat menit.
“Bisa, Mbak.”
Tanpa jam pilihan. Tanpa hormat saya. Aroha menatap dua kata itu dan memutuskan bahwa laki-laki ini sudah belajar jauh lebih cepat daripada yang ia kira.
Kedai itu sepi seperti biasa pada Selasa sore. Alvar sudah duduk di meja sudut ketika Aroha datang, dengan teh yang gulanya dipisah dan es kopi susu yang sudah dipesan untuknya—esnya sedikit, persis seperti yang selalu ia minta kepada pelayan. Kursinya tetap goyang. Beberapa hal memang tidak perlu berubah.
Aroha duduk, menarik napas, dan memutuskan untuk tidak membuang waktu dengan basa-basi yang akan membuat keberaniannya bocor di tengah jalan.
“Saya terima, Mas. Arah yang Mas bilang hari Minggu. Saya terima.”
Alvar tidak tersenyum lebar. Ia hanya diam, lalu bahunya turun perlahan seperti orang yang baru sadar sejak dua hari lalu ia lupa membuang napas.
“Tapi Mas harus dengar alasannya sampai habis,” lanjut Aroha, “supaya nggak ada versi lain di kepala Mas.”
“Saya dengar, Mbak.”
“Saya nggak terima supaya Ayah diem. Kalau itu alasannya, saya udah bilang iya di bukit itu, waktu saya ngelempar ajakan ke muka Mas.” Aroha memutar gelasnya. “Saya terima karena lima minggu ini. Karena Mas nggak pernah nyuruh saya milih antara Mas dan rumah sakit. Karena Mas nolak digeser jadwalnya padahal Ayah yang nawarin. Karena Mas balik lagi ke kedai ini cuma buat ngebungkus es kopi saya yang tinggal setengah.” Ia berhenti, malu pada daftarnya sendiri. “Dan karena di depan cermin itu Mas niruin teriakan saya, dan saya nggak pengin ngubur diri. Saya malah ketawa.”
Alvar menunduk sebentar. Ketika ia mengangkat wajah, matanya sedikit basah, dan ia tampak sangat kesal pada dirinya sendiri karena itu.
“Terima kasih, Mbak.”
“Satu lagi.” Aroha menegakkan punggung. “Aku capek pakai saya sama Mas. Kayak lagi rapat. Boleh aku pakai aku?”
Alvar mengerjap. “Boleh, Mbak.”
“Mas tetep boleh pakai saya. Itu udah Mas banget.”
“Saya akan tetap pakai saya.”
“Iya, aku tahu.”
Tawa mereka pecah kecil di atas meja yang goyang. Lalu mereka sepakat tentang hal yang lebih praktis: untuk sementara, kabar ini tetap milik mereka berdua. Mereka akan memberi tahu Ayah dan Ibu bersama-sama, di rumah, ketika keduanya siap—bukan lewat orang Biro Pers, bukan lewat grup obrolan residen, dan jelas bukan lewat akun gosip.
“Ayah pasti langsung mau ngundang seribu orang,” kata Aroha.
“Bapak pasti langsung mau mengundang seribu orang,” ulang Alvar, lalu menambahkan dengan wajah datar, “dan menyuruh saya mengamankan semuanya.”
Aroha tertawa lagi, lebih keras kali ini, sampai pelayan di balik meja kasir ikut tersenyum tanpa tahu sebabnya.
“Kapan kita bilang ke mereka?” tanya Aroha setelah tawanya reda.
“Kalau Mbak sudah siap.”
“Kalau aku nggak siap-siap?”
“Saya tunggu sampai Mbak bosan tidak siap.”
Aroha menggeleng, masih tersenyum. “Bulan depan, ya. Sesudah jadwal Ayah agak longgar. Akhir-akhir ini Ayah gampang capek, kata Ibu. Biar Ayah dengar kabar baik waktu badannya lagi enak.”
Alvar mengangguk. Sesuatu melintas di wajahnya sebentar—seperti bayangan awan yang lewat di atas lapangan—lalu hilang sebelum Aroha sempat bertanya.
“Mbak,” kata Alvar ketika gelas mereka hampir kosong. Suaranya lebih rendah daripada biasanya. “Boleh saya pegang tangan Mbak?”
Aroha menatapnya. Laki-laki yang pernah terjun dari pesawat dan berjalan di atas tanggul jebol di depan ribuan orang itu kini meminta izin dengan telinga semerah cabai.
Ia meletakkan tangannya di atas meja, telapak terbuka.
Genggaman Alvar canggung, terlalu hati-hati, seperti orang yang memegang sesuatu yang bisa pecah. Lalu perlahan genggaman itu mengendur, dan tangannya ternyata hangat.
Mereka duduk seperti itu sampai es di gelas Aroha mencair seluruhnya. Tidak banyak yang mereka bicarakan sesudahnya. Untuk pertama kalinya, Aroha tidak merasa perlu mengisi diam dengan apa pun.
***
Aroha pulang ke istana hampir pukul setengah sebelas malam, setelah mampir ke rumah sakit untuk menengok satu pasien yang demamnya belum turun. Sepanjang jalan ia menyetir dengan radio menyala keras dan ikut bernyanyi, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak masih kuliah. Lagu yang diputar bahkan bukan lagu yang ia suka. Ia tetap hafal semua liriknya.
Rumah itu sudah redup. Penjaga di pos depan membukakan gerbang sambil menahan kuap, dan lampu-lampu lorong menyala setengah, seperti setiap malam.
Ia melepas sepatu di bawah tangga dan mulai naik dengan langkah pelan, masih tersenyum pada sesuatu yang belum bisa ia ceritakan kepada siapa pun malam itu.
Di tengah tangga, langkahnya terhenti.
Ia mendengarnya lebih dulu sebelum melihatnya—bunyi napas yang berat dan tersendat-sendat, bunyi yang terlalu sering ia dengar di bangsal pada jam-jam seperti ini, dan tidak pernah sekali pun ia bayangkan akan ia dengar di rumahnya sendiri.
Ayahnya duduk di anak tangga kesepuluh.
Satu tangannya mencengkeram pegangan tangga sampai buku-buku jarinya memutih. Tangan yang lain menekan dada, tepat di tengah. Wajahnya kelabu di bawah lampu kuning, keringat membasahi pelipis dan kerah piyamanya, napasnya pendek-pendek dan putus. Ia sedang merogoh saku jubah tidurnya dengan gerakan yang terlalu gemetar, dan sesuatu jatuh dari jarinya.
Botol kecil itu menggelinding menuruni anak tangga, satu, dua, tiga, lalu berhenti tepat di depan kaki Aroha.
Aroha memungutnya. Ia membaca labelnya sekali, dan dunia di sekelilingnya mendadak menjadi sangat jernih dan sangat dingin.
Ia mengenal obat itu. Ia menuliskannya untuk pasien-pasiennya hampir setiap minggu.
“Ayah, jangan bergerak.”
Suaranya keluar tenang—suara yang sama yang ia pakai di IGD, yang tidak memberi ruang untuk ditawar. Ia naik dua anak tangga sekaligus, berlutut di samping ayahnya, meraba nadi di pergelangan tangannya sambil menghitung dalam hati. Ia menyelipkan sebutir obat itu ke bawah lidah ayahnya, menahan punggungnya supaya tetap bersandar ke dinding, lalu menekan tombol interkom di ujung pegangan tangga.
“Pos dalam. Panggil dokter jaga ke tangga utama. Sekarang.”
“Jangan…” Napas Adam masih tersengal. “Jangan bangunkan ibumu.”
“Diam dulu, Yah. Tarik napas pelan.”
Detik-detik itu terasa seperti jam. Aroha terus menghitung nadi ayahnya, mengawasi warna bibirnya, mendengarkan napasnya yang perlahan, sangat perlahan, mulai panjang kembali. Ketika langkah-langkah tergesa terdengar dari arah sayap timur, wajah Adam sudah tidak sekelabu tadi. Tangannya yang mencengkeram pegangan tangga perlahan mengendur.
Aroha masih berlutut di sana dengan botol kecil di genggamannya. Tangannya baru mulai gemetar sekarang, setelah semua yang perlu dilakukan sudah dilakukan.
“Ayah,” bisiknya. “Sejak kapan?”