Foto itu bertahan di beranda media sosial selama delapan hari, lalu tenggelam oleh berita lain—seorang menteri yang salah bicara, seekor buaya yang masuk ke kolam renang warga, dan harga cabai yang naik dua kali lipat. Aroha belum pernah sebersyukur itu pada seekor buaya.
Lima minggu berikutnya berjalan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: pelan, kecil-kecil, dan anehnya tidak membosankan. Mereka bertemu di kedai yang kursinya goyang, di warung nasi telur, sekali di bangku depan IGD selama dua puluh menit yang tersisa di antara dua operasi. Beberapa janji batal—dua karena rumah sakit, satu karena kunjungan kerja—dan setiap pembatalan datang lebih dulu sebelum jamnya lewat. Pada minggu ketiga, Aroha mengganti nama kontak Mas Alvar (Laporan) menjadi Mas Alvar saja, setelah laki-laki itu berhasil mengirim tiga pesan berturut-turut tanpa kata hormat saya.
Lalu Ibu mengundang Alvar minum teh di istana pada hari Minggu, di hari liburnya. Sebagai tamu.
Alvar datang lewat gerbang depan untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Penjaga di pos memberi hormat dengan kebingungan yang ditahan, dan Bi yang membukakan pintu utama menatapnya dari kepala sampai kaki.
“Lho, Mas Alvar lewat depan?”
“Hari ini lewat depan, Bi.”
Revana menunggu di ruang tengah dengan satu teko teh dan sepiring kue lapis. Adam tidak ada di sana.
“Ayahmu tidur siang,” katanya kepada Aroha sebelum putrinya sempat bertanya. “Katanya pusing sedikit. Akhir-akhir ini gampang capek.” Lalu ia menoleh ke tamunya dengan senyum lebar. “Mas Alvar, duduk. Hari ini kamu tamu Ibu, bukan tamu Bapak.”
Alvar duduk di sofa, di tepinya saja, lalu memaksakan diri bergeser lebih ke dalam ketika melihat Aroha mengangkat alis.
“Ibu sudah kenal kamu dua tahun,” kata Revana sambil menuang teh. “Tapi baru hari ini kamu duduk di kursi itu sebagai tamu.”
“Biasanya saya berdiri di sana, Bu.” Alvar menunjuk ambang pintu ruang tengah dengan dagunya. “Di sebelah kanan.”
“Mulai hari ini, kalau bukan sedang tugas, kamu duduk.”
Alvar menyesap tehnya. Manisnya menyerang lidah lebih dulu sebelum rasa teh sempat muncul. Wajahnya berusaha tetap netral, dan hanya berhasil jujur.
“Manisnya… jelas, Bu.”
Revana tertawa sampai cangkirnya bergetar. “Itu cara paling sopan buat bilang kemanisan yang pernah Ibu dengar. Yang berikutnya Ibu kurangi gulanya.”
Mereka bicara tentang hal-hal yang kecil. Tentang kucing oranye yang tidak pernah muncul di taman. Tentang Purworejo, warung pecel ibu Alvar, dan bagaimana ibunya ternyata lebih dulu tahu siapa ayah Aroha dari ponsel tetangga daripada dari mulut anaknya sendiri. Tentang Aroha kecil yang pernah menjatuhkan sendok ke dalam gelas susu, lalu memancingnya dengan sendok lain, sampai dua sendok tenggelam di sana. Aroha memprotes keras. Alvar tidak berani tertawa sampai Revana tertawa lebih dulu.
Ketika Revana pergi ke dapur untuk menyeduh teh baru, Aroha mengajak Alvar berkeliling rumah yang sebenarnya sudah Alvar kenal sudut demi sudutnya—hanya saja selalu dari posisi berjaga.
Di lorong menuju kamar-kamar, langkah mereka melambat dengan sendirinya.
Cermin besar itu masih tergantung di tempat yang sama.
“Di sini,” kata Aroha. Ia menatap pantulan dirinya—rambut tergerai rapi, kemeja bersih, wajah sudah dipoles tipis—dan entah kenapa tetap merasa versi lama dirinya berdiri di sebelahnya dengan piyama kusut. “Jangan diinget-inget, Mas.”
“Saya ingat, Mbak.”
“Kan saya bilang jangan—”
“Itu perintah paling jelas yang pernah saya terima dari Mbak.” Alvar menegakkan badan, dan dengan suara yang nyaris sempurna menirukan teriakan Aroha pagi itu, ia berkata, “Alihin pandangan kamu! Sekarang juga!”
Aroha memekik dan memukul lengannya. Alvar tidak menghindar. Untuk pertama kalinya Aroha mendengar laki-laki itu tertawa sungguhan—tawa yang rendah dan tertahan, seperti barang yang lama disimpan di laci dan tiba-tiba terjatuh keluar.
“Mas jahat!”
“Saya langsung berbalik, Mbak. Seperti yang diperintahkan.”
“Kalian ngapain di lorong?” Suara Revana terdengar dari ujung. “Tehnya keburu dingin!”
***
Teras belakang menghadap kebun yang turun landai ke arah perbukitan. Revana memberi mereka teh yang gulanya sudah dikurangi, lalu menghilang ke dalam dengan alasan yang terlalu jelas dibuat-buat.
Mereka duduk berdampingan di bangku kayu. Matahari sore jatuh miring di antara pohon cengkih. Alvar sudah dua kali membuka mulut dan dua kali menutupnya lagi.
Aroha menunggu. Ia sudah cukup lama mengenal laki-laki ini untuk tahu bahwa kalimat penting darinya selalu datang setelah dua kali gagal, seperti mesin tua yang perlu dicoba dinyalakan berkali-kali. Di bawah sana, seorang tukang kebun memetik cengkih dengan galah panjang, dan bau rempah yang manis naik bersama angin sore.
“Mas mau ngomong sesuatu,” kata Aroha. Bukan pertanyaan.
“Iya, Mbak.” Alvar meletakkan cangkirnya di lantai, lalu meluruskan punggung, lalu sadar dan melonggarkannya lagi. “Saya tidak membawa catatan. Saya sempat menulisnya, tapi bunyinya seperti laporan, jadi saya buang.”
“Bagus.”
“Saya suka sama Mbak.”
Kalimat itu tidak ia besarkan. Ia mengucapkannya dengan suara biasa, seolah menyebutkan cuaca, dan justru karena itu Aroha merasa jantungnya tersandung.
“Bukan karena saya sering berada di dekat ayah Mbak,” lanjut Alvar. “Bukan karena ada yang meminta. Saya suka Mbak sesudah kita kenal. Sesudah pesan yang salah bentuk, sesudah es kopi yang tidak dingin, sesudah Mbak hampir membatalkan semuanya di tangga dan tetap datang.” Ia menarik napas. “Dan saya ingin hubungan ini menuju pernikahan, kalau Mbak juga menghendaki. Ini bukan lamaran. Lamaran punya waktunya sendiri. Hari ini saya hanya mengatakan arah.”
Aroha tidak bisa bicara.
“Mbak boleh menolak,” lanjutnya, lebih lirih. “Mbak boleh bilang kenalan sudah cukup. Apa pun jawaban Mbak, tidak ada yang berubah di pekerjaan saya, dan tidak boleh ada yang berubah di hidup Mbak karena itu.”
Angin menggerakkan daun-daun cengkih. Di dalam dadanya, Aroha menemukan tiga jawaban yang saling bertabrakan. Ya, karena ia memang ingin. Belum, karena dadanya mendadak sesak oleh sesuatu yang belum sempat ia beri nama. Dan satu suara kecil yang masih ingat bahwa semua ini dimulai dari desakan di kamarnya sendiri, hampir dua bulan lalu. Ketiganya benar, dan justru karena itu tidak satu pun cukup jujur untuk diucapkan sendirian detik itu.
“Kasih saya waktu, Mas.”
“Selama yang Mbak perlukan.”
“Dua hari.” Aroha menatap cangkirnya. “Saya yang nagih diri saya sendiri. Bukan Mas.”
Alvar mengangguk. Ia tidak menggeser duduknya lebih dekat. Ia tidak bertanya lagi.
Ketika Alvar pamit menjelang magrib, Aroha mengantarnya sampai teras depan. Dari sana, Aroha sempat melihat ke jendela lantai dua. Ayahnya berdiri di balik kaca ruang kerja, melambai kecil kepada mereka. Wajahnya tampak pucat di bawah lampu yang baru dinyalakan, tapi mungkin itu hanya pantulan cahaya sore.
Aroha melambai balik, lalu melupakannya.