Pintu ruang kerja Ayah tidak tertutup rapat. Aroha mendengar suara itu sebelum sempat mengetuk—suara laki-laki muda yang terlatih, rapi, penuh angka.
“…respons publik sejauh ini tujuh puluh persen positif, Pak. Ini momentum yang jarang. Di masa transisi seperti sekarang, cerita keluarga yang hangat bisa menutup pemberitaan yang kurang menguntungkan. Kami mengusulkan pernyataan singkat yang mengonfirmasi hubungan, lalu sesi foto keluarga bersama Letkol Alvar di taman belakang istana. Suasananya santai, tidak terkesan diatur, dan—”
Aroha mendorong pintu itu sampai terbuka penuh.
“Nggak.”
Tiga kepala menoleh. Ayah di balik meja kerjanya. Seorang laki-laki berkemeja batik dari Biro Pers dengan tablet di pangkuan. Dan Prabu, yang berdiri di dekat jendela dengan wajah orang yang berharap bisa menghilang ke balik tirai.
“Aroha—”
“Ini yang aku takutin dari awal, Yah.” Suaranya bergetar, dan ia benci itu. “Dari malam itu. Aku bilang aku nggak mau jadi komoditas publik buat reputasi Ayah. Ayah bilang ini bukan soal itu. Terus sekarang ada orang di ruang kerja Ayah ngitung persen komentar orang soal sarapanku.”
Laki-laki dari Biro Pers berdiri dengan sopan. “Mohon maaf, Mbak Aroha. Ini baru sebatas usulan, belum ada—”
“Saya belum menyetujui apa pun,” potong Adam.
Ia tidak menatap putrinya ketika mengatakannya. Ia menatap laki-laki berkemeja batik itu, dan suaranya berubah menjadi suara yang biasa Aroha dengar dari televisi—tenang, berat, dan tidak memberi ruang untuk ditawar.
“Dan sekarang saya menolak usulan itu. Tanpa pernyataan, tanpa sesi foto. Istana tidak mengonfirmasi dan tidak membantah apa pun. Kehidupan pribadi anak saya bukan urusan negara.” Ia diam sebentar. “Dan bukan bahan citra saya.”
“Baik, Pak.”
“Terima kasih atas kerja kerasmu. Saya tahu niatmu baik.”
Laki-laki itu mengangguk, membereskan tabletnya, dan keluar. Prabu menyusul setelah melempar tatapan minta maaf kepada Aroha—tatapan yang membuat Aroha curiga laki-laki itu sejak tadi ikut menahan usulan yang sama.
Pintu tertutup. Ruangan itu mendadak terlalu sunyi.
Adam bangkit dari kursinya pelan-pelan, berjalan memutari meja, dan berhenti di depan putrinya. Ia tidak marah. Itu yang membuat Aroha ingin menangis.
“Kamu benar-benar berpikir Ayah akan melakukannya?”
Aroha menunduk. “Aku pernah mikir gitu, Yah. Malam itu. Sampai tadi pagi juga.” Ia menelan ludah. “Maaf.”
“Ayah yang minta maaf.” Adam meletakkan tangan di pundaknya. “Ayah memang pernah ingin seluruh negeri tahu putri Ayah bahagia. Itu benar. Tapi Ayah salah kalau mengira bahagia itu perlu disaksikan banyak orang supaya sah.” Ia tersenyum, lelah. “Foto itu milikmu. Bukan milik Ayah, bukan milik istana.”
Aroha mengangguk tanpa bisa bicara. Ayahnya memeluknya sebentar, canggung seperti semua pelukan yang terlambat beberapa tahun, lalu melepaskannya.
“Makan dulu. Ibumu sudah tiga kali ke sini nanyain kamu.”
Di meja makan, Revana menyendokkan nasi ke piring putrinya tanpa bertanya mau atau tidak.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “waktu ayahmu pertama kali dilantik, ada majalah yang mau motret kamu di kampus. Pakai jas koas, lagi jaga di IGD. Judulnya sudah mereka siapkan. Putri Presiden, Dokter Masa Depan.”
Aroha berhenti mengunyah. “Aku nggak pernah tahu.”
“Karena ayahmu nolak. Waktu itu juga pakai suara presidennya.” Revana tersenyum tipis. “Dia nggak pernah cerita karena dia pikir itu bukan sesuatu yang perlu diceritakan. Ayahmu memang begitu. Yang baik disimpan sendiri, yang bikin cemas juga disimpan sendiri.”
Kalimat terakhir itu mengambang di atas meja sebentar, lalu hilang ketika Bi datang membawa sambal.
***
Siang itu, beberapa jam sebelum Aroha pulang, Alvar dipanggil ke ruang komandannya.
Kolonel itu tidak menyuruhnya duduk. Di mejanya terbuka sebuah tablet, dan di layarnya ada foto yang sama—kemeja abu-abu, sendok, telinga merah.
“Ada hubungan apa kamu dengan putri Presiden?”
“Kami sedang saling mengenal, Komandan. Atas sepengetahuan Bapak Presiden dan Ibu.”
“Kamu tahu ini bisa jadi masalah?”
“Siap. Tahu.”
Komandannya menatapnya lama, lalu mematikan layar tablet itu.
“Dengar baik-baik. Selama earpiece masih di telingamu, kamu ajudan. Kamu jaga Bapak, kamu jaga keluarganya, dan perasaanmu tinggal di luar. Begitu earpiece itu lepas, apa pun yang kamu lakukan adalah urusanmu sendiri.” Suaranya datar. “Jangan pernah dicampur. Kalau sampai tercampur, aku pindahkan kamu dari tim inti tanpa perlu minta izin siapa pun.”
“Siap. Tidak akan tercampur.”
“Satu lagi. Jangan sekali-kali minta Bapak membelamu di depanku.”
“Saya tidak akan meminta, Komandan.”
Kolonel itu mendengus—satu-satunya tanda bahwa ia mungkin, sedikit sekali, percaya.
“Kamu tahu kenapa aku nggak langsung memindahkanmu hari ini?”
“Tidak, Komandan.”
“Karena di foto itu kamu pakai baju sipil, di hari libur, di warung pinggir jalan, dan kamu yang bayar.” Ia menunjuk tablet yang sudah gelap. “Kalau di foto itu kamu pakai seragam, atau duduk di mobil dinas, kamu sudah kukirim balik ke batalion sebelum makan siang.”
“Siap. Mengerti, Komandan.”
“Keluar.”
Alvar memberi hormat dan keluar. Baru di lorong, ia menyadari telapak tangannya basah.
Alvar baru bisa menelepon Aroha pukul sebelas malam.
“Mbak sudah tidur?”
“Belum.” Suara Aroha serak. “Mas dimarahin komandan, ya?”
“Diingatkan, Mbak. Itu haknya.”
“Gara-gara aku.”
“Bukan gara-gara Mbak. Gara-gara foto itu.” Alvar terdengar ragu sejenak. “Dan gara-gara saya yang menjatuhkan sendok.”
Aroha terkekeh, serak. “Mas udah makan?”
“Sudah, Mbak. Mbak?”
“Udah. Ibu nyendokin nasi ke piringku kayak aku masih SD.”
“Syukurlah.” Alvar diam sebentar. “Mbak, kalau semua ini membuat Mbak capek, kita bisa berhenti bertemu di luar dulu. Bukan berhenti kenalan. Hanya tidak di tempat yang bisa difoto orang.”
“Nggak.” Jawaban itu keluar lebih cepat daripada yang Aroha kira. “Kita nggak ngelakuin hal yang salah, Mas. Saya nggak mau ngumpet kayak orang yang ketahuan nyolong.”
“Kalau begitu kita tidak sembunyi. Tapi kita juga tidak memberi pernyataan.”
“Setuju.” Aroha menarik selimut sampai dagu. “Ayah nolak usulan Biro Pers. Di depan saya. Pakai suara presidennya.”
“Saya sudah dengar dari Prabu.”
“Prabu cerita?”
“Prabu bilang, ia belum pernah melihat Bapak menolak usulan citra secepat itu.” Ada jeda pendek di seberang. “Dan Prabu bilang Mbak masuk ke ruangan itu seperti masuk ke IGD.”
“Emang.”
Setelah telepon ditutup, Aroha membuka foto itu sekali lagi. Kali ini tanpa kolom komentar. Hanya dirinya yang tertawa dengan mata menyipit, dan Alvar dengan sendok di tangan, telinga merah, wajah seserius orang yang sedang menjinakkan bom.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tertawa juga.