Aroha tahu ada yang tidak beres sejak ia melangkah masuk ke lobi rumah sakit pada Senin pagi.
Resepsionis yang biasanya hanya mengangguk sambil lalu kali ini tersenyum terlalu lebar. Dua perawat di depan lift berhenti bicara begitu melihatnya, lalu buru-buru menunduk ke ponsel masing-masing. Di ruang ganti, seorang residen tahun kedua menatapnya seperti menatap selebritas yang tersesat ke kantin.
Gabby yang akhirnya memberanikan diri. Dokter magang itu menghampirinya di depan ruang jaga dengan ponsel di tangan dan wajah seperti orang yang hendak menyampaikan kabar duka.
“Dok… maaf. Dokter udah lihat ini?”
Di layar itu, Aroha melihat dirinya sendiri.
Foto itu diambil dari meja sebelah di warung nasi kemarin pagi. Ia sedang tertawa lepas, mata menyipit, satu tangan menutup mulut. Di seberangnya, Alvar dengan kemeja abu-abu memegang sendok yang baru saja ia pungut dari lantai, telinganya merah, ekspresinya sangat serius. Kalau bukan dirinya yang ada di foto itu, Aroha mungkin akan menganggapnya lucu.
Tulisan di bawahnya yang membuat perutnya mencelos.
Putri Presiden sarapan nasi telur bareng ajudan ganteng. Kenalan dulu katanya. #MenantuPresiden
Unggahan itu sudah dibagikan puluhan ribu kali. Aroha menggulir ke kolom komentar dan langsung menyesal. Ada yang menulis akhirnya Mbak Aroha laku juga. Ada yang menyebutnya romantis seperti drama Korea. Ada yang menuduhnya pencitraan akhir masa jabatan, kisah cinta untuk pamit. Ada yang menamainya nepotisme jalur hati. Dan ada satu yang ditulis dengan huruf kapital semua: AJUDANNYA PASTI NAIK PANGKAT HABIS INI.
Ia mengembalikan ponsel itu kepada Gabby dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.
“Makasih udah ngasih tahu.”
“Dok, saya—”
“Fokus, Gabby.” Aroha memaksakan senyum. “Pasien kamu di bed empat masih nunggu ganti perban.”
Di bangsal, seorang nenek yang tiga hari lalu dioperasi katup jantungnya menahan tangan Aroha ketika ia hendak memeriksa luka di dadanya.
“Dok, yang di hp cucu saya itu calonnya, ya?”
Aroha tersenyum sekenanya. “Nenek istirahat dulu, ya. Jahitannya saya lihat.”
“Ganteng, Dok. Tentara, to? Almarhum suami saya juga tentara.” Nenek itu mengedipkan sebelah mata. “Tentara itu kalau sudah sayang, susah lepas.”
Aroha tertawa, dan untuk sesaat beban di dadanya sedikit terangkat. Lalu ia teringat komentar yang ditulis dengan huruf kapital itu, dan tawanya surut lagi. Yang membuatnya marah bukan dirinya yang dijadikan bahan. Yang membuatnya marah adalah laki-laki yang mengembalikan gelas ke warung itu kini dituduh memanjat oleh ribuan orang yang tidak pernah melihatnya kembali ke kedai hanya untuk membungkus es kopi yang tinggal setengah.
Sepanjang pagi, ia bekerja seperti biasa. Visite, laporan, satu tindakan kecil di IGD. Tapi kalimat-kalimat di kolom komentar itu terus berputar di kepalanya, dan di antara semuanya ada satu yang paling nyaring—kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri beberapa minggu lalu, di kamarnya, di depan ayah dan ibunya.
Menjadi komoditas publik agar reputasi Ayah semakin baik di mata rakyat.
Waktu itu ia mengucapkannya sebagai tuduhan. Sekarang orang-orang asing mengucapkannya sebagai kesimpulan.
Menjelang siang, Nadya menariknya ke pojok pantri dan menunjukkan sesuatu yang lebih buruk.
“Ar. Kamu harus tahu dari mana foto itu nyampe ke grup residen.”
Di grup obrolan yang berisi enam puluh lebih residen dari semua departemen, foto yang sama sudah diteruskan sejak pukul enam pagi. Pengirimnya Dirandra. Keterangannya pendek: Calon menantu Presiden, guys. Kenalan dulu katanya.
Aroha menemukan Dira di tangga darurat lantai tiga, sedang makan roti sambil membaca jurnal. Pria itu menengadah, melihat wajahnya, dan senyum isengnya padam setengah jalan.
“Ar, aku cuma—”
“Kamu tahu nggak, Dir?” Suara Aroha tidak tinggi. Justru karena tidak tinggi, Dira menurunkan rotinya. “Dari semua orang di rumah sakit ini, kamu yang paling tahu aku benci jadi tontonan. Kamu yang bawa dia ke ruang istirahat waktu aku belum mandi dua hari. Kamu yang ngelihat aku malu. Dan kamu yang nyebarin foto ini ke enam puluh orang.”
“Fotonya udah viral duluan, Ar, bukan aku yang pertama—”
“Kamu yang nyebarin ke orang-orang yang tiap hari kerja bareng aku.”
Dira membuka mulut, lalu menutupnya. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun mereka berteman, Aroha melihat pria cerewet itu benar-benar kehabisan lelucon.
“Aku kira lucu,” katanya akhirnya, lirih. “Aku kira kamu bakal ketawa. Kayak biasanya.”
“Biasanya aku cuma diem, Dir. Kamu yang ngira itu ketawa.”
Lama Dira menatap anak tangga di bawah kakinya. Lalu ia mengeluarkan ponsel, menghapus fotonya dari grup, dan mengetik sesuatu dengan jari yang cepat. Ia menyodorkan layarnya kepada Aroha sebelum mengirim.
Foto yang tadi saya kirim sudah saya hapus. Saya yang salah. Tolong jangan diteruskan ke mana-mana. Ini bukan bahan bercanda.
“Boleh aku kirim?”
Aroha mengangguk. Dira menekan kirim, lalu menatapnya.
“Maaf, Ar. Beneran.”
“Dirandra.” Suara Nadya terdengar dari pintu tangga. Ia berdiri dengan tangan bersedekap dan ekspresi yang membuat Dira refleks berdiri tegak. “Ke bawah. Sekarang. Kita ngomong di kantin.”
Dira turun tanpa membantah sepatah kata pun. Nadya menunggu langkahnya menghilang, lalu menoleh ke Aroha.
“Kamu oke?”
“Nggak.” Aroha bersandar ke dinding. “Tapi nanti.”
Nadya tidak memaksanya bicara. Ia hanya berdiri di situ, dua anak tangga di bawah, sampai napas Aroha kembali teratur. Lalu ia menyodorkan sebungkus permen jahe dari saku jas dokternya—permen yang sama yang selalu ia bagikan kepada residen junior yang gemetar sebelum operasi pertama mereka.
“Satu. Habis itu balik kerja. Mereka bakal ngomongin kamu seminggu, terus lupa begitu ada gosip baru.”
***
Ponselnya terus bergetar sepanjang hari—teman lama, sepupu jauh, nomor-nomor yang tidak ia kenal. Ia hanya membalas pesan Ibu. Menjelang sore, satu pesan masuk dari Dira.
“Tadi Nadya ngomelin aku empat puluh menit di kantin. Di depan tukang bakso. Aku pantas dapet itu. Maaf sekali lagi, Ar.”
Aroha membalas satu kata saja. “Iya.” Untuk hari itu, satu kata sudah cukup. Lalu ia mengetik pesan untuk Alvar, menghapusnya, dan mengetik lagi.
“Mas udah lihat?”
Balasan datang empat jam kemudian, ketika langit sudah gelap.
“Sudah, Mbak. Saya sedang bertugas sampai malam, jadi tidak bisa menelepon. Mbak baik-baik saja?”
“Nggak tahu.”
“Saya telepon nanti malam begitu tugas saya selesai. Kalau Mbak sudah tidur, saya tidak akan memaksa.”
Aroha menatap layar itu lama. Ia baru akan membalas ketika satu pesan lain masuk dari Ibu.
“Pulang ke rumah malam ini, Nak. Ada orang Biro Pers di ruang kerja Ayah.”