Taman itu memang tidak istimewa. Aroha sampai pada pukul enam lewat sepuluh, memarkir mobilnya di bahu jalan yang masih sepi, dan berdiri sebentar di depan pagar yang catnya mengelupas sambil bertanya-tanya apa yang membuat seorang ajudan Presiden memilih tempat seperti ini untuk menghabiskan pagi liburnya.
Ia menemukan jawabannya begitu melihat Alvar.
Laki-laki itu berdiri di dekat pohon beringin besar di belokan jalur, memakai kemeja abu-abu yang disetrika rapi, celana gelap, dan sepatu kets yang belum pernah Aroha lihat. Dadanya polos tanpa pin, telinganya bebas dari earpiece, dan pergelangan tangannya kosong dari arloji hitam besar yang biasanya melingkar di sana. Ia tetap berdiri terlalu tegak ketika melihat Aroha datang, lalu mencoba menurunkan bahunya, dan hanya berhasil separuh.
“Selamat pagi, Mbak. Saya sudah di sini sejak tadi. Bukan karena Mbak terlambat. Saya memang tidak pandai datang mepet.”
“Saya tepat waktu, Mas.” Aroha menahan senyum. “Baju Mas beda.”
Alvar menunduk ke kemejanya, seperti baru ingat sedang memakainya. “Saya tidak ingin hari ini dibaca dari pakaian tugas. Arloji yang biasa juga saya tinggal. Arloji itu tidak salah apa-apa, tapi saya tidak mau membawa meja kerja ke taman.”
Mereka berjalan. Jalurnya tidak panjang, berliku di antara pohon-pohon tua yang akarnya menyembul dari tanah. Alvar memperpendek langkahnya pada hitungan ketiga tanpa mengumumkan apa pun, dan Aroha pura-pura tidak memperhatikan.
“Bangku yang kanan itu goyang,” kata Alvar ketika mereka melewati deretan bangku besi. “Saya pernah duduk di situ dan hampir menumpahkan roti. Kalau Mbak mau mencoba, silakan. Tapi rotinya jangan.”
“Saya percaya pengalaman lapangan Mas.”
“Di belokan ini biasanya ada kucing oranye.” Alvar menoleh ke semak-semak, kecewa dengan cara yang sangat serius. “Hari ini tidak ada. Saya tidak bisa menjanjikan kucing.”
“Saya nggak dateng buat kucing, Mas.”
Mereka melewati dua pelari pagi dan seorang kakek yang mengajak burungnya berjemur. Tidak ada yang menoleh dua kali. Di taman ini Aroha bukan putri siapa-siapa, dan Alvar bukan pengawal siapa-siapa. Mereka hanya dua orang yang berjalan terlalu pelan untuk disebut olahraga.
“Kenapa Mas jadi tentara?” tanya Aroha di bawah rimbun pohon asam.
Alvar tidak langsung menjawab. “Bapak saya tentara, Mbak. Bintara biasa. Beliau meninggal waktu saya kelas dua SMA.” Ia mengatakannya tanpa nada mengasihani diri sendiri. “Ibu saya membesarkan kami bertiga dengan uang pensiun dan warung pecel kecil di Purworejo. Saya pikir, kalau saya jadi tentara, setidaknya ada satu hal dari Bapak yang tetap tinggal di rumah.”
Aroha berhenti berjalan. Alvar ikut berhenti, sedikit cemas.
“Maaf, Mbak. Terlalu berat untuk pagi-pagi?”
“Nggak.” Aroha menggeleng. “Saya cuma baru sadar, CV yang dikirim Ayah cuma saya baca setengah. Bagian yang penting malah nggak ada di situ.”
“Kalau begitu Mbak tidak rugi apa-apa.”
“Saya tetap mau dengar sisanya. Nanti.”
Mereka berjalan lagi. Di bawah dahan yang terlalu rendah, Alvar mengangkat ranting itu dengan sebelah tangan supaya Aroha tidak perlu menunduk, lalu melepaskannya pelan-pelan setelah mereka lewat, seolah ranting itu juga berhak diperlakukan dengan sopan.
“Giliran saya,” kata Aroha beberapa langkah kemudian. “Saya jadi putri presiden waktu umur dua puluh empat. Masih koas. Tiba-tiba semua orang jadi ramah. Dosen yang dulu galak mendadak sabar. Teman yang dulu nggak pernah nyapa tiba-tiba minta foto bareng.” Ia menendang selembar daun kering. “Sepuluh tahun saya belajar ngebedain orang yang ramah sama saya, sama orang yang ramah sama jabatan Ayah.”
“Bagaimana cara membedakannya, Mbak?”
“Yang ramah sama jabatan Ayah nggak pernah ngajak saya makan di warung.”
Alvar tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya mengangguk. Aroha tersenyum, karena anggukan itu ternyata cukup.
***
Warung nasi di seberang taman baru menurunkan kursi-kursi plastiknya dari atas meja ketika mereka menyeberang. Ibu pemilik warung mengangguk kepada Alvar seperti kepada langganan lama, dan Alvar membalas anggukan itu dengan cara yang membuat Aroha curiga laki-laki ini lebih sering datang ke sini daripada yang ia akui.
“Nasi telur, Bu. Sambalnya dipisah,” kata Alvar. Ia menoleh ke Aroha. “Mbak mau yang sama, atau yang lain? Itu bagian Mbak.”
“Sama. Sambalnya juga dipisah.”
Ibu pemilik warung mencatat pesanan itu di kepalanya, lalu melirik Aroha dengan senyum yang tidak ditutup-tutupi. “Wah, Masnya bawa teman. Biasanya sendirian terus, Mbak. Sarapan sambil baca koran, habis itu pulang. Nggak pernah ngobrol.”
“Sekarang juga nggak banyak ngobrol, Bu,” kata Aroha.
“Tapi senyum,” kata ibu itu sambil berlalu ke wajan. “Itu sudah beda.”
Ternyata nasi telur yang pernah disebut Alvar di perjalanan pulang dari bukit itu bukan basa-basi. Nasinya pulen, telurnya didadar tebal dengan pinggiran garing, dan sambalnya pedas dengan cara yang jujur. Aroha makan seperti orang yang baru ingat bahwa tubuh punya jam sendiri.
Alvar mengambil sendok, lalu menjatuhkannya. Ia memungut sendok itu dengan ketenangan yang retak, menatapnya sebentar, dan meminta sendok lain kepada ibu pemilik warung dengan telinga yang memerah sampai ke pangkal.
Aroha tertawa—tawa lepas yang keluar sebelum sempat ditahan, membuat dua pengunjung di meja sebelah menoleh.
“Maaf, Mas. Maaf.” Ia menyeka sudut matanya. “Mas tahu nggak, Mas lebih pendiam di sini. Tapi bukan pendiam yang jauh.”
“Maksudnya, Mbak?”
“Mas tahu meja mana yang nggak kena asap gorengan. Mas tahu nggak usah pesen es buat orang yang mau balik nyetir. Mas inget saya suka makanan yang masih anget.” Aroha mengaduk sambalnya. “Itu beda sama diem yang dulu saya kira cuek.”
Alvar menatap piringnya beberapa saat sebelum bicara.
“Saya ingin Mbak melihat tempat yang memang saya datangi, Mbak. Bukan tempat yang saya kira pantas untuk putri presiden.”
Aroha berhenti mengunyah. Kalimat itu sederhana, nyaris kikuk, tapi entah kenapa jatuh tepat di tempat yang selama ini kosong.
“Ini tempat yang pantas, Mas,” katanya lembut. “Pantas banget.”
Mereka makan sampai piring bersih. Alvar membayar sebelum Aroha sempat mengeluarkan dompet, lalu langsung menyesal ketika melihat alis Aroha terangkat.
“Lain kali saya yang bayar,” kata Aroha.
“Siap, Mbak.”
“Mas.”
“Maksud saya, baik.”
Alvar mengantarnya sampai mobil. Ketika ia berbalik menuju warung untuk mengembalikan gelas yang tadi ia bawa keluar tanpa sadar, ia menangkap sesuatu dari sudut matanya: laki-laki di meja sebelah sedang menunduk menatap ponselnya, tersenyum lebar, menggulir layar dengan ibu jari. Di layar itu, sekilas, Alvar melihat warna kemeja abu-abu.
Ia berhenti setengah langkah. Naluri bertahun-tahun di pengamanan berteriak di kepalanya. Tapi hari ini ia tidak bertugas, laki-laki itu tidak melanggar apa pun, dan mobil Aroha sudah melaju di ujung jalan.
Alvar mengembalikan gelasnya, mengucapkan terima kasih kepada ibu pemilik warung, dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.