“Hari libur lagi, lapangan tembak lagi.”
Alvar menurunkan senapan dan melepas pelindung telinganya. Tama berdiri di belakangnya dengan seragam loreng dan dua botol air dingin, menggeleng-geleng seperti orang tua yang memergoki anaknya belajar di malam tahun baru.
“Al, kamu ini nggak punya tempat lain buat dipakai libur?”
“Ada, Mas.” Alvar menerima botol yang disodorkan. “Tapi tempat itu sedang jaga malam.”
Tama berhenti di tengah tegukan. Ia menatap juniornya, menurunkan botol pelan-pelan, dan senyumnya melebar sedikit demi sedikit sampai memenuhi seluruh wajahnya.
“Waduh.”
“Mas—”
“Waduh, waduh.” Tama merangkul pundak Alvar dan menyeretnya menjauh dari lintasan tembak, ke bangku kayu di bawah pohon ketapang. “Duduk. Cerita. Dari awal.”
Alvar duduk. Ia memutar botol air di tangannya beberapa kali, mencari urutan yang tidak terdengar seperti laporan, lalu menyerah.
“Saya mulai suka sama Mbak Aroha, Mas.”
Kalimat itu keluar lebih pendek daripada yang ia latih dalam perjalanan ke markas. Ia hampir menambahkan penjelasan, lalu menahannya. Penjelasan yang terlalu banyak akan membuat pengakuan itu terdengar seperti pembelaan.
Tama tidak bersorak. Ia hanya mengangguk, menunggu.
“Bukan karena beliau putri Presiden,” lanjut Alvar akhirnya. “Kalau karena itu, saya sudah menerima tawaran Bapak dari dulu.”
“Terus karena apa?”
“Karena dia minta maaf ke saya waktu salah sangka di mobil. Karena dia menghabiskan es kopi yang sudah tidak dingin, padahal bisa saja dia buang. Karena dia menolak waktu ayahnya mau menggeser jadwal saya supaya kami tetap bisa bertemu.” Alvar berhenti. Telinganya mulai panas. “Dan karena dia tertawa waktu saya menulis pesan seperti laporan, tapi tidak menertawakan saya.”
Tama bersiul panjang. “Itu daftar yang panjang buat orang yang baru kenal dua minggu.”
“Saya tahu, Mas.”
“Dan kamu ngomongnya tetap kayak lagi nyebutin barang bukti.”
“Saya juga tahu.”
Tama terbahak, lalu menepuk lutut juniornya. Tawanya berangsur surut, berganti raut yang lebih serius.
“Al, aku senang. Sungguh. Tapi kamu harus siap. Orang-orang di luar sana nggak tahu soal es kopi. Yang mereka tahu cuma satu: ajudan Presiden dekat sama putri Presiden. Nanti ada yang bilang kamu manjat. Ada yang bilang kamu ngincar pangkat. Kamu nggak bisa ngejelasin ke semua orang.”
“Saya tidak memanjat apa-apa, Mas.”
“Aku tahu. Mereka yang nggak tahu.” Tama menatap lintasan tembak yang kosong. “Terus sekarang kenapa kamu malah di sini, nembakin kertas?”
Alvar menghela napas. “Mbak Aroha minta saya yang memilih tempat untuk pertemuan berikutnya. Sudah dua hari saya memikirkannya, Mas. Saya belum bisa memutuskan.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak tahu tempat apa yang Mbak Aroha suka.”
“Bukan itu yang dia minta, Al.” Tama memutar badan menghadapnya. “Selama aku kenal kamu, kamu selalu nanya orang lain maunya apa, terus kamu nyesuaiin. Itu sopan. Itu bagus buat ajudan. Tapi kalau kamu lagi kenalan sama perempuan, sopan yang terus-terusan ngalah bisa bikin kamu nggak kelihatan. Dia nggak bisa kenal orang yang selalu ngumpet di balik pilihan dia sendiri.”
Alvar teringat pesannya yang pertama—Jumat atau Sabtu, silakan Mbak pilih. Lalu pesannya yang kedua, yang kaku tapi berisi. Ia mulai mengerti di mana bedanya.
“Dia nggak minta kamu nebak tempat yang dia suka,” lanjut Tama. “Dia minta kamu ngajak dia ke tempat yang kamu suka. Jangan kasih pilihan. Kasih usul.”
Alvar mengangguk. Pikirannya sempat melompat ke tempat lain—ke tanggul berlumpur di selatan, ke tangan yang menekan dada, ke benda kecil yang masuk ke mulut terlalu cepat. Ia tidak boleh menceritakan itu, bahkan kepada Tama.
“Kamu kenapa?” tanya Tama, yang memperhatikan perubahan di wajahnya. “Mukamu kayak lagi mikirin hal lain.”
“Bukan apa-apa, Mas.”
Tama menatapnya sebentar, memutuskan untuk tidak mengejar, lalu berdiri sambil meregangkan punggung.
“Satu lagi, Al. Kamu udah cerita ke ibumu?”
“Belum, Mas.”
“Telepon ibumu. Jangan sampai beliau tahunya dari akun gosip.”
***
Malam itu, sebelum melakukan apa pun, Alvar menelepon Purworejo. Ibunya mengangkat pada dering ketiga, dengan suara televisi dan desis penggorengan di belakangnya.
“Le? Tumben telepon malam-malam. Suaramu kok lain?”
“Lain bagaimana, Bu?”
“Kayak orang mau ujian.”
Alvar menelan ludah. “Saya sedang kenalan dengan seseorang, Bu.”
Hening sebentar di seberang. Lalu desis penggorengan itu berhenti.
“Orang mana?”
“Dokter, Bu. Dokter bedah jantung.”
“Walah. Kerjanya berat, to?”
“Berat, Bu. Lebih berat dari kerja saya.”
“Yo wis. Kalau begitu kamu yang sabar. Jangan kebanyakan diam, nanti dikira nggak mau.” Ibunya tertawa kecil. “Kamu itu dari kecil kalau suka sama sesuatu malah diam.”
Alvar belum menyebutkan siapa ayah perempuan itu. Bagian itu bisa menunggu sampai ia tahu cara mengatakannya tanpa membuat ibunya pingsan di depan wajan.
Sesudah telepon ditutup, di kamar mess yang luasnya hanya cukup untuk ranjang, lemari, dan satu kursi, Alvar berlatih.
“Mbak Aroha.” Suaranya terlalu keras untuk ruangan sekecil itu. Ia mengulang lebih pelan. “Mbak, saya ingin mengajak Mbak ke taman yang biasa saya datangi. Tapi kalau Mbak punya tempat lain, saya ikut saja, atau kalau—”
Ia berhenti dan menatap kursi kosong di depannya dengan kesal.
“Bukan begitu.”
Ia mencoba lagi. Pada percobaan kedua, kalimatnya selamat sampai kata taman, lalu tergelincir ke saya menyesuaikan. Pada percobaan ketiga, ia berhasil menyebut taman dan warung nasi di seberangnya tanpa menawarkan pilihan lain apa pun, dan ia begitu bangga pada dirinya sendiri sampai menenggak air terlalu cepat dan setengahnya tumpah ke dagu.
Alvar mengelap dagunya dengan punggung tangan dan memutuskan kecelakaan itu tidak perlu diceritakan kepada siapa pun.
Taman itu sudah ia datangi hampir setiap pagi libur selama dua tahun. Taman kecil di pinggir kota, dengan pohon beringin besar di belokan jalur dan bangku-bangku besi yang separuhnya goyang. Di seberangnya ada warung nasi milik seorang ibu yang tidak pernah bertanya ia bekerja di mana. Tempat itu tidak istimewa. Justru karena tidak istimewa, ia selalu pulang dari sana dengan kepala yang lebih ringan.
Ia mengetik pesan. Menghapus kalimat cadangan yang menyelinap di akhir. Mengetik ulang. Menghapus lagi kalimat cadangan yang menyelinap dengan bentuk lain. Pada versi keempat, ia akhirnya menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.
“Mbak, saya sudah memilih. Ada taman yang biasa saya datangi kalau pagi saya lowong, dan warung nasi di seberangnya. Saya ingin mengajak Mbak ke sana. Itu usul saya. Mbak boleh menolak, atau menyebut jam yang memang Mbak punya.”
Balasan datang dua puluh menit kemudian, ketika Alvar sudah berpura-pura sibuk menyemir sepatu yang sebenarnya sudah mengilap.
“Minggu pagi. Jam enam lewat seperempat. Saya datang sendiri.”
Satu pesan lagi menyusul.
“Dan Mas, ini pertama kalinya Mas nggak ngasih saya dua pilihan.”
Alvar menatap layar itu lama. Jempolnya sudah mengetik kata siap sebelum ia sadar. Ia menghapusnya pelan, huruf demi huruf, lalu menulis yang lain.
“Terima kasih, Mbak. Sampai Minggu.”