Janji kedua mereka dibuat lewat pesan, dua hari setelah es kopi yang tidak lagi dingin itu: Sabtu pagi, pukul sembilan, di kedai yang sama. Alvar menandainya di kalender ponselnya dengan satu kata. Kedai.
Jadwal itu berubah pada Kamis sore.
Banjir bandang melanda sebuah kabupaten di selatan sejak dua malam sebelumnya. Presiden memutuskan meninjau langsung, berangkat Jumat subuh, kembali Sabtu malam. Komandan membacakan susunan tim pengamanan di ruang pengarahan, dan nama Alvar ada di baris ketiga—seperti biasa, seperti seharusnya.
Ia sedang memeriksa ulang daftar perlengkapan ketika Adam memanggilnya ke ruang kerja.
“Kamu ada janji dengan Aroha hari Sabtu?”
Alvar membeku setengah detik. Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun di istana.
“Revana yang cerita,” kata Adam, seolah membaca pertanyaannya. “Aroha cerita ke ibunya. Ibunya cerita ke saya. Begitulah rumah ini bekerja.” Ia tersenyum, senyum yang Alvar kenali sebagai senyum orang yang sudah menyiapkan hadiah. “Kamu tidak usah ikut ke selatan. Biar Prabu yang menggantikanmu. Saya sudah bilang ke—”
“Mohon izin, Pak.”
Adam berhenti.
“Susunan tim sudah dibuat komandan saya, Pak. Saya tidak ingin digeser karena urusan pribadi.” Alvar menjaga suaranya tetap rendah. “Kalau saya tidak berangkat, Prabu yang harus membatalkan liburnya. Itu tidak adil untuk dia.”
“Ini bukan perintah, Alvar. Anggap saja kebaikan seorang—”
“Justru karena itu, Pak.” Alvar menelan ludah. “Kalau kebaikan Bapak bisa mengubah jadwal pengamanan, besok orang-orang akan bilang saya dekat dengan keluarga Bapak supaya dapat kemudahan. Saya tidak mau Mbak Aroha ikut terbawa omongan seperti itu.”
Adam menatapnya lama. Lalu ia menghela napas dan bersandar, mengibaskan tangan.
“Kamu dan anak saya,” gumamnya. “Kalian ini sama keras kepalanya.”
Alvar tidak sempat bertanya apa maksudnya. Adam sudah kembali menunduk pada map di mejanya.
Di rumah sakit, Aroha baru keluar dari bangsal ketika nama Ayah muncul di layar ponselnya.
“Nak, Ayah cuma mau kasih kabar. Ayah ke selatan besok sampai Sabtu. Alvar ikut. Tapi kalau kamu mau, Ayah bisa minta Prabu menggantikan dia, biar janji kalian hari Sabtu tetap—”
“Jangan, Yah.”
“Ayah cuma—”
“Aku tahu Ayah mau bantu.” Aroha bersandar ke dinding lorong, memejamkan mata. Kecewa itu ada, nyata, berat di dada—tapi ia tidak mau kecewanya diobati dengan cara seperti itu. “Tapi aku nggak mau ada tugas orang digeser cuma karena aku anak Presiden. Kalau Mas Alvar nggak bisa, ya nggak bisa. Kami atur hari lain.”
Di seberang, ayahnya terdiam. Lalu tertawa—tawa pendek yang terdengar setengah kalah, setengah bangga.
“Alvar juga bilang persis begitu. Satu jam yang lalu. Di ruang kerja Ayah.”
Aroha membuka mata. “Dia bilang begitu?”
“Hampir kata per kata.”
Setelah telepon ditutup, Aroha masih berdiri di lorong itu dengan senyum yang tidak bisa ia jelaskan kepada perawat yang lewat. Ponselnya bergetar lagi tidak lama kemudian.
“Mbak, saya harus membatalkan pertemuan kita hari Sabtu. Ada tugas mendadak ke luar kota. Saya tidak bisa menceritakan isinya. Saya menyesal. Saya ingin bertemu Mbak di hari yang benar-benar bisa.”
Ia membaca kalimat terakhir itu tiga kali. Masih rapi, masih kaku, masih tanpa satu pun tanda seru. Tapi kali ini ada orangnya.
“Nggak apa-apa, Mas,” balasnya. “Kerja dulu. Hati-hati di jalan. Kalimat terakhir Mas nggak kayak laporan, saya simpan.”
***
Air sudah surut di sebagian besar kabupaten itu, tapi lumpurnya tinggal setinggi betis di mana-mana. Adam menolak meninjau dari mobil. Ia ingin berjalan di atas tanggul yang jebol, ingin bicara langsung dengan warga yang rumahnya hanyut, ingin melihat dengan mata sendiri dan bukan dari laporan.
Alvar berjalan setengah langkah di belakangnya sepanjang tanggul, earpiece di telinga, mata berpindah-pindah antara kerumunan, tanah yang licin, dan punggung sang Presiden.
Di depan sebuah tenda pengungsian, seorang nenek menerobos barisan warga dan meraih lengan Adam sebelum siapa pun sempat mencegah. Alvar sudah bergerak setengah langkah, lalu berhenti ketika melihat tangan keriput itu hanya gemetar, tidak berbahaya. Nenek itu bercerita dengan bahasa daerah yang tercampur tangis—tentang rumah panggung yang hanyut, tentang dua ekor kambing yang tidak sempat dilepas dari kandang, tentang foto pernikahannya yang terbawa arus. Adam mendengarkan sampai selesai. Ia menanyakan nama nenek itu, mengulanginya dua kali supaya tidak salah, lalu meminta bupati yang berdiri di belakangnya mencatat. Tidak ada kamera yang ia cari.
Alvar sudah sering melihat adegan seperti itu. Yang belum pernah ia lihat adalah keringat yang turun terlalu deras di pelipis Adam ketika nenek itu akhirnya melepaskan lengannya, dan cara sang Presiden menarik napas panjang sebelum melangkah lagi, seperti orang yang harus mengumpulkan tenaga untuk sesuatu yang sederhana.
Di ujung tanjakan terakhir, punggung itu berhenti.
Adam berdiri diam dengan satu tangan menekan dada. Napasnya pendek dan cepat, terlalu cepat untuk tanjakan sependek itu. Alvar melihatnya merogoh saku jas, mengeluarkan sesuatu yang sangat kecil, dan memasukkannya ke mulut dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk sebuah kebetulan.
“Pak?”
“Saya baik, Alvar.” Adam tidak menoleh. “Cuma panas.”
Udara memang panas. Tapi Alvar sudah mendampingi laki-laki ini dua tahun, melewati upacara di bawah terik dan kunjungan kerja di pulau-pulau yang jauh lebih panas daripada ini, dan ia belum pernah melihat Adam berhenti di tengah tanjakan.
Kecuali satu kali. Di peresmian bendungan.
“Mohon izin, Pak,” katanya, nyaris berbisik. “Tanggul berikutnya biar kita lihat dari mobil saja.”
Adam akhirnya menoleh. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi, dan ada sisa geli di sudut matanya.
“Kamu mulai lagi.”
“Siap. Mulai lagi, Pak.”
Adam mendengus geli dan berjalan turun, menuju mobil. Di belakang mereka, dokter kepresidenan yang ikut dalam rombongan bertukar pandang dengan Alvar—satu tatapan singkat yang tidak bisa Alvar baca, dan yang terus mengganggunya sepanjang perjalanan pulang.
Rombongan tiba kembali di istana menjelang tengah malam hari Sabtu. Di kamar mess, dengan sepatu berlumpur yang belum sempat ia bersihkan, Alvar membuka lagi balasan Aroha dua hari sebelumnya. Kalimat terakhir Mas nggak kayak laporan, saya simpan. Ia membacanya sambil duduk di tepi ranjang, dan untuk beberapa saat tanggul berlumpur itu, nenek yang kehilangan kambingnya, dan tatapan dokter yang tidak bisa ia baca, semuanya bergeser sedikit ke belakang.
“Saya sudah kembali, Mbak,” ketiknya. “Maaf soal Sabtu ini. Saya masih ingin bertemu di Sabtu yang lain.”
Ia mengira pesan itu baru akan dibalas besok siang. Balasannya datang tiga menit kemudian, dari orang yang rupanya sedang jaga malam.
“Sabtu yang lain. Atau Minggu. Tapi kali ini Mas yang milih tempatnya.”