Kedai di belokan dekat pasar itu hanya punya enam meja, dan tidak satu pun kursinya berdiri dengan empat kaki yang sama panjang. Aroha tiba sepuluh menit lebih awal, memilih meja di sudut yang tidak menghadap pintu, lalu langsung menyesali pilihannya karena posisi itu membuatnya terlihat seperti orang yang sedang bersembunyi.
Alvar masuk tepat pukul empat. Ia sempat berhenti di ambang pintu dan menyapu seisi ruangan dengan pandangan cepat—pintu belakang, jendela, dua pengunjung lain—seperti orang yang memastikan ruangan aman sebelum atasannya masuk. Baru setelah itu ia berjalan lurus ke meja Aroha.
“Mbak Aroha.”
“Mas.” Aroha menunjuk kursi di depannya. “Duduk. Kalau Mas berdiri terus, pelayannya ngira Mas mau periksa meja, bukan mesen minum.”
Alvar duduk. Kursinya oleng ke kiri. Ia membetulkan posisi dengan wajah serius, dan kursi itu oleng ke kanan.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu, Mbak. Saya hadir sesuai kesepakatan di telepon.”
“Mas, saya juga hadir sesuai kesepakatan di telepon. Kita bukan lagi absen.”
Telinga Alvar memerah. Pelayan datang menyelamatkannya. Aroha memesan es kopi susu. Alvar memesan teh, lalu menambahkan bahwa airnya jangan terlalu mendidih dan gulanya dipisah saja, dalam urutan yang begitu lengkap sampai pelayan itu mengangguk pelan seperti orang yang sedang berusaha keras tidak tersenyum.
Begitu pelayan pergi, Aroha meletakkan ponselnya di tengah meja dan membuka pesan Jumat-atau-Sabtu itu.
“Saya bawa ini bukan buat ngehakimin Mas. Buat kita baca bareng.”
Alvar membaca tulisannya sendiri. Keningnya berkerut pelan, seolah baru pertama kali melihat kalimat-kalimat itu dari kursi orang lain.
“Saya mengerti sekarang,” katanya. “Ini memang seperti laporan.”
“Mas tahu nggak, saya hampir bales apa?”
“Apa, Mbak?”
“Siap, laksanakan.”
Untuk satu detik, Alvar tampak benar-benar mempertimbangkan apakah balasan itu pantas. Lalu ia melihat sudut bibir Aroha yang bergetar, dan keseriusan di wajahnya pecah dari dalam. Suara yang keluar dari mulutnya bukan tawa panjang—hanya satu hembusan pendek yang terkejut, seperti orang yang tidak terbiasa membiarkan tawa datang lebih dulu sebelum izin.
Aroha tertawa lebih keras, lalu buru-buru menutup mulut karena dua pengunjung lain menoleh.
“Itu memang balasan yang sesuai dengan tulisan saya,” kata Alvar, masih dengan sisa senyum yang tidak ia sembunyikan.
“Makanya.” Aroha menarik selembar serbet kertas dari wadahnya dan menyodorkan pena dari tasnya. “Tulis ulang. Versi yang ada orangnya.”
Alvar menatap serbet itu seperti menatap formulir yang belum pernah ia isi. Ia menulis pelan, dengan huruf tegak yang rapi sekali, lalu memutar serbet itu ke arah Aroha.
Mbak Aroha, saya senang Mbak menghubungi saya. Saya ingin bertemu.
“Gitu doang,” kata Aroha. “Susah amat, Mas.”
“Sangat susah, Mbak.”
Aroha melipat serbet itu dua kali dan menyelipkannya ke dalam dompet.
“Buat apa?”
“Buat bukti kalau Mas bisa.”
Teh Alvar tiba dengan gula di cawan kecil terpisah, persis seperti pesanannya. Es kopi Aroha tiba dengan es yang terlalu banyak. Di antara dua gelas itu, percakapan mereka akhirnya berjalan tanpa formulir.
Aroha bercerita tentang tahun kelima residensinya—tentang konsulen yang hafal nama setiap pasien, tentang jam tidur yang ia curi di ranjang tingkat, tentang nada dering darurat yang membuatnya refleks berdiri bahkan di pesta pernikahan sepupunya. Alvar mendengarkan tanpa memotong. Sesekali ia bertanya, dan pertanyaannya selalu tentang orangnya, bukan tentang ayahnya.
“Kenapa jantung, Mbak?” tanyanya. “Dari semua bagian tubuh.”
Aroha berpikir sebentar, memutar gelas es kopinya sampai embunnya membasahi jari. “Karena jantung itu jujur, Mas. Kalau rusak, kelihatan. Napasnya berubah, wajahnya berubah, angkanya berubah. Dia nggak bisa pura-pura baik-baik aja lama-lama.” Ia tersenyum kecil. “Dan kalau berhasil diperbaiki, dia langsung kerja lagi. Nggak pakai basa-basi. Saya suka yang kayak gitu.”
“Saya tidak pernah memikirkan jantung sebagai sesuatu yang jujur.”
“Makanya Mas harus sering-sering ngobrol sama dokter jantung.”
Alvar menunduk ke cangkir tehnya, dan Aroha melihat telinganya memerah lagi. Ia memutuskan untuk tidak menyebutkannya. Belum.
“Mas tahu nggak, apa yang paling saya takutin dari nikah?” tanya Aroha tiba-tiba.
“Apa, Mbak?”
“Suami yang nanti nanya kenapa saya nggak pulang. Kenapa telepon nggak diangkat. Kenapa saya lebih milih pasien daripada makan malam.” Ia memutar sedotan di gelasnya. “Semua orang bilang nggak akan jadi masalah. Sebelum nikah.”
Alvar diam sebentar. “Saya juga sering tidak bisa mengangkat telepon, Mbak. Ada hari saya pergi tanpa tahu kapan pulang. Dan ada hal-hal di pekerjaan saya yang tidak bisa saya ceritakan, bahkan kalau Mbak yang bertanya.”
“Jadi kita impas?”
“Saya rasa begitu.”
Aroha baru membuka mulut untuk membalas ketika ponselnya meraung—nada darurat yang nyaring, yang membuat seisi kedai menoleh lagi. Ia sudah berdiri sebelum benar-benar sadar.
“Halo, Gabby?”
Suara dokter magang itu terdengar panik di seberang: pasien rujukan, kondisinya memburuk, konsulen masih di jalan. Aroha memberi beberapa instruksi singkat sambil menyambar tasnya.
“Lima belas menit lagi saya sampai.”
Ketika ia menutup telepon, Alvar sudah berdiri dengan kunci mobil di tangan dan uang di atas meja.
“Biar saya yang menyetir, Mbak.”
“Kali ini?”
“Kali ini, Mbak.”
Alvar menyetir cepat, tapi sama sekali berbeda dengan cara Aroha menyetir jeep putih minggu lalu. Ia tahu kapan harus menyalip dan kapan harus menahan diri, membaca celah di antara kendaraan seperti membaca peta. Lampu merah tetap ia hormati. Aroha mencengkeram sabuk pengaman dan, di tengah paniknya, malah tertawa.
“Mas nyetir kayak lagi ngawal presiden.”
“Hari ini saya mengawal dokter, Mbak.”
Mobil berhenti di jalur IGD dalam sembilan menit. Aroha melompat keluar dan berlari tanpa menoleh.
***
Operasi itu selesai lewat tengah malam. Pasiennya bertahan. Aroha keluar dari ruang operasi dengan punggung yang terasa seperti dipinjam orang lain, baru teringat ponselnya, dan menemukan satu pesan yang dikirim lima jam sebelumnya.
“Mbak, saya pulang. Semoga pasiennya selamat. Es kopi Mbak masih setengah, jadi tadi saya kembali ke kedai, minta dibungkus, dan saya titipkan di pos satpam IGD. Mungkin sudah tidak dingin.”
Satpam jaga menyerahkan kantong plastik itu dengan tatapan penasaran. Esnya sudah lama mencair. Kopinya encer dan suam-suam kuku. Aroha duduk di bangku depan IGD dan menghabiskannya sampai tetes terakhir.
Ia membayangkan laki-laki itu memutar balik mobilnya ke kedai yang baru saja ia tinggalkan dengan tergesa, berdiri di depan kasir dengan wajah seserius orang yang mengurus dokumen negara, lalu meminta sisa es kopi milik orang lain dibungkus. Ia membayangkan Alvar menyerahkan kantong itu kepada satpam dengan pesan yang terlalu rinci. Bayangan itu membuatnya tersenyum sendirian di bangku yang dingin, pukul satu dini hari, dengan punggung yang masih pegal dan seragam yang masih berbau antiseptik.
“Pasiennya selamat,” ketiknya. “Es kopinya udah nggak dingin, tapi saya habisin.”
Balasan masuk pukul lima pagi.
“Siap, Mbak.”
Semenit kemudian, satu pesan lagi.
“Maksud saya, saya senang.”