Dua hari kemudian, pesan itu masih belum dibalas.
Bukan karena Aroha lupa. Dua hari itu habis di antara ruang operasi, bangsal, dan IGD, dengan jeda tidur yang lebih pendek daripada antrean di kantin. Setiap kali ponselnya menyala, nama Mas Alvar (Laporan) ada di sana, menunggu, dan setiap kali pula ada pasien yang lebih mendesak daripada urusan membalas ucapan selamat malam.
Pagi kedua sepulang jaga, ia duduk di tepi ranjang mess dengan sepatu masih terpasang. Rambutnya setengah lepas dari ikatan. Di kepalanya ada daftar kecil yang tidak ada hubungannya dengan pasien: Ayah yang menolak diperiksa tensinya kemarin pagi dengan alasan ada rapat, Ibu yang mengirim foto sayur asem sisa malam itu, dan laki-laki yang sekarang sudah tahu ia suka makanan yang masih hangat.
Aroha membuka percakapan itu. Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
“Mas, maaf baru bales. Dua hari ini jaga terus. Kalau Mas ada waktu longgar minggu ini, saya mau ngajak ketemu. Bukan buat bahas Ayah. Mas boleh nolak.”
Kalimat terakhir itu ia tatap lama. Kedengarannya seperti ia sudah menyiapkan diri untuk kalah. Tapi justru kalimat itu yang membuat ajakannya jujur. Orang yang diajak harus bisa menolak tanpa merasa membangkang—dan dengan laki-laki seperti Alvar, Aroha curiga hal itu perlu ditulis terang-terangan.
“Ar, kamu ngeliatin hp kayak hp-nya baru ngasih nilai jelek.”
Nadya berdiri di ambang pintu dengan dua gelas kopi plastik. Rambutnya masih terbungkus penutup kepala ruang operasi.
“Bukan nilai, Nad. Aku mau ngirim pesan.” Aroha menelungkupkan ponselnya. “Terus kerasa terlalu jujur.”
“Buat siapa?”
Aroha tidak menjawab, dan itu sudah jawaban. Nadya meletakkan satu gelas di meja dekat pintu tanpa masuk.
“Kalau yang nulis kamu, kirim. Kalau yang takut juga kamu, tetap kirim.” Ia mengangkat bahu. “Aku pergi sebelum Dira nyium gelagat dan bikin ini jadi pengumuman.”
Nadya pergi. Aroha membaca pesannya sekali lagi, lalu mengirimnya sebelum sempat menyusun versi yang lebih aman dan lebih bohong.
Alvar membaca pesan itu malam harinya, setelah giliran jaganya selesai dan sepatunya sudah berjajar rapi di bawah ranjang mess.
Ia membacanya sambil berdiri. Lalu duduk. Lalu berdiri lagi.
Prabu, yang menempati kamar di sebelahnya dan kebetulan lewat dengan handuk di bahu, berhenti di ambang pintu yang terbuka. “Mas Alvar kenapa? Dari tadi bolak-balik kayak lagi nunggu hasil seleksi.”
“Tidak apa-apa.”
“Mukanya bilang ada apa-apa.”
Alvar menutup pintu dengan sopan di depan wajah juniornya, lalu kembali duduk.
Kalimat Aroha pendek, tapi ada tiga hal di dalamnya yang menurut Alvar harus dijawab utuh: ia yang mengajak, tanpa membawa nama Bapak, dan Alvar boleh menolak. Ia tidak mau merusak ketiganya dengan balasan yang terburu-buru.
Ia mengetik bahwa ia senang. Kata itu ia pandangi sampai terasa seperti janji yang belum ia ukur, lalu ia hapus. Ia mengetik bahwa ia juga ingin bertemu. Kalimat itu lebih benar, tapi di kepalanya terdengar tidak punya bentuk, dan sesuatu yang tidak berbentuk mudah disalahpahami. Ia hapus juga.
Jari-jarinya kemudian kembali ke kebiasaan lama yang selama ini selalu menyelamatkannya dari kalimat berantakan: waktu, tempat, pilihan, hormat. Ia memeriksa jadwal jaganya, menemukan dua celah yang benar-benar bisa ia jaga, membaca ulang hasilnya dengan suara datar, lalu menekan kirim.
“Mbak Aroha, pesan Mbak sudah saya terima. Saya tersedia pada hari Jumat pukul 16.00 sampai 17.00, atau hari Sabtu pukul 09.00 sampai 10.30. Mohon Mbak memilih waktu dan tempat. Apabila keduanya tidak sesuai, saya menunggu usulan Mbak. Hormat saya, Alvar.”
Dua pilihan. Ruang untuk usul. Tidak ada satu kata pun yang terdengar seperti perintah. Alvar meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja, cukup puas dengan dirinya sendiri.
***
Balasan itu masuk ketika Aroha sedang makan malam di kantin bawah—kalau sup yang ia aduk sejak sepuluh menit lalu tanpa sempat disuap bisa disebut makan malam.
Pesan diterima. Tersedia. Mohon memilih. Hormat saya.
Ia membaca pelan, lalu sekali lagi dengan suara diturunkan, menirukan nada pengumuman di lorong rumah sakit.
“Kepada keluarga pasien atas nama Aroha, harap memilih jadwal kunjungan.”
“Hah?” Dira, yang baru duduk di seberangnya dengan nampan penuh gorengan, menjulurkan leher. “Hormat saya? Ar, kamu lagi chatting sama menteri?”
“Bukan urusan kamu, Dir.”
Aroha membalik ponselnya. Supnya sudah berhenti mengeluarkan uap. Pesan itu sopan dan rapi, tanpa satu pun salah ketik. Justru karena terlalu rapi, dadanya terasa dingin. Orang yang ingin bertemu, pikirnya, setidaknya akan menyelipkan dirinya sendiri di antara jam-jam itu. Orang yang hanya merasa wajib membalas akan menulis persis seperti ini: jelas, sopan, dan mudah ditutup tanpa perlu bertemu sama sekali.
Ia menghabiskan malam itu tanpa membalas.
Keesokan paginya, di tangga darurat lantai tiga—satu-satunya tempat di rumah sakit yang cukup sepi untuk merasa konyol—Aroha mengetik pesan pembatalan.
“Mas, kayaknya kita nggak usah ketemu dulu. Saya nggak mau ngabisin waktu Mas. Makasih udah bales.”
Di kepalanya, kalimat itu terdengar dewasa. Lalu ia sadar kalimat itu juga terdengar persis seperti pesan yang semalam membuatnya dingin. Ia sedang membalas laporan dengan laporan.
Jempolnya masih menggantung di atas tombol kirim ketika ponselnya bergetar keras. Aroha tersentak sampai bahunya membentur dinding. Nama Mas Alvar (Laporan) muncul di layar—bukan pesan, melainkan panggilan.
“Mas?”
“Mbak Aroha, selamat pagi. Saya mengganggu? Pesan saya kemarin belum Mbak balas, jadi saya menelepon. Kalau waktunya tidak tepat, saya tutup.”
Suaranya persis seperti tulisannya: rapi, hati-hati, dan siap mundur kapan saja.
“Jangan ditutup dulu,” kata Aroha, sebelum keberaniannya hilang. “Saya lagi hampir ngebatalin pertemuan yang bahkan belum kita tentuin.”
Di seberang, hening. Bukan hening orang tersinggung—lebih seperti orang yang sedang menyusun ulang barisan.
“Boleh saya tahu kenapa, Mbak?”
“Pesan Mas kayak loket, Mas. Pesan diterima, silakan ambil nomor antrean. Nggak ada Mas-nya di situ.”
“Saya ada di nama di akhir pesan, Mbak.”
Kalimat itu diucapkan begitu serius sampai Aroha harus menggigit bagian dalam pipinya. “Itu tanda tangan, Mas. Bukan orang yang bilang dia juga pengin dateng.”
Alvar menghela napas. Aroha bisa mendengarnya, pelan, seperti orang yang baru sadar sepatunya tertukar kiri dan kanan.
“Kalau begitu saya salah menyusun,” katanya akhirnya. “Saya ingin bertemu Mbak. Saya hanya tidak tahu kalimat itu boleh ditaruh di mana.”
“Di pesan buat saya, Mas. Bukan di laporan.”
“Baik.” Jeda. “Dan, Mbak… orangnya sekarang sedang menelepon.”
Aroha menatap pesan pembatalan yang belum terkirim, lalu menghapusnya huruf demi huruf.
“Jumat,” katanya. “Jam empat. Ada kedai kecil di belokan dekat pasar, nggak jauh dari rumah sakit. Kursinya goyang semua. Saya tunggu di sana.”