Malam di istana alternatif selalu lebih dingin daripada di Ibukota. Angin dari perbukitan turun membawa bau tanah basah, menggoyang lampu-lampu taman yang berjajar sampai ke gerbang. Adam berdiri di ujung teras dengan sandal rumah, kedua tangan di saku celana, dan untuk sesaat Alvar melihatnya bukan sebagai kepala negara, melainkan sebagai laki-laki enam puluhan yang sedang menunggu sesuatu yang belum juga datang.
“Duduk, Alvar.”
Alvar duduk di kursi rotan paling dekat, di tepinya saja. Adam tetap berdiri.
“Kamu marah sama saya?”
“Tidak, Pak.”
“Saya meletakkan urusan sebesar ini di pundakmu tanpa banyak tanya.”
“Bapak bertanya, Pak. Saya saja yang belum menjawab.”
Adam terkekeh. “Tadi kamu memotong saya. Di depan istri saya.”
“Mohon maaf, Pak.”
“Jangan minta maaf.” Adam akhirnya duduk di kursi sebelahnya. Gerakannya pelan, lebih pelan dari yang Alvar ingat. “Itu bagus. Aroha melihatnya. Saya juga.”
Mereka diam beberapa saat. Dari dalam rumah terdengar denting piring dan suara Aroha yang memprotes sayur asem yang terlalu asam. Alvar mengumpulkan keberanian yang sejak perjalanan di bawah hujan beberapa minggu lalu belum juga terkumpul utuh.
“Pak. Boleh saya bertanya satu hal?”
“Tanyakan.”
“Kenapa saya?” Kalimat itu keluar lebih kasar daripada yang ia rencanakan, jadi ia buru-buru melunakkannya. “Maksud saya… ada ajudan lain yang pangkatnya lebih tinggi. Ada yang sudah lebih lama mendampingi Bapak. Ada yang jauh lebih pandai bicara daripada saya. Saya tidak mengerti kenapa Bapak memilih saya.”
Adam tidak langsung menjawab. Ia memandangi taman yang gelap, lalu bertanya balik dengan suara yang hampir seperti gumaman.
“Kamu ingat peresmian bendungan, tiga bulan yang lalu?”
Tentu saja Alvar ingat.
Siang itu terik sampai udara di atas lapangan tampak bergelombang. Rangkaian sambutan molor hampir satu jam. Adam berdiri di podium membacakan pidato, dan dari posisinya di sisi kanan panggung Alvar melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain: tangan sang Presiden mencengkeram tepi podium terlalu kuat, wajahnya memucat di bawah keringat yang turun deras, napasnya tersengal di antara kalimat. Ketika Alvar mendekat dengan alasan membetulkan mikrofon, Adam berbisik tanpa menoleh.
“Lanjutkan. Jangan panggil siapa pun.”
Itu perintah. Jelas, singkat, dari orang yang paling berhak memerintahnya.
“Mohon maaf, Pak,” bisik Alvar waktu itu. “Tidak.”
Ia memberi isyarat kepada dokter kepresidenan yang selalu berjaga di belakang panggung. Protokol memangkas sisa acara dengan alasan cuaca. Di dalam mobil, dengan pendingin udara menyala paling kencang, dokter memeriksa Adam lama sekali, sementara Alvar berdiri di luar pintu dengan earpiece yang terasa terlalu sunyi. Malamnya Adam memanggilnya dan berkata dengan nada yang biasa saja: kelelahan, kurang minum, tidak perlu dibesar-besarkan. Lalu satu perintah lagi—jangan ceritakan kejadian siang itu kepada siapa pun, termasuk keluarga saya.
Perintah yang kedua itu Alvar taati. Ia juga menunggu hukuman atas pembangkangannya yang pertama. Hukuman itu tidak pernah datang.
“Saya ingat, Pak.”
“Hari itu semua orang di sekitar saya menunggu saya selesai bicara,” kata Adam lirih. “Menteri, gubernur, protokol. Semuanya menurut. Cuma kamu yang bilang tidak.”
“Saya hanya menjalankan tugas, Pak.”
“Bukan. Tugasmu hari itu adalah menuruti perintah saya.” Adam menoleh, dan di bawah lampu teras matanya terlihat lebih lelah daripada yang pernah Alvar lihat di depan kamera. “Kamu memilih yang lain.”
Alvar tidak tahu harus menjawab apa. Ia menunggu kelanjutannya, tapi Adam hanya menepuk lututnya sendiri dan berdiri.
“Sisanya belum bisa saya ceritakan. Nanti.” Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar. “Pulanglah. Ini hari liburmu, dan saya sudah memakainya terlalu banyak.”
Sepanjang perjalanan ke mess, Alvar memutar ulang percakapan itu berkali-kali. Seorang ayah memilih calon menantu karena laki-laki itu pernah membangkang kepadanya. Logika semacam itu tidak masuk di kepalanya. Kecuali kalau hari itu ada sesuatu yang lebih besar daripada kelelahan biasa—
Ia menggeleng, menyingkirkan pikiran itu. Dokter sudah bilang kelelahan. Bapak sudah bilang kelelahan. Meragukan keduanya terasa seperti melangkah ke wilayah yang bukan miliknya.
***
Aroha baru selesai mengeringkan rambut ketika pintu kamarnya diketuk. Revana masuk tanpa menunggu jawaban, membawa segelas susu hangat yang tidak diminta, seperti dulu waktu Aroha masih SMA dan belajar sampai larut.
“Bu, aku udah tiga puluh empat tahun.”
“Susu nggak tahu umur.” Revana duduk di tepi ranjang. “Jadi? Cerita.”
Aroha menyerah. Ia menceritakan semuanya—paralayang, HT, jalan tanah—sampai ke bagian yang paling ingin ia lewati. Ketika kalimat itu akhirnya keluar, Revana menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu yang ngajak dia nikah?”
“Bu!”
“Kamu? Yang selama ini ngamuk tiap Ayah bahas soal ini?”
“Ibu, please.”
Revana tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan. Aroha menyembunyikan wajah di bantal dan baru keluar setelah tawa ibunya reda.
“Terus dia jawab apa?”
“Dia nggak jawab.” Aroha memeluk bantal. “Katanya aku terlalu penting buat dijadiin cara nutup pertanyaan Ayah.”
Tawa Revana surut perlahan, berganti senyum yang lain—yang lebih tenang.
“Ayahmu nggak salah pilih orang, ternyata.”
“Jangan ikut-ikutan, Bu.”
“Ibu nggak ikut-ikutan.” Revana merapikan selimut yang sebenarnya sudah rapi, kebiasaan tangan yang sedang memikirkan hal lain. “Aro… kamu ngerasa ayahmu akhir-akhir ini aneh, nggak?”
“Aneh gimana?”
“Ngomongin mati. Waktu itu, di kamar ini, di depan kamu.” Revana menatap jendela. “Tiga puluh lima tahun Ibu nikah sama dia, dan dia nggak pernah ngomong begitu. Sekali pun nggak.”
Aroha terdiam. Kalimat ayahnya malam itu—permintaan pertama dan terakhir sebelum ia mati—masih terasa seperti batu kecil yang tersangkut di tenggorokan.
“Ayah sehat kan, Bu?”
“Kata dokter istana sehat. Cuma capek. Akhir masa jabatan, acaranya nggak habis-habis.” Revana tersenyum tipis. “Kamu tahu sendiri ayahmu. Kalau ditanya capek, jawabnya selalu nggak.”
“Besok pagi aku cek tensinya.”
“Coba aja, kalau dia mau.”
Setelah ibunya pergi, Aroha mematikan lampu besar dan membiarkan lampu tidur menyala. Ia teringat gerakan kecil ayahnya di ruang keluarga tadi—telapak tangan yang mengusap dada, sebentar saja, lalu turun lagi ke pangkuan. Di rumah sakit, gerakan seperti itu pada pasien berusia enam puluhan akan membuatnya mengajukan tiga pertanyaan sekaligus. Di rumah, malam ini, ia terlalu lelah dan terlalu malu oleh harinya sendiri untuk bertanya apa pun. Besok pagi, pikirnya. Tensi dulu. Ayah pasti mengeluh, tapi tensi dulu.
Ia berbaring dengan ponsel di dada. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal sudah masuk empat puluh menit sebelumnya.
“Mbak Aroha, ini nomor saya. Saya sudah sampai di mess dengan selamat. Terima kasih untuk hari ini. Selamat beristirahat.”
Aroha membacanya dua kali, lalu tertawa sendirian di kamar yang sepi. Bahkan ucapan selamat malam dari laki-laki itu terdengar seperti laporan tugas. Ia menyimpan nomor itu, berpikir sebentar, lalu mengetik nama kontaknya: Mas Alvar (Laporan).
Ia tertidur sebelum sempat membalas.