Sepuluh menit pertama perjalanan pulang diisi bunyi mesin dan radio yang volumenya terlalu kecil untuk benar-benar didengar. Aroha memandangi kebun teh yang bergulir di luar jendela sambil memikirkan cara memulai perkenalan dengan orang yang baru saja ia ajak menikah. Urutannya terbalik, dan ia tidak tahu harus mulai dari halaman berapa.
“Mas,” katanya akhirnya. “Jeep putih yang waktu itu saya bawa ke rumah sakit… sebenarnya punya siapa?”
Alvar tidak langsung menjawab, dan itu sudah cukup membuat Aroha curiga.
“Kendaraan dinas pengamanan, Mbak.”
“Terus? Ada yang marah?”
“Komandan saya menegur. Kendaraan operasional tidak boleh dikemudikan orang di luar satuan.” Ia menyalakan lampu sein, menyalip truk sayur dengan hati-hati. “Teguran biasa. Sudah selesai.”
“Mas bilang itu salah saya, kan? Saya kan udah bilang saya yang tanggung jawab.”
“Saya bilang saya yang lalai.”
Aroha memutar badan di kursinya. “Kenapa?”
“Karena saya yang duduk di kursi sebelah, Mbak. Saya bisa menolak, dan saya tidak menolak.” Alvar mengatakannya datar, seperti membacakan prakiraan cuaca. “Lagi pula pasien Mbak selamat, kan?”
“Selamat,” jawab Aroha lirih. Ia ingat laki-laki yang siang itu datang nyaris tanpa nadi, dan yang kemarin sudah bisa berjalan sendiri ke kamar mandi. Ia tidak menyangka harga lima belas menit itu ternyata jatuh ke pundak orang lain. “Makasih, Mas. Dan maaf.”
“Sama-sama, Mbak. Mobil Mbak sendiri masih di garasi belakang istana, di tempat pengawal memarkirnya malam itu.”
“Oh iya.” Aroha mengulurkan tangan. “Hp Mas.”
“Maaf?”
“Waktu di rumah sakit saya nanya Mas punya nomor saya atau nggak, terus Mas diem. Artinya nggak punya.” Ia menggoyangkan jarinya. “Sini.”
Alvar menyerahkan ponselnya di lampu merah berikutnya. Aroha mengetik nomornya sendiri, lalu tertegun melihat nama yang Alvar ketik ketika ponsel itu dikembalikan untuk disimpan.
“Mbak Aroha?”
“Ada yang salah, Mbak?”
“Kayak kontak kantor.”
“Lalu harus saya tulis apa?”
Aroha berpikir sebentar. “Terserah. Asal jangan Putri Bapak.”
Alvar terbatuk. Dari caranya buru-buru menatap jalan, Aroha curiga pilihan itu sempat terlintas di kepalanya.
Setelah itu perkenalan berjalan dengan cara yang aneh, seperti dua orang mengisi formulir dari halaman paling belakang. Aroha bertanya makanan kesukaan Alvar. Nasi telur, jawabnya, dengan sambal dipisah, karena telur bisa dimasak di mana saja dan sambal yang dipisah tidak pernah mengkhianati perut. Aroha terkekeh dan mengaku ia suka apa saja asal masih hangat, karena di rumah sakit semua makanan selalu keburu dingin sebelum sempat disentuh. Alvar mengaku tidak bisa berenang dengan gaya apa pun selain gaya yang diajarkan di pendidikan militer. Aroha mengaku sudah dua tahun tidak menonton film sampai habis.
“Kenapa bukit itu, Mbak?” tanya Alvar ketika jalan mulai menurun ke arah kota. “Dari semua tempat untuk lari.”
“Karena dari atas, semuanya kelihatan kecil.” Aroha menyandarkan kepala ke jendela. “Rumah sakit, istana, jalan tol. Kayak kotak korek api. Masalah juga ikut kecil, paling nggak selama dua puluh menit.” Ia melirik. “Mas sendiri tadi takut, nggak? Jujur.”
“Di udara, tidak, Mbak.”
“Di mana takutnya?”
Alvar diam sebentar, seperti menimbang apakah kalimat berikutnya terlalu berani. “Waktu Mbak menyetir jeep minggu lalu.”
Aroha tertawa sampai harus memegangi perutnya, dan Alvar membiarkan tawa itu memenuhi mobil tanpa menyesali kalimatnya.
Ponselnya bergetar ketika matahari benar-benar sudah tenggelam. Nama Ayah muncul di layar, kali ini bukan panggilan, melainkan pesan.
“Ayah sudah di rumah. Kamu jadi pulang malam ini?”
Aroha menghela napas panjang. “Ayah nunggu saya. Kemarin Ayah minta saya pulang malam ini, dan saya bilang saya usahain.”
“Saya antar sampai istana, Mbak.”
“Turunin di gerbang aja. Biar saya yang ngomong.”
Alvar diam cukup lama sampai Aroha menoleh. Jari-jari pria itu mengetuk kemudi sekali, dua kali—gerakan pertama yang tidak rapi sepanjang hari itu.
“Kalau Mbak mengizinkan, saya ikut masuk.”
“Buat apa?”
“Supaya Bapak mendengar dari dua mulut yang isinya sama.” Alvar tetap menatap jalan, tapi suaranya mantap. “Kalau Mbak bicara sendiri, Bapak bisa mengira saya sebenarnya sudah setuju dan Mbak yang menahan. Kalau saya bicara sendiri, Bapak bisa mengira Mbak yang menolak dan saya yang sungkan. Saya tidak mau ada versi lain.”
Aroha menatap profil laki-laki itu lama sekali. Garis bekas helm di dahinya sudah memudar, tinggal semburat tipis.
“Mas nggak takut?”
“Takut, Mbak. Tapi saya lebih takut Bapak mendengar versi yang salah.”
***
Penjaga gerbang istana jelas tidak menyangka akan melihat mobil Alvar di hari liburnya, apalagi dengan putri Presiden duduk di kursi penumpang. Alvar membalas hormat mereka dengan anggukan dan pura-pura tidak melihat dua orang yang saling sikut di pos jaga.
Adam menunggu di ruang keluarga, sudah berganti kemeja rumah. Revana duduk di sebelahnya dengan cangkir teh yang tinggal setengah. Begitu melihat siapa yang masuk di belakang putrinya, wajah sang Presiden berubah—dari letih menjadi terang, terlalu terang, seperti lampu yang dinyalakan sebelum ada yang perlu dilihat.
“Kalian… pulang bareng?”
“Ayah,” potong Aroha. “Jangan senyum dulu.”
Senyum itu tidak hilang, hanya tertahan. Revana meletakkan cangkirnya pelan, matanya berpindah dari putrinya ke Alvar yang masih berdiri setengah langkah di belakang.
“Duduk dulu, Nak. Alvar juga.”
Alvar duduk di ujung kursi, punggung tegak. Aroha duduk di sebelahnya—tidak menempel, tapi cukup dekat untuk terlihat datang bersama—dan menjelaskan semuanya tanpa berputar-putar: mereka sudah bicara, mereka sepakat untuk saling mengenal, dan itu saja. Lamaran belum diterima. Tunangan juga belum.
“Kenalan itu bagus,” kata Adam, cepat sekali. “Tapi kenalan sambil tunangan kan bisa. Ayah sudah kenal Alvar bertahun-tahun—”
“Mohon izin, Pak.”
Semua kepala menoleh. Alvar sendiri tampak sedikit terkejut mendengar suaranya memotong kepala negara di ruang keluarga.
“Saya menghormati Bapak,” lanjutnya, pelan tapi tidak goyah. “Sebagai kepala negara, sebagai atasan saya, hormat itu tidak akan berubah. Tapi untuk urusan ini, saya ingin menjawab sebagai laki-laki, bukan sebagai ajudan. Dan jawaban laki-laki itu belum ada, Pak. Saya baru mulai mengenal Mbak Aroha hari ini.”
Ruangan itu hening. Aroha menatap Alvar dari samping, dan untuk sesaat lupa menutup mulutnya.
Adam bersandar. Ia mengusap dadanya dengan telapak tangan—gerakan singkat, seperti orang yang baru sadar terlalu lama duduk tegak—lalu tertawa kecil tanpa nada senang.
“Kamu ini… Ayah cuma takut tidak punya waktu sebanyak itu untuk—”
“Mas.”
Suara Revana tidak keras. Tapi kalimat suaminya berhenti di sana, terpotong rapi, dan tidak dilanjutkan.
Adam menarik napas panjang. Ketika ia bicara lagi, nadanya sudah turun. “Baik. Kenalan dulu. Ayah tidak akan mengisi apa-apa yang belum kalian isi.”
“Makasih, Yah.”
“Kalian sudah makan?” tanya Revana, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi. “Bi masih menyimpan sayur asem di dapur.”
Aroha berdiri, lega karena punya alasan untuk bergerak. Alvar ikut berdiri, hendak pamit, ketika suara Adam menahannya.
“Alvar. Temani saya ke teras sebentar.”