Dua kata itu jatuh di jalan tanah, di antara debu tipis yang masih beterbangan, lalu tinggal di sana seperti barang yang tidak jelas harus dipungut siapa.
Alvar membeku.
Tubuh yang sudah belasan tahun dilatih untuk bereaksi dalam hitungan detik itu mendadak lupa caranya bergerak. Tali helm sewaan yang sejak tadi ia genggam terlepas dari jarinya, terayun sekali, lalu mengetuk lututnya. Bunyinya kecil. Tapi di jalan sesepi itu, bunyi kecil pun terdengar seperti pengumuman bahwa seorang letnan kolonel baru saja kalah oleh seutas tali.
“Mbak…” Suaranya keluar serak. Alvar berdeham, lalu menyesal, sebab berdeham terdengar seperti orang yang sedang mengulur waktu. “Mbak Aroha serius?”
Aroha masih berdiri menghadapnya. Seragam dari tempat penyewaan masih melekat di tubuhnya, tali pengaman menyilang di dada, beberapa helai rambut lepas dari kunciran dan menempel di pelipis yang basah oleh keringat. Dagunya terangkat sedikit—sedikit terlalu tinggi untuk ukuran orang yang benar-benar yakin.
“Memangnya muka saya kelihatan lagi bercanda?”
“Tidak, Mbak. Justru itu.”
Di kejauhan seseorang membanting pintu mobil. Parkiran kendaraan penanggung jawab tinggal beberapa puluh meter lagi, tapi tidak satu pun dari mereka melangkah ke sana.
Alvar memaksa kepalanya bekerja. Ada dua jawaban yang tersedia, dan dua-duanya bisa ia ucapkan dalam satu tarikan napas. Ya, maka urusan ini selesai. Tidak, maka urusan ini juga selesai. Yang membuatnya diam justru karena dua-duanya terasa terlalu mudah.
“Kenapa sekarang, Mbak?” tanyanya akhirnya. “Beberapa hari lalu, di mobil, Mbak meminta saya bilang ke Bapak kalau saya tidak bisa memenuhi permintaan beliau. Tadi, lewat HT, Mbak bilang pembicaraan kita tidak perlu serius.” Ia menelan ludah. “Lalu di jalan ini Mbak mengajak saya menikah.”
Aroha membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya sejak mereka mendarat, wanita itu memalingkan wajah—ke rumput, ke langit, ke mana saja asal bukan ke arahnya.
“Karena saya capek, Mas.”
Alvar menunggu.
“Capek,” ulang Aroha, lebih pelan. “Ayah nanya, saya ngehindar. Ayah nanya lagi, saya nggak pulang. Saya nggak pulang, Ayah nyuruh Mas Prabu nelepon. Mas Prabu gagal, Ayah nelepon sendiri. Terus Mas muncul di rumah sakit, pasti karena didesak juga, kan?” Ia tertawa pendek, tanpa rasa senang sedikit pun. “Muter terus kayak lingkaran. Tadi waktu di atas saya mikir, kalau saya yang ngomong duluan, lingkarannya putus. Di tangan saya. Bukan di tangan Ayah.”
“Saya datang ke rumah sakit bukan karena didesak Bapak,” kata Alvar. “Senior saya yang menyarankan. Bapak bahkan tidak tahu saya ke sana.”
Aroha menoleh cepat. “Serius?”
“Siap. Serius.”
“Ya Tuhan.” Wanita itu menutup wajah dengan sebelah tangan. “Jadi saya barusan ngelempar ajakan nikah ke muka orang yang bahkan nggak disuruh datang. Ini udah yang keempat kalinya saya malu-maluin diri di depan Mas, tahu nggak?”
“Saya tidak menghitung, Mbak.”
“Saya yang ngitung!”
Hampir saja Alvar tersenyum. Ia menahannya, takut senyum di saat seperti ini dibaca sebagai ejekan. Ia memungut tali helm yang tadi jatuh, menggulungnya di telapak tangan, dan memakai beberapa detik itu untuk menyusun kalimat yang tidak berbentuk perintah.
“Mbak,” katanya. “Kalau saya jawab ya sekarang, ya itu cuma akan dipakai untuk menutup pertanyaan Bapak. Kalau saya jawab tidak, tidak itu juga dipakai untuk hal yang sama. Dua-duanya cuma jadi alat. Saya tidak mau jawaban saya jadi alat.” Ia mengangkat wajah, memaksa matanya tetap di wajah Aroha meski telinganya mulai panas. “Mbak terlalu penting untuk dijadikan cara menutup pertanyaan orang lain.”
Aroha tidak langsung membalas. Angin sore menggeser tali yang longgar di bahunya.
“Jadi jawaban Mas apa?”
“Belum ada, Mbak. Tapi saya punya usul, kalau Mbak tidak keberatan.” Alvar menarik napas. “Kita kenalan dulu. Yang benar. Saya bahkan belum tahu Mbak suka makan apa.”
“Mas tahu saya suka paralayang.”
“Itu juga baru saya tahu sore ini.”
Kali ini Aroha yang hampir tersenyum. Ia menunduk, menendang kerikil kecil di ujung sepatunya, lalu mengangguk sekali.
“Oke. Kenalan. Bukan tunangan.”
“Bukan tunangan,” ulang Alvar, dan entah kenapa kalimat sependek itu membuat bahunya sedikit lebih ringan.
***
Kendaraan penanggung jawab itu berupa mobil bak terbuka dengan bangku kayu memanjang di kedua sisinya. Mereka duduk berhadapan, lutut nyaris beradu setiap kali roda menghantam lubang di jalan perkebunan. Pengemudinya tidak peduli siapa penumpangnya, dan Aroha bersyukur untuk itu.
Di tengah perjalanan, ia memperhatikan sesuatu di dahi Alvar.
“Mas.”
“Ya, Mbak?”
“Ada garis merah di dahi Mas. Bekas helm.” Aroha memiringkan kepala, mengamati dengan serius yang dibuat-buat. “Kelihatannya Mas habis kalah berantem sama helm, dan helmnya nggak minta maaf.”
Alvar refleks meraba dahinya dan menggosoknya. Garis itu justru makin merah.
“Jangan digosok! Nanti kayak dicap.”
Tangannya berhenti di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana, lalu turun kembali ke lutut. Aroha menatap gerakan kikuk itu dan merasakan sesuatu yang tidak besar, tapi jelas. Laki-laki ini baru saja menolak menjawab lamaran dengan kalimat yang membuatnya tidak bisa membantah, lalu kalah oleh garis di dahinya sendiri.
Meja penyewaan berada di bawah terpal biru, tidak jauh dari titik mereka berlari tadi. Aroha melepas tali pengamannya dalam satu gerakan, kebiasaan orang yang sudah belasan kali datang ke tempat itu. Alvar tidak seberuntung itu. Gesper di bahunya macet. Ia mencoba sekali dengan sopan, lalu sekali lagi dengan lebih sopan, seolah logam kecil itu akan luluh kalau diperlakukan dengan hormat.
“Itu gesper, Mas,” kata Aroha. “Bukan perjanjian.”
“Saya tahu, Mbak.”
“Sini.”
Ia menjepit pengait itu dan menariknya sekali. Gesper itu terbuka dengan bunyi klik yang memalukan. Alvar mengucapkan terima kasih sambil menatap tiang terpal, bukan wajah Aroha, dan petugas penyewaan menghitung barang mereka tanpa sedikit pun menahan tawa. Entah kenapa itu justru membuat telinga Alvar makin panas.
“Sudah lengkap,” kata petugas itu. Ia melirik Aroha, lalu Alvar, lalu Aroha lagi. “Mbak Aroha sudah lama nggak kelihatan. Biasanya sendirian terus.”
“Hari ini bawa teman, Pak.”
“Temannya baru pertama kali, ya?” Petugas itu menunjuk gesper yang tadi macet dengan dagunya. “Kelihatan.”
Aroha tertawa. Alvar mengangguk dengan sangat sopan kepada petugas itu, seolah baru saja menerima penilaian resmi atas kinerjanya, dan Aroha harus berpaling supaya tawanya tidak semakin keras. Di tempat ini, orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang datang sendirian setiap kali penat dengan kuliah atau pekerjaan—bukan sebagai putri siapa-siapa. Ia baru sadar betapa ia menyukai itu ketika melihat laki-laki di sampingnya diperlakukan dengan cara yang sama.
Mereka berjalan ke mobil Alvar yang terparkir di pinggir lapangan. Langit di barat mulai jingga. Aroha berhenti di samping pintu penumpang dan menatap jalan menurun yang akan membawa mereka pulang.
“Dua jam perjalanan,” katanya. “Cukup buat kenalan, kan?”
Alvar membukakan pintu untuknya. “Saya rasa tidak akan cukup, Mbak.”