Begitu Fiko memberhentikan motornya di depan rumah. Maria langsung turun dan berlari masuk tanpa menunggu Fiko. Fiko yang ditinggalkan hanya bisa menghela napas lelah. Kenapa Maria tidak mengerti juga? Fiko melakukan semua ini untuknya juga. Fiko tau Maria juga sudah menginginkan anak. Harusnya Maria mengerti, dengan adanya Sela hamil berarti dia ikut dipanggil Ibu juga.
Selama ini memang dia dan Maria tak pernah memeriksakan kondisi kesehatannya karena Fiko yakin dirinya tidak mengalami kesusahan dalam kesuburannya. Satu-satunya alasan yang terpikirkan olehnya adalah Maria. Fiko jelas tau di keluarganya tidak ada yang mandul, sedangkan Maria yang asal usulnya tidak jelas sudah cukup menjadi bukti kalau kemungkinan besar di keluarganya ada yang mandul. Kadi, untuk apa mereka memeriksakan kesuburannya kalau Fiko jelas sudah tau yang mandul di sini adalah Maria. Sadar tidak sadar, perlakuan Fiko selama ini semata karena ketidak puasannya terhadap Maria.
Fiko membuka helmnya dan mengikuti Maria masuk ke dalam. Karena lelah, Fiko langsung menjatuh tubuhnya di atas sopa yang terletak di ruang tamu. Baru Fiko ingin memejamkan mata, suara pecahan kaca terdengar dari arah dapur. Bergegas Fiko menghampiri suara pecahan itu.
Sesampainya di dapur, Fiko dibuat pusing karena tiga perempuan yang hidup seatap dengan dirinya kini tengah bersitegang saling menghunuskan mata satu sama lain. Di antara mereka terdapat pecahan gelas. Fiko memperkirakan yang melempar gelas adalah Marni. Karena hanya Marni yang duduk berdekatan dengan beberapa gelas yang ada di atas meja.
"Ada apa ini?" Fiko menatap satu persatu perempuan yang kini sama-sama menoleh serempak ke arahnya. Fiko tak habis pikir, ada apa dengan pimiran para wanita. Kenapa senang sekali mencari keributan. Fiko sampai sakit kepala memikirkannya.
"Istri sialanmu ini sudah membuat ibu dan Sela kelaparan, Fiko!" Marni angkat suara duluan. Dia menyeringai sinis pada Maria. Marni yakin sekarang Fiko pasti akan kembali menghukum Maria sama seperti waktu itu. Sejujurnya Marni begitu puas saat melihat Maria menderita di tangan anaknya, Fiko.
"Iya, Mas. Aku kan harus makan teratur agar bisa menjaga kesehatan tubuhku. Kalau begini caranya, kapan aku hamilnya, Mas?" Sela tambah memanas-manasi keadaan. Dalam hati dia tertawa jahat dan sudah tidak sabar untuk melihat Maria disiksa lagi oleh Fiko.
Maria hanya diam saja dikatain ini itu oleh ibu meetuanya dan Sela. Sejujurnya dia tidak peduli Fiko mau marah atau menghukumnya sekalipun. Maria masih sakit hati dengan Fiko, jadi jangan salahkan Dia kalau sekarang memberontak.
Fiko yang menerima berbagai rentetan alasan ibu dan istri mudanya tentang Maria hanya bisa mengutuk dalam hati. Kenapa para wanita ini tidak bisa diam barang sebentar saja? Haruskah Fiko mengurung mereka di kamar terpisah agar sama-sama diam.
"Lakukan sesuatu dong, Fiko. Ibu ingin wanita tidak tau diri ini di hukum agar jera. Udah hidup numpang, belagu lagi. Keterlaluan banget kan, Fiko?" Marni makin menjadi karena Fiko hanya diam saja dan tidak segera mengambil tindakan.
"Kalian memperlakukanku tidak lebih dari seorang pembantu. Bahkan pembantu lebih tinggi derajatnya karena masih mendapat perlakuan sopan, keadilan, dan tanggung jawab majikannya. Tapi aku," Maria menunjuk dirinya sendiri. "Kalian perlakukan aku lebih dari seorang pembantu. Kalian selalu memandang sinis dan mencari-cari kesalahanku. Apa rasa kemanusiaan kalian sudah terhapus sehingga dapat memperlakukanku begini?" Maria bertanya serak. Air matanya luruh membasahi lantai.
"Halah, drama kamu!" Marni memandang bosan Maria. Dia tidak merasa bersalah sama sekali setelah merendahkan dan menyusahkan Maria selama ini. Sampai Maria mendapat kesakitan melebihi rasa sakit yang di rasakannya, Marni tidak akan berhenti membuat Maria menderita. Biarlah Maria mendapat hukuman atas apa yang ibu kandungnya dulu berikan pada dirinya.
"Maria?" Fiko memanggil Maria pelan. Hatinya teriris begitu mendengar keluh kesah Maria yang di pendamnya selama ini. Fiko tidak tau, kalau perlakuan ibunya selama ini sangat membekas di hati Maria. Fiko pikir, selama ini Maria hanya menganggap angin lalu perlakuan ibunya. Maria terlihat baik-baik saja setelah di hina setajam apaun oleh ibu. Maria kuat, dan Fiko sangat tau itu. Apa Fiko telah melewatkan sesuatu yang sangat penting?
Maria menghapus kasar air matanya dan memandang Fiko penuh tantangan. "Kenapa Mas Fiko hanya diam saja. Lakukan apa yang ibu inginkan, biasanya Mas begitu, kan. Apapun yang ibu katakan, Mas turutin walau aku yang terluka. Asal ibu senang, Mas tidak peduli aku yang tersiksa."
"Kok perkataanmu kurang ajar, Maria. Bagaimana pun, ibu juga ibu kamu. Apa pantas seorang menantu berkata begitu pada mertuanya?" Sela makin memanas-manasi keadaan. Dia tidak puas karena Fiko tidak berbuat apa-apa. Sela ingin Maria tersiksa dan memilih menyerah.
"DIAAAM!" Fiko berteriak. Dia baru pulang dari luar kota dan langsung di suguhkan dengan keadaan rumah yang saling bersitegang. Fiko hanya ingin ketenangan, bukan perdebatan panas seperti ini. Teman kerjanya mengatakan setiap mereka lelah karena bekerja, begitu pulang ke rumah cape langsung hilang. Begitu mereka bertemu anak-anaknya beban di punggung seolah terangkat dan menghilang begitu saja. Fiko ingin seorang anak, dan kapan itu terwujud? Fiko sudah pusing dengan mempunyai dua istri sekaligus.
"Gak bisa gitu dong, Fiko. Ibu dan Sela belum makan. Kami lapar, harusnya Maria masak dari subuh agar makanannya sudah terhidang sekarang." Marni tetap keukeuh ingin menyalahkan Maria tanpa sadar raut wajah anaknya yang sudah suram.
Sedangkan Sela memilih opsi aman dengan menutup rapat mulutnya. Saat ini dia sudah cukup tau kalau Fiko sedang menahan emosi dalam dadanya.
"Ibu, cukup!" Fiko berkata lemah. Emosi dalam dadanya bisa meledak kalau terus ditekan seperti ini.
Marni diam. Namun, dari sorot matanya Fiko tau kalau ada tatapan kecewa. Ibunya itu kini membuang wajah enggan melihatnya. Lalu Fiko menoleh ke arah Maria yang tengah menatapnya benci. Dia menghirup napas pelan. Dia harus tenang agar bisa menjadi penengah yang adil. "Ibu, Tadi Fiko bertemu Maria di jalan saat hendak pergi ke pasar. Di tengah jalan Maria mengalami sedikit masalah. Dia hampir tetabrak motor, dan untuknya ada orang yang menyelamatkannya. Makanya Maria pulang dengan tangan kosong." Fiko berucapa lembut disertai senyuman tipis berharap ibunya itu mau mengerti. "Karena kita sama-sama belum makan, maka ayo kita pergi mencari makan di luar. Sesekali gak apa-apa, kan?"
Perlahan Marni menoleh ke arah anaknya itu. Daripada tidak makan sama sekali, lebih baik mengiyakan saja ajakannya. "Dengan syarat Maria tidak boleh ikut. Kan dia yang menyebabkan kita semua kelaparan. Maria harus di hukum, dong!" Marni tetap keukeuh kalau Maria harus mendapat hukuman.
Fiko melihat Maria dengan pandangan rasa bersalah dan itu cukup Maria pahami kalau kali ini juga Maria harus mengalah. Tanpa kata, Maria pergi meninggalkan semua orang menuju tempat sunyi. Di sana dia menangis berteman rasa sepi.
***