Bab 8. Aku tidak setengah itu untuk mengkhianatimu, Mas.
Maria sontak tersenyum lebar begitu melihat Fiko tengah menungguinya. Dengan terburu, Maria menghampiri Fiko yang tengah duduk di atas jok motornya. "Mas, udah lama di sini?" Maria bertanya penasaran. Pasalnya Maria tidak mendengar suara motor berhenti, tau-tau suaminya itu sudah menungguinya.
Fiko tidak menjawab, namun matanya menyorot lurus ke arah laki-laki yang sedang menyenderkan tubuhnya di tiang rambu lalau lintas dengan tenangnya.
Maria yang pertanyaannya tidak digubris sang suami, ikut menolehkan kepalanya mengikuti arah tatapan Fiko. Maria kini tau, objek tatapan Fiko adalah Arkan. "Mas, ini Arkan."
Fiko mengalihkan atensinya pada Maria. Dia sedikit tidak senang ketika Maria menyebut nama laki-laki lain selain dirinya dengan nada riang begitu. Fiko cemburu, dan dia tidak suka rasa itu.
Maria mencebik ketika mendapati wajah suram suaminya. "Gak usah curiga gitu, Arkan.."
Fiko langsung menyimpan jari telunjuknya di depan bibir Maria begitu istrinya itu menyebut nama laki-laki itu lagi. "Jangan menyebut namanya!" Peringatnya tidak suka.
Maria menyingkirkan jari telunjuk Fiko dari bibirnya. "Apaan sih. Kamu harus dengerin dulu penjelasanku!" Maria merengutkan wajahnya karena kesal dengan tingkah kekanak-kanakan suaminya.
Arkan yang melihat interaksi suami istri di depannya hanya memutar bola mata malas. Dia masih berdiri di sana hanya untuk memastikan Maria pergi dengan selamat.
"Katakan!" Fiko berucap ketus. Sulit baginya mengontrol suara agar terdengar tenang ketika perasaannya waspada dengan adanya laki-laki tampan yang berpotensi ingin merebut istri yang sangat di cintainya ini.
Maria hanya bisa menghela napas pasrah karena Fiko tetap mengeluarkan suara ketus. "Arkan ini orang yang nolongkn aku pas tadi hampir tertabrak motor. Kalau tidak ada Arkan, mungkin saat ini aku sudah terbaring tak berdaya di Rumah sakit."
"APA!" Fiko memutar tubuh Maria dan menelitinya. Dirasa tidak ada luka atau darah yang menempel, barulah Fiko bernapas lega. "Apa ada yang sakit?" Fiko bertanya khwatir.
"Tidak ada, Mas." Maria melihat ke arah Arkan sambil tersenyum manis. "Kan tadi aku udah bilang ada Arkan yang keburu nolongin."
Arkan yang melihat Maria tersenyum manis ke arahnya balas ikut tersenyum manis, walau dia tau laki-laki yang ada di sebelah Maria kini tengah memandangnya sinis. Selama Maria bisa bahagia, Arkan akan tetap membiarkannya selagi tidak melewati batas. Arkan bukannya tidak tau kalau laki-laki yang tengah memandangnya tak suka ini adalah suami Maria. Dia juga tau kalau laki-laki ini telah meluaki perasaan Maria dengan cara menikahi wanita lain. Sekali lagi. selama Maria bahagia, Arkan akan tetap membiarkannya. Tapi, bukan berarti akan melepaskannya. Maria adalah tanggung jawabnya, harta berharga dalam hidupnya. Jadi bila Maria sudah tidak bahagia dengan pernikahannya, Arkan tak segan untuk memabawa Maria dari laki-laki egois ini.
Fiko menghembuskan napas lega. Walaupun tidak suka dengan kehadiran Arkan yang membuat atensi Maria jadi tidak terpusat padanya lagi, namun Fiko tetap harus berterima kasih. "Terima kasih." Ucapnya singkat.
Maria yang mendengar nada Fiko yang seolah tidak ikhlas mengucapakan 'terima kasih' sontak memukul lenagnnya pelan. "Mas gak bener. Ucapin terima kasih kok kayak gak rela begitu." Sungut Maria kesal.
"Udah deh, sayang. Yang penting Mas kan udah bilang terima kasih. Memangnya apa bedanya antara ikhlas atau gak ikhlas. Sama-sama bilang juga." Ucap Fiko agak tersulut emosi. Emosinya makin tak terkendali begitu Maria ingin Fiko seolah-olah harus bersikap baik pada Arkan.
Arkan yang melihat perdebatan kecil suami istri di depannya segera berdiri tegak untuk menghampiri mereka. "Maria, kuarasa kamu sudah tidak membutuhkan saya lagi. Kalau begitu, sampai jumpa lagi!" Arkan melambaikan tangannya dan menghampiri sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dai tempat mereka.
"Eh, tapi kamu belum tau dia siapa!" Maria agak meninggikan suaranya sambil menunjuk Fiko.
Arkan berbalik dan tersenyum singkat. "Tau kok. Dia pasti suami kamu yang tukang cemburuan." Arkan juga meninggikan suaranya sampai orang-orang yang kebetulan lewat sintak mengikuti arah pandang Arkan pada Fiko.
Maria meringis saat merasakan tatapan tajam dari arah sampingnya. "Iya. Ini Mas Fiko, suami aku." Ucapnya agak pelan.
Arkan mengangguk dan masuk ke dalam mobil meninggalkan sepasang suami istri yang melihatnya dengan tatapan berbeda.
"Baiklah. Sampai jumpa kembali." Maria ikut melambaikan tangannya sampai punggung Arkan menghilang di balik pintu mobil.
"Seneng banget kelihatannya?" Fiko memicingkan mata curiga ketika melihat tatapan Maria pada Arkan yang terlihat begitu lembut. "Kamu suka sama laki-laki itu?" Tuduhnya tanpa pikir panjang.
Maria yang tengah melihat mobil Arkan laju menjauh sontak mengalihkan atensinya pada Fiko yang tengah memandangnya curiga. Maria menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah suaminya yang cemburuan. "Jangan nuduh sembarangan. Aku gak serendah itu untuk menghianatimu."
"Apa maksudmu?"
"Gak ada maksud apa-apa. Kenapa kamu emosi begitu?"
Karena tak ingin berdebat lagi, Fiko memutuskan untuk mengalihkan topik. Dia melihat keranjang yang di bawa Maria. " kamu mau belanja?" Tanyanya penasaran. Dia melihat arloji di tangannya, pukul 07:30. "Udah siang, Ibu dan Sela pasti sudah kelaparan di rumah. Kenapa kamu belanjanya siang banget?"
"Kenapa Mas nyalahin aku?" Tanya Maria tersinggung. "Kamu tanya sama istri mudamu itu, kenapa tidak pernah membantu mengurus rumah dan pekerjaan lainnya!"
"Maria." Panggil Fiko penuh penekanan. Dia mencengkram ke dua bahu Maria pelan. "Mas yang suruh Sela agar tidak terlalu lelah suapaya cepat hamil. Seharusnya kamu ngerti dong. Pastinya kamu juga ingin cepat punya anak, kan?" Jawab Fiko tak berperasaan.
Maria menepis tangan Fiko yang mencengkaram bahunya kasar. Matanya kini sudah berkaca-kaca. Fiko memang selalu memikirkan dirinya sendiri tanpa tau perasaan Maria hancur. "Dari awal kita menikah, gak pernah tuh Mas Fiko memperlakukanku seperti Mas memperlakukan Sela sekarang. Apa pernah Mas mgertiin keadaanku yang selalu kelelahan karena sibuk seharian ngurus rumah dan ngurus segala sesuatu untuk Ibu, di tambah dengan keperluanmu." Tanya Maria putus asa. Hatinya sakit ketika melihat Fiko memperlakukan Sela istimewa sedangkan dirinya disalahkan terus. Istri mana yang rela diperlakukan tidak adil oleh suaminya sendiri?
Fiko mengusap wajahnya prustasi. Dia melihat ke sekeliling banyak orang yang menonton perdebatannya. Karena malu, Fiko membawa Maria agar naik ke atas jok motornya dan melaju meninggalkan orang-orang yang melihatnya penasaran. Fiko tau kalau perlakuannya selama ini pada Maria memang bisa dikatakan tidak adil. Tapi, keinginan untuk segera memiliki anak membuatnya tetap menutup mata. Biarlah Maria berkorban sebentar untuk mewujudkan keinginannnya. Kerinduannya pada sosok kecil ditengah-tengah pernikahannya dengan Maria membuat Fiko rela menikahi Sela agar memberinya keturunan.
***