Lelah menangis, Maria keluar rumah untuk mengisi perutnya yang sudah melilit perih. Maria memang mempunyai penyakit mag yang telat makan sebentar saja sudah kambuh. Apa lagi sekarang dia telat makan sudah berjam-jam lamanya. Dia merutuki dirinya sendiri karena lalai dalam menjaga kesehatannya.
Setelah memeriksa seluruh ruangan yang terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar Fiko dan Sela, kamar Marni yang kini juga ia tempati, terakhir kamar mandi. Maria tidak menemukan siapa-siapa. Kenapa mereka belum pulang juga, ini sudah hampir tengah hari? Apa mereka pergi lagi setelah acara makan? Tanpa di cegah, air mata Maria mengalir lagi, namun buru-buru Maria hapus.
Maria mengambil es batu dari kulkas untuk mengompres mata bengkaknya. Setelah di rasa matanya agak lumayan, Maria pergi keluar rumah untuk mencari makan sekaligus obat mag.
Karena perutnya yang dari pagi tidak terisi papaun, di tengah jalan Maria berkaali-kali oleng hampir terjatuh. Rasa perih di perutnya makin menjadi, bahkan kini pandangannya sudah mulai menguning. Berkali-kali Maria menggelengkan kepalanya untuk tetap menjaga kesadarannya. Maria takut kalau jatuh tak sadarkan diri di tengah jalan sepi seperti ini, akan ada orang jahat yang mencoba mencari keuntungan dari dirinya.
Di tengah ambang kesadarannya, Maria dapat melihat seorang laki-laki yang berlari ke arahnya. Entah kenapa, setelah melihat laki-laki itu Maria jauh merasa tenang. Sebelem kesadarannya benar-benar hilang, Maria dapat merasakan pelukan hangat dan menenangkan milik laki-laki yang merengkuhnya. Tak sadar, sebuah lengkungan manis membentuk di bibirnya.
Ketika sadar, Maria dapat menghirup bau obat-obatan. Ruangan serba putih yang terdapat berbagai alat medis. Maria menerka kini dia ada di sebua klinik. Maria mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang menolongnya atau Dokter yang berjaga. Karena tidak dapat menemukan siapapun, Maria menutup kembali matanya.
Suara pintu terbuka membuat mata Mari terbuka otomatos. Di sana, di ambang pintu Arkan tersenyum dengan manisnya ke arah Maria dengan nampan di tangannya. Arkan melangkah santai menghampiri Maria. Setelah menyimpan nampan di atas nakas yang terdapat di sisi kanan ranjang di tempati Maria, Arkan mendudukan pantatnya di kursi yang tersedia di samping ranjang. "Gimana keadaanmu?" Arkan bertanya lembut. Sorot matanya jelas menunjukan kekhawatiran yang kentara. Waktu tadi dia mendapati Maria limbung di jalan, Arkan panik luar biasa. Jantungnya bahkan sudah berdetak keras takut terjadi sesuatu yang patal pada Maria.
"Baik." Maria menjawab serak karena tenggorokannya kering.
Dengan sigap Arkan mengambil gelas yang tadi dibawanya di atas nampan dan memberikannya pada Maria. "Minum dulu!"
Maria menerima dan meminumnya sampai tandas. Ketika Maria ingin menyimpan kembali gelas ke atas meja, buru-buru Arkan mengambil alih dan menyimpannya sendiri membuat Maria meringis tak enak.
"Harusnya kamu minta tolong saja padaku!" Arkan berbicara setelah menyimpan gelas ke atas meja.
"Saya masih bisa melakukannya!" Maria menjawab agak canggung. Dia merasa sungkan karena begitu diperhatikan oleh sosok laki-laki tampan seperti Arkan. Sejujurnya dia sedikit risih karena berduaan di satu ruangan bersama lawan jenis.
"Kata Dokter, mag-mu kambuh karena perutmu kosong. Sekarang makan dulu bubur ini!" Arkan mengambil bubur dalam mangkok dan memberikannya pada Maria. "Bubur ini lembut, jadi perutmu tidak akan terkejut saat kamu memakannya."
Maria mengambil mangkuk bubur dari tangan Arkan dan memakannya perlahan. Mata Maria berbinar karena merasakan rasa enak dari bubur. Bubur ini tidak seperti bubur buatan Rumah sakit yang selalu hambar. Maria memakannya sampai habis tak tersisa. Setelah memakan obat yang diberikan Arkan, Maria kembali merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
"Apa kamu tidak ingin menghubungi keluargamu?" Arkan bertanya pelan. Bukan karena tidak mau menjaga Maria, hanya saja Arkan takut keluarganya Maria khawatir karena salah satu anggota keluarganya menghilang sudah cukup lama.
Maria yang sudah bersiap memejamkan matanya sontak membuka kembali matanya. Dia memikirkan sebentar perkataan Arkan tentang menghubungi Fiko atau orang rumah lainnya. Namun, ketika mengingat perlakuan mereka pagi tadi, seketika keinginan untum memberitahu orang rumah surut kembali. Maria hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Arkan.
Arkan mengangguk mengerti disertai senyuman tipis. Raut wajahnya tampak tenang, namun siapa yang tau di dalam hatinya kini menggumpal segunung kemarahan yang ingin dia luapkan. Bukankah Arkan sudah mengatakan akan membiarkan Maria bersama Fiko kalau Fiko dapat memberikan kebahagiaan untuk Maria. Berhubung sekarang Maria saja enggan untuk menghubungi Fiko, maka jangan salahkan dirinya yang akan membuat Fiko menyesal.
Arkan yang sudah melihat Maria tertidur pulas dengan tanda dengkuran halus dan teratur, membenarkan selimut Maria yang agak melorot ke bawah. Arkan mengusap pelan puncak kepal Maria dengan sayang. Arkan berdiri, sebelum melangkah keluar dia membubuhkan kecupan sayang di kening Maria. "Tidur yang nyenyak my princes!"
Arkan keluar dari ruangan Maria dengan rencana yang berjalan di otaknya. Kali ini dia tidak akan menahan diri untuk memberi pelajaran pada laki-laki egois yang sudah berani melukai perasaan Maria berkai-kali. Dan kini, dengan matanya sendiri Arkan melihat Maria berjalan kesakitan sendirian. Arkan benar-benar marah melihatnya, dan untuk meredam kemarahannya saat ini dengan balik membuat si penyebab kemarahannya sama merasakan apa yang di rasakannya.
Arkan memberhentikan mobilnya di tempat perbelanjaan atau bisa dikatakan mall. Matanya memicing ke arah objek yang di tujunya. Di lantai dua tempat orang-orang pesan makanan siap saji terlihat tiga orang yang saling tertawa senang. Arkan mendecih ketika melihat Fiko tak segan memperlihatkan kemesraannya dengan istri keduanya di depan umum. Arkan muak, kalau boleh ingin sekali Arkan membunuh mereka semua untuk Maria. Tapi, Arkan sadar dengan membunuh mereka hanya akan mendapat tatapan kebencian dari princes-nya.
Arkan mengeluarkan benda pipih dari saku celannya dan menelpon seseorang yang dia perintahkan untuk menjalankan rencananya.
"Lakukan seperti yang kuperintahkan!" Arkan menyeringai begitu mendengar balasan dari sebrang telponnya. Dia mematikan sambungan telponnya dan memasukan kembali Handphon-nya ke dalam saku celana.
Setelah menunggu beberapa saat, Arkan dapat melihat seorang yang berjalan menuju ke arah Fiko dan keluarganya. Arkan kembali menyeringai licik begitu melihat orang itu berlalu dan mengangkat jempol ke arahnya sebagai kode berhasil melakukan rencananya.
Ini baru pembalasan kecil dan sama sekali tidak seimbang dengan perlakuan mereka pada Maria My princes-nya. Tunggu mereka kembali melewati batas, dan saat itu juga Arkan keluar untuk langsung membalas mereka. Setitik air mata Maria yang jatuh karena perbuatan mereka, maka setitik darah balasan dari Arkan.
Setelah memastikan rencananya berhasil, Arkan melajukan mobilnya untuk kembali menemani Maria di klinik khusus miliknya.
***