Maria kembali memikirkan alasan di balik Fiko menikahi Sela. Bukan, bukan dia senang karena itu artinya Fiko tetap hanya mencintainya seorang melainkan ada rasa iba di hatinya untuk Sela. Walaupun Sela ingin menyingkirkannya demi menjadi istri Fiko satu-satunya, Maria tetap tau bagaimana perasaannya nanti saat tau dia cuma dimanpaatkan.
Andai Sela tau bahwa dia hanya Fiko jadikan sebatas wanita yang harus melahirkan anaknya saja, Maria tidak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya dia nanti.
Dari pada memikirkannya terus, Maria memilih pergi ke dapur guna memasak sesuatu untuk mengisi perutnya.
Begitu sampai di dapur, Maria meletakan terlebih dahulu tas belanja yang dia bawa di kursi makan. Lalu dia menghampiri kulkas untuk mencari bahan yang bisa diolah menjadi omlet.
Maria menghembuskan napas pasrah karena begitu membuka kulkas, ternyata bahan-bahan sudah habis. Padahal dia rasa belum lama ini mengisinya penuh. Sudahlah, lebih baik dia pergi ke supermarket saja untuk membeli sayur serta daging dan bumbu-bumbu lainnya karena tak mungkin membelinya di pasar saat hari sudah siang begini.
Setelah menyimpan tas belanjaannya dan memasukan uang kedalam dompet, Maria bergegas keluar dengan naik ojek.
Maria tidak mau minta diantar Fiko, jadi memutuskan untuk naik ojek saja.
Maria masuk kedalam supermarket kebagian yang menyediakan sayur serta bumbu-bumbuan. Dia berdecak kagum karena sayuran supermarket memang bagus, beda dengan sayuran yang ada di pasar. Jika kita ingin yang bagus, ya harus pintar-pintar memilih.
Waktu Maria ingin mengambil seikat sayur kangkung, ada orang yang juga memegang kangkunya. Maria menoleh ke arah orang itu, ternyata seorang laki-laki dengan visual cantik yang maskulin dengan perawakan tinggi besar berkulit putih.
Laki-laki itu tengah menelpon seseorang sehingga tidak sadar kalau kangkung yang dia pegang tengah dipegang juga oleh Maria. Dalam diam, Maria melepaskan kangkung itu dan memilih kangkung yang lain.
"Iya, mah. Gudy udah ambil kangkung. Nih, Gudy lagi pegang."
Laki-laki itu meraba-raba labu siam yang juga kebetulan sedang Maria pilih sehingga tak sengaja tangannya bersentuhan. Maria menghembuskan napas sabar, lalu lanjut memilih labu siam yang agak jauhan dari si laki-laki yang bertelpon.
"Labu siamnya berapa kilo?"
Maria melihat laki-laki itu dengan lihai memasukan labu siam kedalam kantong plastik tanpa melihat tangannya.
"Oh, bawang putih juga."
Maria menunduk, ternyata bawang pitih ada di depannya. Buru-buru dia menggeser tubuhnya takut bersentuhan lagi dengan laki-laki yang tidak memperhatikan sekitarnya dan malah lebih pokus pada handphon-nya itu.
Karena tidak pokus pada tangannya, laki-laki itu terus salah saat meraba-raba sekitaran bawang putih membuat Maria greget. "Bawang putihnya sebelah sini, Mas." Maria menunjuk sekumpulan bawang putih.
Laki-laki itu menunduk menggumam membenarkan tanpa melihat ke arah Maria.
"Apa lagi, mah?"
Laki-laki itu terlihat mengangkat tangan untuk melihat arlojinya.
"Gudy pulang, kok. Makan siang di rumah."
Karena bahan yang Maria butuhkan di tempat ini sudah cukup, Maria melangkah menjauh. Namun, panggilan dari laki-laki yang menelpon mamahnya itu membuat kakinya refleks berhenti.
"Hei, tunggu! Makasih, ya."
Maria berbalik, tapi yang dia temukan hanya punggung lebar laki-laki itu yang sudah berjalan menjauh. Mengedikan bahu, Maria kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari bahan lain yang belum dia kumpulkan tanpa tau takdir apa yang akan mempertemukan kembali antara dirinya dan laki-laki si penelpon tadi.
***
"Bu, coba ibu cerita sama Fiko. Sebenarnya siapa Ibu kandung Maria itu."
Fiko berlutut di depan Marni yang tengah duduk di kursi roda.
"Buat apa sih kamu nanya-nanya wanita itu?" Marni memandang Fiko kesal. Setiap kali dia mengingat wanita yang merebut kebahagiannya itu, emosinya selalu hampir tak terkontrol.
Fiko menatap Marni lembut. Namun, dalam matanya memperlihatkan keteguhan. "Ibu kandung Maria berarti Ibu mertuaku. Jadi ibu kasih tau Fiko, siapa Ibu kandung Maria."
Marnia membuang wajah enggan menjawab pertanyaan sang anak.
Sela yang berdiri di belakang pintu menajamkan pendengarannya saat telinganya menangkap pertanyaan Fiko yang diajukannya pada Marni. Sela tertawa senang dalam hati, karena tanpa repot mendekati sang Ibu mertua, Sela dapat dengan mudah mengetahui rahasia di balik siapa Ibu kandung Maria yang Marni tutup rapat itu.
"Ibu." Fiko memanggil lembut. "Katakan pada Fiko, siapa sebenarnya Ibu kandung Maria. Fiko perlu tau, kalau tidak Maria bisa pergi dari rumah ini."
"Itukan memang keinginan ibu." Marni menajwab sinis.
Fiko menghembuskan napas pelan, kesabarannya sudah hampir habis menghadapi Ibunya yang keras kepala. "Aku sudah berjanji, kalau Fiko memberitahu tentang informasi Ibu kandungnya, maka Maria tidak akan meninggalkan rumah ini. Jadi, tolongg kasih tau Fiko tentang Ibu kandungnya Maria itu."
Sela mengepalkan tangannya kuat. Dia ingin Maria keluar dari rumah ini secepatnya, tapi kenapa ada saja halangannya. Sela bertekad dalam hati, pokoknya Fiko tidak boleh sampai tau siapa Ibu kandung Maria agar tidak bisa menahan-nahan lagi Maria.
"Sebenarnya apa sih maumu, Fiko? Kenapa masih mempertahankan wanita itu, sedangkan Sela yang jauh lebih baik ada di sampingmu?" Marni meninggikan ucapannya karena kesal terus-terusan di todong oleh Fiko.
Fiko mendongak menatap Marni sungguh-sungguh. "Karena Fiko sangat mencintai Maria, tanpa dia Fiko akan merasa seperti orang kehilangan arah."
"Omong kosong." Marni memutar kursi rodanya sehingga membelakangi Fiko yanng sedang berlutut.
"Kalau ibu tidak memberikan informasi itu, maka Sela akan Fiko ceraikan."
"Gila kamu." Marni kembali memutar kursi rodanya sampai berhadapan lagi dengan Fiko yang sudah mendongak ke arah Marni. "Sela itu menantu terbaik ibu. Pokonya kamu tidak boleh menceraikannya!"
Kepalan tangan Sela makin menguat sampai kuku jarinya menancap pada telapak tangannya saat mendengar dengan mudahnya Fiko mengucapkan akan menceraikannya demi mempertahankan Maria.
Sela tidak terima perjuangannya selama ini sia-sia. Jadi, satu-satunya jalan dia harus menahan Maria sebentar sampai Maria sendiri yang menginginkannya bercerai seperti kata Maria waktu itu.
Ya, itu adalah ide terbaiknya saat ini. Sela menghela napas lega dengan pemikirannya yang cepat.
Dengan pura-pura baru datang,Sela mengetuk pintu sambil melongokan kepalanya sedikit kedalam. "Mas, ibu, aku masuk boleh?"
Marni dan Fiko sontak menegang saat Sela masuk. Pemikiran mereka berdua sama, apa Srla baru saja mendengar perkataan mereka?
"Ya, masuk saja." Marni menyahut.
"Kamu mendengar pembicaraan kami?" Fiko langsung menodong Sela dengan pertanyaan.
Sela mengernyit pura-pura tidak paham. "Apa sih, Mas. Aku baru datang sudah di tanya gak jelas."
Terdengar Fiko menghembuskan napas lega membuat Sela mati-matian menahan emosi dalam hatinya. Awas kamu Maria. Kamu mungkin masih bisa menguasai hati Fiko, tapi aku pastikan itu tidak akan lama lagi.
***