"Ok, saya ceritakan."
Maria tersenyum puas karena sebentar lagi dia dapat mencari tahu siapa Ibu kandungnya itu.
"Sepertinya ibu butuh istirahat. Sela, cepat antar ibu ke kamarnya! Jangan biarkan ibu keluar, mulai sekarang ibu harus lebih banyak beristirahat agar lebih bisa mengontrol darahnya." Dengan segera Fiko menyuruh Sela membawa Marni masuk ke kamarnya agar tidak dapat menceritakan tentang rahasia Ibu kandung Maria.
"Tapi, Mas." Sela menyela.
"Cepat!" Fiko mendesis rendah membuat Sela tersentak dan dengan cepat memutar balik kursi roda Marni.
"Eh, Sela jangan dorong ibu. Ibu butuh menjelaskan sesuatu pada Maria agar wanita itu pergi dari rumah ini." Marni membalikan setengah badannya ke belakang ke arah Maria.
Sela hanya diam dan terus mendorong Marni menuju kamarnya. Kurang ajar, kenapa semuanya jadi begini. Pokoknya aku harus segera mengetahui rahasia tentang ibu kandungnya Maria agar wanita itu cepat pergi dari rumah ini. Sela berkata dalam hati.
"Sela, kenapa kamu malah membawa ibu ke sini?" Marni mengernyit bingung ke arah meanntunya itu. "Kalau ibu segera memberitahu Maria tentang sipa Ibu kandungnya, pasti wanita itu segera pergi dari rumah ini. Lalu yang menjadi menantu satu-satunya di rumah ini itu kamu."
Make nanya lagi, anakmu yang menyuruh tadi. Sela mendelik dalam hati. Namun, tentu saja di permukaan senyum manis yang dia perlihatkan. "Ibu mendengarnya tadi bukan? Mas Fiko masih sangat mencintai Maria, makanya sampai sejauh ini mempertahankannya. Kalau sampai ibu menceritakannya pada Maria, aku takut ibu terkena amukan Mas Fiko. Ibu lagi sakit, mana tega aku lihat ibu akan diperlakukan begitu oleh anak ibu sendiri demi Maria. Yang ibu bisa lakukan sekarang hanya pokus pada kesehatan ibu, jangan memikirkan apapun."
Hati Marni menghangat mendengar penuturan menantunya yang begitu baik dan perhatian. Walaupun Sela ini tidak setelaten dan secepat Maria dalam mengurusnya maupun rumah, tapi Marni merasa cukup dengan keramahan dan perhatian Sela terhadapnya. Tak salah dia dulu menjodohkan anaknya dengan Sela, ya walaupun harus main kucing-kucingan dulu dengan Maria.
"Kamu begitu memikirkan keadaan ibu sampai bisa mengabaikan perasaan sendiri. Padahal kalau kamu membiarkan ibu tetap di ruang tamu tadi, dudah di pastikan yang menjadi istri Fiko itu cuma kamu." Marni berkata lemah.
Ya, aku juga berharapnya begitu, tapi sayang anakmu yang katanya bisa dengan mudah balik mencintaiku masih kekeh mempertahankan istri tuanya.
Sela berjongkok setengah badan di depan Marni, dia mengusap pelan tangan agak keriput Marni yang ada di atas paha. "Ibu, aku ikhlas menikah dengan Mas Fiko sebagai istri keduanya. Ada atau tiadanya Maria, aku akan tetap mencintai Mas Fiko apa adanya. Cintaku untuk Mas Fiko tulus, maka aku juga tidak bisa menuntut apapun termasuk menjadi istri satu-satunya."
Marni balik menggemgam tangan Sela yang ada di atas tangannya. "Baik banget kamu."
Bagus! Terus simpan kepercayaanmu untukku, lalu beberkan semua rahasia itu.
Sela hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Marni untuknya.
***
"Kenapa kamu suruh Sela membawa masuk Ibu?" Maria menatap Fiko emosi. Tadi dia hampir saja mendapatkan informasi mengenai Ibu yang sudah melahirkannya itu dari mulut Ibu mertuanya sendiri. Namun, harus gagal karena Fiko malah menyuruhnya masuk ke dalam kamar.
Fiko tergelak mendapati emosi di wajah istrinya. "Kamu pikir kenapa?"
"Apa Mas pikir dengan begitu aku akan tetap bertahan di sampingmu?" Maria membuang napas kasar. "Tanpa ibu memberitahu siapa Ibu kandungku juga aku akan tetap pergi."
"Sampai saat ini aku masih suamimu, jadi hormati aku selagi surgamu masih ada di bawah telapak kakiku." Fiko tak mau kalah.
Maria benci mengakui kalau yang diucapkan Fiko benar adanya. "Apakah Mas merasa masih pantas dihormati? Setelah apa yang Mas perbuat dari menikah lagi tanpa seizinku, bersikap tidak adil dalam nafkah lahir maupun batin, dan tidak pernah membenarkan kesalahan ibu padaku. Mas anggap aku ini apa? Memangnya aku tidak punya perasaan Mas?" Maria menghapus air matanya yang entah kapan menitik.
"Kamu tanya kenapa? Ya itu juga demi kamu, Maria. Mas menikah lagi agar kita mempunyai anak. Apa kamu pikir perlakuan Mas pada Sela selama ini cuma-cuma? Tidak Maria, Mas hanya mencoba bersikap adil padanya. Kalau nanti dia sudah memberikan kita anak, Mas pasti ceraikan dia kembali. Jadi kamu tenang saja, wanita yang menjadi istriku tetap kamu seorang."
Maria kontan melotot mendengar penuturan Fiko. "Sinting kamu, Mas." Hanya kata itu yang mampu Maria ucapkan sakin kaget dengan apa yang ada dalam pikiran Fiko.
Fiko tidak menampik perkataan Maria yang mengatakan dirinya sinting, karena memang benar adanya. Demi kerinduannya untuk segera dipanggil Ayah, Fiko rela menyakiti dua wanita sekaligus. "Ya, kamu boleh mengatakannya seperti itu."
"Sela mencintai kamu, Mas. Kamu malah memanpaatkannya demi mendapatkan seorang anak. Apa kamu tidak pernah berpikir sikapmu itu akan menyakiti Sela?" Maria menggeleng tak habis pikir. Sebenarnya apa yang ada dipikiran Fiko sampai berani mengambil keputusan seperti itu?
Tawa Fiko makin keras. "Mas berani menyakiti kamu, wanita yang Mas cintai. Apalagi Sela yang di hati Mas tidak ada apa-apanya. Jadi mulai sekarang kamu harus memperlakukan Sela dengan baik, jaga pola makannya, dan jangan sampai dia setres. Ingat itu!"
Tidak kuat mendengar penuturan jahat Fiko, air mata Maria merembes deras. Dia terisak sedih dan menyayangkan sikap Fiko yang berubah drastis. Dulu, awal mereka menikah Fiko adalah laki-laki lemah lembut dengan pemikiran dewasa. Namun, apa yang Maria lihat sekarang tidak lebih dari laki-laki egois dan serakah.
"Segitu gampangnya kamu mempermainkan pereasaan wanita, Ibu kamu juga seorang wanita, Mas. Apa kamu tidak bisa membayangkan bila yang ada diposisi aku atau Sela itu Ibu? Seperti apa sakitnya, Mas? Cukup! Sebelum ini semakin jauh, lebih baik Mas lepaskan Sela atau ceraikan aku." Maria berucap pelan disela isakannya.
"Kalau ibu ada di posisi itu, jelas ibu akan mengalah membiarkan suaminya menikahi wanita lain demi mendapatkan seorang anak. Ibu sendiri yang bilang begitu." Fiko tersenyum penuh kemenangan.
Maria terperangah mendengar jawaban Fiko. Jadi, yang menyuruh Fiko melakukan semua ini Ibu mertuanya? Ibu mertuanya memang sukses mendidik Fiko sesuai apa yang dia mau.
"Ingat, jangan mengadukannya pada Sela. Kalau sampai Sela tau, Mas pastikan kamu tidak akan pernah mengetahui sedikitpun informasi mengenai Ibu kandungmu. Namun, bila kamu patuh padaku akan Mas pastikan juga kamu menerima informasi itu." Setelah mengatakan itu, Fiko berlalu meninggalkan Maria yang masih memikirkan perkataannya barusan.
Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Maria membatin frustasi.
***