Sudah tujuh bulan lamanya Maria hidup dalam kesengsaraan. Sela benar-benar sukses membuat Maria tidak pergi dari rumah dan kembali menjalankan aktvitasnya seperti biasa. Tentu itu membuat Fiko sangat puas, lalu tidak jadi menceraikan dirinya.
Kebaikan hati Maria ternyata menjadi kelemahannya. Dia tidak tega tatkala Sela datang mengadu kalau Maria pergi, Sela akan diceraikan.
Awalnya Maria cuek, tapi saat mendengar bahwa Sela juga ternyata sebatang kara mau tidak mau perasaannya ikut terbawa. Maria tau bagaimana sepinya hati saat tidak ada yang namanya keluarga. Katakan Maria bodoh, tapi itu yang dia rasakan. Sehingga bertahan demi madunya.
Namun, saat Maria mau menjalankan pernikahan kembali, ternyata Fiko tidak berubah sama sekali. Perlakuan Fiko pada Maria malah menjadi.
Janji Fiko yang hanya akan memakai kamar tidurnya untuk Sela selama satu bulan itu nyatanya hanya janji palsu. Sampai bulan selanjutnyapun kamar itu tetap dipakai Sela. Maria sudah tidak pernah menerima nafkah batin lagi dari Fiko, karena setiap malam Fiko akan menghabiskannya bersama Sela.
Pernah sekali Maria meminta hak biologisnya pada Fiko, namun hanya tolakan yang dia dapat dengan alasan sudah lelah bermain dengan Sela. Hatinya semakin sakit, luka itu sudah tidak terbendung lagi menyaksikan ketidak adilan Fiko terhadapnya.
"Apa ini?" Fiko bertanya heran. Ditangannya terdapat berkas bersempel pengadilan yang disodorkan Maria untuknya.
"Surat cerai." Maria menjawab singkat. Diam-diam Maria mengumpulkan bukti ketidak adilan Fiko dalam membagi nafkah untuk dirinya dan madunya. Setelah bukti terkumpul, Maria mengajukannya pada pengadilan.
Tangan Fiko bergetar. Mulutnya terbuka lalu tertutup kembali. Perlahan dia membuka berkas itu dan mendapati tanda tangan Maria sudah tertulis jelas disana. "Ken_kenapa kamu meminta cerai lagi?"
Maria memandang Fiko datar. Kesakitan Maria begitu dalam, sehingga air matanya sudah tak pernah keluar lagi semenjak empat bulan lalu." Disana sudah tertulis jelas atas alasan-alasan kenapa saya meminta cerai."
Dengan cepat Fiko membuka lembaran yang terdapat dalam berkas surat cerai yang ada ditangannya. Setelah membaca rentetan alasan Maria meminta cerai darinya, matanya memanas merasa bersalah. Sungguh dia tidak bermaksud untuk mencampakan atau melupakan Maria. Dia hanya ingin segera memiliki anak sehingga setiap malam melakukannya dengan Sela. Namun, bukan kehamilan Sela yang dia dapat, surat cerai Maria yang kini dia genggam. "Mas_mas tidak akan menceraikan kamu."
Maria tetap menunjukan raut datar sama sekali tidak terpengaruh dengan penolakan Fiko." Harusnya mas sadar. Secara agama saya diperbolehkan minta pasah ketika suami tidak memberi istrinya nafakah lahir atau batin selama enam bulan berturut-turut lamanya. Dan kalau mas lupa, mas sudah melakukannya lebih dari enam bulan." Jelas Maria santai.
Fiko menggeleng, menolak penjelasan Maria. Dia merobek berkas perceraiannya sampai tak terbentuk." Kamu minta nafkah lahir dan batinkan? Mas kasih sekarang. Asal jangan pernah meminta cerai pada mas!"
"Keputusanku sudah bulat. Karena mas merobek berkasnya, saya bisa membuatnya kembali dan ayo kita bertemu dipengadilan." Maria pergi kekamar Marni untuk mengambil semua barangnya.
Marni yang lagi tiduran tersentak kaget karena Maria membuka kasar pintunya tanpa mengucapkan permisi seperti sebelum-sebelumnya. Marni melototkan matanya hendak mencaci maki Maria yang tidak ada sopan santunnya terhadap orang tua, namun kata itu tertelan kembali ketika mendapti Fiko ikut menyusulnya sambil memohon-mohon.
"Maria. Mas mohon jangan lakuin ini. Mas janji mulai saat ini, mas akan lebih prioritaskan kamu ketimbang Sela."
Sela yang berdiri diambang pintu sontak melotot tak terima. Dia menghampiri Fiko, " Mas, kamu apa-apaan sih."
Fiko tak memperdulikan Sela. Yang dipikirannya sekarang bagaimana caranya agar Maria tidak pergi dari rumahnya dan tidak meminta cerai. Fiko jelas sadar. Tanpa Maria, Fiko tidak akan bisa melakukan apa-apa terutama tentang ibunya. Kalau dia bekerja siapa yang akan mengurus ibunya. Sela? Fiko sangsi kalau Sela mau merawat ibunya sebaik dan sesabar Maria.
"Sebenarnya ada apa ini?" Marni bertanya heran. Dia melihat Maria yang sibuk memasukan semua bajunya kedalam koper, lalu Fiko yang memohon supaya Maria tidak pergi, terakhir Sela yang marah-marah.
"Maria, sayang. Mulai sekarang kamu bisa menggunakan kembali kamar itu, kamu yang memegang uang untuk kebutuhan keluarga, dan mas akan selalu berada disampingmu setiap malam. Jadi, mas mohon kamu jangan pergi!"
Tangan Maria sontak berhenti memasukan baju. Dia melihat Fiko dengan pandangan nanar. Mata yang tak pernah mengeluarkan air itu kembali mengalirkan air mata. Ternyata Fiko selama ini bukannya tidak menyadari ketidak adilan dalam rumah tangganya, Fiko hanya menutup mata atas apa yang menimpa Maria. "Sudah terlambat Mas. Untuk apa sekarang kamu memohon-mohon seperti ini? Hatiku sudah terlanjur terluka." Maria mengusap air matanya yang kembali mengalir. "Orang kata, Mawar hitam adalah lambang cinta mati. Aku sungguh mencintaimu dengan tulus, bahkan sampai rela menghabiskan keseharianku untuk mengurus rumah dan Ibu. Tapi apa yang kudapat?"
Fiko sendiri tersentak tatkala Maria memandangnya nanar. Andai waktu bisa diputar kembali, ingin dia menghapus saat-saat dia menikahi Sela hanya demi seorang anak. Maria adalah wanita baik yang rela mengorbankan masa bebasnya untuk mengurus rumah dan ibunya yang sakit. Sungguh penyesalan selalu datang belakangan.
Maria kembali memasukan baju-bajunya kedalam koper. Setelah dirasa semua barang yang menurutnya penting sudah masuk kedalam koper, Maria menggerat kopernya keluar meninggalkan Fiko yang berteriak-teriak frustasi memanggilnya untuk kembali.
Setiap air mata yang keluar dengan cepat Maria menghapusnya. Setelah dia berada diluar gerbang rumah, Maria berjongkok menangis terisak pelak. Dia memang masih mencintai Fiko, namu kenyataan seolah menamparnya bahwa dia tidak akan pernah bahagia bila tetap mempertahankan pernikahannya.
"Maria."
Maria yang mendengar Fiko memanggil namanya buru-buru berdiri dan menghapus air matanya. Dia melihat Fiko berlari menghampirinya diikuti Sela dan Marni.
"Mas akan menceraikan Sela jika itu bisa membuatmu tetap bertahan disisi mas. Mas rela kehilangan dia asal kamu tidak pergi." Lanjut Fiko dengan suara lirih.
"Fiko." Marni berteriak memanggil Fiko yang hanya tiga langkah lagi mendekati Maria. "Kalau kamu tetap mempertahankan wanita itu, jangan panggil lagi saya ibu!"
Langkah Fiko terhenti. Tubuhnya menegang mendengar ancaman yang dilontarkan ibu kandungnya. Dia melihat Maria yang sama-sama sedang menatapnya merasa bersalah. Kemudian berbalik melihat sang ibu yang terduduk dikursi roda yang memandangnya murka.
Sela yang berdiri dekat dengan Fiko mengepalkan tangan kuat. Dia tidak suka Fiko masih mengharapkan Maria, apalagi sampai mencintainya. Dan kini dia mendengar Fiko akan menceraikannya demi mempertahankan Maria. Ini tidak bisa dibiarkan. "Mas Fiko?" Panggilnya pelan. "Ak_aku hamil. Apa kamu tega menceraikan aku ketika hamil anakmu?"
Tubuh Fiko makin menegang. Dia memandang Sela dengan sorot tidak percaya. Apa katanya? Hamil. Kenapa baru sekarang Sela memberitahunya. "Kamu mengaku hamil hanya karena takut aku ceraikan Sela."
Sela menggeleng. Air matanya sudah mengalir, ditambah isakan pilu membuat hati Fiko tidak tega. Disaat seperti ini apa yang bisa Fiko rasakan. Kebahagiaan kah, ketika seorang buah hati yang dia tunggu-tunggu akhirnya akan datang. Atau, kesedihan karena harus kehilangan orang yang sangat ia cintai.
Fiko berjalan mendekati Sela dan langsung merengkuhnya membawa kedalam pelukan. Dia berbisik disela isakannya. "Maafin mas Sela. Mas hanya terbawa emosi. Mas tidak pernah benar-benar ingin menceraikan kamu."
Fiko melepaskan pelukannya pada Sela. Dia berbalik memandang Maria pilu. "Maaf Maria. Mas talak kamu Maria Nurindah. Mas ceraikan kamu."
Setitik air mata jatuh dari mata Maria. Sebelumnya dia sempat ada keinginan untuknya kembali pada Fiko. Namun, lagi-lagi kenyataan menamparnya, bahkan sekarang lebih keras. Fiko sangat menginginkan anak, dan kala dia tahu Sela mengandung anaknya, Maria harus sadar diri bila dia akan terlupakan dengan begitunya. "A_aku terima." Maria terisak pilu. Dadanya sakit. Mawar itu kini berdarah. Mawar hitam untuk Fiko kini berdarah. Mawar hitam berdarah, cinta mati yang sejati. Tapi Maria lebih menginginkan arti lain, Cinta mati yang mengalirkan sejuta luka.
Maria pergi meninggalkan Fiko dan segala kenangan bersamanya. Rasa bahagia, sedih, sakit, dan sejuta luka, Maria pegang dalam tangannya yang rapuh. "Terima kasih Mas Fiko untuk waktu dua tahun ini. Saya harap, Mas Fiko bisa bahagia tanpa aku disisimu. Dan maaf bila aku bikin salah!"
Fiko memandangi punggung wanita yang pernah mengisi hari-harinya penuh kebahagiaan itu dengan tatapan putus asa. Kenangan-kenangan dari saat pertama kali bertemu sampai menikah dan menjalani rumah tangga berputar didalam memorinya. Ingin dia merengkuh punggung rapuh itu, namun dia harus sadar, inilah pilihannya. Harus rela kehilangan orang yang paling mengerti akan dirinya demi anaknya yang masih dalam kandungan Sela dan ibu yang sangat ia hormati.
"Mas minta maaf." Fiko berbisik lirih.
***