Fiko menelan saliva susah payah. Dia melupakan satu hal, tentang kamar itu. Dulu, Fiko sebenarnya hanya mencari alasan untuk membujuk Maria agar mau pindah. "Itu... nanti kamu bisa pakai kamar itu lagi." Fiko menjawab tidak yakin. Dia melirik Sela yang saat ini memandangnya tak percaya.
"Loh, kok gitu Mas. Bukannya kamar itu sudah menjadi miliku?" Napas Sela memburu karena kesal merasa sudah dibohongi.
Maria menyipitkan mata, tapi tetap diam menunggu balasan Fiko pada Sela.
Fiko menggosok lehernya canggung, bingung dengan apa yang harus ia ucapkan agar tidak menyinggung kedua istrnya.
Melihat kebingungan Fiko, Maria tersenyum sinis. "Bingungkan kamu. Sok-sokan punya istri dua, ngasih tempat tinggal aja belum mampuh. Kamu kira wanita itu apa, hanya pemuas nafsumu atau pemberi keturunan. Memangnya tidak dosa apa kalau mempersatukan wanita yang dipoligami dalam satu atap? Ingat Mas, kelakuanmu ini bisa menjadi bukti di pengadilan nanti pas sidang perceraian kita."
Bagai disambar petir, Fiko melotot horor ke arah Maria. Lidahnya kelu seolah suaranya tersumbat di tenggorokan. Apa katanya tadi? Bercerai. kenapa bisa begini, harusnya Maria tidak pernah berpikir untuk bercerai darinya. Maria tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali dirinya, jadi bagaimana bisa Maria berani berbicara seperti itu.
Tidak, Maria pasti hanya ingin menggertaknya saja. Fiko kini bernapas lega kembali karena dia tau Maria hanya mencari perhatiannya saja. "Maria, kalau kamu mencari perhatian dariku bukan seperti ini caranya. Cukup bersikap seperti biasa, tanpa diminta pun tentu Mas akan selalu memperhatikanmu. Mas tau kamu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, jadi mana mungkin kamu berani meminta cerai dariku."
Senyum culas Fiko mengundang kekehan geli dari wanita yang sudah diperistrinya selama tiga tahun lebih itu. Wajah santai Fiko perlahan surut terganti dengan ekspresi bingung, apanya yang lucu, kenapa Maria malah tertawa?
"Seseorang berkata bahwa meminta cerai lebih baik ketimbang makan racun setiap hari." Itu adalah ucapan Bi Tatik beberapa hari lalu. Maria kini mengerti, bahwa kesendirian bukan akhir dari segalanya. Memang, Maria takut hidup sendiri. Namun, setelah merasakan pengorbanannya selama ini malah mendapat penghianatan dari Fiko, ternyata rasa sakitnya melebihi rasa takut kesendirian. "Toh aku tidak punya tanggungan kalau bercerai darimu, apanya yang aku takutkan?"
"Kamu tidak akan mampu bisa bercerai dariku. Akan Mas pastikan bahwa surat cerai itu tidak akan pernah sampai ke pengadilan." Fiko masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu begitu selesai berbicara. Dadanya naik turun menandakan emosinya semakin memuncak. Bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya menginginkan seorang anak bersama Maria, tapi karena Maria tak kunjung hamil dia memutuskan menikahi Sela. Toh akhirnya Maria bisa menjadi ibu, harusnya dia berterima kasih bukan malah meminta pisah darinya. Hanya sampai Sela melahirkan, hanya sampai itu Fiko berniat menikahi Sela. Egois memang, tapi selama keinginannya tercapai Fiko tetap akan melakukannya.
Fiko tau Sela mencintainya, tapi dia juga tau Sela tidak bisa menjaga diri sebaik Maria. Bahkan malam pertama mereka, Fiko mendapati Sela tidak perawan.
Selama ini Fiko selalu mengabulkan keinginan Sela karena dia juga menginginkan anak darinya. Fiko rasa itu cukup adil kalau nanti dia menceraikan Sela, walaupun dengan harus menyakiti Maria. Karena Fiko yakin, seberapa besarpun Fiko menyakiti Maria, Maria tidak akan pernah pergi meninggalkannya. Ya, seyakin itu Fiko terhadap cinta Maria untuknya.
Ini hanya masalah waktu. Selama Fiko dapat menahan Maria, maka dia akan tetap menjalankan rumah tangganya seperti ini sampai tangisan bayi menggema di rumah ini.
Masalah Maria dan Sela yang tinggal se atap itu bukan masalah, ngapain beli rumah baru kalau pada akhirnya akan kosong kembali. Membuang-buang uang bukan?
Melihat Fiko masuk ke dalam rumah, bergegas Sela mengikutinya. "Udahlah, Mas. Maria ingin pisah dari kamu, ceraikan saja. Toh ada aku yang bisa menggantikan semua pekerjaan Maria." Sela melipat tangan di depan d**a sambil memasang wajah malas. "Apa sih yang bikin Mas susah melepaskannya?"
Fiko melirik Maria yang baru masuk ke dalam rumah sebentar sebelum menggulirkan mata sepenuhnya pada Sela. "Mas gak bisa, amanah yang mas ucapkan waktu Ijab qobul tidak bisa Mas lepaskan begitu saja. Maria ini sebatang kara, kalau tidak ada Mas, siapa lagi yang bisa menjadi tumpuan Maria?" Karena Mas sangat mencintai Maria lebih dari apapun kecuali Ibu. Fiko melanjutkan dalam hati.
"Aku memang sebatang kara, walaupun begitu aku tidak butuh tumpuan orang sepertimu yang bisanya menyakiti hatiku saja. Aku ini manusia, bukan boneka yang diperlakuakan seperti apapun dan bagaimnapun tidak akan merasakan sakit. Ingat Mas, secepatnya aku akan mengurus surat perceraian kita."
"TIDAK AKAN PERNAH ADA KATA CERAI YANG KELUAR UNTUKMU DARI MULUTKU." Fiko mengambil dan membanting vas bunga yang di letakan di atas meja sopa ruang tengah. "Seberapa besarpun keinginanmu bercerai dariku, Mas tidak akan pernah mengabulkannya. Kata talak itu ada pada suami, ingat itu!"
"kita lihat saja nanti." Maria ikut menatap Fiko tajam.
"Fiko!" Marni yang baru datang sudah disuguhkan dengan pertengkaran anak dengan para istrinya. Seketika dia memijit dahinya pusing karena selalu melihat keributan ini hampir setiap hari. Harusnya di masa tuanya ini dia merasakan ketenangan bukan ketegangan seperti ini. "Kenapa lagi ini?"
"Kebetulan sekali ibu datang." Maria menatap Marni acuh tak acuh, kemudian tatapannya kembali bergulir pada Fiko. "Akan kuceritakan satu kesakitanku selama menikah dengan Mas Fiko. Kalau setelah itu Mas masih kekeh ingin mempertahankan aku, maka jangan salahkan aku bila menjadi istri durhaka." Maria melirik Marni yang terduduk di kursi roda dengan Sela di belakangnya. "Ibu, orang yang Mas anggap wanita terbaik di dunia tidak lebih dari seorang wanita pendendam yang selalu melampiaskannya padaku. Cacian maki, fitnah, dan siksaan adalah makananku setiap hari."
"Bohong! Ibu tidak seperti itu, kamu hanya berdusta." Fiko tidak terima wanita terkasihnya dihina senista itu, apalagi oleh Maria wanita yang dia cintai. Fiko tidak menyangka ucapan penuh hinaan itu keluar dari mulut yang seharusnya berbakti pada Marni sang mertuanya.
Tatapan Maria tetap menyorot Marni. Namun kali ini dengan tatapan penuh perhitungan. "Ibu menginginkanku pergi dari rumah ini bukan?"
Marni terperangah saat menyaksikan pertama kali raut wajah berani menantunya saat menatap ke arahnya. Sebelumnya Maria tidak pernah seberani ini terhadapnya. "Tentu saja. Saya sudah muak melihatmu ada di sini."
"Maka katakan rahasia mengenai Ibu kandungku. Setelah ibu mengatakannya, dengan senang hati aku akan angkat kaki dari sini."
"Apa?" Fiko tercengang akan fakta bahwa Maria selama ini mempunyai seorang Ibu yang rahasianya tersimpan pada ibunya sendiri.
"Baik. Setelah saya beberkan rahasia tentang Ibumu, tinggalkan anak saya dan rumah ini untuk selamanya. Bagaimana?"
Mendengar Marni ingin akan membeberkan rahasia mengenai Ibu kandung Maria demi mengusirnya, buru-buru Fiko menggeleng memberi isyarat pada Marni agar tidak melakukan hal itu.
"Baik." Maria cukup puas dengan negosiasi ini yang akan banyak menguntungaknnya ini.
"Ok, saya ceritakan."
***