Pagi ini suasana rumah begitu ricuh. Fiko yang uring-uringan karena kesiangan berangkat kerja, Marni yang misuh-misuh karena lapar dan tidak ada makanan sedikitpun di atas meja, terakhir Sela yang terus-terusan kena teguran Fiko karena tidak becus menyiapkan segala perlengkapannya dari mulai baju, celana, dan segala sesuatu yang dia pakai untuk kerja.
"Kamu ini gimana sih, udah hampir dua bulan jadi istri Mas. Kok masih keteteran gini nyiapin segala keperluan Mas untuk kerja." Fiko mengerang frustasi karena Sela belum menemukan juga baju dinasnya. Fiko saat ini masih menggunakan celana bahan dan dalaman baju saja, Sedangakan waktu kerjanya sudah telat setengah jam yang.
Sela yang tengah mengacak-ngacak lemari pakaian sontak mendelik ke arah Fiko. "Loh, kok Mas malah nyalahin aku. Harusnya Mas dong yang tidak naruh sembarangan bajunya, kalau begini siapa juga yang susah."
"Kok gitu, selama ini Mas sudah bekerja untuk membiyayai kalian, masa baju juga Mas yang harus mengurusnya. Lalu kegunaan kalian apa?" Fiko balik menyerang Sela karena tidak terima disalahkan.
Sela membanting baju yang dipegangnya saat memilah-milah mencari baju dinasnya Fiko. "Kegunaan?" Sela hampir tak percaya dengan apa yang Fiko ucapkan barusan. Alat? Jadi, selama ini dia hanya di anggap alat oleh Fiko. Lalu, kemana kata-kata manisnya dulu yang mengatakan Sela adalah wanita berharga yang pantas di perlakukan layaknya ratu itu?
"Memangnya apa lagi? Kalau Mas bisa mengurus segalanya sendirian, untuk apa Mas nikahin kamu."
Sela terdiam. Namin, air matanya mengalir membuat Fiko merasa bersalah. "Haruskah Mas Fiko menyebutku seolah aku ini hanya alat di pernikahan ini. Apa kata-katamu itu tidak terlalu kejam?"
"Maaf, habisnya Mas pusing. Mas gak bisa berangkat kerja tanpa baju itu, sedangkan waktu udah mepet banget. Mas udah telat Sela." Fiko mengacak rambutnya frustasi. Setelah itu dia mendekati Sela dan membawanya kedalam pelukan guna untuk menenangkannya.
"Ya, tetap aja harusnya Mas jangan cuma nyalahi aku. Yang seharusnya Mas salahin itu Maria, kan dia yang selama ini selalu mengurus segala keperluan rumah." Sela menghapus air matanya di balik pelukan Fiko.
"O, iya. Ke mana Maria? Kenapa dari pagi dia belum keliatan?" Fiko mengurai pelukannya sampai bisa melihat wajah Sela yang tingginya hanya sebatas dagu.
Baru saja Fiko membicarakan Maria, Marni datang sambil membanting pintu kamarnya.
"Ibu, jangan di banting pintunya! Kalau engselnya rusak gimana, nanti kita juga yang repot karena harus benerin." Fiko langsung menyentak Marni yang tengah duduk pada kursi roda di ambang pintu.
"Kok kamu yang marah? Harusnya yang marah di sini itu ibu. Ibu sudah lapar dan belum minum obat. Tapi jangankan makanan, air saja tidak ada. Punya istri dua kok masih tetap kelaparan gini." Marni menggerutu kesal.
Sela mengepalkan tangannya kuat. Dalam hati dia berdecih sinis dengan keangkuhan Marni. Dasar wanita penyakitan gak tau diri, batinnya berteriak jengkel. Namun, tentu saja di permukaan dia memasang wajah lembut dengan senyuman tipis menenangkan. "Ibu, maaf ya aku telat nyediain makanan buat ibu. Soalnya aku harus bantu Mas Fiko cari baju dinasnya. Kan biasanya Maria yang membereskan, berhubung sekarang dia entah ke mana jadinya aku keteteran begini."
"Memang gak guna dan gak ngotak istri kamu si Maria itu Fiko. Main pergi gitu aja dan gak bilang-bilang lagi. Awas saja kalau di kembali nanti, ibu hukum habis-habisan dia." Marni mengepalkan sebelah tangannya sambil memukul-mukul telapak tangan satunya lagi.
Diam-diam Sela menyeringai samar. Dia mendekati Marni sambil memijat pelan pundaknya. "Sudah, ibu jangan marah-marah. Kalau darah tingginya naik lagi gimana? Mending sekarang kita ke dapur untuk sarapan. Nanti, biar aku aja yang beli makanannya dari luar."
"Baiklah. Kamu memang menantu perhatian, tak salah dulu ibu menjodohkan kamu dengan Fiko." Marni tersenyum puas pada Sela.
Sela balas tersenyum. "Ayo."
"Lah, lalu baju dinas ku bagaimana Sela?" Fiko mengerang kesal karena hendak di tinggal. Fiko menghampiri lemari yang tadi di acak-acak Sela.
"Mas, kamu gak lihat jam. Udah telat banget. Mending kamu cari alasan yang masuk akal, lalu minta izin cuti untuk hari ini." Sela menjawab enteng dan berpura-pura tidak menyadari wajah tercengang Fiko.
Mendengar saran dari menantunya, Marni makin melebarkan senyumannya. "Pintar kamu."
"Ayo bu, kita ke dapur." Sela melenggang pergi meninggalkan Fiko yang meremas rambutnya frustasi.
"Kalau aku izin, bonus bulan ini tidak akan turun. Lalu gimana caranya aku bisa membawa kedua istri dan ibuku belanja. Padahal rencannya aku mau belikan Maria dan Sela cincin. Aku juga butuh sogokan agar Maria terus mau mengurus ibu dan keperluan rumah." Fiko meremas rambutnya frustasi.
***
Senyum licik Maria terbit begitu melihat Sela tengah mengepel teras lantai rumah yang kotor penuh dengan lumpur sisa hujan semalam. Dengan santai Maria berjalan menggunakan sendal kotor melewati Sela yang tengah mengelap.
"Maria, lantainya jadi kotor lagi. Bisa gak sih kamu lepas dulu itu sendal." Sela mendesis jengkel karena lantai basah yang baru saja dia pel kembali kotor. Kalau bukan demi menjerat hati mertua agar mau membeberkan rahasia tentang ibu kandung Maria, mana mau dia melakukan pekerjaan babu begini.
Maria menunduk melihat ke arah kakinya. "Ups, maaf. Aku gak tau kalau kamu ternyata sedang ngepel lantai. Habisnya, jarang banget kamu mau membersihkan rumah."
"Jangan digeser-geser sendalnya! Tuh kan makin banyak kotorannya." Sela kembali mencelupkan pelan pada air lalu memerasnya. Setelah itu dia mengepel kembali kotoran bekas sendal Maria.
"Baiklah aku lepas saja sandalnya." Maria membungkuk untuk melepas sendalnya. Namun, justru itu membuat Sela bertambah marah karena sendal Maria malah masuk kedalam ember. "Maaf." Maria memandang Sela penuh penyesalan dalam wajah, tapi tentu saja dalam hati dia menyeringai senang.
Karena kesal, Sela membalik ember hingga air bekas pel an meleber ke mana-mana. "Gak tau diri, dasar wanita mandul." Sela menatap Maria kesal bercampur marah.
"Sela?" Fiko yang baru membuka pintu terkejut dengan makian yang Sela ucapkan untuk Maria. Dia tidak menyangka Sela bisa bicara sekasar itu, padahal dulu sebelum mereka menikah Sela begitu anggun dan lemah lembut.
"Ma-mas Fiko." Sela terkejut karena mendapati Fiko memandangnya tak percaya. Tadi dia refleks menyebut Maria mandul karena terlampau kesal. Apa sekarang Fiko akan memarahinya? Sela harap-harap cemas.
"Kenapa kamu menyebut Maria begitu?"
"Maaf, Mas. Aku kelepasan, habisnya Maria bikin kesel dengan nginja-nginjak lantainya. Kan kadi kotor lagi, mana aku udah cape dari tadi beresin rumah." Sela menampilkan wajah sedih.
Fiko memandang bergiliran antara Sela dan Maria. Begitu tatapannya jatuh pada kantong berlogo mall yang di bawa Maria, Fiko mengernyitkan dahi bingung. "Kamu bawa apa?"
Maria melirik kantong yang dibawanya. "Baju, sepatu, dan tas." Maria menjawab datar.
"Kamu belanja?" Fiko agak terkejut. Pasalnya Maria ini begitu disiplin mengenai keuangan, salah satu yang Fiko sukai darinya. Berbelanja baju dan kebutuhan lainnya yang tidak begitu mendesak bukan khas Maria sekali.
"Ya." Lagi-lagi Maria menjawab datar. Maria melirik Fiko yang masih mengenakan pakaian dalam dan celana bahan saja tanpa baju dinasnya mengangkat sedikit alisnya. "Kamu gak kerja, Mas?"
Fiko menghela napas lelah. "Gak, bajunya gak ketemu."
"Mungkin bajunya masih di keranjang cucian." Maria mangut-mangut paham dengan menampilkan tampang polos.
"Jadi belum di cuci?" Fiko memandang Maria kesal. Kenapa Maria sampai bisa tidak mencuci baju dinasnya? Dia kan tau kalau Fiko tidak bisa berangkat bila tidak memakai baju dinas itu. "Kok kamu ceroboh sekali. Kenapa bajunya sampai belum dicuci Maria? Kamu kan tau baju dinasku hanya ada satu."
"Tuh kan, Mas. Maria ini bikin kesal aja. Makanya tadi aku sampai marah." Sela ikut mengomporo Fiko agar bertambah kesal pada Maria.
Namun yang dibicarakan hanya melipat tangan di depan d**a dan sama sekali tidak ada perubahan emosi dalam wajahnya, tetap datar. "Apa aku ini asisten rumah tanggamu, Mas?"
"Tentu bukan. Kenapa kamu malah bertanya seperti itu?" Walau tidak nyambung dengan pertanyaannya tadi, Fiko tetap menjawab pertanyaan Maria yang menurutnya aneh.
Maria memiringkan sedikit kepalanya sambil menyipitkan mata. "Benarkah? Tapi kamu selalu memperlakukanku layaknya pembantu, babysiter ibumu, dan koki di rumah ini. Sedangkan Sela yang juga istrimu, kamu perlakukan dia bak putri yang tidak boleh kelelahan sedikit pun."
"Maria, apa yang kamu ucapkan?"
"Kamu sudah tidal adil, Mas. Kamu menginginkan dua istri untuk memenuhi kerakusan dalam dirimu, tapi kamu tidak bisa bersikap adil dalam keduanya." Tatapan Maria makin datar menyorot Fiko. "Mana janji kamu yang katanya akan mengembalikan kamar itu menjadi miliku lagi?"
Fiko menelan saliva susah payah. Dia melupakan satu hal, tentang kamar itu. Dulu, Fiko sebenarnya hanya mencari alasan untuk membujuk Maria agar mau pindah. "Itu... nanti kamu bisa pakai kamar itu lagi." Fiko menjawab tidak yakin. Dia melirik Sela yang saat ini memandangnya tak percaya.
"Mas Fiko. Katanya kamar itu sudah menjadi miliku, kok kamu bicara seperti itu pada Maria?"
Maria menatap Fiko tidak puas. "Jelas-jelas dari awal kamar itu miliku. Jadi, waktu itu kamu membohongiku?"
Fiko mengacak rambutnya frustasi. "Kita tidur sekamar bertiga, ok." Ucapan ngawur Fiko barusan langsung di tatap tajam oleh kedua istrinya.
***