Bab 13. Mawar merah yang terbelenggu luka dan lara
Sesampainya di Kantor Polisi Maria langsung meminta pihak Polisi untuk mengantarnya bertemu dengan Fiko dan yang lainnya.
Polisi mengantar Maria di mana Fiko, Marni, dan Sela tengah meringkuk di dalam sel jeruji besi. Maria memandang mereka bergantian, tatapannya jatuh pada tangan Sela yang tengah di pegang erat sambil dielus pelan oleh tangan Fiko.
Sela yang sudah menyadari Maria tengah berdiri memperhatikan kegiatannya dan Fiko menyeringai sinis. Tatapan puas dia layangkan pada Maria yang tengah mengepalkan tangannya kuat.
"Akhirnya kamu datang juga. Lama banget, sih." Marni yang baru saja menyadari ada Maria langsung membentaknya karena begitu membutuhkan waktu lama untuk menyusulnya ke sini.
Maria melirik Marni yang terduduk di kursi roda depan Fiko dan Sela yang terduduk di atas tikar tipis. Maria tidak membalas ucapan Marni melainkan langsung kembali untuk meminta penjelasan pada Polisi membuat Marni mencebikan bibirnya kesal.
"Lihat tuh kelakuan istrimu, gak ada sopannya sama sekali. Masa mertua nanya gak di jawab?" Marni menggulirkan matanya ke arah Fiko yang duduk di bawahnya.
Fiko yang sudah menyadari Maria datang langsung menghembuskan napas lega. Dia begitu bersyukur karena Maria dapat menemukannya walau tidak sempat ditelepon. "Udahlah bu. Yang penting Marianya juga udah di sini untuk membebaskan kita. Kita seharusnya berterima kasih bukan malah memarahinya. Ibu ingatkan kalau uang dan dompet kita itu hilang saat di mall, jadi bagaimana caranya Maria tau kita ada di sini. Maria nyusul kita aja harusnya udah bersyukur banget, kalau tidak mungkin kita harus menginap di sini lebih lama. Ibu mau?" Fiko berkata lembut pada Marni agar tidak melulu menyalahkan Maria.
"Enggak lah. Mana mau ibu nginap di tempat kumuh, bau, dan pengap begini." Maeni bergidig membayangkan kalau lebih lama lagi tinggal di sel jeruji besi.
"Makanya, mulai sekarang. Berdamailah sama Maria. Dia itu menantu paling baik yang ibu punya." Fiko tersenyum manis pada Marni dan tidak menyadari eaut perempuan yang duduk di sebelahnya.
"Maksudmu aku ini bukan menantu yang baik gitu?" Sela berucap marah. Dia tersinggung karena Fiko terus membabus-baguskan Maria tanpa bisa menghargai dia sebagai istrinya juga.
"Eh." Fiko menoleh kaget ke arah Sela. Dia lupa kalau saat ini Sela tengah duduk di sebelahnya. "Bukan gitu maksud Mas." Fiko gelagapan saat dilihatnya Sela memalingkan muka ke arah lainnya.
"Kamu sih, terus-terusan muji Maria. Sela jadi marah kan." Marni berucap ketus pada Fiko.
"Jangam marah! Mas gak benar-benar bicara begitu kok. Mas cuma lagi membujuk ibu. Kamu juga istri dan menantu yang baik, malah lebih baik dari Maria." Fiko memegang lembut tangan Sela.
Sela menoleh ke arah Fiko, namun bibirnya masih cemberut menandakan kekesalannya belum reda. "Bener Mas?"
"Iya." Fiko tersenyum lembut.
"Ok." Sela kembali mengembangkan senyumnya membuat senyum itu ikut menular pada Fiko dan ibu mertuanya.
Sedangakn Maria yang mendengarkan cara Fiko membujuk Sela dari balik pintu meremas dadanya sakit. Sebegitu tidak inginnya kamu Mas Sela marah sehingga sampai sebegitu membujuknya. Maria berkata dalam hati.
Maria menghapus air matanya. Dia akan melihat sampai sejauh mana Fiko akan terus menyampingkan dan mengabaikannya. Saat waktu itu tiba di mana tidak ada lagi celah untuk Maria berdiri di samping Fiko layaknya seorang perempuan yang berharga, Maria pastikan saat itu juga Fiko akan kehilangannya.
Selama ini Maria bersabar atas ketidak adilan Fiko terhadap dirinya karena masih menganggapnya sebagai suami. Namun, kalau Fiko sendiri yang merenggangkan ikatan itu sendiria Maria tentu akan membantu Fiko untuk melepaskan ikatan itu.
Dengan suasana hati yang buruk, Maria melangkah masuk kedalam pintu yang menghubungkannya dengan sel jeruji besi tempat Fiko, Marni, dan Sela dikurung.
Fiko yang pertama menyadari Maria datang kembali sontak melebarkan senyumannya. "Gimana sayang, Kami sudah bisa bebaskan?"
"Ya." Maria menjawab acuh.
"Ya sudah, buruan cepat buka kuncinya! Memangnya kita ini penjahat sampai di masukin segala ke dalam penjara begini." Marni melotot sinis ke arah Maria yang tengah berdiri acuh tak acuh di dekat pintu penjara.
"Maria, mana kuncinya?" Sela juga ikut kesal karena Maria hanya berdiri tanpa ada niat untuk membuka kunci pintu sel.
Maria tetap diam sampai seorang Polisi datang dan membuka kunci pintu sel penjara. "Silahkan kalaian keluar." Polisi iti berucapa tegas.
Fiko berdiri diikuti Sela. Mereka sama-sama keluar dengan Fiko yang mendorong kursi roda Marni. Begitu mereka berada di dekat Maria, Fiko tersenyum ke arah Maria. "Ayo sayang."
Sela yang berjalan di samping Fiko sontak menoleh. Dia menggertakan gigi kesal karena tidak suka Fiko memanggil Maria dengan sebutan sayang. Dengan terburu-buru Sela menggandeng tangan Fiko manja. "Ayo Mas." Sela berucap lembut, berbeda denga hatinya yang panas luar biasa.
Fiko ingin menggandeng tangan Maria juga, namun dia kebingungan karena sebelah tangannya yang satu mendorong kursi Roda Marni, dan satunya lagi di gandeng Sela. Alhasil, Fiko hanya melewati Maria begitu saja tanpa jadi megandeng tangannya.
Maria memejamkan matanya mencoba meredam amarah dalam hati. Satu, Maria menghitung dalam harinya. Fiko sudah menunjukan bahwa Maria tidak lebih berarti dari pada Sela. Satu celah Fiko berikan kepada Maria untuk lepas dari ikatan pernikahannya.
Maria ikut melangkah bersama Fiko dan yang lainnya. Dia hanya bisa menutup mata dan telinga dengan kemesraan Fiko dan Sela yang seolah sengaja mereka perlihatkan padanya.
Mereka semua telah sampai di rumah. Fiko menghempaskan tubuh lelahnya di atas sopa yang terdapat di riang tamu. Dia meletakan berbagai belanjaan Marni dan Sela saat di mall di atas meja.
Maria yang juga kebetulan lewat mau ke dapur untuk mengambil minum tak sengaja melihat banyak sekali tas belanja di atas meja. Penasaran, Maria mendekat dan melihat isinya.
Maria terkejut, pasalnya isi tas itu adalah sepatu, tas, dan baju-baju bagus. Maria memandang Fiko penuh tanda tanya, "dari mana Mas Fiko dapat uang untuk belanja sebanyak ini?"
Di tanya seperti itu, Fiko gelagapan sendiri karena bingung akan menjawab apa. Sebenarnya, waktu gajian kemarin Fiko mendapat bonus tambahan dari bosnya. Fiko sudah berniat untuk kasih semua uangnya pada Maria, namun Sela merengek minta dibeliakn baju dan perhiasan lainnya. Alhasil Fiko hanya menyerahkan uang gaji sebulannya dan memakai uang bonus untuk kebutuhan Sela dan Ibunya. Bodohnya Fiko, karena keasikan pergi bersama Sela dan Marni samapi lula membelikan sesuatu untuk Maria.
"Mas?" Maria menuntut jawaban.
"Itu... Mas dapat bonus dari bos." Fiko menjawab menyesal. Matanya meredup begiti melihat Maria memalingkan wajahnya enggan untuk menghadapnya.
Maria terdiam, dia memalingkan wajah karena tak kuasa mempertahankan wajah tenangnya di hadapan Fiko. Dua, Maria menghitung lembali dalm hatinya. Fiko sudah tidak jujur kepadanya. Dua celah Fiko memberi Maria untuk bisa lolis dari ikatan antara dirinya dan Maria sendiri.
"Apa... Mas juga membelikan sesuatu untukku?" Maria kembali menghadapkan wajahnya ke arah Fiko dengan senyuman tipis di bibirnya. Kalau sampai Fiko tidak ikut membelikannya sesuatu, apa boleh Maria menganggap dirinya sudah tidak berarti apapaun lagi di hati Fiko.
Fiko memejamkan matanya karena tak sanggup melihat tatapan terluka Maria. "Maaf." Fiko berucap lirih.
Air mata Maria mengalir, tanpa kata dia meninggalkan Fiko.
Fiko sendiri hanya memandang Maria dengan tatapan bersalah tanpa ada niat untuk mengejarnya. Fiko yakin Maria hanya kecewa sebentar. Setelah waktu berlalu, kekecewaan itu akan pergi seiring berlalunya juga waktu.
Maria berjalan cepat kebelakang rumah, tempat Maria mencurahkan keluh kesahnya dengan menangis puas.
Tiga Mas. Sudah Tiga celah kamu berikan padaku. Saat di mana puncaknya rasa sakitku ini, maka cinta itu mati selamanya. Mawar merah yang kamu tanam, terbelenggu duka dan lara sampai warnanya menghitam. Kamu sendiri yang menorehkan luka itu, maka jangan salahkan aku yang hanya ingin menyelamatkan hati ini. Maria meluruh ke bawah dan menangis dalam diam.
***