Arkan tertawa bangga karena bisa membungkam mulut Maria yang menuduhnya macam-macam. Lagian, mana ada tampang paras rupawan seperti dirinya yang tega menuduhnya pencuri kecuali Maria. Kalau tidak mengingat siapa Maria, Arkan sudah menyeretnya ke kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Maria memutar bola matanya malas saat mendengar tawa Arkan yang begitu lepas karena berhasil membuatnya kicep. Memang, dari penampilnya Arkan bukan termasuk orang biasa, pakaian necis dan mahal, mobil mewah Mercedes Benz, Dan jangan lupakan wajah yang tampan di dukung tubuh atletisnya. Maria sebel sendiri jadinya.
"Masuk, gih!" Arkan mengedikan dagunya ke arah rumah Maria. "Istirahat yang banyak dan jangan kecapean."
"Lagamu sudah seperti kakak beneran." Maria mencibir. Namun, tak urung Maria membuka pagar.
"Maria." Arkan memanggil saat Maria sudah menutup kembali pagar.
"Apa?"
"Kamu bertahan sampai sejauh ini sampai rela tersakiti berulang kali, apakah... karena kamu tidak punya siapa-siapa lagi selain Fiko suamimu?" Tak ada tanggapan, Fiko melanjutkan ucapannya. "Kalau seandainya kamu masih mempunyai keluarga, apakah kamu bisa melepaskan ikatan menyakitkan antara kamu dan Fiko?"
Maria menatap Arkan lama, tidak ada yang tau apa yang ada di pikiran Maria saat ini. Namun, tatapan yang kini tertuju pada Arkan tidak nampak hidup. Tatapan itu kosong seolah tengah menyelami masa lalu.
"Maria." Arkan memanggilnya lembut.
"Tau apa kamu tentang hidupku." Kini tatapan Maria tak lagi kosong. "Ketika orang-orang di ajak tamasya oleh yang mereka sebut papa, mama, kaka, tapi saya hanya bisa memandangnya dari jauh dengan iri. Dari kecil saya sudah terbiasa tersakiti, hidup dengan nenek yang keras dalam mendidik menjadikanku kuat walau harus terluka berkali-kali. Apa yang Fiko lakukan sekarang tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang ditinggalkan oleh orang yang sering disebut keluarga. Apakah kamu pikir menjadi anak buangan tidak akan membekas di hati, salah. Bahkan luka itu sekarang sudah berkarat, akan terus begitu selamanya selama wanita yang menjadikanku begini belum kutemukan." Maria mengusap ujung matanya yang basah.
"Kamu salah paham! Tidak ada yang pernah membuangmu, Maria." Arkan maju dua langkah sehingga tubuh depannya menempel di pagar yang membatasinya dengan Maria.
"Kalau begitu katakan yang sebenarnya!" Maria mundur menjauh dari Arkan. Sejak awal, Maria memang merasa ada sesuatu yang arkan sembunyikan terutama ucapan saat di kedai bubur ayam dan pada hari saat hampir terserempet motor. Laki-laki di depannya mempunyai masa lalu yang Maria lupakan. Maria merasakan ada ikatan batin antara dirinya dan Arkan. Sekali lagi, apakah Maria boleh berharap? Waktu kecil dulu dia selalu memimpikan punya keluarga utuh layaknya orang-orang, tapi mimpi itu seolah runtuh dengan sendirinya ketika ibu yang di harapkannya tak pernah menjemputnya dari rumah sang nenek.
"Maria, Aku tau..., " ucapan Arkan langsung terputus begitu Bik Tatik, Bibik atau pembantu rumah sebelah datang tergopoh-gopoh menghampiri Maria.
"Maria. Maria. Maria." Bik Tutik datang sambil ngos-ngosan karena cape habis berlari.
"Ada Bik?" Maria kembali membuka pagar menghampiri Bik Tatik. "Tarik napas pelan-pelan!"
Setelah dirasa napasnya sudah tidak terlalu berat, Bik Tatik baru menjelaskan kabar yang didengarnya tadi sewaktu ikut majikannya ke mall. "Mertuamu, suamimu, dan madumu itu sekarang ada di kantor polisi!"
"Kok bisa?" Maria bertanya heran. Bukankah mereka hanya mencari makan di luar, kenapa bisa sampai ditangkap polisi?
"Mereka makan tapi gak bisa bayar, mau minjam sama majikanku eh tak dikasih sama majikanku. Katanya sih biar tau rasa, mereka enak-enak makan di mall sambil belanja banyak banget tapi gak ngajak-ngajak kamu. Bibik juga sih setuju sama majikan Bibik itu, sekali-kali memang harus dikasih pelajaran mereka itu biar kapok." Bik Tatik mengangguk-nganggukan kepalanya seolah menyetujui ucapannya sendiri.
"Di kantor polisi mana mereka?" Maria bertanya. Bukan karena khawatir mereka tertangkap polisi, melainkan ingin mengetahui kenapa bisa mereka pergi ke mall dan berbelanja sedangkan uang gaji yang pegang itu dirinya.
"Katanya di kantor polisi yang dekat kantor Desa itu."
"Makasih yak Bik atas informasinya!" Maria tersenyum sopan sebagai rasa terima kasih yang tulus.
Bik Tatik mencebikan bibirnya kesal. "Halah kamu ini Maria, jangan baik-baik amat jadi istri. Punya suami nikah lagi, mana madunya dibawa pula tinggal serumah. Bibik tuh sakit lihatnya, masa wanita sebaik dan sesabar dirimu terus membatin. Maria, mintalah cerai pada suamimu itu. Jangan takut kamu akan tinggal sendiri, toh itu akan lebih baik ketimbang makan racun setiap hari." Dengan baik hati Bik Tatik memberi saran pada Maria. Semua tetangga di sekitar rumah Maria memang sudah mengetahui perihal Maria yang dipoligami oleh suaminya. Para tetangga mencibir suami Maria yang berani beristri dua namun masih belum cukup ilmu. Mereka juga tidak henti-hentinya menggosipkan dandanan istri kedua Fiko yang selalu tampil sempurna, sedangkan Maria hanya pakaian ala rumah biasa.
"Terima kasih sarannya Bik. Saya pergi dulu. Mari Bik Tatik, Arkan." Maria melangkah pergi untuk menyusul suami, mertua, serta madunya itu. Maria heran, kenapa tidak ada yang meneleponnya kalau benar-benar ditangkap polisi? Mereka kan bawa Hp.
Bi Tatik yang di tinggal Maria baru ngeuh kalau di sampingnya ada laki-laki tampan sedang menatapnya. Bik Tatik memindai penampilan Arkan yang nampak necis dan mahal. "Nak ini siapa ya?"
"Oh, saya Arkan. Teman Maria." Arkan memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Teman?" Bik Tatik memandang Arkan heran. "Baru kali ini Maria punya teman laki-laki."
Arkan tersenyum untuk menyembunyikan makna tersirat dalam hatinya. "Bibik kelihatannya kenal banget sama Maria dan keluarganya?"
Di tanyai tentang keluarga Maria, Bik Tatik kembali memasang wajah jengkelnya. "Mana ada yang gak kenal. Selain Bu Marni itu merupakan sosok mertua jahat bagi Maria, dia juga sombong dan gak tau diri. Masa ya, udah setiap hari di rawat, dikasih makan, diperhatikan, eh yang Maria dapat tetap cacian maki. Di tambah punya suami malah nikah lagi. Kalau Bibik jadi Maria, udah tak tinggalkan keluarga durjana itu dari dulu. Biarlah mereka merasakan kesusahan karena tak ada yang mengurus keluarga beserta rumah. Cape sendiri batin Bibik lihatnya!" Bik Tatik memceritakan perlakuan suami dan mertua Maria dengan menggebu-gebu.
"Begitu kah?" Arkan berkata tenang. Sangat tenang sampai Bik Tatik yang berdiri di sampingnya tidak menyadari aura seram yang dikeluarkan Arkan begitu kuat dan pekat seolah menggambarkan suasana hatinya saat ini.
"Iya." Bik Tatik menggeleng prihatin dengan kehidupan Maria.
"Kalau begitu, saya permisi karena masih ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan." Arkan memunduk sebentar. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Bik Tatik menjawab ramah.
***