Maria tengah di periksa oleh Dokter perempuan begitu Arkan kembali ke ruangannya. Maria melambaikan tangannya sebagai bentuk sapaan yang dibalas lambaian tangan juga oleh Arkan.
"Gimana ke adaannya Dokter Ema?" Arkan langsung bertanya begitu Dokter Ema selesai memeriksa ke adaan Maria.
Dokter Ema menurunkan stetoskop dan melepas alat pengukur tekanan darah di lengan Maria. Setelah melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya, barulah Dikter berusia ahir 40-an itu angkat suara. "Alhamdulillah. Keadaan bu Maria kini sudah membaik." Dokter Ema berjalan ke arah mejanya dan menuliskan beberapa resep lalu menyerahkannya pada Arkan. "Jangan lupa berikan tiga kali sehari pada masing-masing lembar! Obatnya bisa di tebus di apotek."
Arkan menerima lertas berisi resep obat Maria. "Terima kasih Dokter Ema. Kalau begitu kami permisi."
Dokter Ema mengangguk mempersilahkan Arkan untuk membawa Maria keluar.
Arkan menghampiri Maria dan berniat membantunya berjalan. Namun Maria menolaknya dengan cara halus supaya Arkan tidak tersinggung. "Maaf Arkan, saya masih mampu berjalan." Maria berkata dengan lembut.
Arkan hanya mampu mengangguk dan tidak dapat membantah ucapan Maria. Dia memperhatikan dengan seksama takut-takut Maria oleng dan terjatuh. Arkan sampai mengepalkan tangannya kuat karena tidak dapat merengkuh punggung rapuh Maria saat ini. Nanti, selepas dia mengungkapkan siapa jati dirinya di hadapan Maria. Saat itu tiba, Arkan akan selalu menjadi orang yang mendampingi Maria apapun yang terjadi. Sekalipun Maria berbuat salah, Arkan adalah orang pertama yang akan membelanya. Itu janji dalam hatinya.
"Baiklah. Tapi biarkan saya mengantarmu sampai rumah." Arkan buru-buru mengangkat tangannya begitu Maria mau memotong ucapannya. "Saya tidak menerima penolakan!"
"Tapi saya takut suamiku nanti salah paham. Kalau saya diantar kamu, bisa-bisa dia berpikir kalau kita punya hubungan." Maria berucap khawatir. Fiko sangat cemburuan, dan untuk menjaga hati suaminya itu tentu Maria jangan memancingnya dengan sengaja jalan bersama laki-laki lain. Walau Arkan hanya sekedar menolongnya, tapi Maria sangsi kalau Fiko akan mempercayainya. Waktu itu saja Fiko sudah menuduhnya menyukai Arkan, gimana sekarang yang malah semobil berdua? Maria tidak dapat membayangkannya.
Arkan memicingkan matanya karena begitu kesal pada Maria. Arkan sampai tak habis pikir pada pola pikir Maria yang menurutnya sanagat sinetron sekali. Harusnya sekali-kali Maria membalas rasa sakit hatinya pada suami tak berahlak seperti Fiko. Rasanya hati Arkan gatal mendengar semua penuturan Maria yang katanya takut suaminya cemburu. Cih, Arakan malah senang kalau sampai itu terjadi. Biarkan saja Fiko tenggelam dengan rasa cemburu berlebihannya, laki-laki egois sepertinya memang harus diberi pelajaran agar sadar dengan kelakuannya.
"Kamu tau? Suamimu yang egois itu tidak akan pernah sadar dengan kelakuan egoisnya kalau tidak disadarkan. Kamu terlalu lembek, makanya hanya kamu yang terluka. Sekali-kali tutup mata hatimu akan penderitaan suamimu yang tidak tau diri itu!" Arkan berkata geram. Lagipula untuk apa Maria masih mempertahankan suami yang sudah tega menduakannya itu? Hanya menambah luka batin saja. Arkan bahkan samapai mengutuk Fiko di dalam hatinya.
"Ucapanmu seperti orang tengah menghasut saja! Rumah tanggaku ya urusanku. Kenapa kamu yang sewot?" Maria sedikit tidak paham dengan alasan Arkan marah. "Dan dari mana kamu dapat menyimpulkan kalau Mas Fiko itu egois?"
Mendadak Arkan ingin memukulkan kepalanya pada tembok, bodoh. Kenapa dia sampai keceplosan begitu, jangan sampai Maria mencurigainya. Arkan terbatuk sekali untuk menyamarkan suara di tenggorokannya yang agak tersumbat. "Dilihat dari gerak-geriknya waktu itu, saya sudah dapat menebak karakter suamimu seperti apa. Dia tipe pencemburu dan egois. Maaf sebelumnya kalau saya lancang, kenapa kamu masih bertahan?"
Maria mendengus kesal. Siapa Arkan sehingga berani mengatai Fiko seperti itu. "Kamu bukan siap-siapanya saya. Jadi, saya rasa tak ada kewajiban untukku menjawab pertanyaanmu barusan." Maria menatap Arkan dengan sedikit emosi di matanya.
"Ok. Maaf. Saya rasa tidak enak berbincang dengan situasi kita masih berada di Klinik." Arkan melirik Dokter Ema yang kini tengah memandang ke arahnya dan Maria. "Lebih baik kita keluar dan saya antarkan kamu pulang."
Mari mengangguk mengiyakan karena juga merasa tak enak dengan Dokter Ema. Mereka sama-sama keluar menuju mobil Arkan yang di parkir di samping Klinik.
"Ayo masuk!" Arkan membuka pintu mobil samping kemudi untuk Maria.
"Maaf. Aku pulang sendiri saja." Maria tetap keukeuh tidak mau pulang di antar Arkan.
Arkan menghembuskan napas pasrah karena kekeras kepalaan Maria ternyata tidak ada bedanya dengan Ayah tirinya. "Terserah kamu saja." Arkan hanya bisa mengalah pada Maria. "Tapi, boleh saya awasi kamu dari belakang?"
Maria terdiam dengan pandangan lurus ke arah Arkan. Hatinya mengatakan tidak mungkin, namun perkataan Fiko waktu itu menjelaskan sikap Arkan sekarang. "Apa...kamu suka sama saya?" Maria bertanya dengan pelan dan perlahan karena takut menyinggung hati Arkan.
Arkan tertawa karena memikirkan pertanyaan Maria yang begitu konyol menurutnya. "Dasar konyol. Saya tidak mungkin menyukaimu, kamu sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Apa itu tidak boleh?" Senyum geli Arkan masih bertahan di bibirnya.
Wajah Maria sontak merona karena malu. Ternyata Arkan hanya menganggapnya adik saja. Kini Maria dapat bernapas lega karena sejujurnya, Maria juga sudah menganggap Arkan kakak laki-lakinya. "Kalau begitu, silahkan kamu buntuti saya sampai rumah. Assalamualaikum." Maria melangkah cepat sambil menutupi ke dua pipinya menggunakan telapak tangannya. Begitu ada angkot yang lewat, Icha menghentikannya dan langsung masuk ke dalam angkot.
"Wa'alaikum salam." Arkan menjawab setengah linglung. Arkan kira Setelah mengutarakan hatinya kalau Arkan sudah menganggap Maria sebagai adiknya, Maria mau pulang di antar pakai mobilnya. Ternyata harus dengan cara membuntutinya.
Arkan menoleh ke arah Maria yang kini sudah naik ke dalam angkot. Bergegas Arkan masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti Maria dari belakang.
Arkan menghentikan mobilnya begitu sampai di depan rumah Maria. Dia menyeringai samar. Seperti dugaannya, Fiko, istri ke keduanya dan wanita cacat itu tidak akan pulang ke rumahnya dalam waktu dekat ini. Rencananya berhasil, dan itu cukup membuat Arkan merasa senang.
"Kenapa kamu memandang rumahku seperti orang yang punya motivasi tersembunyi?" Maria yang baru turun dari angkot bertanya curiga karena mendapati wajah Arkan tengah memandangi rumahnya dengan ekspresi wajah jahat. "Kamu... tidak berniat mencuri, bukan?"
Senyum miring Arkan sontak redup. Arkan memandang Maria dengan pandangan paling datar yang dia punya. "Kamu berbicara seolah saya ini lebih miskin dari pada suamimu. Asal kamu tau, rumahku itu bertingkat, mobil dan motor berjejer di garasi, cabang perusahaan di mana-mana. Lalu, apa yang kuharapkan dari rumah sepetakmu?"
" -_-"
***