Persiapan dimulai pada pekan kesembilan belas. Althea dan Evander bertemu Mama untuk membicarakan acara kecil, lalu membagi tugas yang dapat mereka jalankan. Mereka belum membeli sesuatu hanya karena daftar tersedia. Althea memeriksa jadwal praktik, Evander mengurus kebutuhan tempat dan komunikasi dengan keluarganya serta keluarga Renata.
Pada pekan berikutnya, satu rapat Evander berlangsung lebih lama daripada rencana. Ia menghubungi Marni dan memastikan penjemputan anak-anak berjalan melalui pengaturan yang sudah disepakati. Althea tetap berada di klinik. Malamnya Evander makan bersama si kembar dan memberitahukan perubahan berikutnya sebelum mereka menunggu.
Althea dan Mama memilih pakaian pada akhir pekan, tanpa menjadikan percobaan resep sebagai katering wajib. Mereka masih ingin membuat kue untuk kesenangan di dapur. Usaha di sisi rumah belum berjalan.
Pada pekan kedua puluh dua, jadwal klinik bulan berikutnya terkonfirmasi. Mereka memilih hari pada pekan kedua puluh lima, sesudah memeriksa kebutuhan tempat, administrasi pernikahan, biaya, dan pendampingan anak-anak. Tanggal baru diumumkan setelah hal yang diperlukan jelas. Mereka mengurus persyaratan dan pencatatan melalui pihak yang berwenang.
Marni menyepakati jam bantu pada hari acara. Mertua Evander dan Martha menerima undangan, bersama keluarga dekat Althea. Si kembar boleh hadir tanpa diminta mengucapkan kalimat tertentu atau berdiri lama di depan tamu.
Ketika hari itu tiba, Althea mengambil cuti yang sudah diatur. Pasien yang terdampak telah diberi kabar dan tugasnya diserahkan dengan jelas. Ia tidak berlari dari ruang praktik menuju acara dalam keadaan kelelahan.
Di rumah, ibu Althea membantu merapikan kerah pakaian yang dipilih putrinya. Tidak ada gaun berlebihan atau perhiasan yang membuat Althea merasa seperti orang lain. Ia memilih pakaian yang nyaman dan tetap terasa seperti dirinya. Ibunya menatapnya lama, lalu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu terlihat seperti dirimu sendiri,” katanya.
“Itu yang aku mau, Ma.”
Evander menunggu di tempat acara yang sederhana. Ia datang bersama Adelio dan Adelia, didampingi Marni untuk membantu menjaga barang dan kebutuhan mereka. Namun Evander tetap berada dekat anak-anak. Ia sudah berjanji tidak akan membuat mereka berdiri lama atau meminta mereka menyampaikan ucapan khusus.
Keluarga dekat berkumpul tanpa keramaian besar. Ibu Althea hadir di samping putrinya. Mama Renata duduk bersama Martha dan beberapa keluarga Renata. Tidak ada yang mengatur agar foto Renata disingkirkan. Evander membawa satu foto kecil yang biasa disimpan bersama album anak-anak, lalu meletakkannya di tempat yang tidak mencolok tetapi tetap dihormati. Itu bukan simbol yang dibuat untuk membandingkan siapa pun; hanya bagian dari sejarah keluarga mereka.
Sebelum prosesi dimulai, Evander meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Althea. Mereka berdiri di sisi ruangan, jauh dari kerumunan. Ia bertanya sekali lagi apakah Althea merasa siap dan memilih hari ini atas kehendaknya sendiri.
“Aku siap,” jawab Althea. “Aku memilih hari ini. Kalau aku tidak siap, aku akan mengatakannya, dan kamu tahu itu.”
Evander mengangguk. Ia berkata ia juga memilih Althea sebagai pasangan, dengan segala hal yang membuatnya menjadi dirinya: dokter, anak dari ibunya, dan perempuan yang berhak menentukan batas. Ia tidak meminta Althea menjadi jawaban atas kehilangan Renata atau solusi untuk mengasuh anak-anak.
Prosesi berlangsung sederhana dan khidmat. Mereka mengucapkan janji di hadapan keluarga dan menandatangani dokumen yang diperlukan. Althea merasakan tangannya sedikit dingin saat memegang pena. Evander tidak menggenggam terlalu erat atau mengambil alih. Ia menunggu sampai Althea selesai, lalu tersenyum ketika mereka mengangkat wajah.
Tidak ada tepuk tangan yang panjang. Beberapa orang mengucapkan selamat, ibu Althea memeluk putrinya, dan mertua Evander menjabat tangan Althea dengan hangat. Martha menyampaikan bahwa ia senang melihat Evander menemukan kebahagiaan baru, sambil tetap berharap mereka menjaga kenangan Renata. Evander menjawab bahwa ia akan melakukannya. Althea berterima kasih karena Martha mengatakan hal itu dengan jujur.
Adelia mendekat setelah orang dewasa selesai memberi salam. Ia memegang tangan Papa, lalu melihat Althea. “Sekarang kalian sudah menikah?”
“Iya,” jawab Evander. “Tapi kamu dan Lio tetap anak-anak. Kalian tidak harus melakukan apa pun berbeda hari ini.”
Lio mengangguk sambil menatap hidangan kecil di meja. Lia bertanya kapan mereka bisa pulang. Evander menjawab mereka dapat beristirahat sebentar, lalu pulang jika lelah. Tidak ada yang tersinggung. Acara itu milik orang dewasa, dan anak-anak tetap boleh menjadi anak-anak.
Ibu Althea meminta foto keluarga. Mereka berdiri bersama sebentar. Martha ikut di sisi Evander dan anak-anak. Althea tidak berdiri menggantikan posisi Renata dalam foto lama atau meminta foto baru menutupi yang lama. Ada ruang bagi sejarah yang telah ada dan bagi keluarga yang sedang tumbuh.
Setelah makan singkat, Evander membawa si kembar pulang lebih dahulu bersama Marni. Ia memastikan mereka punya makanan, pakaian ganti, dan waktu istirahat. Althea tidak diminta ikut untuk mengurus mereka. Ia tinggal beberapa menit lagi bersama ibunya dan keluarga, lalu pulang ke rumahnya sendiri untuk berganti pakaian dan beristirahat.
Malam itu, ia dan Evander bertemu di teras rumah Althea. Mereka sudah menikah, tetapi tetap membiarkan hari berakhir dengan tenang. Evander bertanya apakah ia ingin ditemani atau sendiri. Althea memilih ditemani sebentar, lalu meminta masuk ke kamar karena kelelahan. Evander mengangguk dan berpamitan.
“Kita tidak harus mengubah semuanya malam ini,” kata Althea.
“Tidak. Kita mulai dari kehidupan yang sudah kita bangun dan menyesuaikannya bersama.”
Althea memandang cincin di jarinya. Cincin itu terasa ringan. Ia tidak kehilangan pekerjaannya, rumahnya, atau suaranya. Hari itu menandai pilihan yang mereka buat, bukan akhir dari percakapan. Besok akan ada rutinitas, jadwal, dan hal-hal kecil yang perlu mereka putuskan satu per satu.
Sesudah Evander kembali ke rumah nomor dua belas, Althea menutup pintu dan duduk sebentar di ruang tengah. Ia masih terharu, tetapi juga lelah. Ponselnya menyala dengan kabar bahwa si kembar telah tidur.
Ia mengucapkan selamat malam, lalu meletakkan cincin dan kunci rumah di tempat yang berbeda. Keduanya tidak saling menggantikan. Ia menikah hari itu karena memilih hidup bersama Evander, dan esok ia tetap perlu menentukan bagaimana kehidupan tersebut dijalankan.