Pekan kedua puluh enam dimulai dengan pagi yang biasa. Althea bangun di rumahnya sendiri, mengenakan pakaian praktik, lalu meninjau jadwal pasien. Ia dan Evander sudah menikah, tetapi ia tidak meninggalkan pekerjaannya atau memindahkan seluruh hidupnya dalam satu malam. Mereka sepakat membangun kebiasaan bersama secara bertahap.
Sebelum Althea berangkat, Evander menelepon. Ia sedang menyiapkan sarapan untuk Adelio dan Adelia dan bertanya apakah Althea ingin makan bersama sebelum praktik. Althea melihat jam dan menjawab ia hanya punya waktu sebentar. Evander berkata ia akan menyisihkan porsi, tetapi tidak meminta Althea menunda keberangkatan.
Di rumah Evander, si kembar sedang duduk di meja makan. Lia menunjukkan gambar yang dibuatnya setelah acara. Lio memegang sendok dan berusaha mengambil potongan buah. Evander melayaninya sambil mengingatkan Lia agar tidak menggambar dekat gelas. Ia tidak menunggu Althea datang untuk mengurus anak-anak.
Althea duduk beberapa menit dan menyapa mereka. Ia bertanya tentang gambar Lia, lalu mendengarkan penjelasannya. Lio meminta bantuan membuka wadah buah; Althea membantunya, lalu Evander kembali mendampingi si kembar sementara Althea bersiap berangkat. Tidak ada yang menganggap tindakan kecil itu berarti seluruh pengasuhan berpindah kepadanya.
Ketika waktu berangkat tiba, Althea mencium kening si kembar setelah mereka menyambutnya dengan nyaman. Ia pergi ke klinik, sementara Evander mengantar mereka sesuai jadwal. Di ruang praktik, Althea bekerja seperti biasa. Ia membaca catatan pasien, berbicara dengan keluarga mereka, dan mengambil keputusan berdasarkan penilaiannya sebagai dokter. Cincin di jarinya tidak mengubah tanggung jawab profesionalnya.
Siang hari, satu pasien membutuhkan waktu lebih lama. Althea mengirim pesan kepada Evander bahwa ia tidak dapat pulang sesuai perkiraan. Evander menjawab ia sudah menjemput anak-anak dan mengatur sore bersama mereka. Ia tidak meminta Althea membatalkan pekerjaannya. Althea merasa lega karena mereka mulai menjalani apa yang telah dibicarakan, bukan hanya mengulang janji.
Sore itu mereka berkumpul di rumah Althea sesuai rencana. Lia dan Lio sudah mengenal ruang tersebut dari kunjungan sebelumnya; yang baru ialah kebiasaan makan bersama setelah Althea pulang praktik. Evander tetap datang bersama mereka. Althea berganti pakaian, menyimpan berkas pasien di ruang kerjanya, lalu duduk di dekat meja rendah tempat Lia membuka buku gambar.
Lio tertarik pada foto Renata di album ponsel papanya. Evander menunjukkan beberapa foto dan menjelaskan bahwa Renata ibu yang melahirkan mereka, yang telah meninggal ketika mereka lahir. Cerita yang dimiliki si kembar berasal dari Papa dan keluarga ibunya, bukan kenangan yang harus mereka pura-pura ingat sendiri.
Lia menoleh kepada Althea. “Mama Thea mau lihat?”
Althea mendekat setelah Lia menggeser tempat di sisinya. Panggilan itu sudah lama dikenalnya, tetapi malam itu ia tidak buru-buru menjawabnya dengan janji. Ia mendengarkan pertanyaan Lia tentang sebuah foto, lalu membiarkan Evander menjelaskan kisah yang memang diketahuinya.
Makan malam berlangsung sederhana. Ketika Althea tampak lelah, Evander membereskan piring dan mengajak anak-anak pulang sesuai waktu tidur mereka. Althea tidak perlu berdiri di dekat pagar untuk memastikan semuanya ditangani. Ia mengembalikan buku ke rak dan menelepon Mama sebelum beristirahat.
Beberapa hari kemudian, Althea dan Evander meninjau lagi rencana tempat tinggal. Mereka sepakat mencoba beberapa malam dalam sepekan di rumah Evander, menyesuaikan dengan jadwal klinik dan kenyamanan anak-anak. Belum ada pemindahan permanen. Rumah Althea tetap miliknya dan tidak dijadikan jaminan atau dilepas. Mereka akan mengevaluasi setelah menjalani rutinitas itu, bukan berasumsi semuanya langsung cocok.
Evander menyiapkan ruang kecil bagi barang kerja Althea dan memastikan kamar si kembar tidak diubah tanpa persetujuan mereka. Foto Renata tetap berada di tempatnya. Althea memilih beberapa pakaian dan buku untuk dibawa, bukan seluruh barangnya. Ia ingin rumah baru itu tumbuh dari kebiasaan bersama, bukan dari penghapusan kehidupan yang sudah ada.
Mereka membicarakan hal-hal sederhana seperti siapa yang memasak pada malam tertentu dan bagaimana mengatur waktu istirahat. Evander tidak menganggap Althea harus mengurus makan malam setelah praktik. Jika ia lelah, mereka akan memilih makanan yang mudah atau Evander menyiapkannya. Pembagian itu mungkin berubah dari hari ke hari, tetapi tanggung jawab tidak otomatis jatuh pada satu orang.
Pada malam pertama yang mereka pilih, Althea membawa tas kecil berisi pakaian dan dua buku ke nomor dua belas. Evander telah menyiapkan tempat bagi barang kerjanya tanpa mengubah kamar anak-anak. Lia mengintip dari pintu, lalu bertanya apakah Mama Thea akan tinggal sampai pagi.
“Malam ini iya,” jawab Althea. “Besok aku berangkat praktik.”
Lia mengangguk dan kembali ke ranjangnya. Lio masih ingin menyelesaikan jalan mobil. Evander duduk di dekatnya, memberi waktu sampai permainan itu dibereskan, lalu membacakan cerita. Althea mendengar suara mereka ketika menaruh bukunya di meja. Ia dapat ikut menyapa tanpa mengambil alih seluruh malam.
Pada akhir pekan, Evander menerima hasil peninjauan keputusan pegawai yang pernah diberhentikannya. Melalui bagian yang menangani kepegawaian, ia mengakui bahwa dahulu ia memutuskan tanpa mendengar penjelasan dan menyampaikan permintaan maaf. Orang tersebut memilih tidak kembali bekerja di bawahnya. Evander menerima pilihan itu; ia tidak meminta Althea menganggap persoalannya selesai hanya karena sudah meminta maaf.
Pihak perusahaan menuntaskan kewajiban yang dibahas dalam peninjauan itu bersama orang yang bersangkutan, dan memperbaiki catatan proses yang sebelumnya tidak memuat penjelasannya. Evander tidak mengubah angka laporan yang memang salah untuk membuat cerita lebih nyaman. Ia menata cara keputusan berikutnya diperiksa melalui pihak yang berwenang. Ia tidak membagikan berkas pribadi pegawai kepada Althea.
“Dia tidak ingin kembali,” katanya ketika bercerita singkat.
Althea menatapnya. “Kamu bisa menerima itu?”
“Harus. Dia tidak berkewajiban membuatku merasa sudah menjadi atasan yang baik.”
Althea mengangguk. Pembicaraan itu selesai ketika Evander kembali membantu Lio mencari mobil yang terselip. Tidak ada pujian sebagai pembayaran atas tanggung jawabnya.
Beberapa pekan sesudah pernikahan, kehidupan mereka belum selalu rapi. Ada jadwal praktik yang molor dan makan malam yang harus digeser. Althea kadang pulang ke nomor tiga belas untuk beristirahat sendiri sesudah bertugas; pada malam lain ia berada di nomor dua belas. Mereka memberi tahu anak-anak apa yang berubah, tanpa meminta si kembar mengatur perasaan orang dewasa.
Mama masih mencoba kue di dapurnya. Surat Rania tersimpan bersama berkas rumah, bukan sebagai undangan memperdebatkan semuanya lagi. Pengasuh menjalankan tugas yang telah disepakati dan menyerahkan pengawasan ketika jamnya berakhir. Marni juga memiliki waktu berhenti bekerja. Tidak ada satu orang yang harus tersedia sepanjang hari agar keluarga itu dapat disebut utuh.
Suatu pagi Althea keluar dari nomor dua belas dengan tas praktik. Adelio memanggilnya dari meja makan, meminta ia melihat jalan mobil yang kini mempunyai jembatan lebih tinggi. Ia berhenti untuk melihat, lalu mengucapkan sampai nanti ketika waktunya berangkat.
Evander tetap di meja bersama anak-anak. Althea melangkah menuju kendaraan dengan kunci rumahnya sendiri di dalam tas dan rumah lain yang mulai menjadi tempat pulang. Ia tidak kehilangan pekerjaan atau dirinya untuk menyayangi keluarga ini. Ia memilih datang, memilih bekerja, dan kembali karena ingin.
Di belakangnya suara si kembar bersahutan mengucapkan selamat pagi. Kali ini Althea tidak perlu bertanya-tanya apa arti panggilan mereka. Ia sudah berada di dalam kehidupan yang mereka bangun, tanpa harus menghapus siapa pun.
TAMAT