Pada Sabtu sore pekan ketujuh belas, Evander datang setelah memastikan Adelio dan Adelia berada bersama Marni untuk waktu yang sudah direncanakan. Ia tidak meminta Marni mengurus mereka sepanjang malam; ia hanya mengatur waktu agar percakapan orang dewasa berlangsung tenang, lalu ia akan kembali menjalankan tanggung jawabnya. Althea menyambutnya dan mengajak duduk di teras.
Mereka sepakat sebelum memberi jawaban tentang pernikahan, ada satu hal yang harus dibicarakan: bagaimana keluarga Renata akan mengetahui rencana itu dan bagaimana kenangan Renata tetap dihormati. Althea tidak ingin keluarga mendiang istri Evander mengetahui kabar tersebut dari orang lain. Evander juga tidak ingin pengumuman itu membuat mereka merasa Renata sedang dihapus dari hidup anak-anak.
“Aku ingin mereka tahu dari kita, bukan dari kabar yang beredar,” kata Althea. “Dan aku tidak mau siapa pun menyebutku pengganti Renata.”
Evander mengangguk. Ia berkata ia tidak menganggap Althea sebagai pengganti. Renata adalah ibu Adelio dan Adelia, bagian dari sejarah keluarga mereka. Jika Althea kelak menjadi istri Evander dan mama sambung si kembar, itu hubungan baru yang tumbuh sendiri, bukan penghapusan terhadap hubungan yang sudah ada.
Mereka membicarakan siapa yang perlu diberi tahu. Martha, sepupu Renata, masih menjadi bagian keluarga yang dekat dengan anak-anak. Mertua perempuan Evander juga memiliki hubungan penting dengan cucunya. Evander berkata ia akan berbicara kepada mereka dengan tenang setelah Althea menyatakan siap. Ia tidak ingin Althea menghadapi semua respons sendirian atau menjadikan persetujuan keluarga sebagai syarat bagi keputusan mereka.
Althea menjelaskan ia bersedia bertemu dan menjawab pertanyaan, tetapi tidak mau meminta izin untuk mencintai Evander. Ia juga tidak mau menuntut keluarga Renata menyambutnya seolah tidak ada duka. Mereka mungkin membutuhkan waktu atau memiliki perasaan campur aduk. Ia dapat menghormati itu tanpa menyerahkan hak menentukan hidupnya.
Evander setuju. Ia akan menegaskan bahwa keputusan menikah adalah keputusan mereka berdua. Ia tidak akan meminta keluarga Renata menyetujui, dan tidak akan membiarkan siapa pun menekan Althea dengan perbandingan. Jika ada percakapan yang menjadi menyakitkan, mereka boleh berhenti dan melanjutkannya di lain waktu.
Mereka juga membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan anak. Foto Renata dan cerita tentangnya tetap dapat disimpan. Anak-anak boleh bertanya tentang ibu mereka tanpa takut membuat Althea cemburu. Althea berkata ia ingin mendengarkan jika suatu saat mereka ingin bercerita, tetapi ia tidak akan memaksa mereka membuka kenangan.
“Aku ingin hadir sebagai diriku sendiri,” katanya. “Aku tidak perlu mengambil tempat siapa pun agar bisa menyayangi mereka.”
Evander menjawab bahwa ia memahami. Ia juga mengakui tugas menjaga kenangan Renata adalah tanggung jawabnya sebagai ayah, bukan pekerjaan yang harus diserahkan kepada Althea. Ia akan terus menjawab pertanyaan anak-anak dengan jujur sesuai usia mereka.
Keesokan harinya, mereka bertemu Martha di rumah keluarga Renata. Evander menjelaskan bahwa ia dan Althea sedang mempertimbangkan menikah. Ia menegaskan mereka belum meminta Martha menentukan keputusan. Althea menyampaikan bahwa ia menghormati Renata dan tidak akan mengambil tempatnya dalam cerita anak-anak.
Martha diam cukup lama sebelum berkata ia tidak terkejut bahwa Evander akhirnya ingin melanjutkan hidup, tetapi tetap merasa sedih mendengar perubahan itu. Althea tidak mencoba menghapus kesedihan tersebut. Ia berkata ia mengerti bahwa kabar ini dapat membawa banyak perasaan. Martha mengaku ia hanya takut anak-anak kehilangan kenangan tentang Renata.
“Kenangan itu tetap milik mereka,” jawab Evander. “Aku akan tetap menceritakan ibunya. Althea tidak pernah meminta kami berhenti.”
Martha menatap Althea lalu berkata ia menghargai sikap itu. Ia belum tahu bagaimana perasaannya nanti, tetapi ia tidak akan meminta Evander membatalkan hubungan. Mereka sepakat memberi waktu pada keluarga untuk mencerna kabar sebelum anak-anak diberi tahu.
Evander juga memberi kabar kepada mertuanya. Ia tidak menyebut tanggal atau mengatakan Althea telah menerima, sebab jawaban itu belum ada. Perempuan itu masih khawatir cucunya akan melupakan Renata. Evander menjelaskan bahwa foto dan cerita tentang ibu mereka tetap disimpan, apa pun keputusan hubungan yang kelak dibuat.
Althea pulang sesudah pertemuan dengan Martha, lalu membiarkan malam berlangsung tanpa percakapan tambahan. Ia lelah dan ingin membaca catatannya sendiri ketika lebih tenang.
Pada Senin pagi pekan kedelapan belas, Althea melihat kembali catatannya: profesi, rumah, anak, keluarga. Keempat hal itu tidak lagi terasa seperti dinding yang menghalangi. Mereka memang belum memiliki semua jawaban rinci, tetapi telah membicarakan prinsip yang tidak boleh hilang. Ia ingin memastikan keputusan menikah bukan sekadar hasil dari percakapan yang terasa hangat.
Ia mengirim pesan kepada Evander untuk bertemu setelah jadwal klinik, kali ini di taman yang tenang. Evander datang tanpa membawa anak-anak dan tanpa cincin. Althea menghargai bahwa ia tidak mengubah pertemuan itu menjadi kejutan yang membuatnya harus menjawab di depan orang lain.
Mereka meninjau kembali yang sudah dibicarakan. Althea akan tetap menjalankan profesinya dan memegang keputusan atas jadwal serta praktiknya. Evander tetap bertanggung jawab sebagai ayah dan tidak akan menjadikan Althea pengasuh otomatis. Mereka belum menetapkan rumah mana yang akan dihuni bersama setelah menikah; keputusan itu akan dibuat berdasarkan kebutuhan semua orang dan dapat dilakukan bertahap. Keuangan dan aset akan dibicarakan terbuka tanpa menghapus kepemilikan masing-masing.
Mereka juga mengulang kesepakatan tentang Renata. Kenangannya akan tetap hadir secara wajar dalam kehidupan anak-anak. Althea tidak dituntut menjadi pengganti, sementara keluarga Renata akan diberi kabar dengan jujur dan tidak dipaksa memberi persetujuan. Evander berkata ia siap bertanggung jawab atas percakapan dengan keluarganya.
“Aku tidak menjanjikan semuanya akan mudah,” kata Althea. “Tapi aku bersedia menikah denganmu, kalau kita terus menjaga hal-hal yang sudah kita bicarakan.”
Evander menatapnya sejenak, seperti memastikan ia mendengar dengan benar. Ia tidak bersorak atau langsung menyebut tanggal. Ia bertanya, “Kamu yakin ini keputusanmu sendiri?”
“Ya. Bukan karena anak-anak, bukan karena keluargamu, dan bukan karena aku harus membuktikan sesuatu. Aku memilihmu karena aku mencintaimu dan percaya kita bisa terus berbicara jujur.”
Evander menjawab bahwa ia juga memilih Althea sebagai pasangan, bukan hanya karena ia menyayangi anak-anaknya. Ia menerima bahwa persetujuan hari itu tidak membuat semua keputusan selesai. Mereka masih harus membahas persiapan dengan tenang dan mempertimbangkan jadwal klinik.
Mereka berpelukan sebentar. Tidak ada pengumuman kepada dunia atau janji bahwa mereka tidak akan pernah berselisih. Bagi Althea, momen itu terasa lebih kuat justru karena tidak meminta ia berhenti menjadi dirinya sendiri.
Sebelum memberi tahu Adelio dan Adelia, Evander bertanya apakah Althea siap. Mereka memilih malam berikutnya, saat tidak terburu-buru dan anak-anak berada di rumah. Evander akan menyampaikan kabar sebagai ayah, sementara Althea berada di sampingnya. Mereka akan memakai bahasa sederhana dan memberi ruang bagi pertanyaan maupun keheningan.
Althea menelepon Mama sendiri. Ia ingin menyampaikan jawabannya, bukan membiarkan orang lain mengatakan bahwa ia bersedia menikah. Mama mendengarkan, lalu mengucapkan selamat. Ia tidak menambahkan tugas persiapan pada telepon itu.
Malam berikutnya, Evander dan Althea duduk bersama Lia dan Lio. Evander mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk menikah. Lia segera bertanya apakah mereka harus pindah rumah. Evander menjawab belum ada perubahan saat itu dan mereka akan menjelaskan sebelum membuat rencana yang menyangkut anak-anak.
Lio bertanya apakah Mama Althea akan selalu berada di rumah. Althea menjawab bahwa ia tetap bekerja dan Evander tetap menemani serta mengurus mereka. Ia menyayangi si kembar, tetapi tidak menjanjikan sesuatu yang tidak sanggup dijalankan.
Lia lalu menyentuh bingkai foto Renata. “Ini tetap di kamar?”
“Tetap,” jawab Evander.
Althea mengangguk. Lio tidak memberi jawaban tentang pernikahan; ia kembali bermain setelah duduk dekat papanya beberapa saat. Tidak ada yang meminta mereka bertepuk tangan. Ketika Althea pulang, Evander tetap bersama si kembar. Ia melangkah beberapa meter ke rumahnya sendiri dengan perasaan bahwa keputusan besar itu baru saja dipilih, tanpa membuatnya harus meninggalkan seluruh hidupnya malam itu.