Pekan ketujuh belas dimulai dengan pesan Evander yang meminta waktu berbicara tanpa anak-anak. Ia tidak menulis bahwa ada masalah. Ia hanya ingin mengajak Althea makan malam setelah jadwal kliniknya selesai, di tempat yang tenang dan dekat rumah. Althea membaca pesan itu dua kali. Setelah memastikan tidak ada pasien tambahan dan ia masih punya cukup tenaga, ia menjawab bersedia.
Mereka memilih meja kecil di sebuah restoran yang pernah mereka datangi. Evander datang lebih dulu dan tidak memesan makanan untuk Althea. Ia menunggu sampai Althea tiba, lalu menanyakan apa yang ingin ia makan. Sikap sederhana itu membuat Althea tersenyum tipis. Beberapa bulan lalu, Evander mungkin menganggap perhatian berarti mengambil keputusan lebih cepat. Sekarang ia memberi ruang untuk jawaban.
Mereka membicarakan pekerjaan lebih dulu. Evander bercerita bahwa jadwalnya minggu itu cukup padat, tetapi ia sudah menata rapat agar dapat pulang pada waktu yang ia janjikan kepada Adelio dan Adelia. Althea menceritakan hari klinik yang melelahkan, juga kepuasannya ketika seorang pasien kecil menunjukkan kemajuan. Percakapan berlangsung ringan sampai Evander meletakkan sendok dan menatapnya dengan serius.
“Aku ingin membicarakan masa depan kita,” katanya. “Bukan karena anak-anak meminta, bukan karena keluargaku mendesak, dan bukan karena kita sudah beberapa kali bertemu. Aku ingin tahu apakah kamu bersedia mempertimbangkan pernikahan denganku.”
Althea tidak segera menjawab. Kata itu terasa besar meski disampaikan tanpa cincin atau suasana dramatis. Ia merasakan tengkuknya menegang. Bukan karena ia tidak menyayangi Evander, melainkan karena ia tahu pernikahan akan menyentuh pekerjaan, rumah, dan kehidupan dua anak yang sudah kehilangan ibu mereka.
Evander menambahkan bahwa ia tidak mengharapkan jawaban malam itu. Ia ingin mereka membicarakan hal-hal yang selama ini belum cukup jelas. Jika jawaban Althea akhirnya tidak, ia akan menerimanya tanpa mengubah cara ia menghormati batas dan pekerjaannya.
“Aku tidak mau menjadi jawaban atas rasa sepi anak-anak,” ujar Althea. “Aku juga tidak mau menikah karena orang mengira aku sudah telanjur berperan sebagai mama mereka.”
“Aku setuju. Mereka punya ayah yang bertanggung jawab. Keputusan ini harus datang dari kita sebagai dua orang dewasa.”
Althea mengamati wajah Evander, mencari tanda bahwa ia sedang berusaha mengarahkan. Ia tidak menemukannya. Evander tidak menyebut betapa anak-anak menyukai kunjungan ke rumah ibu Althea. Ia tidak mengungkit kue atau panggilan keluarga. Ia berbicara tentang dirinya dan Althea.
“Aku memang menyayangimu,” kata Althea. “Tapi aku perlu tahu hidup seperti apa yang kamu bayangkan. Pekerjaanku tidak akan berhenti. Aku tidak bisa menjadi pengasuh yang selalu tersedia, lalu dianggap gagal saat ada panggilan klinik.”
“Aku tidak menginginkan itu. Kita harus membahas pengasuhan dan tempat tinggal dengan jelas. Aku juga perlu mendengar apa yang kamu butuhkan agar tetap merasa menjadi dirimu sendiri.”
Althea menghela napas perlahan. Ia mengakui selama ini pernah membayangkan kehidupan yang hangat bersama Evander dan si kembar. Namun ia juga takut bayangan itu menghapus bagian dirinya yang dibangun melalui pendidikan, praktik, dan keputusan-keputusan sulit. Ia tidak mau mengetahui setelah menikah bahwa semua orang menganggap ia harus mengalah.
Evander berkata ia tidak dapat menjanjikan bahwa setiap hari akan mudah, tetapi ia dapat berjanji tidak akan menganggap persetujuan lama sebagai persetujuan untuk segala hal. Jika ada perubahan besar, mereka harus membicarakannya kembali. Althea menanggapi bahwa janji harus terlihat lewat kebiasaan, bukan hanya kalimat malam itu.
“Aku paham,” jawab Evander. “Kita tidak perlu menentukan tanggal atau mengumumkan apa pun sebelum kamu merasa siap.”
Mereka menyepakati tiga hal yang perlu dibicarakan sebelum memberi jawaban: profesi Althea, tempat tinggal yang cocok untuk semua, dan pola pengasuhan yang tidak membebankan anak kepada satu orang saja. Althea juga ingin membicarakan keluarga Renata dan cara menjaga kenangan tentang ibu kandung si kembar.
Althea menulis empat kata di belakang struk: kerja, rumah, anak, keluarga. Ia menyimpannya ketika mereka berpisah, lalu membukanya lagi esok pagi. Rasa sayangnya kepada Evander tidak menghilangkan pertanyaan itu.
Sesudah praktik, mereka berbicara di rumah nomor tiga belas. Althea mengatakan bahwa menjadi dokter anak merupakan bagian dari hidup yang dipilihnya. Ia tidak ingin pekerjaannya dianggap sesuatu yang dapat ditinggalkan ketika kebutuhan rumah bertambah. Evander menjawab bahwa ia tetap ayah si kembar dan harus menyiapkan pengasuhan, termasuk ketika jadwal Althea berubah.
Althea kemudian menanyakan rumah. Mereka memiliki dua tempat tinggal yang berdampingan; tidak ada alasan berpura-pura bahwa salah satunya tak berarti. Nomor tiga belas dibangun Althea dengan penghasilannya, sedangkan nomor dua belas adalah tempat anak-anak mengenal keseharian mereka.
Evander bertanya bagaimana Althea ingin mengatur biaya hidup bila mereka tinggal bersama. Althea mengatakan ia tetap ingin memegang penghasilan dan rekeningnya sendiri. Mereka dapat membicarakan kebutuhan bersama, tetapi ia tidak ingin angka penghasilan yang lebih besar membuat salah satu orang berhak menentukan semua keputusan.
“Aku tidak meminta kamu membayar harga sebuah tempat dalam keluarga,” kata Evander.
“Dan aku tidak ingin rumahku dianggap hadiah karena aku menerimamu.”
Evander mengangguk. Mereka menyepakati bahwa anggaran perlu diperiksa bersama sebelum ada keputusan besar. Althea menaruh catatan itu di samping jadwal kerjanya. Ia tidak sedang meminta janji bahwa uang tidak akan pernah menjadi masalah; ia ingin dapat mengatakan apa yang menjadi miliknya dan apa yang siap dibagikannya tanpa merasa bersalah.
“Aku belum ingin mengemas semua barang,” kata Althea.
“Kita tidak harus melakukan itu.”
Mereka membicarakan kemungkinan tinggal bertahap, tanpa menjual atau mengalihkan rumah Althea. Ia tetap ingin mempunyai ruang kerja dan waktu istirahat. Evander ingin memastikan kamar anak-anak tidak berubah mendadak. Mereka belum memilih hari pindah, tetapi keduanya memahami bahwa keputusan itu tidak boleh diserahkan kepada kebiasaan bahwa istri selalu harus mengalah.
Di akhir percakapan, Evander bertanya apakah mereka dapat berbicara tentang keluarga Renata pada akhir pekan. Althea mengangguk. Ia belum memberikan jawaban tentang pernikahan, tetapi ia tidak lagi merasa harus lari dari kata tersebut. Ada hal yang dapat dibicarakan dengan tenang sebelum ia menentukan pilihannya.