Pada pekan kelima belas, Althea menerima pesan ibunya tentang tanah kosong di samping rumah. Setelah sengketa mengenai rumah mulai mendapat batas yang jelas, ibunya ingin membicarakan kembali rencana toko kue kecil yang dulu mereka impikan. Althea membaca pesan itu setelah selesai praktik, lalu mengecek jadwalnya sebelum menjawab.
Mereka bertemu di rumah ibunya pada pagi yang telah disepakati. Ibunya mengeluarkan buku resep lama dan selembar sketsa etalase yang pernah mereka buat bertahun-tahun lalu. Althea tersenyum melihat gambar jendela yang tidak simetris.
“Ini dulu kita pikirkan waktu kamu masih sibuk membangun rumah,” kata ibunya.
“Aku ingat. Tapi kita belum pernah menghitung apa yang benar-benar diperlukan.”
Ibunya mengangguk. Mereka tidak langsung membicarakan pembangunan atau membeli peralatan. Althea berkata tanah itu tetap harus mereka periksa berdasarkan dokumen dan batas yang jelas. Ia tidak ingin rencana toko kue dimulai dengan asumsi tentang kepemilikan atau membuat mereka mengeluarkan biaya sebelum siap.
Ibunya setuju. Ia menjelaskan bahwa yang ia rindukan bukan gedung besar, melainkan tempat kecil untuk menjual kue buatannya. Althea bertanya apakah ibunya ingin mengelola toko setiap hari atau hanya membuat resep dan menerima pesanan. Ibunya tertawa, menyadari mereka belum pernah membicarakan pembagian kerja sedetail itu.
“Kita bisa mulai dari daftar, bukan langsung dari bangunan,” kata Althea.
Mereka menulis hal-hal yang perlu dipikirkan: jenis kue yang ingin dijual, waktu yang sanggup diberikan, kebutuhan ruang, dan biaya yang perlu dihitung. Tidak ada angka modal yang dipastikan. Althea tidak ingin menggunakan tabungan untuk keputusan yang belum mereka pahami.
Pada Sabtu pagi, Althea tiba di rumah ibunya setelah menyelesaikan satu urusan rumah. Ia membawa celemek lama yang pernah dipakainya saat masih tinggal bersama ibunya. Di meja dapur, buku resep terbuka pada halaman kue cokelat yang sudah beberapa kali diberi catatan.
Ibunya menjelaskan bahwa resep itu pernah ia buat untuk keluarga, tetapi takaran gula dan waktu panggang masih mengandalkan kebiasaan. Althea menawarkan diri membantu mencatat langkah-langkahnya. Mereka menyiapkan bahan yang tersedia dan membuat satu adonan kecil, cukup untuk dicicipi bersama.
Saat kue berada di oven, mereka duduk di meja. Althea membuka daftar yang mereka tulis beberapa hari lalu. Ia bertanya apakah ibunya ingin membuat kue berdasarkan pesanan atau menjualnya setiap hari. Ibunya mengaku belum tahu. Ia senang membuat kue, tetapi tidak ingin mengubah kegemaran menjadi kewajiban penuh waktu.
“Kalau begitu kita tidak perlu menjawab sekarang,” kata Althea. “Kita bisa coba beberapa resep dan lihat apakah Ibu masih menikmati prosesnya.”
Ibunya tersenyum. “Kamu selalu ingat soal jadwal. Bahkan waktu membuat kue pun kamu pikirkan jamnya.”
“Aku cuma tidak mau Ibu kelelahan lalu merasa harus terus melanjutkan.”
Mereka berdiskusi tentang apa yang bisa dicoba tanpa mengeluarkan biaya besar. Mereka memakai loyang yang sudah ada dan tidak membeli bahan khusus. Althea mencatat hasil adonan, tetapi tidak mengubah resep secara berlebihan. Ketika kue matang, ibunya membaginya menjadi beberapa potong untuk dicicipi.
Rasanya sedikit terlalu manis. Mereka tertawa dan menulis catatan untuk percobaan berikutnya. Tidak ada pembicaraan tentang harga jual atau hari pembukaan. Mereka belum sampai ke tahap itu.
Malamnya Althea menceritakan percobaan tersebut kepada Evander. Ia hanya ingin bercerita, bukan meminta modal atau rancangan bangunan. Evander mendengarkan dan tertawa ketika Althea mengakui mereka lebih banyak mengingat dapur lama daripada menghitung sebuah usaha.
Pada pekan keenam belas, Mama mengusulkan makan siang untuk mengenal si kembar. Althea membicarakannya dengan Evander, lalu mereka memilih waktu yang sesuai bagi semua. Evander tetap menemani Lia dan Lio, tanpa menganggap rumah Mama sebagai tempat menitipkan anak ketika ia bekerja.
Evander mengantar si kembar dan tetap tinggal. Ibu Althea menyambut mereka di teras, lalu memperkenalkan diri sebagai ibunya Althea. Ia tidak meminta anak-anak langsung memanggilnya Nenek. Lia menyapa pelan, sedangkan Lio melihat ke arah ruang tamu.
“Terima kasih sudah datang,” kata ibu Althea. “Kalian boleh duduk atau melihat buku di meja. Papa kalian tetap menemani.”
Althea merasa lega mendengar ibunya tidak memaksakan pelukan. Ia mengenalkan beberapa benda di ruang keluarga dan menunjukkan album foto keluarga yang terbuka pada halaman umum. Ia tidak mengeluarkan foto Opa atau Papa tanpa menjelaskan siapa mereka. Anak-anak bisa bertanya jika ingin.
Lio menemukan kotak kayu berisi beberapa mainan lama Althea. Ia meminta izin untuk membukanya. Ibu Althea mengangguk dan duduk di lantai bersama mereka. Evander tetap dekat, membiarkan anak-anak bermain tetapi ikut mengawasi.
Lia bertanya siapa perempuan dalam foto keluarga di rak. Althea menjelaskan bahwa itu ibunya ketika masih muda. Ia tidak membandingkan perempuan dalam foto dengan Renata atau menyebut ibunya sebagai pengganti siapa pun. Lia mengangguk lalu kembali melihat mainan.
Mereka makan siang sederhana. Evander membantu menyiapkan piring untuk si kembar, sementara ibu Althea bercerita tentang kue yang baru dicoba. Ia tidak meminta mereka mencicipi jika tidak mau. Lia mengambil sepotong kecil setelah melihat Althea makan, sedangkan Lio memilih buah.
Saat waktu pulang tiba, Evander mengingatkan anak-anak bahwa mereka sudah sepakat berkunjung sebentar. Mereka berpamitan. Ibu Althea tidak menahan atau meminta kunjungan berikutnya dijanjikan. Ia hanya berkata senang bertemu dan mereka boleh datang lagi jika semua merasa nyaman.
Di mobil, Evander bertanya apakah anak-anak ingin bercerita. Lia berkata rumah itu terasa tenang. Lio menyebut mainan kayu. Evander mendengarkan, tidak memberi kesimpulan bahwa mereka sudah menerima keluarga Althea sepenuhnya.
Beberapa hari kemudian mereka datang lagi. Kali ini kue dari percobaan berikutnya tersedia dalam potongan kecil. Lia memilih mencicipi, sementara Lio lebih tertarik pada mainan kayu. Mama tidak bertanya mengapa salah satu lebih banyak bicara daripada yang lain. Evander membantu membereskan barang ketika kunjungan selesai, lalu membawa anak-anak pulang.
Althea dan Mama kembali ke dapur. Mereka menyimpan sisa kue untuk keluarga, bukan membagikannya sebagai pengumuman sebuah toko yang belum dibuka. Mama mengatakan ia masih ingin mencoba beberapa resep sebelum memikirkan usaha. Althea mengangguk. Ia dapat menikmati sore itu tanpa memaksanya menjadi awal pekerjaan baru.