Pada pekan kesebelas, Evander mengirim pesan kepada Althea untuk menanyakan apakah ia bersedia mampir ke kantor pada waktu makan siang. Ia menjelaskan Bobby akan membantunya melihat kalender kerja dan ia ingin Althea bertemu tanpa harus mengorbankan waktu kliniknya. Althea bertanya apakah kedatangannya akan dianggap sebagai bagian dari pekerjaan.
“Tidak. Kamu tamuku. Kalau kamu lebih nyaman bertemu di luar, kita pindah tempat.”
Althea memeriksa jadwal dan menyetujui makan siang singkat di kantin gedung. Ia tidak sedang bertugas, dan masih memiliki waktu untuk kembali ke klinik. Ia tiba sesuai waktu yang disepakati. Evander menunggunya di lobi, bukan di ruang kerja tertutup. Ia memperkenalkan Althea kepada Bobby sebagai teman yang sedang ia kenal lebih dekat, lalu menanyakan apakah ia nyaman dengan sebutan itu.
Althea mengangguk. Bobby menyapanya ramah dan menunjukkan meja kecil yang telah dipesan. Ia tidak meminta Althea menandatangani daftar tamu lain atau membahas pekerjaan. Setelah mereka duduk, Evander meminta Bobby membawa kalender kerja yang sudah disiapkan.
Bobby meletakkan dua lembar jadwal di meja. “Ini agenda Bapak minggu ini dan daftar kegiatan anak-anak yang sudah dikonfirmasi Marni. Saya tandai rapat yang bisa dipindah dan rapat yang harus Bapak hadiri.”
Evander menatap jadwal itu. Beberapa hari terlihat penuh sampai malam. Ia melihat satu rapat yang selalu ditempatkan pada waktu makan malam anak-anak.
“Kenapa rapat ini selalu masuk jam segini?”
“Biasanya Bapak meminta waktu itu karena setelahnya lebih mudah bertemu pemasok,” jawab Bobby. “Tapi minggu ini pemasoknya bisa ditemui lebih pagi.”
Evander memeriksa catatan di samping jadwal. Ia bertanya apakah ada risiko memindahkan rapat. Bobby menjelaskan bahwa jadwal dapat disesuaikan selama pihak lain mendapat pemberitahuan. Evander meminta rapat dipindahkan dan membuat dua blok waktu pulang yang jelas. Ia juga meminta Bobby menandai satu sore tanpa janji kerja agar ia dapat mengantar anak-anak ke kegiatan mereka.
Althea tidak memberi usul. Ia hanya menyimak, melihat Evander bertanya tentang dampak perubahan kepada Bobby sebelum memutuskan. Ketika Evander menoleh kepadanya dan bertanya pendapatnya, Althea berkata, “Ini jadwalmu dan tanggung jawabmu. Aku bisa bilang aku menghargai kamu memeriksanya, tapi keputusan akhirnya harus kamu buat.”
Evander menerima jawaban itu. Ia memilih satu waktu untuk makan malam bersama anak-anak dan satu waktu untuk menjemput mereka. Bobby mencatat perubahan sementara, lalu berkata ia akan memastikan agenda kerja tidak kembali mengisi blok tersebut tanpa persetujuan Evander.
Dua hari setelah makan siang di kantor, mereka bertemu di taman seusai bekerja. Ketika baru berjalan beberapa langkah, telepon Evander berdering. Ia melihat nama Bobby, meminta izin kepada Althea, lalu menjawab. Sebuah rapat yang dipindah ternyata molor dan salah satu peserta meminta Evander kembali ke kantor. Evander mendengar penjelasan itu tanpa langsung meninggikan suara.
“Kalau rapat bisa dilanjutkan besok, pindahkan. Aku sudah selesai bekerja hari ini,” katanya. Ia menunggu jawaban, lalu menambahkan, “Kalau ada dokumen yang benar-benar harus disetujui malam ini, kirim ringkasannya dan jelaskan kenapa tidak bisa menunggu. Jangan sekadar bilang mendesak.”
Setelah panggilan selesai, Evander meminta maaf karena mereka terganggu. Althea berkata ia tidak keberatan menunggu sebentar, tetapi ia ingin tahu apakah Evander benar-benar bisa meninggalkan pekerjaan.
“Aku harus belajar membedakan yang penting dan yang hanya terbiasa dikerjakan malam-malam,” jawabnya.
Pesan Bobby datang sebelum mereka berpisah: rapat dapat dilanjutkan esok, tidak ada dokumen yang memerlukan keputusan malam itu. Evander menjawab bahwa ia akan membacanya pada jam kerja berikutnya. Ia menyimpan ponsel dan pulang untuk makan bersama si kembar.
Pada pekan kedua belas, ia mengajak Althea makan siang. Kali ini Evander mengatakan ada satu keputusan lama yang terus diingatnya sejak percakapan tentang nada bicara di restoran. Ia bertanya apakah Althea bersedia mendengar, tanpa diminta menentukan urusan perusahaan. Althea mengiyakan.
Saat makan, Evander bercerita tentang satu pegawai yang dulu diberhentikannya setelah memasukkan angka penjualan yang salah. Ia mengingat kembali bagaimana ia langsung menyuruh pegawai itu pergi tanpa mendengar penjelasan. Kejadian itu berlangsung sebelum ia mulai meninjau sikapnya. Ia mengaku waktu itu malu di depan tamu dan marah karena merasa dipermalukan.
“Apakah kamu tahu kenapa angkanya salah?” tanya Althea.
“Belum. Aku tidak bertanya saat itu.”
“Kalau begitu kamu belum tahu apakah itu kelalaian orang itu, kesalahan alur kerja, atau informasi yang tidak lengkap.”
Evander mengangguk. Ia berkata tidak akan meminta Althea menentukan apakah pegawai tersebut harus kembali bekerja. Ia hanya ingin meninjau catatan kejadian dan memastikan keputusan itu sesuai prosedur perusahaan.
“Kalau kamu mau memperbaiki kebiasaanmu, mulai dari bersedia mendengar penjelasan sebelum memutuskan,” kata Althea. “Tapi aku tidak tahu detailnya dan tidak akan menilai keputusan hukumnya.”
Evander setuju. Ia menghubungi Bobby setelah makan siang, meminta catatan yang relevan dan menanyakan prosedur internal yang berlaku pada waktu itu. Althea tidak ikut mendengar rincian yang bersifat pribadi. Ia memperhatikan bahwa Evander tidak menyebut pegawai itu dengan hinaan atau menyalahkannya lagi.
Bobby membalas bahwa ia akan mencari dokumen yang tersimpan dan memeriksa prosedur bersama bagian yang menangani administrasi pegawai. Evander berkata ia tidak ingin Bobby mengubah atau menghapus catatan. Ia hanya ingin melihat fakta yang ada dan mengetahui apakah penjelasan pegawai itu pernah dicatat.
Dua hari kemudian, Evander mengirim pesan kepada Althea. Ia berkata ia sudah membaca catatan kejadian bersama Bobby dan ingin berbagi hasil refleksinya saat mereka bertemu, bukan meminta pendapat hukum. Althea menyetujui percakapan singkat setelah jadwal klinik, dengan syarat mereka tidak membuka dokumen pribadi pegawai di tempat umum.
Mereka bertemu di teras Althea. Evander datang setelah memastikan si kembar sudah bersama Marni dan rutinitas malam mereka berjalan. Ia membawa catatan pribadi tentang proses yang ingin ia ubah, bukan berkas pegawai. Ia berkata data yang salah memang menyebabkan masalah, tetapi ia tidak pernah menanyakan bagaimana kesalahan itu terjadi sebelum menyuruh pegawai tersebut pergi.
Bobby membantunya membandingkan catatan yang tersedia. Dari pemeriksaan awal, mereka mengetahui angka itu salah di berkas yang masuk ke rapat. Namun catatan yang ada tidak cukup untuk memastikan sumber kesalahannya. Evander tidak bisa menyimpulkan apakah pegawai itu sengaja lalai atau ada bagian alur kerja yang gagal.
“Jadi kamu belum tahu seluruhnya,” kata Althea.
“Benar. Aku dulu menganggap hasil salah berarti orang itu tidak becus. Aku tidak memeriksa prosesnya.”
Evander berkata ia tidak dapat menghapus akibat keputusan yang telah terjadi begitu saja. Ia akan meminta bagian terkait memeriksa apa yang dapat dilakukan sesuai aturan, tetapi ia tidak akan menjanjikan hasil tertentu. Althea menghargai bahwa ia tidak mengubah penyesalan menjadi klaim bahwa ia pasti bisa memperbaiki semuanya.
“Kamu boleh bercerita setelah prosesnya berjalan,” kata Althea. “Aku tidak perlu menerima salinan berkasnya.”
Evander mengangguk. Ia tidak menjadikan keinginan Althea mengenalnya sebagai alasan untuk menjanjikan hasil bagi pegawai itu. Bobby akan bekerja dengan bagian yang memang berwenang, dan orang yang pernah diberhentikan tetap berhak menentukan apakah mau berbicara dengannya.
Sebelum pulang, ponselnya berbunyi. Lio ingin menunjukkan jalan mobil yang dibuat bersama Lia. Evander menjawab bahwa ia akan segera kembali, lalu menutup pembicaraan dengan Althea sesuai waktu yang telah disepakati.
Althea melihatnya berjalan ke rumah nomor dua belas. Ia tidak menganggap pengakuan itu sebagai bukti bahwa semua kekerasan sikap Evander di kantor selesai. Tetapi ia juga tidak perlu menutup mata ketika pria itu mulai memeriksa keputusan yang dulu dianggapnya pasti benar. Ia masuk dari teras dan menyiapkan catatan pasien untuk esok, membiarkan tanggung jawab kantor tetap di tangan orang yang mengambil keputusan tersebut.