Pekan kesembilan dimulai dengan jadwal klinik yang padat, tetapi Althea berhasil pulang sesuai perkiraan. Ponselnya bergetar ketika ia baru melepas jas dokter. Pesan dari Evander menanyakan apakah makan siang singkat esok hari masih cocok. Ia menyebut tempat yang mudah dijangkau dari klinik dan berkata Althea bebas mengusulkan waktu lain.
Althea memeriksa kalender. Ia punya jeda satu jam sebelum kembali ke klinik. Ia menjawab bahwa ia bisa bertemu, asalkan mereka tidak menjadikan waktu itu sebagai janji tetap setiap minggu. Evander membalas bahwa ia setuju. Tidak ada pertanyaan tentang si kembar atau rencana kunjungan.
Keesokan harinya, Althea datang lebih dulu ke kafe kecil dekat klinik. Ia memilih meja di dekat jendela dan menaruh ponselnya dalam mode senyap. Ia tidak sedang menunggu panggilan pasien, tetapi ingin memberi dirinya ruang dari pekerjaan. Evander tiba beberapa menit kemudian, mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung.
“Terima kasih sudah mau meluangkan waktu,” katanya.
“Aku punya jeda, jadi tidak apa-apa. Tapi setelah ini aku harus kembali.”
“Aku tahu. Kita tidak perlu membuat siangmu berantakan.”
Kalimat itu membuat Althea merasa tidak harus membela jadwalnya. Mereka memesan makan siang dan memulai dengan cerita ringan tentang cuaca dan pekerjaan. Evander bertanya bagaimana jadwal baru di klinik. Althea menjelaskan dokter baru sudah mulai mengambil beberapa sesi setelah orientasi, namun jadwal tetap dapat berubah. Ia tidak berjanji akan selalu punya akhir pekan kosong.
Evander menceritakan bahwa ia mulai menutup beberapa pekerjaan sebelum pulang, tetapi belum selalu berhasil. Ia tidak menyampaikan itu sebagai sesuatu yang sudah selesai. Ada hari ketika urusan kantor mendadak memanjang dan ia harus menata ulang kegiatan di rumah. Althea mendengarkan, lalu bertanya siapa yang memastikan anak-anak tetap didampingi saat itu.
“Aku dan Marni. Aku tidak akan menghubungimu untuk mengambil alih kalau jadwalku gagal,” jawabnya.
Althea mengangguk. Ia menghargai jawaban yang spesifik, bukan janji bahwa semua akan baik-baik saja. Mereka membahas hal lain: film yang pernah mereka tonton, makanan yang mereka hindari, dan kebiasaan Althea membawa buku saat punya waktu senggang. Evander tampak berusaha mengenalnya sebagai orang yang memiliki kesukaan sendiri, bukan hanya sebagai dokter yang dipuji anak-anak.
Saat pelayan mengantar minuman, Evander bertanya apakah Althea merasa canggung bertemu seperti ini. Ia menjawab sedikit, sebab selama ini kebanyakan percakapan mereka terjadi di dekat pagar atau berkaitan dengan si kembar.
“Aku juga merasa aneh,” kata Evander. “Tapi aku ingin belajar ngobrol denganmu tanpa menjadikan anak-anak alasan.”
“Bagus. Aku tidak mau mereka merasa harus membuat kita dekat.”
Mereka tertawa kecil. Althea menatap jam dan mengingatkan bahwa ia harus kembali dalam dua puluh menit. Evander segera meminta tagihan. Ia tidak memesan makanan tambahan atau menahan Althea untuk menyelesaikan percakapan.
Di luar kafe, mereka berdiri sebentar di trotoar. Evander bertanya apakah ia boleh mengajak Althea bertemu lagi setelah jadwal mereka cocok. Althea berkata ia bisa mempertimbangkannya, tetapi tidak ingin membuat jadwal wajib yang berubah menjadi tanggung jawab.
“Aku akan bertanya dulu setiap kali,” katanya.
“Dan aku akan menjawab jujur setiap kali.”
Evander mengantar Althea sampai persimpangan menuju klinik, lalu berbalik ke arah mobilnya. Tidak ada foto untuk dikirim kepada anak-anak atau pesan yang menyebut mereka menunggu. Althea kembali bekerja dengan perasaan hangat yang tenang. Pertemuan itu bukan janji besar, hanya satu jam yang mereka pilih untuk saling mengenal.
Beberapa hari setelah makan siang itu, Althea dan Evander merencanakan pertemuan kedua. Kali ini mereka memilih berjalan di taman kota menjelang sore. Evander mengirim pesan sehari sebelumnya untuk memastikan jadwal klinik Althea tidak berubah. Ia tidak meminta Althea menjanjikan waktu sebelum ia memeriksa kalender.
Pagi itu, Althea mendapat kabar bahwa sesi rumah sakitnya selesai sedikit lebih lambat. Ia menghubungi Evander dan menawarkan dua pilihan: mereka dapat menunda atau bertemu lebih singkat. Ia tidak ingin terburu-buru dari satu pekerjaan ke rencana pribadi.
Evander membalas bahwa mereka bisa menunda tanpa masalah. Namun kemudian ia mengabari bahwa urusan kantornya juga bertambah dan ia perlu memastikan anak-anak dijemput sesuai jadwal. Ia tidak meminta Althea datang ke rumah atau membantu. Ia hanya bertanya apakah ia ingin menjadwalkan ulang pada hari lain.
Althea merasa lega. “Kita atur ulang saja. Kamu urus anak-anak dan pekerjaannya.”
“Terima kasih sudah mengerti. Aku akan pastikan mereka tetap dijemput orang yang memang bertugas.”
Pesan itu berhenti di sana. Althea menutup telepon dan menyelesaikan catatan pasien. Ia tidak merasa ditolak. Pertemuan mereka belum memiliki jadwal tetap, dan pembatalan bukan tanda bahwa Evander tidak serius. Ia justru ingin melihat apakah pria itu akan memegang tanggung jawab yang sudah menjadi bagiannya.
Dua hari kemudian mereka jadi bertemu di toko buku. Althea memilih sebuah novel tipis, sementara Evander berhenti di depan rak musik. Ia bercerita bahwa dulu suka memperbaiki radio lama. Althea tertawa ketika pria itu mengaku lebih sering membaca ringkasan laporan daripada sebuah buku untuk dirinya sendiri.
Mereka duduk sebentar di kafe toko tersebut, membicarakan kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak muncul ketika percakapan selalu berputar pada anak-anak. Althea senang mendengarnya berbicara tentang sesuatu yang tidak harus diselesaikan.
Pada pekan kesepuluh, mereka makan malam bersama. Di tengah menunggu hidangan, panggilan kerja masuk ke ponsel Evander. Ia meminta waktu menjawab, lalu suaranya berubah dingin ketika membahas angka laporan yang salah.
Althea tidak mendengar semua percakapan. Ia hanya menangkap nada Evander yang memerintah, datar, dan tidak memberi banyak ruang. Setelah panggilan selesai, pria itu menaruh ponsel dengan wajah masih kaku.
“Kamu terdengar berbeda saat bicara dengan orang kantor,” kata Althea.
Evander menatapnya. “Berbeda bagaimana?”
“Lebih tajam. Seperti kamu mengharapkan semua orang langsung tahu apa yang harus dilakukan.”
Ia tidak berkata itu dengan nada menghakimi. Namun Evander mengerutkan kening, seperti tidak menyangka Althea akan mengatakannya langsung.
“Aku harus memastikan pekerjaan selesai.”
“Memastikan pekerjaan selesai tidak selalu sama dengan membuat orang takut melakukan kesalahan.”
Evander diam beberapa detik. Pelayan datang membawa minuman dan mereka menunggu sampai ia pergi. Althea tidak ingin pembicaraan berubah menjadi pertengkaran, tetapi ia juga tidak mau berpura-pura tidak melihat perbedaan itu.
“Di rumah kamu lebih sabar,” lanjutnya. “Kamu bertanya kepada si kembar apa yang mereka rasakan. Kamu memberi mereka waktu. Di kantor, barusan kamu hampir tidak bertanya apa yang terjadi.”
“Aku tahu aku bisa keras,” kata Evander. “Aku tidak suka kesalahan yang membuat pekerjaan berantakan.”
“Anak-anak juga bisa membuat kekacauan. Tapi kamu belajar mendengar mereka.”
“Di kantor tanggung jawabnya berbeda.”
“Memang. Tapi orang yang bekerja denganmu tetap manusia, bukan angka di laporan.”
Evander menarik napas panjang. Ia tidak segera membantah. Althea memperhatikan ia menggulung lengan kemejanya dan mengusap pergelangan tangan. Ia tampak memikirkan kalimat-kalimat yang baru saja didengarnya.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa mengubah semuanya sekaligus,” ujarnya.
“Aku juga tidak meminta kamu berubah malam ini. Aku hanya ingin kamu menyadari bahwa sikapmu tidak sama di rumah dan di kantor.”
“Aku tidak bisa mengatur caramu memimpin perusahaan,” kata Althea. “Itu bukan tugasku. Tapi kalau kita saling mengenal, aku perlu tahu apakah kamu bersedia melihat dampak sikapmu.”
“Aku bersedia memikirkannya.”
Althea menegaskan ia tidak ingin menjadi konsultan gratis atau orang yang harus mengawasi seluruh pegawai Evander. Pria itu tertawa pendek dan mengatakan ia tidak meminta hal tersebut. Ia hanya ingin memahami mengapa Althea melihat sisi dirinya yang berbeda.
“Karena aku sedang mencoba mengenalmu, bukan hanya melihat bagian yang kamu tunjukkan saat bersama anak-anak.”
Pernyataan itu membuat Evander kembali diam. Ia kemudian bertanya apakah sikapnya tadi membuat Althea tidak nyaman. Althea menjawab iya, sedikit, terutama karena nada bicaranya terdengar merendahkan orang di ujung telepon. Ia tidak tahu apa kesalahan pegawai itu, sehingga ia tidak mau menyimpulkan situasinya.
“Aku akan bertanya dulu sebelum menilai,” kata Evander. “Tapi aku juga perlu menjaga standar kerja.”
“Tentu. Tegas tidak harus berarti menghina.”
Evander mengangguk pelan. Mereka tidak menyelesaikan persoalan itu di meja makan. Ketika Althea melihat jam, ia mengingatkan bahwa ia harus pulang. Evander membayar bagiannya dan tidak menahan percakapan.
Sesudah berpisah, Althea tidak langsung menganggap satu jawaban Evander sebagai akhir persoalan. Ia juga tidak mencari nama pegawai yang berada di ujung telepon. Yang ia dengar malam itu cukup untuk menyampaikan keberatan, tetapi tidak cukup untuk memutuskan nasib seseorang.
Di rumah ia meletakkan novel yang dibelinya di meja. Ada bagian dari Evander yang membuatnya nyaman, dan ada bagian yang baru dikenalnya. Ia ingin memberi tempat bagi kedua hal itu dalam keputusannya, bukan hanya mengingat senyum seorang papa ketika bermain bersama anak-anak.