Pekan ketujuh dimulai dengan jadwal klinik yang lebih tertata. Althea tiba sebelum sesi pagi, mengecek daftar pasien, lalu menyimpan map sengketa warisan di laci terkunci. Pendampingnya belum memberi kesimpulan; ia hanya mengonfirmasi bahwa beberapa halaman tambahan sudah diterima dan masih perlu dibandingkan. Althea tidak ingin membawa kegelisahan itu ke ruang periksa.
Saat jeda, Gania datang membawa dua gelas teh. Ia duduk di kursi sebelah dan bertanya apakah pertemuan keluarga kemarin membuat Althea lebih tenang.
“Sedikit. Setidaknya sekarang semua orang tahu dokumen mana yang masih dicari.”
“Bagus. Jangan sampai kamu memikirkan semuanya sendirian.”
Althea mengangguk. Gania lalu menyenggolnya pelan dengan bahu. “Ngomong-ngomong, Dokter Marvel tadi menanyakan jadwal konsultasi yang kamu ubah. Kamu kelihatan langsung segar begitu dengar namanya.”
Althea hampir tersedak teh. “Aku cuma sedang membaca pesan.”
“Ya, membaca pesan sambil tersenyum. Aku lihat.”
Althea tertawa kecil, lalu mengakui bahwa ia memang pernah tertarik kepada Dokter Marvel. Ia mengagumi caranya bekerja dan berbicara kepada pasien, tetapi perasaan itu tidak pernah berkembang menjadi hubungan. Mereka jarang berbicara di luar urusan klinik. Ia pun tidak tahu apakah Marvel melihatnya lebih dari rekan kerja.
“Jadi masih naksir?” tanya Gania.
“Kalau dibilang naksir, mungkin dulu. Sekarang aku lebih tahu bahwa kagum kepada seseorang tidak otomatis berarti ingin menjalani hubungan dengannya.”
Gania mengangkat alis. “Jawabanmu terdengar seperti orang yang sedang menguji perasaannya sendiri.”
Sebelum Althea menjawab, Dokter Marvel muncul di ambang ruang istirahat dengan berkas pasien di tangan. Ia menanyakan apakah Althea bisa melihat catatan konsultasi yang perlu diselaraskan. Nada bicaranya profesional dan santai. Althea membantunya meninjau bagian yang relevan. Mereka berdiskusi beberapa menit, lalu Marvel berterima kasih dan kembali ke ruangannya.
Tidak ada tatapan panjang atau percakapan rahasia. Althea merasa nyaman bekerja dengannya, tetapi kenyamanan itu berbeda dari keinginan membangun hidup bersama. Ia menyadari Gania masih memperhatikannya.
“Jangan mulai,” kata Althea.
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Ekspresimu sudah cukup.”
Mereka tertawa dan kembali bekerja. Siang itu, Althea menyelesaikan sesi kliniknya tanpa harus mengganti jadwal pribadi. Ia sempat memikirkan ucapan Gania, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak perlu memilih seseorang hanya karena pernah menyukainya.
Menjelang sore, pesan Evander masuk. Ia bertanya apakah Althea bersedia berbicara dengannya setelah jam kerja, hanya berdua, tanpa membahas jadwal kunjungan anak-anak. Ia menambahkan bahwa jika waktunya tidak cocok, mereka dapat mencari hari lain. Althea membaca pesan itu sambil berdiri di koridor klinik.
Ia tidak langsung menjawab. Selama ini percakapan mereka selalu berkaitan dengan si kembar, aturan kunjungan, atau kabar keluarga. Kini Evander meminta ruang untuk membicarakan hal yang berbeda. Althea tidak tahu apakah ia siap mendengarnya.
Ia memberi tahu Gania bahwa ia akan pulang setelah menutup catatan. Gania tidak bertanya siapa yang mengirim pesan, tetapi senyumnya membuat Althea ingin menggeleng.
Di rumah, Althea mengganti pakaian kerja dan duduk sebentar di meja makan. Ia memeriksa jadwal esok hari sebelum membalas. Ia bisa bertemu singkat di teras rumahnya, selama pembicaraan tidak membuatnya terlambat beristirahat. Ia menulis bahwa ia bersedia mendengar, tetapi tidak menjanjikan jawaban apa pun.
Balasan Evander datang cepat: ia mengerti dan akan menunggu di luar pagar pada waktu yang disepakati. Ia tidak masuk tanpa izin. Althea meletakkan ponsel, lalu menarik napas panjang. Ada rasa gugup yang tidak ia rasakan saat membahas dokumen. Justru karena pembicaraan ini menyangkut dirinya sendiri, ia ingin mendengarkan dengan hati-hati.
Ketika Evander tiba, ia berdiri di teras dengan jarak yang sopan. Althea mempersilakannya duduk. Mereka tidak memanggil si kembar dan tidak menjadikan anak-anak sebagai alasan untuk memulai percakapan.
“Aku ingin bicara sebagai Evander dan Althea,” kata pria itu. “Bukan sebagai Papa mereka yang meminta bantuanmu.”
Althea menatapnya. Ia belum tahu apa yang akan dijawab, tetapi ia tahu batas itu penting. “Kalau begitu, katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan.”
Evander tidak langsung melanjutkan. Ia melihat gelas air di meja, lalu kembali menatap Althea. “Aku ingin mengenalmu sebagai pasangan, kalau kamu juga mau mempertimbangkannya. Bukan karena anak-anak memanggilmu Mama, dan bukan karena aku butuh seseorang menggantikan Renata.”
Althea merasakan bahunya menegang. Ucapan itu terdengar lebih jelas daripada gurauan Evander sebelumnya, sehingga ia tak bisa menganggapnya ringan. Ia menaruh gelasnya dan bertanya sejak kapan Evander memikirkan hal tersebut.
“Aku belum punya tanggal pasti,” jawabnya. “Aku mulai menyadari kedekatan kita setelah beberapa waktu. Tapi aku tidak mau mengubahnya menjadi tuntutan.”
“Kenapa sekarang?” tanya Althea.
“Karena aku tidak ingin kamu mengira perhatianku hanya muncul saat anak-anak membutuhkanmu. Aku tetap ayah mereka dan aku akan mengurus mereka. Perasaanku kepadamu adalah urusanku sendiri.”
Althea memperhatikan cara Evander duduk. Ia tidak mendekat atau menyentuh tangannya. Ia memberi ruang bagi Althea untuk menimbang. Sikap itu tidak menghapus keraguannya, tetapi membantunya mendengarkan tanpa merasa didesak.
“Aku tidak bisa menjawab sekarang,” katanya. “Aku punya banyak hal yang harus dipikirkan. Pernikahan bukan sekadar dua orang saling suka.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu aku dokter. Jadwalku tidak selalu bisa diprediksi. Ada klinik, rumah sakit, dan panggilan IGD. Aku tidak akan berhenti bekerja hanya karena menikah.”
“Aku tidak memintamu berhenti.”
“Kamu juga punya anak. Aku tidak ingin mereka menjadi alasan kita buru-buru mengikat hubungan. Mereka masih kecil dan sudah kehilangan ibu mereka. Aku tidak mau mereka diberi harapan yang belum tentu bisa kita tepati.”
Evander mendengarkan sampai Althea selesai. “Aku setuju anak-anak tidak boleh dijadikan alasan. Kalau suatu hari kita membicarakan hubungan ini, itu harus karena kamu dan aku menginginkannya.”
Althea menyandarkan punggung. “Aku juga ingin tahu apakah kamu sungguh siap menjadi pasangan, bukan hanya sedang kesepian atau ingin anak-anak punya sosok ibu.”
Evander menunduk sebentar. “Pertanyaan itu adil. Aku masih merindukan Renata. Itu tidak akan hilang. Tapi aku tidak mencari pengganti. Aku ingin tahu apakah aku bisa membangun hubungan baru dengan seseorang yang tetap menjadi dirinya sendiri.”
Althea merasakan ketegangan di dadanya berubah, bukan menghilang. Ia memahami bahwa cinta dan kehilangan bisa hadir bersamaan, tetapi ia tidak ingin dipaksa menjadi jawaban atas duka seseorang.
“Kalau aku bilang belum siap, apa yang akan berubah?” tanyanya.
“Tidak ada. Aku tetap akan bertanggung jawab kepada anak-anak. Jadwal kunjungan tetap harus kamu setujui. Kamu tidak kehilangan hubungan baik dengan mereka hanya karena tidak menerima perasaanku.”
Althea menatap wajah Evander, mencari tanda bahwa kalimat itu hanya cara halus untuk membujuk. Ia tidak menemukannya, tetapi ia juga tahu satu percakapan belum cukup untuk membuktikan apa pun.
“Aku ingin kamu memahami satu hal,” katanya. “Aku takut kehilangan diriku sendiri kalau menikah. Aku sudah membangun hidup dan pekerjaan dengan susah payah. Aku tidak mau menjadi orang yang hanya dikenal sebagai istri atau mama sambung.”
Evander mengangguk. “Aku tidak ingin kamu kehilangan itu. Tapi aku tidak akan memintamu percaya hanya dari kata-kata. Kamu boleh menilai dari tindakanku.”
Pembicaraan mereka berlangsung hampir satu jam, meski beberapa kali terhenti karena Althea memikirkan pertanyaan lain. Ia bertanya tentang tempat tinggal, pengasuhan, dan bagaimana Evander membayangkan pembagian waktu. Evander menjawab bahwa ia belum punya rancangan yang berhak ia tetapkan sendiri. Jika mereka maju, mereka harus membahas semuanya bersama.
“Belum ada keputusan malam ini,” kata Althea saat mereka berdiri.
“Tidak ada keputusan yang kutunggu malam ini,” jawab Evander.
Ia berpamitan tanpa meminta pelukan atau jawaban. Althea membiarkannya berjalan sampai pagar sebelum menutup pintu. Ketika rumah kembali tenang, ia sadar pembicaraan itu terasa berbeda dari permintaan bantuan. Evander telah menyatakan keinginan pribadinya, tetapi masa depan tetap menjadi pilihan yang belum dibuat.
Esok harinya Althea berbicara kepada Mama. Ia mengakui belum punya jawaban. Mama tidak menyuruhnya memilih antara Evander dan Marvel; ketertarikan lama kepada rekan kerja itu memang tidak pernah menjadi sebuah hubungan.
“Apa yang paling kamu takutkan?” tanya Mama.
Althea menunjuk jadwal klinik. “Semua orang menganggap aku pasti mengalah ketika ada yang kosong.”
Mama mengangguk. “Kalau begitu tanyakan. Jangan hanya menyembunyikannya lalu berharap dia mengerti.”
Althea menyimpan pertanyaan itu sampai akhir pekan kedelapan, ketika ia dan Evander memiliki waktu untuk bertemu lagi. Mereka duduk di teras nomor tiga belas. Kali ini Althea mengatakan bahwa ia ingin mengenalnya lebih dekat, tetapi belum menjanjikan pernikahan.
Evander menerima jawaban itu tanpa meminta si kembar datang membujuk. Mereka sepakat mencari waktu bersama di luar pertemuan anak-anak, ketika keduanya tidak sedang bekerja. Sesudah Evander pulang berjalan ke rumah sebelah, Althea tetap duduk beberapa menit. Ia tidak merasa kehilangan suara karena membiarkan seseorang mendekat. Ia baru saja memakai suaranya untuk menentukan bagaimana kedekatan itu dapat dimulai.