Pada awal pekan kelima, Mama mengabarkan bahwa Rania ingin bertemu. Mereka memilih Sabtu pagi di rumah Mama, agar Althea tidak perlu menjadi tuan rumah di tempat yang sedang dipersoalkan.
Althea lebih dulu membicarakannya dengan pendamping. Ia bersedia mendengar, tetapi tidak ingin sebuah pertemuan keluarga dipakai untuk menekan keputusan yang belum dipahaminya. Ia membawa salinan yang relevan dan beberapa pertanyaan. Dokumen asli tetap di tempat penyimpanannya.
Ia datang sebelum pukul sepuluh. Mama menyodorkan roti karena Althea belum sarapan. Mereka makan beberapa gigitan tanpa membuka map. Ketika bel berbunyi, Mama berdiri di sampingnya dan mempersilakan tamu masuk.
Rania datang lebih dahulu bersama Gunawan. Calista menyusul beberapa menit kemudian. Mereka saling menyapa dengan canggung. Tidak ada pelukan, tetapi tidak pula ada kata-kata kasar. Ibu Althea mempersilakan semua duduk dan menuangkan teh. Althea menunggu sampai mereka menaruh tas sebelum membuka daftar yang ia bawa.
"Aku ingin kita sepakat dulu soal tujuan pertemuan," katanya. "Hari ini kita saling menjelaskan dokumen dan menentukan apa yang perlu diperiksa. Kita tidak menetapkan pembagian akhir dan tidak menandatangani apa pun."
Rania memandangnya cukup lama, lalu mengangguk kecil. "Aku setuju kita bicara. Tapi aku memang ingin tahu apa yang Opa berikan kepada masing-masing orang. Selama ini informasinya tidak jelas."
"Aku juga ingin jelas," jawab Althea. "Karena itu aku minta salinan yang lengkap dan keterangan tentang dokumen yang belum ada."
Calista menyilangkan tangan. "Aku tidak mau pembicaraan ini berputar-putar. Kalau ada yang memang sudah diberikan, seharusnya kita bisa mengakuinya."
Ibu Althea menatap keponakannya dengan tenang. "Mengakui sesuatu harus berdasarkan apa yang diketahui. Kita perlu membedakan yang kita lihat sendiri dari yang kita dengar dari orang lain."
Althea membuka halaman pertama daftar. Ia menerangkan bahwa yang ia ketahui secara langsung adalah Opa pernah menyampaikan pemberian sebidang tanah kepadanya. Ia kemudian membangun rumah di atas tanah tersebut secara bertahap menggunakan penghasilannya sendiri. Ia tidak menyatakan bahwa hal itu menyelesaikan semua pertanyaan mengenai harta Opa.
"Tanah itu yang sedang kamu persoalkan?" tanya Rania.
"Aku ingin memastikan dokumen pemberiannya dibaca lengkap dan ditempatkan pada konteks yang benar. Aku juga ingin aset lain dibahas terpisah. Rumahku dan biaya pembangunannya bukan hal yang sama dengan semua harta peninggalan."
Gunawan menyandarkan punggung. "Setahuku Opa menyerahkan perusahaan distribusi medis untuk aku kelola. Aku perlu memeriksa kembali berkas penyerahannya di kantor sebelum menjelaskan isinya lebih jauh."
Pernyataan itu membuat suasana sedikit melunak. Gunawan tidak mengklaim memiliki jawaban tentang tanah, dan Althea tidak menganggap pengelolaan perusahaan otomatis menjelaskan statusnya. Ia mencatat bahwa dokumen perusahaan perlu diperiksa terpisah.
Rania berkata ia menerima beberapa salinan dari keluarga, tetapi belum yakin semua halaman tersedia. Ia sempat mengira Althea sudah melihat semuanya. Althea menjawab bahwa berkas yang sampai kepadanya tidak lengkap, dan beberapa pertanyaannya belum dijawab.
"Jadi selama ini kamu merasa kami menyembunyikan sesuatu?" tanya Calista tajam.
"Aku tidak mengatakan itu. Aku bilang salinannya belum lengkap. Itu dua hal berbeda."
Ibu Althea mengangkat tangan sedikit, meminta mereka tidak menyimpulkan niat satu sama lain. Calista mengembuskan napas dan memandang cangkirnya. Setelah jeda, ia mengakui pernah berkata bahwa Althea akan kalah di pengadilan.
"Aku mengatakan itu saat marah," kata Calista. "Aku tidak punya dasar untuk memastikan hasil hukum. Aku seharusnya tidak mengatakannya seolah-olah sudah pasti."
Althea menerima pengakuan itu tanpa menyebut masalah selesai. "Terima kasih sudah mengoreksi kata-katamu. Aku tetap ingin pembicaraan kita berpegang pada dokumen."
Mereka membagi pekerjaan sederhana. Rania akan mencari salinan lengkap yang berkaitan dengan tanah dan daftar aset yang ia catat. Gunawan akan menanyakan dokumen perusahaan yang relevan. Althea akan meminta pendampingnya meninjau salinan yang sudah ia terima dan menyusun pertanyaan yang masih terbuka. Ibu Althea akan menyimpan catatan pertemuan dan memastikan setiap orang menerima salinan catatan yang sama.
Tidak ada tenggat hukum yang mereka tetapkan. Mereka hanya sepakat saling memberi kabar setelah masing-masing memeriksa berkas, lalu memilih waktu untuk bertemu lagi. Althea menulis bahwa belum ada kesepakatan tentang hak kepemilikan atau pembagian. Ia membacakan kalimat itu dengan jelas.
"Setuju," kata Gunawan. "Kita masih mengumpulkan informasi."
Rania mengangguk. Calista tidak menjawab segera, tetapi akhirnya berkata ia memahami bahwa pembahasan belum selesai. Ketika pertemuan berhenti, semua salinan kembali kepada pemiliknya. Tak satu pun dokumen asli berpindah tangan.
Pada pekan berikutnya Rania datang lagi, kali ini tanpa Gunawan dan Calista. Ia membawa buku catatan lama dan duduk bersama Althea serta mamanya. Percakapan itu lebih pendek daripada pertemuan Sabtu.
Rania mengingat Opa pernah membicarakan bagian bagi tiap anggota keluarga, tetapi ia tidak dapat memastikan tanggal atau kalimat persisnya. Althea mendengarkan. Ia sendiri juga tidak mengetahui seluruh percakapan Opa dengan anak dan cucunya.
“Aku takut kalau semua yang tidak tertulis dianggap tidak pernah terjadi,” ujar Rania.
Mama menggeser cangkir tehnya. “Kita bisa mendengarkan tanpa membuat ingatan menjadi sesuatu yang tidak kita ketahui.”
Althea menuliskan keterangan itu setelah Rania menyetujuinya. Ia tidak menulis sebuah kutipan seolah diucapkan Opa persis demikian. Rania membetulkan perkiraan waktu: yang diingatnya terjadi sebelum Opa sakit berat.
Menjelang pulang, Rania meminta agar salinan yang ditemukan nanti tetap dibaca bersama pendamping masing-masing. Althea mengiyakan. Mereka belum menemukan jawaban tentang tanah, tetapi pertemuan tidak lagi berakhir dengan ancaman bahwa rumah harus diserahkan.
Sebelum pergi, Rania sempat mengatakan bahwa ia tidak menyangkal Althea membangun rumah dengan biaya sendiri. Yang ingin dipahaminya ialah bagaimana pemberian tanah itu berkaitan dengan pembicaraan Opa mengenai keluarga. Althea berhenti merapikan map dan mendengarkan. Itu berbeda dari ancaman Calista di klinik. Ia tetap belum mempunyai jawaban yang dapat diberikan begitu saja, tetapi kini ia tahu pertanyaan mana yang perlu dibawa kepada pendamping. Ia akan membawanya kepada pendamping, tanpa menganggap tantenya telah menerima semua keterangannya.
Althea mengantar tantenya sampai pintu. Ia masih teringat kemarahan Calista di klinik dan belum ingin menganggap hubungan mereka kembali dekat. Namun ia dapat menyapa tanpa berpura-pura sudah sepakat. Ia kembali ke ruang tengah, menyimpan catatan yang baru dibaca Rania, dan memberi kabar kepada pendampingnya tentang perkembangan tersebut.