Pekan ketiga setelah pertengkaran dengan pengasuh dimulai dengan pagi yang lebih tenang di rumah Evander. Althea melihat si kembar dari balik pagar saat ia bersiap berangkat. Lia sedang memilih buku di ruang keluarga, sedangkan Lio duduk menyusun balok. Tidak ada yang berlari keluar mencari tetangga. Evander berada di dekat mereka, membantu menyiapkan sarapan sambil sesekali melihat papan jadwal.
Beberapa saat kemudian, pesan masuk dari Evander. Ia bertanya apakah Althea bersedia menerima kunjungan singkat si kembar pada sore hari. Ia tidak menganggap jawaban ya sebagai kepastian; ia hanya menanyakan waktu dan memastikan Althea sedang tidak bekerja. Althea membuka jadwal klinik. Ia punya waktu setelah pukul empat, tetapi perlu meninjau catatan pasien malam itu.
“Aku bisa menerima mereka sekitar setengah jam setelah empat. Setelah itu aku perlu menyelesaikan pekerjaan,” balasnya.
Evander menjawab bahwa ia akan menemani anak-anak dan pulang sebelum waktu makan malam. Ia tidak meminta mereka tinggal lebih lama atau menjanjikan kunjungan itu kepada si kembar sebelum mendapat persetujuan Althea. Althea merasa cara bertanya seperti itu berbeda dari kebiasaan lama ketika anak-anak sekadar muncul di pagar.
Sore harinya, Evander datang bersama Adelio dan Adelia. Ia mengetuk pagar dan menunggu Althea keluar. Lia membawa buku gambar, Lio membawa mobil kecil. Evander memperkenalkan bahwa mereka berkunjung sebentar sesuai waktu yang sudah disepakati. Anak-anak masuk setelah Althea mempersilakan, bukan menyelonong.
Mereka duduk di teras. Althea meminta mereka memilih apakah ingin membaca atau menggambar. Lia memilih buku, sementara Lio menggambar mobil. Evander duduk dekat mereka dan tidak membuka ponsel. Ketika Lio ingin menunjukkan gambar kepada ayahnya, Evander mengamati dengan sungguh-sungguh, lalu bertanya tentang roda yang ia buat.
Althea memperhatikan bahwa anak-anak tampak lebih tenang. Mereka tidak menarik tangannya atau meminta ia berjanji akan datang besok. Saat jam kunjungan hampir selesai, Evander berkata mereka akan pulang. Lia bertanya apakah ia bisa datang lagi. Althea menjawab mereka boleh bertanya lagi lain kali, tetapi ia harus melihat jadwalnya dulu.
“Kalau Mama Althea sibuk, kita bisa main sama Papa,” kata Evander kepada si kembar. “Kita tidak boleh membuat dia membatalkan pekerjaan.”
Althea menghargai jawaban itu. Ia tidak ingin kunjungan yang menyenangkan berubah menjadi kewajiban baru. Ia mengantar mereka ke pagar dan menerima ucapan terima kasih Evander. Pria itu tidak mengatakan anak-anak akan sedih jika ia tidak bisa menerima mereka lagi.
Dua pekan percobaan kerja pengasuh telah selesai. Evander menemuinya bersama Marni tanpa Althea. Ia membandingkan catatan kegiatan dengan hal yang dilihatnya sendiri: si kembar kembali bermain, tetapi tetap perlu waktu untuk mendekati pengasuh yang pernah membuat mereka takut.
Pengasuh itu tidak meminta anak-anak memberi maaf sebagai syarat ia bertahan. Ia bersedia melanjutkan pekerjaan dengan tugas dan jam yang telah disepakati, serta meminta Evander bisa dihubungi ketika arahan keluarga bertentangan. Evander menyanggupi. Ia tidak menyatakan semua kesalahan terhapus; ia memilih menilai pekerjaan yang kini benar-benar dijalankan.
Pada hari Althea seharusnya menerima kunjungan berikutnya, panggilan IGD mengubah jadwalnya. Ia memberi kabar sebelum berangkat. Evander menjelaskan pembatalan itu kepada Lia dan Lio, lalu menemani mereka membangun jalan dari balok. Pengasuh menyiapkan keperluan di rumah sesuai gilirannya. Tidak ada yang menyuruh anak-anak berdiri di depan pagar untuk meminta Althea datang.
Seusai bertugas, Althea mendengarkan rekaman Lia yang bercerita tentang bunga dalam gambarnya. Ia membalas singkat sebelum beristirahat. Gambar itu dapat dilihat lain kali. Ia tidak perlu mengganti kelelahan dengan janji yang tidak sanggup dipenuhinya.
Pekan keempat membawa suasana berbeda di klinik. Althea tiba sebelum jadwal praktik untuk menyiapkan ruang konsultasi, lalu melihat Dokter Diana berdiri bersama seorang dokter baru di dekat meja administrasi. Diana menyapa Althea dan memperkenalkan rekan itu sebagai dokter anak yang mulai bergabung pekan ini. Dokter itu baru memulai orientasi dan belum langsung menggantikan seluruh giliran yang kosong.
“Selamat datang,” kata Althea. “Kalau ada yang perlu ditanyakan soal alur klinik, kita bisa bahas setelah orientasi.”
Dokter baru itu mengucapkan terima kasih dan menyebut ia sudah dihubungi personalia mengenai jadwal serta sistem kerja. Diana menjelaskan bahwa bagian administrasi akan membantu menyesuaikan giliran, sementara tanggung jawab klinis tetap mengikuti prosedur klinik dan jalur pelayanan yang sesuai. Althea mendengar dengan lega. Mereka sudah lama kekurangan dokter dan sering saling menutup jadwal tanpa jeda cukup.
Tamara datang membawa minuman, disusul Gania dan Yolanda. Diana mengumpulkan mereka di ruang istirahat sebelum pasien pertama datang. Ia menyampaikan bahwa tambahan dokter akan mulai bertugas secara bertahap setelah orientasi, bukan langsung mengambil seluruh jadwal. Setiap orang diminta memberi tahu hari yang tidak bisa diisi, termasuk kebutuhan istirahat dan tugas lain.
“Jangan sampai kita membuat jadwal yang terlihat rapi tapi orangnya kelelahan,” ujar Diana.
Althea menyebut jadwal rumah sakitnya pada Senin, Rabu, dan Jumat, praktik klinik siang-sore, serta panggilan IGD yang dapat berubah. Ia memiliki satu jadwal piket 24 jam bulanan. Tamara mengingatkan agar sesi klinik tidak berimpitan dengan giliran IGD. Gania menambahkan bahwa mereka perlu menyisakan waktu untuk pergantian tugas, bukan membuat seseorang datang tepat setelah bertugas semalaman.
Diana dan bagian personalia kemudian menyesuaikan giliran setelah memeriksa siapa yang benar-benar tersedia. Dokter baru tidak langsung mengambil seluruh pekerjaan; orientasinya berjalan bertahap. Althea masih harus menyelesaikan pasien dan tugas rumah sakit, tetapi sesi yang bertabrakan tidak lagi ditutup dengan mengorbankan jeda istirahat.
Ketika jadwal yang diperbarui datang, Althea menemukan satu pagi yang dapat digunakan untuk menemui Mama dan membaca berkas. Ia mengonfirmasikannya tanpa mengirimkan urusan pribadi kepada seluruh tim.
Sore berikutnya si kembar datang lagi bersama Evander pada waktu yang sudah disepakati. Lia membawa gambar bunga. Lio menumpahkan sebagian pensil, lalu membantu papanya mengumpulkan kembali. Althea melihat pengasuh mengantar barang yang tertinggal sampai pagar, menunggu Evander menerimanya, dan berpamitan tanpa memerintah anak-anak pulang dengan ancaman.
Saat kunjungan selesai, Evander mengajak mereka berjalan beberapa langkah ke rumah nomor dua belas. Althea menutup pagar, membawa gelas ke dapur, lalu kembali ke catatan kerjanya. Meja tadi masih menyimpan bekas pensil berwarna. Ia tersenyum, membersihkannya, dan melanjutkan pekerjaan yang sempat ditinggalkan.
Kehangatan sore itu tidak memerlukan seorang pun meninggalkan tanggung jawabnya. Anak-anak datang dengan ayahnya, bermain, lalu pulang. Althea masih memiliki waktu untuk menyelesaikan hari.