Pagi setelah percakapan terakhir dengan Evander, Althea bersiap menjalani jadwal klinik. Ia sedang mengunci pagar ketika melihat Evander berdiri di halaman rumahnya. Pria itu tidak membawa anak-anak. Ia menunggu sampai Althea selesai memeriksa tas, lalu menyapa dan bertanya apakah ia punya waktu sebentar. Althea melihat jam dan mengatakan mereka bisa bicara beberapa menit sebelum ia berangkat.
Evander memberitahu bahwa mertuanya menghubunginya. Martha, sepupu mendiang Renata yang tinggal di Inggris, sudah pulang. Keluarga Renata ingin mengadakan makan bersama dan mertuanya berharap Evander datang membawa si kembar. Ia belum menjawab pasti karena ingin memeriksa jadwal anak-anak dan memastikan mereka nyaman.
“Kamu mau datang?” tanya Althea.
“Aku ingin menghormati keluarga Renata dan memberi anak-anak kesempatan bertemu keluarga ibu mereka. Tapi aku tahu mertuaku juga berharap pertemuan itu membuka jalan untuk mengenalkan Martha lebih dekat.”
Althea tidak menanggapi dengan nada mengejek. Ia memahami bahwa keluarga Evander masih menginginkan ia membangun hidup lagi, tetapi keputusan itu bukan urusan anak-anak atau orang tuanya. “Kalau kamu ingin datang, pergilah karena itu keluarga Renata dan anak-anakmu. Jangan merasa harus menjanjikan sesuatu kepada siapa pun.”
Evander mengangguk. Ia berkata ia ingin memastikan mertuanya paham bahwa makan itu bukan pertunangan atau persetujuan untuk dijodohkan. Ia bersedia bertemu Martha sebagai bagian dari keluarga besar Renata, tetapi keputusan soal pasangan tetap miliknya. Althea merasakan ada bagian dirinya yang lega mendengar kalimat itu, tetapi ia tidak ingin menjadikan keputusan Evander sebagai bukti bahwa pria itu sedang memilih dirinya.
“Aku juga tidak perlu ikut,” katanya. “Itu keluarga almarhumah Renata. Aku tetangga kalian. Aku tidak mau membuat pertemuan keluarga terasa seperti acara untuk membandingkan perempuan.”
“Aku tidak bermaksud mengajakmu. Aku cuma ingin memberi tahu karena mungkin anak-anak akan menyebutnya nanti.” Evander segera menambahkan bahwa ia tidak akan menjanjikan kunjungan mereka ke rumah Althea. Jika si kembar bertanya, ia akan mengatakan mereka akan makan bersama keluarga Mama Renata.
Althea mengangguk. “Pastikan mereka tahu siapa Martha dan kenapa keluarga berkumpul. Mereka masih kecil, jadi penjelasannya sederhana saja. Jangan meminta mereka menilai apakah seseorang cocok menjadi mama.”
Evander menjawab bahwa ia setuju. Sebelum berpisah, ia bertanya apakah Althea mendapat kabar dari pendamping mengenai dokumen. Althea berkata belum ada lampiran lengkap dan ia menunggu klarifikasi. Evander tidak menawarkan diri untuk menelepon pengacara itu. Ia hanya berkata semoga prosesnya lancar dan tidak meminta tahu rincian lebih jauh.
Di rumah Evander, Marni membantu menyiapkan pakaian si kembar. Evander memastikan mereka tidak sedang sakit atau terlalu lelah sebelum memutuskan membawa mereka. Ia menjelaskan bahwa mereka akan bertemu beberapa kerabat Mama Renata, termasuk Tante Martha yang lama tinggal jauh. Anak-anak boleh bertanya dan boleh merasa canggung. Mereka tidak harus memeluk siapa pun jika tidak ingin.
Lio bertanya apakah mereka akan bertemu Mama Renata. Evander berlutut agar sejajar dengannya. Ia menjelaskan bahwa Mama Renata sudah meninggal, tetapi keluarga ibunya masih ada dan ingin mengenang cerita tentangnya. Lia bertanya apakah Tante Martha tahu lagu yang pernah diceritakan keluarga Mama. Evander menjawab ia tidak yakin, tetapi mereka boleh bertanya jika ingin.
Marni mengingatkan Evander bahwa waktu makan si kembar tidak boleh terlalu mundur. Evander memeriksa jam dan menghubungi mertuanya untuk memastikan acara dimulai sesuai kesepakatan. Ia juga mengatakan bahwa mereka akan pulang jika anak-anak lelah, tanpa perlu menunggu acara keluarga selesai. Mertuanya sempat berkata ia berharap semua orang bisa duduk lebih lama. Evander menjawab ia akan melihat kondisi anak-anak.
Di sela waktu istirahat, sebuah panggilan video masuk dari Evander. Ia bertanya lebih dulu apakah Althea bisa bicara sebentar. Althea mengatakan ia punya beberapa menit. Layar menampilkan Evander di ruang makan yang ramai, sementara Lia dan Lio duduk di dekatnya. Beberapa orang dewasa tampak di latar, tetapi suara tidak jelas. Evander menjelaskan bahwa mereka sedang memberi salam kepada keluarga Mama Renata dan akan segera makan.
Lia melambaikan tangan. “Mama Althea, kita ketemu Tante Martha.”
Althea tersenyum. “Senang bertemu Tante Martha, ya. Kamu bisa cerita tentang Mama Renata kalau ingin, tapi tidak harus.”
Martha muncul sebentar di sisi layar dan menyapa Althea dengan ramah. Ia berkata pernah mendengar anak-anak dekat dengan dokter tetangga mereka. Althea menjawab bahwa ia senang si kembar memiliki banyak orang yang menyayangi mereka, lalu mengembalikan perhatian pada anak-anak. Ia tidak menanyakan apakah keluarga sedang membicarakan perjodohan.
Martha meminta izin mengambil sebuah album lama. Ia menunjukkan foto Renata ketika masih sekolah, bukan menanyakan apakah anak-anak ingin mendapat mama baru. Lia mendekat ke layar dan bertanya apakah Mama Althea melihat warna pita di rambut Renata. Althea mengangguk, lalu mendengarkan Martha menjelaskan kapan foto itu diambil.
“Aku harus kembali bekerja,” kata Althea ketika waktu istirahatnya habis.
Evander mengakhiri panggilan setelah si kembar melambaikan tangan. Di seberang layar, Martha tidak tampak seperti seseorang yang datang merebut sebuah tempat. Ia kerabat Renata yang lama tinggal jauh dan baru kembali bertemu keluarganya. Althea tidak mengetahui apa yang diinginkan perempuan itu untuk hidupnya sendiri.
Gania masuk ketika Althea mengembalikan ponsel ke tas. Ia mengangkat alis, tetapi Althea hanya berkata bahwa anak-anak sedang makan bersama keluarga ibunya. Pasien berikutnya sudah datang. Mereka kembali ke ruang periksa tanpa memperpanjang tebak-tebakan.
Malamnya, Evander mengabarkan mereka telah pulang. Mertuanya sempat berharap Martha lebih sering datang, tetapi ia menegaskan bahwa makan bersama tidak menjadi persetujuan untuk dijodohkan. Martha sendiri mengatakan ia pulang untuk bertemu keluarga, bukan menerima keputusan tentang pasangan.
“Lia tadi bertanya apakah Tante Martha akan jadi mamanya,” kata Evander setelah meminta waktu berbicara sebentar.
“Apa jawabanmu?”
“Martha sepupu Mama Renata. Bukan seseorang yang sudah kupilih menjadi pasangan.”
Althea mendengar suara Lio dari jauh, meminta papanya membantu mengganti pakaian. Ia mengakhiri telepon agar Evander kembali menemani anak-anak. Tidak ada kebutuhan menanyakan apakah Martha lebih cantik atau lebih disukai keluarga. Ia belum membuat keputusan tentang hubungannya sendiri dengan Evander.
Mbok Mar menyodorkan makan malam ketika Althea keluar kamar. Ia makan sambil mendengar cerita belanja esok pagi. Pada meja yang sama, buku resep Mama masih berada di dekat map rumah. Satu percakapan keluarga telah selesai di rumah Renata; urusan Althea sendiri masih menunggu. Ia tidak perlu memasukkan semuanya ke malam itu.