Awal minggu kedua, beberapa hari setelah Althea menyelesaikan pengumpulan berkas rumah, nomor tak dikenal akhirnya menghubunginya dengan cara yang lebih jelas. Penelepon memperkenalkan diri sebagai pengacara yang mewakili Tante Rania dalam persoalan keluarga terkait warisan. Althea tidak langsung membicarakan dokumen. Ia meminta nama lengkap, kantor, dan surat yang menjelaskan kapasitas orang tersebut. Penelepon menyanggupi mengirimkan identitas serta surat melalui alamat surel resmi.
“Apa yang sebenarnya diminta Tante Rania?” tanya Althea setelah identitas dasar disampaikan.
“Saya belum bisa membahas seluruhnya melalui telepon. Surat penjelasan dan salinan dokumen akan dikirimkan agar Anda dapat membacanya.”
Althea meminta agar surat itu menyebutkan dengan jelas siapa yang mengajukan permintaan, apa objek yang dipersoalkan, dan dokumen apa yang menjadi dasar. Ia juga bertanya apakah ada tenggat untuk menjawab. Pengacara tersebut mengatakan ia akan mencantumkan informasi yang bisa disampaikan dan tidak mengharapkan Althea memberi jawaban saat itu juga. Althea menegaskan ia tidak akan membahas berkas pribadi melalui telepon sebelum menerima surat.
Panggilan berlangsung singkat. Tidak ada pengakuan, persetujuan, atau kesimpulan yang keluar dari mulut Althea. Ia mencatat waktu panggilan, nama yang diberikan, serta janji bahwa surat akan dikirim. Setelah menutup telepon, ia menyimpan daftar dokumen rumah di lemari dan kembali memeriksa jadwal klinik. Ia tidak ingin melewatkan pasien karena membiarkan satu panggilan menguasai seluruh hari.
Sore hari, sebuah surel masuk ke alamat yang biasa Althea gunakan untuk urusan pribadi. Pengirim memakai nama kantor yang sama dengan yang disebut dalam panggilan. Ia mencocokkan pengirim dengan identitas kantor yang telah diperiksanya, lalu menyimpan surat dan lampirannya. Ia membacanya sekali, lalu berhenti ketika menemukan bagian yang meminta tanggapan.
Surat itu menguraikan bahwa Rania mempertanyakan pembagian aset keluarga dan meminta klarifikasi tentang tanah yang ditempati Althea. Lampiran yang disebut sebagai dasar terdiri dari salinan catatan keluarga dan dokumen yang menurut pengirim berkaitan dengan kepemilikan. Althea melihat beberapa halaman yang ia kenali, tetapi salinannya tidak lengkap. Ia tidak bisa memastikan apakah itu dokumen yang sama dengan yang dimiliki ibunya atau bagaimana halaman lain terhubung.
Ia menutup berkas dan menulis pertanyaan, bukan jawaban: apakah salinan itu lengkap, apa hubungan setiap lampiran dengan permintaan Rania, dan apakah biaya pembangunan rumah ikut dipersoalkan atau hanya tanah. Ia tidak menyimpulkan bahwa rumahnya akan diambil, sebab surat tidak menjelaskan demikian. Ia juga tidak menyatakan bukti Rania palsu atau tidak sah.
Malamnya, ia memberi tahu ibunya bahwa surat sudah datang. Ibunya mendengar dengan cemas, tetapi Althea berkata ia belum ingin membahas setiap halaman sebelum mendapat bantuan untuk memeriksanya. Ia hanya mengabarkan bahwa Rania mempertanyakan pembagian aset dan tanah, sesuai isi tertulis. Ibunya setuju menunggu sampai mereka dapat membaca salinan itu bersama-sama.
Althea tidak langsung membalas isi surat tersebut. Ia menghubungi layanan konsultasi yang direkomendasikan kenalan kerja, meminta penjelasan biaya serta ruang lingkup, lalu memilih pertemuan di luar jam praktik.
Pada hari konsultasi, ia membawa surat, salinan terkait tanah, dan catatan biaya pembangunan. Ia tidak menyerahkan semua arsip keluarga sekaligus. Pendamping membacanya, lalu meminta Althea menjelaskan urutan yang benar-benar dialaminya.
“Opa mengatakan tanah itu untuk saya. Saya membangun rumah dengan penghasilan saya sendiri,” jawabnya. “Tetapi beberapa halaman yang disebut di surat belum saya terima.”
Pendamping menandai bagian yang belum jelas. Ia tidak mengatakan rumah akan diambil, dan tidak pula menjanjikan bahwa Althea pasti menang. Mereka perlu mengetahui objek permintaan Rania dan membaca dokumen yang utuh.
“Saya ingin tetap bekerja,” kata Althea ketika membandingkan waktu konsultasi lanjutan.
“Kita sesuaikan waktunya. Kalau ada tenggat, kita periksa dan rencanakan tanggapannya.”
Althea menyetujui konsultasi terbatas sesudah membaca rincian layanan. Biayanya ia tanggung sendiri dari anggaran yang sudah diperhitungkan. Ia belum meminta siapa pun mengambil alih seluruh urusan keluarga itu.
Keesokan harinya, Althea mengirim pertanyaan tertulis melalui pendampingnya. Ia meminta salinan lengkap dari dokumen yang disebut dalam surat, penjelasan mengenai bagian pembagian keluarga yang dipersoalkan, serta kepastian apakah permintaan Rania menyangkut tanah, bangunan, atau keduanya. Ia tidak mengirim seluruh arsip rumah. Pendamping membantu menyusun kalimat agar permintaan itu jelas dan tidak berubah menjadi pengakuan atau tuduhan.
Balasan dari pengacara keluarga datang beberapa waktu kemudian. Pengacara mengatakan ia akan meminta persetujuan kliennya untuk memberikan salinan yang lebih lengkap dan rincian objek yang dipersoalkan. Ia belum bisa menjawab beberapa pertanyaan tanpa dokumen tambahan. Althea menerima balasan itu melalui pendamping dan tidak menekan lawan bicara lewat panggilan pribadi.
Sambil menunggu, ia menyusun berkas yang sudah dimiliki. Dokumen tanah ditempatkan di satu bagian, bukti pembayaran pembangunan di bagian lain. Catatan tentang pencarian dokumen keluarga dan keterangan Gunawan diletakkan terpisah. Ia menulis pada sampul bahwa catatan lisan bukan pengganti dokumen. Dengan cara itu, ia tidak mencampurkan ingatan pamannya dengan salinan formal yang dikirim oleh keluarga Rania.
Sesudah menerima kabar tentang permintaan kelengkapan itu, Althea menelepon ibunya. Ia menjelaskan bahwa ia sudah meminta tambahan salinan, tetapi belum semua pertanyaan terjawab. Ibunya bertanya apakah rumah mereka aman. Althea menjawab bahwa ia belum mendapat dasar untuk menyimpulkan hasil apa pun. Mereka harus mengikuti dokumen dan proses, bukan membiarkan kata “pengadilan” dari ancaman lama menentukan apa yang mereka yakini sekarang.
Ibunya menghela napas lega karena Althea memiliki pendamping, meskipun ia tetap khawatir. Althea berkata ia juga khawatir, tetapi tidak akan menghentikan pekerjaannya atau menyerahkan keputusan kepada keluarga Evander. Ia mengatur agar jadwal konsultasi berikutnya dilakukan saat ia tidak sedang praktik. Ibunya menyetujui dan menawarkan untuk terus membantu menginventarisasi berkas Opa.
Malamnya, Evander menyapa dari pagar ketika Althea baru pulang. Ia menanyakan apakah ada kabar tentang pesan Calista. Althea menjawab bahwa surat sudah datang dan ia telah meminta bantuan untuk memeriksanya.
“Kalau kamu perlu—”
“Aku sudah punya pendamping,” sela Althea, lalu melunakkan suaranya. “Terima kasih. Aku tidak ingin urusan ini bergantung padamu.”
Evander menutup mulut sebelum menyelesaikan tawarannya. Ia mengangguk dan tidak meminta nomor pengacara Rania. Althea baru menyadari bahwa ia menunggu perdebatan yang tidak terjadi.
“Kalau ingin bercerita, aku bisa mendengar,” katanya.
Althea belum ingin menceritakan setiap halaman. Ia mengatakan bahwa malam itu ia hanya ingin makan, mandi, lalu tidur. Evander mengucapkan selamat malam dan kembali ke rumahnya.
Di dalam, Mbok Mar sudah menutup panci. Althea duduk, menerima piring yang disodorkan, dan mulai makan. Surat Rania telah mengubah ancaman menjadi sesuatu yang dapat diperiksa. Surat itu belum menentukan nasib rumahnya. Untuk pertama kalinya sejak Calista datang ke klinik, ia dapat membedakan kedua hal itu tanpa harus mengulang pesan yang membuatnya marah.