Tiga hari setelah pertengkaran di rumah Evander, Althea sedang menyiapkan diri untuk berangkat ke klinik ketika pesan Calista muncul di layar. Isinya pendek, tetapi cukup untuk membuat bahunya menegang. Pengacara akan menghubunginya minggu depan, tulis Calista. Jangan pura-pura tidak tahu. Tidak ada nama kantor, surat, atau keterangan perkara yang dilampirkan.
Althea membaca pesan itu sekali lagi. Ia ingin membalas dengan kalimat tajam, tetapi menahan diri. Ancaman di klinik beberapa waktu lalu masih jelas di ingatannya: Calista berkata keluarga mereka akan berebut warisan dan pengacara akan menghubunginya. Pesan baru itu mengulang peringatan, bukan menjelaskan apa yang sebenarnya diminta. Althea akhirnya menjawab, “Aku sudah membaca pesanmu. Kalau ada surat atau informasi resmi, kirimkan salinannya. Aku tidak akan menebak isi perkara dari ancaman.”
Calista hanya membalas dengan tanda bahwa pesan telah dibaca. Tidak ada dokumen menyusul. Althea meletakkan ponsel dan mengambil tas. Ia tak akan membiarkan ketegangan keluarga membuatnya datang terlambat kepada pasien. Namun sepanjang perjalanan, kata-kata itu berputar di kepala. Rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Opa memberikan sebidang tanah kepadanya, lalu ia membangun rumah dengan penghasilannya sendiri sedikit demi sedikit. Ia baru menempatinya beberapa minggu sebelum semua urusan keluarga kembali mencuat.
Sepulang dari klinik, Althea membuka lemari tempat ia menyimpan berkas rumah. Ia tidak mencari sesuatu untuk membuktikan siapa yang jahat. Ia hanya ingin mengetahui apa yang benar-benar ia miliki. Di dalam map terdapat dokumen terkait tanah yang diserahkan Opa, sejumlah kuitansi bahan bangunan dan pembayaran tukang, salinan rancangan rumah, serta catatan pembayaran yang ia kumpulkan selama pembangunan. Beberapa kuitansi sudah pudar. Ia memisahkannya menurut tahun dan menulis daftar sementara tentang berkas yang perlu ia cari lagi.
Mbok Mar masuk membawa teh, lalu melihat meja dipenuhi map. “Non sedang mencari apa?”
“Catatan rumah. Calista bilang pengacara akan menghubungiku minggu depan, tapi aku belum tahu soal apa tepatnya.”
Mbok Mar meletakkan cangkir. “Jadi belum ada surat resmi?”
“Belum. Baru pesan Calista dan ancamannya yang dulu.” Althea memeriksa satu kuitansi, lalu memasukkannya ke kantong plastik bening agar tidak makin rusak. “Aku tidak mau menganggap semua yang dia bilang pasti benar. Aku cuma ingin berkas yang ada tersusun.”
Mbok Mar bertanya tentang tanah kosong di sisi rumah. Althea menjawab bahwa bagian itu memang belum dibangun; ia pernah berniat membuat toko kue kecil untuk memenuhi kegemaran ibunya membuat kue. Rencana itu masih milik mereka dan tidak ada kaitan dengan ancaman Calista. Ia menuliskannya dalam catatan terpisah, supaya tidak mencampur aset yang sudah dibangun dengan rencana yang belum diwujudkan.
Sebelum menutup map, Althea menandai dokumen yang perlu ia tanyakan kepada ibunya. Ia tidak akan mengirim salinan kepada Calista hanya karena diminta lewat pesan. Jika ada komunikasi resmi, ia akan memeriksanya dengan pendamping yang tepat. Untuk malam itu, yang ia punya hanyalah ancaman dan berkas yang harus dirapikan.
Althea menutup map sebelum larut. Pesan Calista tidak membuatnya ingin menyerahkan rumah, tetapi ia juga tidak ingin hanya mengandalkan kemarahan untuk bertahan. Ia menelepon ibunya keesokan siang, ketika tidak sedang memeriksa pasien.
Mama masih menyimpan kotak arsip Opa. Ia belum mengetahui apakah lampiran tentang tanah ada di sana dan meminta waktu untuk mencarinya bersama. Althea bersedia datang pada jeda kerja yang sudah pasti, tanpa meminta mamanya mengangkat seluruh kotak sendirian.
“Aku takut kamu merasa harus menghadapi mereka sendiri,” kata Mama.
Althea memandang sketsa rumah yang terletak di dekat telepon. “Aku memang membangunnya sendiri. Tapi aku boleh meminta bantuan.”
Mereka menyepakati waktu bertemu. Sesudah itu Althea menghubungi Om Gunawan, orang yang selama ini tidak ikut mendatangi klinik untuk mengancamnya. Ia ingin mendengar apa yang pamannya ketahui sebelum menafsirkan semua orang di keluarga Rania sebagai lawan.
Gunawan menyetujui percakapan singkat setelah urusan kerjanya selesai. Mereka bertemu di sebuah kedai yang tidak jauh dari rumah ibunya. Althea datang membawa buku catatan kecil, bukan setumpuk dokumen. Ia tidak ingin membuat pertemuan itu tampak seperti pemeriksaan. Gunawan tiba beberapa menit kemudian dan memesan minuman sebelum mereka mulai bicara.
“Aku hanya mau memastikan apa yang Om ingat,” kata Althea. “Aku belum tahu isi tuntutan, jadi aku tidak ingin menarik kesimpulan dulu.”
Gunawan mengangguk. Ia mengingat bahwa Opa pernah memberikan tanah kepada Althea. Ia juga tahu Opa memberikan perusahaan distribusi alat medis untuk ia kelola bersama keluarga Rania. Perusahaan itu masih berkembang dan bukan perusahaan besar. Gunawan mengakui bahwa ia menerima tanggung jawab sekaligus kesempatan tersebut, dan ia tidak ingin pembicaraan tentang pemberian kepada Althea berubah menjadi perbandingan siapa yang lebih banyak menerima.
“Om tidak mau bicara seolah-olah satu pemberian membatalkan yang lain,” ujarnya. “Yang aku tahu, Opa menyampaikan hal berbeda kepada orang berbeda. Tapi soal persisnya harus dilihat dari dokumen yang ada, bukan dari ingatanku saja.”
Althea mencatat kalimat itu dengan hati-hati. Ia bertanya apakah Gunawan pernah melihat dokumen penyerahan tanah atau mendengar tanggal dan syaratnya. Gunawan menjawab ia tidak menyimpan dokumen itu dan tidak bisa memastikan tanggalnya. Ia ingat pembicaraan keluarga tentang tanah tersebut, tetapi tidak berani menyebut ingatannya sebagai bukti lengkap. Ia menyarankan Althea mencari berkas yang disimpan ibunya dan meminta penjelasan formal jika ada surat resmi.
“Kalau suatu saat aku diminta menjelaskan apa yang Om tahu, Om bersedia?” tanya Althea.
“Kalau ada permintaan resmi dan aku memang tahu, aku akan menjelaskan yang kuingat. Tapi aku tidak mau menambah cerita atau menebak niat orang.”
Jawaban itu membuat Althea lega sekaligus lebih waspada. Gunawan tidak menjanjikan dukungan penuh, tetapi juga tidak menolak berbicara. Ia tidak mengubah ingatan menjadi kepastian yang belum dibuktikan. Althea menuliskan inti pernyataan itu setelah meminta izin, lalu membacanya kembali. Gunawan mengoreksi satu kata: ia tidak ingat Opa menyerahkan dokumen di hadapannya, hanya ingat Opa pernah menyebut pemberian tanah tersebut.
Althea membetulkan catatan. Ia tidak merekam pembicaraan diam-diam dan tidak meminta Gunawan menandatangani apa pun. Mereka menyepakati bahwa catatan itu hanya ringkasan untuk dirinya, bukan dokumen resmi. Ia berterima kasih atas keterusterangannya. Gunawan meminta agar Althea tidak menggunakan namanya untuk menyerang Rania sebelum ada persoalan yang jelas.
“Aku tidak berniat menyerang siapa pun, Om. Aku cuma ingin tahu apa yang benar-benar terjadi.”
Gunawan mengangguk. Mereka membicarakan sebentar kabar ibunya, lalu berpisah tanpa menyelesaikan sengketa keluarga. Dalam perjalanan pulang, Althea memeriksa catatannya sekali lagi. Ia memastikan tertulis bahwa Gunawan mengingat Opa pernah menyebut tanah itu, tetapi tidak menyaksikan penyerahan dokumen dan tidak mengetahui isi tuntutan.
Pada waktu yang telah disepakati, Althea dan mamanya membuka kotak arsip. Beberapa lembar masih terselip dalam amplop lama. Mama berhenti ketika melihat tulisan Opa. Althea tidak mendesaknya segera membaca; mereka membuat teh, lalu kembali setelah napas Mama lebih tenang.
Ada surat terkait tanah yang merujuk pada lampiran lain. Lampiran itu belum mereka temukan. Althea menandai halaman yang kurang dan membawa pulang salinan untuk diperiksa kemudian, sementara dokumen asli tetap disimpan Mama.
Di antara map itu ada sketsa etalase kecil. Mama tersenyum melihatnya. Dulu mereka ingin membuat toko kue di sisi rumah Althea, untuk kesenangan Mama membuat resep. Belum ada bangunan atau usaha di sana. Althea mengembalikan sketsa tersebut ke buku yang berbeda. Rencana itu tidak perlu ikut menjadi ancaman dalam pesan Calista.
Ia pulang sebelum jadwal klinik sore. Rumah nomor tiga belas masih berdiri seperti biasa saat kendaraannya melewati pagar. Althea berhenti sebentar memandang jendela ruang tengah yang ia tentukan sendiri. Ia ingat menghitung biaya keramik sesudah giliran panjang di rumah sakit, menunda lemari ketika tabungannya belum cukup, lalu membawa kursi pertama masuk bersama Mbok Mar.
Kerja keras itu nyata. Tetapi untuk menghadapi persoalan tanah, ia perlu membaca apa yang tertulis dan mendengar apa yang benar-benar diminta. Ia memasukkan map ke lemari, menguncinya, lalu berganti pakaian untuk kembali bekerja.