Pagi datang tanpa menghapus sisa percakapan malam sebelumnya. Althea baru saja merapikan rambut ketika pesan Evander masuk. Ia mengabarkan bahwa ia ingin berbicara dengan pengasuh dan Marni mengenai tugas hari ini. Ia bertanya apakah Althea bersedia datang sebentar sebelum berangkat, bukan untuk menentukan nasib siapa pun, melainkan untuk menyampaikan batasnya sendiri. Althea melihat jam. Ia punya waktu sebelum mulai bekerja, tetapi tidak banyak. Ia menjawab akan datang selama pembicaraan itu singkat dan anak-anak tidak dijadikan alasan untuk menekannya.
Ketika Althea tiba, Evander sudah berada di ruang makan. Marni berdiri dekat meja, sementara pengasuh baru duduk dengan punggung tegak. Si kembar belum terlihat. Evander menyambut Althea dan langsung menjelaskan tujuan pertemuan. Ia belum memutuskan apakah pengasuh itu akan terus bekerja. Ia ingin memastikan setiap orang tahu siapa yang memberi tugas, siapa yang mengawasi anak-anak, dan kepada siapa masalah harus disampaikan. Althea duduk di kursi dekat pintu, menjaga agar kehadirannya tidak terasa seperti pemeriksaan.
“Saya ingin mulai dengan satu hal,” kata Althea. “Saya bertetangga dan dokter anak. Saya bukan pengasuh tetap. Kalau saya membantu, itu harus karena saya memang sedang bisa dan sudah menyetujuinya. Jangan membuat jadwal anak-anak bergantung pada saya.”
Pengasuh mengangguk pelan. Marni menundukkan mata, mungkin teringat betapa sering si kembar berlari ke rumah sebelah. Evander tidak buru-buru menjawab untuk mereka. Ia mempersilakan Althea melanjutkan.
“Saya punya jadwal rumah sakit, klinik, dan panggilan IGD. Waktu saya bisa berubah. Bahkan kalau saya berada di rumah, itu tidak otomatis berarti saya siap menjaga anak-anak. Jika ada keadaan darurat medis, saya bisa membantu sebagai dokter sesuai kemampuan dan kondisi saat itu. Tapi urusan siapa yang mengasuh mereka tetap tanggung jawab keluarga dan orang yang memang dipekerjakan.”
“Saya mengerti,” jawab Evander. “Aku tidak akan mencantumkan namamu sebagai orang yang bisa dihubungi untuk menjaga mereka. Kalau mereka ingin berkunjung, aku atau Marni harus bertanya lebih dulu dan menemani.”
Pengasuh tampak hendak bicara, tetapi ia menunggu Evander memberinya giliran. “Saya juga perlu tahu batas tugas saya, Pak. Kemarin saya menerima arahan dari mama Renata agar anak-anak tidak terlalu dekat dengan perempuan lain. Saya menganggap itu bagian dari pekerjaan saya.”
“Melindungi mereka memang bagian dari tugasmu,” kata Evander. “Namun larangan menemui tetangga tanpa berbicara denganku bukan arahan kerja yang bisa kamu putuskan sendiri. Aku akan menelepon mama Renata dan menjelaskan batasnya. Tugasmu adalah menjaga keselamatan, rutinitas, dan kebutuhan mereka. Kalau ada keraguan, hubungi aku.”
Althea berangkat ketika waktu yang disanggupinya habis. Evander tidak memintanya menunggu sampai seluruh pembicaraan selesai. Di mobil, ia memeriksa daftar pasien pertama di jadwalnya, lalu menyimpan ponsel sebelum menyalakan mesin.
Evander baru menghubungi mertuanya setelah Marni memastikan si kembar belum berada di dekat ruang kerja. Ia menutup pintu dan menyapa perempuan yang selama empat tahun masih dipanggilnya Mama.
Di seberang, mertuanya langsung menanyakan pengasuh baru. Evander menceritakan pertengkaran malam sebelumnya dan larangan yang membuat anak-anak takut. Ia tidak menyerahkan telepon kepada Althea agar perempuan itu membela dirinya sendiri.
“Mama tidak menyuruhnya menghina tetanggamu,” jawab mertuanya.
“Saya tahu. Tapi saya harus memperjelas bahwa instruksi pekerjaan datang dari saya. Kalau Mama khawatir tentang anak-anak, bicarakan dengan saya.”
Perempuan itu terdiam sebelum menyebut Renata. Ia takut cucu-cucunya akan tumbuh tanpa mengetahui siapa ibu mereka. Evander memandang foto mendiang istrinya di sudut meja, lalu merendahkan suaranya.
“Saya juga tidak ingin itu. Mereka tetap boleh mendengar cerita Renata. Menyayangi orang lain tidak berarti melupakan ibunya.”
“Kamu sekarang membela Althea?”
“Saya sedang mengurus anak-anak saya, Ma.”
Jawaban itu tidak membuat mertuanya langsung lega. Mereka masih berbeda pendapat tentang panggilan Mama. Namun Evander tidak mengalah hanya agar telepon cepat selesai. Ia mengatakan bahwa ia sendiri yang akan menjelaskan kepada anak-anak, tanpa memaksa Althea menerima sebuah peran. Mertuanya akhirnya bersedia menyampaikan keberatan kepadanya lebih dulu.
Sesudah telepon ditutup, Evander mendatangi ruang keluarga. Lia bertanya apakah mereka masih boleh bermain di halaman. Evander mengajak mereka sarapan, lalu menunjukkan bahwa gerbang harus dibuka orang dewasa. Ia tidak mengunci mereka di kamar sebagai jawaban atas ketakutan malam sebelumnya.
Lio memilih bola. Lia membawa kapur berwarna ke teras. Ketika bola menggelinding mendekati pagar, Evander mengambilnya sendiri dan kembali duduk di dekat mereka. Ia meletakkan ponsel di dalam rumah. Untuk beberapa saat, kedua anak itu tidak perlu bertanya kapan papanya pulang.
“Siapa yang mendampingi kalau aku ada rapat?” tanya Evander.
Marni menjelaskan jadwalnya, termasuk waktu ia perlu beristirahat dan urusan rumah yang tidak dapat ditinggalkan. Pengasuh menyampaikan jam kerjanya serta kapan ia perlu pulang. Untuk pertama kalinya, Evander tidak menganggap keberadaan Marni sebagai jawaban otomatis. Ia menuliskan setiap jam dan menemukan ada waktu kosong di antara pekerjaan mereka.
“Kita tidak boleh menutup bagian kosong itu dengan menganggap Althea bisa datang,” kata Evander. “Aku akan mengatur jadwal kerjaku dan mencari pengganti yang jelas bila ada perubahan.”
Pengasuh bertanya apakah ia diminta tinggal lebih lama hari itu. Evander menjawab bahwa ia belum meminta perubahan jam kerja tanpa kesepakatan. Mereka akan membicarakan kebutuhan dan ketentuan kerjanya secara terpisah. Hari ini, ia akan menjalankan jam yang sudah disepakati, sementara Evander menyesuaikan rapat dan Marni mengisi waktu yang memang mampu ia tangani.
Ia memeriksa kalender kerja pada ponselnya. Ada dua rapat yang bisa dipindah, satu panggilan yang harus ia ikuti, dan beberapa urusan yang dapat diselesaikan dari rumah. Evander mengirim pesan kepada asistennya untuk memindahkan rapat yang tidak mendesak. Ia tidak menyebut anak-anak sebagai gangguan; ia hanya mengatakan ada urusan keluarga yang memerlukan kehadirannya.
Pengasuh menanyakan apakah ia masih diminta masuk esok. Evander menjawab bahwa mereka akan mencoba tugas yang sudah diperjelas selama dua pekan, kemudian menilai apakah pekerjaan tersebut cocok bagi kedua pihak. Ia tidak menjanjikan kepercayaan kembali hanya karena satu permintaan maaf.
Marni meminta agar perubahan itu juga dijelaskan kepada anak-anak. Evander mengiyakan. Ia memanggil si kembar, menunjukkan siapa yang menemani ketika ia bekerja, lalu membiarkan mereka kembali bermain. Tidak ada permintaan agar Lia dan Lio memaafkan atau memberikan penilaian terhadap pekerjaan pengasuh.
Siang itu Bobby menelepon tentang pertemuan dengan pemasok. Evander memindahkannya setelah memastikan semua pihak tersedia. Satu panggilan lain tetap harus ia ikuti dari rumah. Sebelum masuk ruang kerja, ia menyerahkan pengawasan kepada orang yang sudah bersedia bertugas, bukan sekadar menghilang dari teras.
Sore hari Althea menerima kabar singkat bahwa anak-anak bermain dan beristirahat seperti biasa. Tidak ada permintaan datang. Ia membalas setelah praktik selesai, lalu makan bersama Mbok Mar. Malam itu ia dapat menutup pintu kamarnya tanpa menunggu telepon dari dua anak yang tidak tahu harus mencari siapa.