Suara Adelia yang kecil itu langsung memutus ketegangan di depan pintu. Evander menunduk, melihat putrinya berdiri di sisinya dengan jari-jari menggenggam ujung kemejanya. Adelio masih berada dekat Althea. Anak laki-laki itu kelihatan ingin merapat, tetapi ragu setelah melihat wajah orang-orang dewasa yang menegang.
Evander segera membuka telapak tangannya, memberi isyarat agar kedua anaknya mendekat. “Lia, Lio, ikut Papa sebentar. Kita bicara di dalam, ya. Tidak ada yang marah kepada kalian.”
“Papa marah sama Mama?” tanya Adelio.
Althea ingin menjawab, tetapi Evander mendahuluinya. “Papa sedang mencari tahu apa yang terjadi. Kalian tidak melakukan kesalahan.”
Ia tidak menarik anak-anak itu dengan paksa. Evander berjongkok, menunggu sampai Adelia menyambut tangannya dan Adelio memilih berdiri di dekat kakaknya. Baru setelah keduanya tenang, ia memandang Marni.
“Bi, tolong temani mereka di ruang keluarga. Bawa minum dan mainan yang biasa mereka suka. Jangan tanya-tanya dulu kalau mereka belum mau cerita.”
Marni mengangguk. “Baik, Pak.”
Adelia masih memandang Althea. “Mama ikut?”
Pertanyaan itu membuat beberapa pasang mata kembali tertuju kepadanya. Althea menahan napas. Ia tidak mau memberi janji yang belum dimengertinya sendiri, apalagi membuat kedua anak itu merasa harus memilih pihak.
“Untuk sekarang, Mama bicara sebentar dengan Papa, ya. Kamu sama Lio ditemani Bi Marni. Nanti kalau sudah selesai, kita saling menyapa lagi.”
Adelia mengernyit. “Mama pulang?”
“Belum tahu, Sayang. Kita bicarakan baik-baik dulu.”
Evander memerhatikan cara Althea menjawab, lalu mengangguk kecil. Ia tidak membantah panggilan itu di depan anak-anak, tetapi juga tidak meminta Althea mengaku sebagai ibu mereka. Marni membawa si kembar ke ruang keluarga. Langkah mereka menjauh perlahan, diiringi suara Adelio yang bertanya apakah ia boleh mengambil mobil-mobilan.
Barulah Evander berdiri tegak. Ia menoleh kepada pengasuh baru itu. “Kita tidak menyelesaikan masalah dengan berteriak di depan anak-anak. Silakan duduk di ruang tamu. Saya akan mendengarkan semua pihak.”
Pengasuh itu merapatkan kedua tangan di dada. “Saya hanya menjalankan tugas, Pak. Anak-anak harus dijauhkan dari orang asing.”
“Saya juga ingin tahu tugas apa yang diberikan kepada Anda,” jawab Evander, suaranya tetap tertahan. “Tapi sekarang mereka ketakutan. Tolong jangan berdebat lagi di sini.”
Di ruang tamu, Evander berdiri dekat jendela sambil memandang halaman yang mulai gelap. Althea duduk di ujung sofa. Pengasuh baru itu memilih kursi di seberang mereka, tubuhnya kaku dan bibirnya terkatup rapat.
“Aku tidak mau membahas siapa yang menang dalam pertengkaran tadi,” kata Evander. “Aku mau tahu apa yang sebenarnya terjadi sejak kalian tiba di rumah.”
Pengasuh itu segera menjawab, “Saya datang sesuai arahan. Saya diminta menjaga anak-anak dan mengatur rutinitas mereka. Begitu saya tahu ada perempuan yang sering mereka panggil Mama, saya mencoba membatasi kedekatan itu. Mereka sudah kehilangan ibunya. Saya takut panggilan tersebut membuat mereka semakin bingung.”
Althea menunduk sebentar. Kekhawatiran itu tidak sepenuhnya tidak masuk akal. Ia pun takut si kembar menempel padanya hanya karena kehilangan ibu. Namun cara pengasuh itu menyampaikan keberatan tadi telah membuat anak-anak merasa dirinya penyebab pertengkaran.
Evander bertanya, “Siapa yang menyuruh Anda melarang mereka bertemu Althea?”
“Saya menerima arahan dari keluarga Bapak. Saya tidak tahu batasnya secara tertulis.”
“Dari mama Renata?”
Pengasuh itu mengangguk. “Beliau bilang anak-anak harus dijauhkan dari perempuan yang belum punya hubungan keluarga dengan mereka. Saya mengira itu juga keinginan Bapak.”
Evander mengerutkan dahi. “Aku tidak pernah memberi perintah seperti itu.”
“Saya pikir itu yang terbaik, Pak.”
“Bisa jadi niatnya melindungi. Tapi membuat mereka merasa bersalah karena punya kedekatan dengan orang lain bukan cara yang tepat.”
Althea melonggarkan bahu setelah mendengar suara anak-anak mulai tenang. Tangan yang tadi sempat mengepal kini terbuka di pangkuannya.
“Saya juga hampir membalas dengan cara yang salah,” katanya. “Tadi saya ingin memukul. Saya berhenti, tetapi anak-anak sempat melihat saya marah. Saya tidak ingin itu diulang.”
Evander menatapnya, lalu mengangguk. Ia tidak memuji kemarahan itu sebagai pembuktian bahwa Althea pantas disebut ibu.
“Kita selesaikan di sini. Mereka tidak perlu mendengar tuduhan lagi.”
Pengasuh menarik napas. “Ucapan saya soal mabuk dan tidak layak mengasuh tidak punya dasar. Saya meminta maaf.”
Althea menerima permintaan maaf tersebut tanpa menganggap semua persoalan selesai. Ia menjelaskan kejadian malam ini: Lia berada di depan rumahnya, sendiri, dan menolak pulang. Lio kemudian menghampiri dari teras rumah Evander. Ia membawa mereka masuk karena tidak ingin membiarkan dua bocah itu berada di dekat jalan.
“Bukan karena saya berhak menentukan semua urusan mereka,” lanjutnya. “Saya bilang saya mamanya karena saya marah mendengar mereka disebut manja. Saya mengerti ucapan itu juga harus dijelaskan. Tapi ketakutan mereka tidak boleh diabaikan.”
Evander meminta pengasuh tidak lagi melarang semua permainan dan kunjungan berdasarkan dugaan. Ia akan meninjau pekerjaan itu sesudah mendengar keterangan Marni, dengan jam tugas yang jelas. Malam ini pengasuh boleh pulang setelah menyerahkan tugas kepada dirinya. Ia tidak memintanya bekerja semalaman untuk menebus kesalahan.
Sesudah pengasuh pergi, Marni menceritakan bahwa larangan itu sudah berlangsung beberapa hari. Ia pernah mencoba memberi tahu Evander, tetapi pembicaraan terpotong karena kesibukan kantor.
Evander meletakkan ponselnya di meja. “Sekarang saya dengarkan, Bi.”
Marni menjelaskan bagaimana anak-anak menunggu di jendela, bertanya kapan papanya pulang, lalu menyembunyikan kekecewaan ketika jawaban berubah. Ia juga mengakui pernah membiarkan kunjungan ke rumah Althea terlalu sering karena anak-anak tampak senang. Althea senang menerima mereka, tetapi itu tidak sama dengan menyetujui tugas pengasuhan setiap hari.
“Saya harus bekerja, Pak,” katanya. “Kalau saya tidak menjawab telepon, bukan berarti saya menolak mereka.”
Evander mengangguk. Ia menulis waktu untuk berada di rumah esok pagi, lalu meminta Marni memberitahunya jika sedang sakit atau tidak sanggup menjalankan tugas. Malam ketika Lia demam memperlihatkan akibat dari anggapannya bahwa rumah selalu beres selama ia membayar orang untuk berjaga. Ia tidak ingin kejadian itu terulang.
Menjelang tidur, Evander mengantar si kembar ke kamar. Althea menyusul untuk mengucapkan selamat malam sebelum kembali ke rumahnya.
Adelia memilih buku tentang kelinci yang mencari rumah. Evander membuka halaman pertama. Suaranya terdengar datar pada awalnya, tetapi kedua anak mulai menyela dengan pertanyaan tentang gambar. Althea melihat Evander tidak mengusir mereka atau meminta cepat tidur. Ia menjawab pertanyaan anak-anak dan membiarkan mereka menunjuk bagian yang disukai.
Di tengah cerita, Lia memandang Althea. “Mama marah sama Suster?”
Althea, yang diminta menyapa sebelum pulang, tidak ingin membicarakan orang dewasa dengan cara yang membuat anak-anak harus memilih. “Mama tadi marah karena ada kata-kata yang menyakitkan. Tapi urusan orang dewasa akan diselesaikan Papa. Kalian tidak perlu memihak siapa pun.”
Evander menutup buku sebentar. “Betul. Kalian boleh bilang kalau merasa takut atau sedih. Tapi kalian tidak harus menjelaskan semuanya sekarang. Papa dan Bi Marni akan menjaga kalian.”
Adelio menggenggam selimut. “Kalau besok Suster datang lagi?”
Evander menjawab tanpa menjanjikan sesuatu yang belum diputuskan. “Papa akan memberi tahu kalian sebelum ada perubahan. Malam ini kalian aman. Besok kita bicarakan aturan rumah bersama-sama.”
Adelia memandang ayahnya untuk beberapa saat. “Papa tetap tidur di rumah?”
“Iya. Papa di rumah.”
Althea merasa lega mendengar jawaban itu. Tidak ada yang menekan si kembar agar mengulang kejadian di depan pintu. Tidak ada yang meminta mereka memaafkan pengasuh saat itu juga. Mereka cukup tahu bahwa orang dewasa akan menangani masalahnya.
Ketika cerita selesai, Althea mengucapkan selamat malam. Ia tidak berjanji akan datang esok. Evander tetap duduk di antara kedua ranjang, sementara Marni mengantarnya sampai pintu.
Di luar pagar, Althea baru menyadari betapa lelah tubuhnya. Ia melangkah ke rumah nomor tiga belas tanpa menoleh lagi. Kali ini ia tidak perlu kembali karena seseorang lupa siapa yang harus menemani anak-anak. Di rumah sebelah, suara Evander masih terdengar menjawab pertanyaan Lio tentang buku yang baru selesai dibaca.