Bab 3: Kereta Hitam di Pinggir Hutan
Langit pagi di hutan Eldwood berwarna abu-abu pucat, seperti kain linen yang sudah dicuci terlalu sering. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan, membuat setiap hembusan angin terasa seperti bisikan rahasia. Liora berjalan di belakang Kael Draven, langkahnya terpaksa mengikuti ritme sepatu bot pria itu yang berat dan teratur. Setiap kali dia mencoba melambat, Kael akan menoleh sekilas—tatapan dingin itu cukup untuk membuatnya mempercepat langkah lagi.
Mereka tidak banyak bicara. Hanya suara ranting patah di bawah kaki, hembusan napas, dan sesekali raungan samar dari arah pegunungan yang semakin membuat bulu kuduk Liora berdiri.
Setelah hampir setengah jam berjalan, pepohonan mulai menipis. Di depan mereka terbentang sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pagar kayu sederhana—sebuah pos peristirahatan tua yang jarang dipakai. Di tengah lapangan itu berdiri sebuah kereta besar berwarna hitam pekat, ditarik oleh empat kuda perang berbulu hitam legam. Kereta itu bukan kereta biasa; dindingnya terbuat dari kayu ek tebal yang diperkuat pelat besi, jendelanya kecil dan berjeruji, dan di atapnya terpampang lambang naga hitam yang sama dengan yang ada di pelindung bahu Kael.
Di sekitar kereta, enam prajurit berjubah hitam berdiri tegak, tangan mereka sudah siap di gagang pedang. Mereka tidak bergerak saat Kael dan Liora muncul, tapi mata mereka mengikuti setiap gerakan gadis berambut perak itu dengan waspada.
Kael berhenti di depan pintu kereta, membukanya dengan satu tarikan. Di dalamnya gelap, hanya diterangi lampu minyak kecil yang bergoyang pelan.
“Masuk,” katanya singkat.
Liora ragu. Dia menoleh ke belakang, ke arah hutan yang kini terlihat semakin jauh. Desa Eldwood ada di sana, bersama Ibu Mira, bersama kehidupan yang selama ini dia kenal. Sekarang semuanya terasa seperti mimpi yang mulai pudar.
“Apa kau akan membunuhku di dalam sana?” tanyanya, suaranya lebih tegas daripada yang dia rasakan.
Kael memandangnya lama. “Jika aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak di batu Penjaga tadi.”
Itu bukan jawaban yang menenangkan, tapi cukup untuk membuat Liora melangkah maju. Dia naik ke dalam kereta dengan kaki gemetar. Interiornya lebih mewah daripada yang dia bayangkan: kursi kulit hitam empuk, karpet tebal berwarna merah darah, dan sebuah meja kecil di tengah dengan botol anggur serta dua gelas kristal. Bau kayu manis dan logam samar memenuhi udara.
Kael masuk setelahnya, menutup pintu dengan bunyi keras yang membuat Liora tersentak. Kereta bergoyang pelan saat prajurit di luar mulai bergerak. Terdengar suara cambuk ringan, lalu kuda-kuda mulai berderap. Kereta bergerak maju, meninggalkan pos peristirahatan dan memasuki jalan tanah menuju selatan.
Liora duduk di salah satu kursi, tangannya masih menggenggam liontin erat-erat. Kael duduk di seberangnya, membuka jubahnya sedikit agar lebih nyaman. Di bawah jubah itu terlihat baju zirah ringan berwarna gelap, dengan pedang hitamnya tergantung di pinggang.
Untuk beberapa menit, hanya suara roda kereta yang bergesekan dengan tanah dan derap kuda yang terdengar.
Akhirnya, Liora tidak tahan lagi.
“Kenapa kau?” tanyanya tiba-tiba. “Kenapa bukan prajurit biasa? Kenapa justru kau yang dikirim untuk menjemputku?”
Kael memandang ke jendela kecil, ke hutan yang berlalu di luar. “Karena sumpahku.”
“Sumpah apa lagi?” Liora mendengus. “Kau bilang kau terikat untuk melindungiku. Tapi keluargamu—”
“Keluargaku sudah membayar harga atas pengkhianatan itu,” potong Kael tajam. Matanya kembali menatap Liora, kali ini lebih gelap. “Ayahku mati di medan perang terakhir, dibunuh oleh naga yang seharusnya dia kendalikan. Ibuku… meninggal karena kutukan darah yang sama yang mengalir di nadimu. Aku satu-satunya yang tersisa dari garis Draven.”
Liora terdiam. Dia tidak menyangka jawaban itu akan begitu… pribadi.
“Jadi kau benci darah bulan?” tanyanya pelan.
“Bukan benci,” jawab Kael. “Aku takut padanya. Karena aku tahu apa yang bisa dilakukannya. Dan aku tahu apa yang akan terjadi jika kekuatan itu jatuh ke tangan yang salah.”
Liora menunduk, memandang liontin di tangannya. “Aku bahkan tidak tahu cara mengendalikannya. Tadi pagi di sungai… itu pertama kalinya. Aku cuma menyentuh air, lalu semuanya terjadi begitu saja.”
Kael mengangguk pelan. “Itu normal. Darah bulan terbangun secara bertahap, biasanya dipicu oleh emosi kuat atau ancaman. Getaran yang kau rasakan adalah panggilan pertama dari naga-naga kuno. Mereka merasakan kebangkitan pewaris, dan mereka ingin merebut kekuatannya kembali.”
“Untuk apa?”
“Untuk membalas dendam atas kekalahan mereka di Perang Seratus Tahun. Naga pernah menjadi sekutu kekaisaran, tapi setelah pengkhianatan—yang melibatkan garis keturunan Draven—mereka disegel di bawah tanah. Darah bulan adalah kunci penyegelan itu. Dan juga kunci untuk membebaskannya.”
Liora merasa dingin merayap di punggungnya. “Jadi aku… s*****a? Atau bom waktu?”
Kael tidak langsung menjawab. Dia menuang anggur ke dua gelas, lalu mendorong satu ke arah Liora. “Minum. Kau terlihat pucat.”
Liora memandang gelas itu curiga. “Beracun?”
Kael mengambil gelasnya sendiri, meneguk setengahnya dalam sekali telan. “Jika aku ingin meracuni pewaris tahta, aku tidak akan repot-repot membawamu ke ibukota.”
Liora mengambil gelas itu dengan tangan gemetar. Anggurnya manis, hangat, dan sedikit pahit di ujung lidah. Dia meneguk pelan, berusaha menenangkan diri.
“Berapa lama perjalanan ke ibukota?” tanyanya setelah beberapa saat.
“Tiga hari jika cuaca baik. Empat jika hujan. Jalan utama ke selatan cukup aman, tapi kita harus melewati Hutan Bayangan dan Sungai Astral. Ada kemungkinan serangan kecil dari bandit atau… hal lain.”
“Hal lain seperti apa?”
Kael memandang ke luar jendela lagi. “Pemburu bayangan. Agen dari faksi yang tidak ingin pewaris tahta kembali. Atau naga muda yang sudah terbangun tapi belum sepenuhnya sadar. Mereka bisa merasakan darahmu dari jarak jauh.”
Liora menelan ludah. “Jadi aku seperti umpan hidup.”
“Lebih tepatnya, kau magnet hidup,” jawab Kael datar. “Itulah mengapa aku ada di sini. Sumpah darahku mengikatku untuk menjadi perisaimu. Jika kau terluka parah, aku juga akan merasakannya. Jika kau mati… aku mati bersamamu.”
Liora menatapnya terkejut. “Itu… gila.”
“Itu harga yang harus dibayar untuk menebus dosa leluhurku.”
Kereta bergoyang lebih keras saat memasuki jalan berbatu. Di luar, kabut mulai menipis, dan sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah-celah jendela.
Liora memandang Kael lebih lama. Pria ini dingin, ya. Tapi ada sesuatu di balik dingin itu—luka yang dalam, mungkin. Atau penyesalan yang tak pernah diucapkan.
“Kenapa kau tidak kabur saja dari sumpah itu?” tanyanya tiba-tiba. “Kau jenderal. Kau punya kekuasaan. Kenapa tidak tinggalkan semuanya?”
Kael tersenyum tipis—senyum pertama yang Liora lihat darinya, meski sangat samar.
“Karena jika aku kabur, naga-naga akan bangun tanpa kendali. Dan kerajaan ini akan hancur. Aku mungkin benci takdir ini, tapi aku tidak benci rakyatnya.”
Liora terdiam. Kata-kata itu terdengar tulus, meski diucapkan dengan nada datar.
Tiba-tiba, kereta berhenti mendadak. Kuda-kuda meringkik keras. Terdengar suara teriakan dari luar.
Kael langsung berdiri, tangannya sudah di gagang pedang.
“Apa itu?” bisik Liora.
Kael membuka pintu kereta sedikit, mengintip keluar.
Di depan mereka, jalan diblokir oleh pohon besar yang tumbang—terlalu rapi untuk dikatakan alamiah. Dari balik pepohonan, muncul enam sosok berjubah abu-abu, wajah mereka tertutup topeng burung hantu.
“Pemburu bayangan,” gumam Kael. “Mereka tahu kau di sini.”
Liora merasakan liontin di tangannya mulai panas lagi. Cahaya perak samar muncul di ujung jarinya.
Kael menoleh padanya. “Tetap di dalam. Jangan keluar apa pun yang terjadi.”
“Tapi—”
“Jangan keluar,” ulang Kael tegas. Matanya bertemu dengan mata Liora sejenak—ada sesuatu di sana, bukan hanya perintah, tapi hampir seperti… kekhawatiran.
Lalu dia melompat keluar, pintu kereta ditutup kembali dengan keras.
Di luar, terdengar denting pedang, jeritan, dan suara angin yang tiba-tiba kencang.
Liora duduk diam, jantungnya berdegup kencang. Dia memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi di sungai tadi pagi. Kekuatan itu ada di dalam dirinya. Dia hanya perlu… memanggilnya.
Tangan kanannya terangkat pelan. Cahaya perak mulai mengalir lebih terang, membentuk bola kecil di telapak tangannya.
Di luar, suara pertarungan semakin sengit.
Dan di dalam d**a Liora, sesuatu yang selama ini tertidur mulai menggeliat lebih kuat lagi.
Dia tidak tahu apakah dia siap.
Tapi dia tahu satu hal: dia tidak akan membiarkan dirinya mati begitu saja di hari pertama takdir barunya dimulai.