Bab 2: Bayang Hitam di Ambang Pintu
Hutan pinus Eldwood bukan tempat yang ramah bagi pelarian. Pohon-pohonnya tumbuh terlalu rapat, cabang-cabang rendah saling bertaut seperti jaring laba-laba raksasa, dan tanah di bawahnya tertutup jarum pinus yang licin dan berlapis es tipis. Setiap langkah Liora mengeluarkan suara berderit yang terlalu keras di telinganya sendiri. Napasnya tersengal, bukan hanya karena lari, tapi karena ketakutan yang menyesakkan d**a.
Dia tidak tahu ke mana harus pergi. Hutan ini luas, tapi bukan tak berujung—di sebelah utara ada pegunungan yang terlalu curam untuk didaki sendirian, di timur ada rawa yang bisa menelan orang tanpa jejak. Yang tersisa hanyalah berlari ke arah selatan, menjauh dari desa, menjauh dari suara kuda perang yang semakin dekat.
Liontin bulan sabit masih tergenggam erat di tangannya. Logamnya terasa hidup, hangat seperti denyut nadi kedua. Setiap kali jarinya menyentuh permukaannya, cahaya perak samar muncul di kulitnya, lalu padam lagi seolah takut terlihat. Liora tidak tahu apakah itu membantu atau justru menandainya seperti obor di kegelapan.
Di belakangnya, suara anjing pemburu mulai terdengar. Bukan gonggongan biasa—ini raungan terlatih, ganas, dan terarah. Mereka sudah dilepas.
Liora tersandung akar pohon, jatuh berlutut. Jarum pinus menusuk telapak tangannya, tapi rasa sakit itu nyaris tak terasa dibandingkan panik yang membanjiri pikirannya. Dia bangkit lagi, berlari lebih cepat, meski kakinya mulai gemetar.
Tiba-tiba, hutan terbuka menjadi sebuah celah kecil di antara pepohonan. Di tengahnya ada sebuah batu besar berlumut, setinggi dua manusia dewasa, dengan permukaan yang anehnya halus seperti dipahat. Di atas batu itu, terukir simbol kuno: lingkaran dengan bulan sabit di tengah, dikelilingi pola seperti sisik naga.
Liora berhenti sejenak, terpaku. Dia pernah melihat simbol itu—di liontinnya, di mimpi-mimpi buruk yang kadang datang saat bulan purnama. Tanpa sadar, tangannya terangkat, menyentuh ukiran itu.
Seketika, dunia seolah berhenti bernapas.
Cahaya perak meledak dari telapak tangannya, merambat ke seluruh permukaan batu. Ukiran bulan sabit menyala terang, dan dari celah-celah batu muncul hembusan angin dingin yang membawa aroma logam dan abu. Tanah di bawah kakinya bergetar lagi, lebih kuat dari sebelumnya.
Liora menarik tangannya dengan cepat, tapi sudah terlambat.
Dari balik pepohonan, suara kuda berhenti. Langkah sepatu bot berat mendekat—satu orang saja, bukan seluruh pasukan. Liora mundur perlahan, punggungnya menempel pada batu besar itu.
Seorang pria muncul dari bayang-bayang.
Tinggi, bahu lebar, jubah hitam panjangnya berkibar pelan meski angin hampir tak bertiup. Rambut hitamnya terikat longgar di belakang, beberapa helai jatuh menutupi sebagian wajahnya yang tajam. Matanya—abu-abu seperti baja dingin—menatap Liora tanpa kedip, seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya.
Kael Draven.
Liora pernah mendengar namanya dari cerita para pedagang dan petani yang lewat. “Naga Hitam”, begitu mereka memanggilnya. Jenderal termuda yang pernah memimpin pasukan kerajaan, pembantai terakhir dari garis keturunan Draven yang konon menghianati Kaisar Terakhir di medan perang terakhir. Banyak yang bilang dia tidak punya hati—hanya sumpah dan pedang.
Dan sekarang dia berdiri di depannya, hanya berjarak sepuluh langkah.
“Kau,” suara Kael rendah, dingin, tapi ada getaran halus di dalamnya—seperti seseorang yang menahan emosi besar. “Liora Yue.”
Liora menelan ludah. “Aku tidak kenal nama itu.”
Kael melangkah maju satu langkah. Cahaya dari batu di belakang Liora memantul di pelindung bahunya yang berukir naga hitam. “Jangan bohong. Darah bulan tidak bisa disembunyikan. Aku merasakannya sejak tiba di desa ini.”
Liora mundur hingga punggungnya benar-benar menempel batu. “Pergi. Aku tidak mau ikut siapa pun.”
“Sayangnya,” Kael menarik pedangnya setengah dari sarungnya—bilahnya hitam pekat, seolah menyerap cahaya, “kau tidak punya pilihan. Dewan Istana sudah memerintahkan. Pewaris tahta harus dibawa kembali, hidup atau mati.”
“Mati?” Liora tertawa getir, meski suaranya bergetar. “Jadi itu rencanamu? Membunuhku seperti yang leluhurmu lakukan pada ayahku?”
Mata Kael menyipit. Untuk sesaat, sesuatu melintas di wajahnya—sakit, atau mungkin kemarahan yang terkubur dalam. Tapi ekspresinya kembali datar seketika.
“Aku tidak membunuh wanita yang tidak bersenjata,” katanya pelan. “Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu lari. Naga-naga sudah bangun. Getaran yang kau rasakan tadi pagi bukan kebetulan. Darahmu memanggil mereka. Dan jika kau tidak dikendalikan, mereka akan menghancurkan segalanya—termasuk desamu.”
Liora memandang ke arah desa. Asap tipis masih naik dari cerobong pondok-pondok. Ibu Mira ada di sana. Orang-orang yang membesarkannya ada di sana.
“Kalau aku ikut… apa yang akan terjadi pada mereka?” tanyanya lirih.
Kael diam sejenak. “Mereka aman selama kau patuh. Dewan tidak tertarik pada desa kecil ini.”
Liora menatap liontin di tangannya. Cahaya peraknya kini lebih stabil, seolah menunggu perintah. Dia bisa merasakan kekuatan itu—hangat, kuat, tapi juga liar, seperti binatang yang baru terbangun dari tidur panjang.
“Aku tidak percaya padamu,” katanya tegas. “Kau Draven. Keluargamu menghancurkan keluargaku.”
Kael menghela napas pelan, hampir tak terdengar. “Itu benar. Ayahku… melakukan apa yang dia lakukan karena perintah. Karena sumpah yang mengikatnya pada naga-naga kuno. Tapi aku bukan ayahku.”
Dia melangkah lebih dekat lagi. Liora bisa mencium bau logam dan kayu bakar dari jubahnya—bau seorang prajurit yang baru saja bertempur.
“Aku terikat sumpah darah baru,” lanjut Kael. “Sumpah untuk melindungi pewaris tahta Astralis, siapa pun dia. Bahkan jika itu kau.”
Liora tertawa kecil, getir. “Melindungi? Atau mengawasi? Aku tahu cerita tentangmu. Kau tidak pernah gagal menjalankan perintah.”
Kael tidak menjawab langsung. Dia memandang liontin di tangan Liora, lalu ke batu berukir di belakangnya.
“Batu Penjaga Bulan,” gumamnya. “Sudah lama tidak aktif. Kau membangunkannya hanya dengan sentuhan.”
Liora menunduk. “Aku tidak sengaja.”
“Itu tidak masalah. Yang penting adalah apa yang akan terjadi selanjutnya.” Kael menyarungkan pedangnya kembali. Gerakannya lambat, disengaja—seolah memberi Liora kesempatan untuk percaya. “Ikut aku sekarang, atau aku terpaksa membawamu dengan paksa. Pilihanmu.”
Liora memandang ke hutan gelap di belakangnya. Dia bisa lari lagi. Tapi dia tahu—anjing-anjing itu akan menemukannya. Pasukan itu akan menemukannya. Dan jika naga benar-benar bangun karena darahnya… berapa banyak nyawa yang akan hilang?
Dia menarik napas dalam-dalam.
“Aku ikut,” katanya akhirnya, suaranya hampir pecah. “Tapi dengan syarat.”
Kael mengangkat alis. “Syarat?”
“Lindungi desa ini. Lindungi Ibu Mira. Jika satu rambut pun rontok dari kepalanya karena aku… aku akan membunuhmu sendiri. Dengan kekuatan apa pun yang ada di dalam diriku.”
Untuk pertama kalinya, sesuatu yang mirip senyum tipis muncul di bibir Kael—bukan senyum ramah, tapi pengakuan atas keberanian.
“Kesepakatan,” jawabnya.
Dia mengulurkan tangan, telapaknya terbuka.
Liora menatap tangan itu lama sekali. Tangan seorang pembunuh. Tangan seorang pelindung. Tangan yang kini menjadi jembatan antara masa lalunya yang sederhana dan takdir yang tak diinginkannya.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, dia meletakkan tangannya di atas tangan Kael.
Saat kulit mereka bersentuhan, getaran kecil terjadi lagi—bukan dari tanah, tapi dari dalam diri mereka berdua. Cahaya perak dari liontin Liora melompat ke pelindung bahu Kael, membentuk pola sisik naga yang menyala sejenak sebelum padam.
Kael menarik tangannya perlahan. Matanya menatap Liora dengan intensitas baru.
“Ayo,” katanya. “Kereta sudah menunggu di pinggir hutan. Kita harus sampai ke ibukota sebelum fajar besok.”
Liora mengangguk, meski dadanya terasa sesak.
Saat mereka berjalan keluar dari celah batu itu, Liora menoleh sekali lagi ke arah desa. Asap tipis masih naik, tapi kini disertai suara samar—jeritan? Atau hanya angin?
Dia tidak tahu.
Yang dia tahu hanyalah satu hal: hidupnya sebagai Liora dari Eldwood sudah berakhir.
Dan hidup sebagai Liora Yue—Putri Bulan yang hilang—baru saja dimulai.
Di kejauhan, dari arah pegunungan utara, raungan naga terdengar lagi. Lebih dekat. Lebih marah.
Dan kali ini, raungan itu seolah memanggil namanya.