Bab 4: Darah dan Cahaya di Jalan Berbatu
Suara denting pedang di luar kereta terdengar seperti lonceng kematian yang tak beraturan. Liora duduk kaku di kursi kulit, tangannya mengepal liontin hingga logamnya menekan telapak hingga terasa sakit. Bola cahaya perak kecil yang tadi dia panggil masih melayang di atas telapak tangannya, bergetar pelan seperti nyala lilin yang hampir padam. Dia tidak tahu cara memperbesarnya, tapi dia bisa merasakan panasnya—seperti darah yang mendidih di dalam urat-uratnya.
Di luar, teriakan pertama terdengar.
“Serang dari kiri! Mereka punya panah beracun!”
Itu suara salah satu prajurit Kael. Lalu suara busur yang ditarik, desing anak panah, dan jeritan pendek yang terpotong tiba-tiba.
Liora menelan ludah. Dia ingin membuka pintu, ingin melihat apa yang terjadi, tapi kata-kata Kael masih bergema di kepalanya: “Jangan keluar apa pun yang terjadi.”
Tapi dia bukan anak kecil lagi. Dia bukan gadis desa yang bisa bersembunyi di balik rok Ibu Mira. Jika dia mati di sini, tanpa melakukan apa-apa, maka semua yang dikatakan Ibu Mira tentang takdirnya akan sia-sia.
Dia menarik napas dalam-dalam. Cahaya perak di telapak tangannya membesar sedikit, seolah merespons tekadnya.
Tiba-tiba, pintu kereta terbuka dengan keras. Seorang pria bertopeng burung hantu melompat masuk, pisau pendek di tangannya berkilau di bawah cahaya lampu minyak. Matanya di balik topeng itu liar, penuh nafsu membunuh.
“Pewaris bulan,” desisnya. “Akhirnya.”
Liora mundur hingga punggungnya menempel dinding kereta. Cahaya di tangannya berkedip lebih terang.
Pria itu melompat maju, pisau diarahkan ke d**a Liora.
Insting mengambil alih.
Liora mengangkat tangan kanannya. Cahaya perak meledak keluar seperti gelombang, bukan bola kecil lagi—melainkan hembusan angin bercahaya yang mendorong pria itu ke belakang. Tubuhnya menghantam dinding kereta dengan bunyi keras, pisau terlepas dari tangannya, dan dia terjatuh ke luar melalui pintu yang masih terbuka.
Liora terengah-engah. Tubuhnya gemetar hebat. Rasa lelah tiba-tiba menyerang, seperti seseorang baru saja menguras tenaganya dalam sekejap.
Di luar, pertarungan masih berlangsung sengit. Kael bergerak seperti bayangan—pedang hitamnya menebas dengan presisi mengerikan. Satu pemburu jatuh dengan leher terbelah, yang lain terlempar ke pohon hingga tulangnya retak terdengar. Tapi mereka banyak. Terlalu banyak untuk satu orang, meski orang itu adalah Naga Hitam.
Liora melihat Kael terhuyung mundur saat sebuah anak panah menggores lengannya. Darah merah gelap menetes dari luka itu, tapi dia tidak berhenti. Dia membalikkan badan, menebas panah berikutnya di udara, lalu menusuk pemburu yang mendekat dari belakang.
Tapi Liora melihat ada yang salah. Gerakan Kael mulai melambat—bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu yang memengaruhi lukanya. Anak panah itu beracun.
Liora merasakan nyeri samar di lengannya sendiri, seolah lukanya ikut terasa. Sumpah darah, pikirnya. Jika Kael terluka parah, dia juga akan merasakannya.
Dia tidak bisa hanya duduk diam.
Dengan kaki gemetar, Liora melompat keluar dari kereta. Udara dingin langsung menyergap wajahnya. Di sekitarnya, tiga prajurit Kael sudah tergeletak—satu dengan panah di d**a, dua lainnya dengan luka tusuk. Sisanya masih bertarung, tapi kalah jumlah.
Kael berada di tengah, dikelilingi empat pemburu. Pedangnya bergerak cepat, tapi napasnya mulai tersengal. Darah menetes dari lengan kirinya, membuat gerakannya kurang presisi.
Salah satu pemburu—yang tampaknya pemimpin, topengnya berukir burung hantu emas—tertawa kecil.
“Jenderal Draven… kau sudah lemah. Sumpah darah itu membuatmu rapuh. Serahkan gadis itu, dan kami mungkin membiarkanmu hidup.”
Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya melompat maju, pedangnya menebas leher pemimpin itu. Tapi sebelum bilah menyentuh, pemburu lain menusuk dari samping—pisau beracun menusuk pinggang Kael.
Kael terhuyung. Pedangnya jatuh ke tanah.
Liora merasakan sakit menusuk di pinggangnya sendiri. Napasnya tersendat. Dunia seolah berputar.
“Tidak…” bisiknya.
Cahaya perak di tangannya meledak lagi—kali ini lebih kuat, lebih liar. Seperti sungai cahaya yang meluap dari tubuhnya. Gelombang itu menyapu seluruh area pertarungan, menyentuh setiap pemburu bayangan.
Mereka berhenti bergerak. Tubuh mereka membeku seolah waktu terhenti. Lalu, satu per satu, mereka jatuh berlutut, mata di balik topeng melebar ketakutan.
Liora tidak tahu apa yang dia lakukan. Dia hanya merasakan kemarahan—kemarahan karena desanya terancam, karena Ibu Mira sendirian, karena Kael yang seharusnya musuhnya kini terluka demi melindunginya.
Cahaya itu merambat ke tubuh Kael. Luka di pinggang dan lengannya mulai menutup perlahan, darah berhenti mengalir. Napasnya menjadi lebih teratur.
Pemburu yang tersisa berusaha lari, tapi cahaya itu mengejar mereka seperti rantai tak terlihat. Mereka jatuh satu per satu, tak sadarkan diri—bukan mati, tapi lumpuh total.
Lalu, semuanya berhenti.
Cahaya perak padam seketika.
Liora jatuh berlutut. Dunia gelap di pinggir pandangannya. Tubuhnya terasa ringan, lalu berat, lalu tak berasa apa-apa.
Kael berlutut di depannya, wajahnya pucat tapi matanya tajam.
“Kau… bodoh,” katanya pelan, suaranya serak. “Aku bilang tetap di dalam.”
Liora tersenyum lemah. “Kau juga bodoh… kalau mati di sini, aku ikut mati kan?”
Kael tidak menjawab. Dia hanya mengangkat Liora dengan hati-hati, satu tangan di bawah lututnya, satu lagi di punggungnya. Tubuh gadis itu ringan seperti bulu di pelukannya.
Dia membawanya kembali ke kereta, meletakkannya di kursi kulit. Lalu dia berlutut di depannya, memeriksa denyut nadi di leher Liora.
“Masih hidup,” gumamnya pada diri sendiri.
Di luar, prajurit yang selamat mulai membersihkan mayat—tidak semua pemburu mati, tapi yang selamat diikat dan diborgol. Pohon tumbang itu didorong ke pinggir jalan dengan tenaga kuda.
Kael kembali ke dalam kereta, menutup pintu. Dia duduk di seberang Liora, memandang wajah gadis yang pingsan itu lama sekali.
Rambut peraknya tersebar di kursi seperti aliran air bulan. Kulitnya pucat, tapi ada kilau samar di sana—sisa kekuatan yang baru saja dia lepaskan.
Kael menghela napas panjang. Tangannya terulur, ragu-ragu, lalu menyentuh pipi Liora dengan punggung jarinya. Dingin. Tapi hangat di bawahnya.
“Kenapa kau harus melakukan itu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Kenapa kau harus menyelamatkanku?”
Dia menarik tangannya kembali, mengepalkan tinju.
Kereta mulai bergerak lagi. Roda bergesekan dengan tanah berbatu, membawa mereka lebih jauh ke selatan.
Di dalam d**a Kael, sesuatu bergerak—bukan sumpah darah, bukan kewajiban. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Rasa syukur.
Dan mungkin, awal dari sesuatu yang lebih dalam.
Liora menggeliat pelan dalam tidurnya yang tak sadar. Bibirnya bergerak, seolah memanggil nama seseorang.
“Ibu… Mira…”
Kael memandang ke luar jendela. Matahari sudah tinggi sekarang. Jalan di depan masih panjang.
Tapi untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, dia merasa bukan hanya menjalankan perintah.
Dia merasa… bertanggung jawab.
Dan itu lebih menakutkan daripada pertarungan apa pun yang pernah dia hadapi.