Bab 1: Getaran di Bawah Bintang
Desa Eldwood terletak di ujung paling utara Kerajaan Astralis, tempat di mana hutan pinus hitam bertemu dengan pegunungan yang selalu diselimuti kabut. Di sini, musim dingin datang lebih awal dan pergi lebih lambat daripada di mana pun di kerajaan. Orang-orang desa hidup dengan ritme sederhana: bangun sebelum fajar, memotong kayu, menjaga ternak, dan tidur saat matahari tenggelam. Tak ada yang peduli pada rumor tentang istana, tentang naga yang konon masih tidur di bawah tanah, atau tentang pewaris tahta yang hilang sejak Perang Seratus Tahun berakhir.
Liora Yue adalah salah satu dari mereka—orang biasa, setidaknya begitulah yang dia yakini selama sembilan belas tahun hidupnya.
Pagi itu, seperti biasa, Liora bangun ketika langit masih gelap keunguan. Dia menyalakan lentera kecil di sudut pondok kayu yang sempit, lalu mengenakan mantel wol tebal yang sudah usang di bagian siku. Rambut perak kebiruannya yang panjang dia ikat longgar dengan tali kulit, meski beberapa helai selalu lepas dan menari-nari di depan matanya yang pucat seperti cahaya bulan.
“Sudah bangun, Nak?” suara Ibu Mira terdengar dari dapur kecil. Wanita tua itu sedang mengaduk bubur gandum di panci besi tuang. Bau kayu bakar dan madu liar memenuhi ruangan.
“Iya, Bu. Hari ini aku ke sungai dulu, ambil air dan cek jebakan ikan,” jawab Liora sambil mengambil ember kayu.
Ibu Mira mengangguk tanpa menoleh. “Hati-hati. Semalam aku dengar anjing-anjing desa menggonggong terus ke arah hutan. Katanya ada yang aneh di udara.”
Liora tersenyum kecil. “Mungkin serigala lagi turun dari pegunungan. Aku bawa pisau kecil kok.”
Dia keluar ke udara pagi yang menusuk tulang. Embun membeku menempel di rumput, membuat setiap langkahnya berderit pelan. Jalan setapak menuju sungai berliku di antara pohon-pohon pinus raksasa yang batangnya hitam legam karena lumut dan waktu. Liora berjalan cepat, napasnya membentuk kabut putih di depan mulut.
Sungai Eld yang mengalir di lembah kecil ini biasanya tenang, airnya jernih hingga dasar berbatu bisa terlihat. Tapi pagi ini berbeda.
Airnya bergetar.
Bukan getaran biasa seperti angin atau ikan yang melompat. Ini lebih dalam, seperti denyut jantung raksasa yang terperangkap di bawah tanah. Liora berhenti di tepi sungai, embernya hampir jatuh dari tangan.
Dia berlutut, menyentuh permukaan air dengan ujung jari. Dingin yang menusuk langsung merambat ke lengannya, tapi bukan dingin biasa—ada sesuatu yang hangat di dalamnya, seperti aliran cahaya yang tersembunyi. Saat jarinya menyentuh air, riak kecil muncul, lalu riak itu membesar menjadi lingkaran-lingkaran konsentris yang bercahaya samar keperakan.
Liora menarik tangannya dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang.
“Apa ini…?”
Dia pernah mendengar cerita dari para pedagang yang lewat desa: tentang darah bulan, tentang orang-orang yang bisa memanggil cahaya dari langit malam, tentang kutukan yang membuat mereka diburu. Tapi itu cerita untuk menakut-nakuti anak kecil, bukan?
Dia mencoba lagi, kali ini lebih berani. Dia menyelupkan kedua tangannya ke dalam air. Seketika, getaran itu terasa lebih kuat—seperti ada tali tak terlihat yang menghubungkan denyut di dadanya dengan sesuatu yang jauh di bawah tanah.
Cahaya perak tipis muncul dari telapak tangannya, merambat ke air seperti urat-urat cahaya. Sungai seolah bernapas; permukaannya naik-turun pelan, seirama dengan napas Liora sendiri.
Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya bergoyang.
Bukan gempa kecil. Ini lebih seperti gelombang yang datang dari kedalaman. Pohon-pohon di sekitar bergoyang, daun-daun berjatuhan seperti salju hitam. Liora terhuyung mundur, jatuh ke belakang hingga punggungnya membentur batu besar.
Di kejauhan, dari arah pegunungan utara, terdengar suara gemuruh rendah—bukan petir, bukan longsor. Lebih mirip… raungan.
Raungan yang dalam, kuno, dan sangat marah.
Liora bangkit dengan lutut gemetar. Dia memandang ke langit yang mulai terang. Bulan masih terlihat samar di ufuk barat, meski matahari sudah mulai muncul. Cahaya bulan itu seolah menatapnya balik.
“Bu Mira pasti khawatir kalau aku lama,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan hati. Tapi tangannya masih bergetar. Ada bekas cahaya perak samar di kulitnya, seperti tato yang muncul dan hilang seketika.
Dia mengambil ember, mengisinya dengan air yang kini terasa lebih berat dari biasanya, lalu bergegas pulang.
Sepanjang jalan kembali, angin terasa berbeda. Daun-daun berbisik lebih keras, burung-burung diam seolah menahan napas. Liora mempercepat langkah, hampir berlari.
Saat tiba di pondok, Ibu Mira sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat.
“Apa yang kau lakukan di sungai tadi?” tanya wanita tua itu dengan suara bergetar.
Liora mengerutkan kening. “Cuma ambil air seperti biasa. Kenapa, Bu?”
Ibu Mira melangkah maju, meraih tangan Liora, dan memeriksanya dengan teliti. “Kulitmu… ada bekasnya. Cahaya itu. Aku tahu tanda itu.”
Liora menarik tangannya pelan. “Bu, aku nggak ngerti. Sungainya aneh tadi, getar-getar, dan—”
“Jangan bohong pada dirimu sendiri lagi, Nak.” Ibu Mira menarik napas panjang. Matanya berkaca-kaca. “Aku sudah menunggu hari ini datang selama sembilan belas tahun. Sejak aku menemukanmu di tepi hutan, bayi kecil dengan rambut perak dan tanda bulan di dada.”
Liora merasa dunia berputar pelan. “Apa maksud Bu?”
Ibu Mira menarik Liora masuk ke dalam pondok, menutup pintu rapat, lalu menurunkan suara.
“Dua puluh tahun lalu, saat Perang Seratus Tahun berakhir, Kaisar Terakhir tewas di medan perang. Putrinya yang baru lahir—pewaris sah tahta—hilang. Banyak yang bilang dia mati bersama ibunya. Tapi ada yang bilang… dia diselamatkan. Disembunyikan. Dan dibesarkan jauh dari istana.”
Liora tertawa kecil, tapi suaranya pecah. “Bu, itu cuma dongeng. Aku cuma anak yatim piatu yang—”
Ibu Mira menggeleng. Dia berjalan ke peti kayu tua di sudut ruangan, membukanya, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain usang.
Di dalamnya ada liontin kecil berbentuk bulan sabit, terbuat dari perak murni yang memantulkan cahaya lentera dengan kilau lembut. Di belakang liontin terukir huruf kuno Astralis: “Yue”.
“Itu nama ibumu,” kata Ibu Mira pelan. “Kau bukan Liora biasa. Kau Liora Yue, Putri Bulan yang hilang.”
Liora menatap liontin itu lama sekali. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di d**a.
“Tapi… kenapa sekarang? Kenapa tiba-tiba—”
“Karena mereka sudah bangun,” jawab Ibu Mira dengan suara hampir tak terdengar. “Naga-naga kuno. Aku dengar raungannya tadi pagi. Dan getaran itu… itu panggilan darahmu. Darah bulan yang mereka inginkan kembali.”
Liora mundur selangkah. “Aku nggak mau. Aku nggak mau jadi apa-apa selain Liora dari Eldwood.”
Ibu Mira memegang bahu Liora erat-erat. “Sayang, kau sudah tidak punya pilihan lagi. Mereka akan datang mencarimu. Baik naga, maupun manusia yang menginginkan kekuatan itu untuk diri sendiri.”
Di luar pondok, suara derap kuda terdengar mendekat. Bukan kuda petani—ini kuda perang, berat dan terlatih.
Ibu Mira membeku. “Mereka sudah tahu.”
Liora menoleh ke jendela kecil. Di kejauhan, sekelompok penunggang kuda berjubah hitam mendekat dengan cepat. Di antara mereka, seorang pria tinggi dengan rambut hitam panjang dan mata dingin seperti besi terpampang jelas. Jubahnya bergambar naga hitam yang melingkar.
Jenderal Kael Draven—nama yang bahkan sampai ke desa terpencil ini terdengar seperti legenda buruk.
Dia adalah pembantai terakhir dari garis keturunan yang menghancurkan keluarga kekaisaran dulu. Dan sekarang, dia datang ke Eldwood.
Liora merasakan liontin di tangannya mulai hangat. Cahaya perak samar muncul lagi di kulitnya.
Ibu Mira mendorong Liora ke belakang. “Sembunyi di hutan. Aku akan tahan mereka sebisa mungkin.”
“Tapi Bu—”
“Pergi!” bentak Ibu Mira, suaranya penuh air mata. “Hidupmu lebih penting daripada hidupku. Pergi sekarang!”
Liora menatap wanita yang selama ini dia anggap ibu sejati. Air mata mengalir di pipinya.
“Aku akan kembali,” bisiknya. “Aku janji.”
Lalu dia berlari keluar pintu belakang, menuju hutan pinus yang gelap.
Di belakangnya, suara kuda berhenti tepat di depan pondok. Suara langkah sepatu bot berat terdengar mendekat.
Dan di dalam d**a Liora, sesuatu yang selama ini tertidur mulai terbangun sepenuhnya.
Cahaya bulan.
Darah pewaris.
Dan takdir yang tak bisa lagi dia hindari.