Surell perpanjangan cuti itu berhasil terkirim. Namun, saat Tara duduk di atas sofa vilanya malam itu, menatap layar laptop yang menampilkan tulisan 'Sent', ia tidak merasakan kelegaan sedikit pun.
Pikirannya tertinggal di lorong sempit The Driftwood.
Tara menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari yang gemetar. Sensasi napas hangat Julian, aroma kopi yang bercampur dengan musk maskulin, dan tatapan mata gelap yang sarat akan gairah itu terus memutar ulang di kepalanya seperti kaset rusak. Ia nyaris mencium pria itu. Dan yang lebih parah, ia menginginkannya. Ia menginginkannya dengan keputusasaan yang membuatnya merasa seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri.
Dua hari berlalu sejak insiden hampir-berciuman itu, dan dinamika mereka kembali bergeser. Kali ini, mereka tidak saling melempar sindiran, melainkan saling menghindar seperti dua orang yang menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas ladang ranjau.
Jika Tara berjalan ke arah pantai pada pagi hari, Julian akan menahan diri di dalam bar. Jika Julian sedang memperbaiki atap berandanya di sore hari, Tara akan menutup tirai jendela vilanya rapat-rapat. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa satu sentuhan lagi, satu tatapan yang terlalu lama, akan menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang mereka miliki.
Sabtu malam kembali tiba. Suara musik live dan deru kendaraan pelanggan The Driftwood kembali memecah kesunyian pesisir.
Namun malam ini, Tara menolak untuk mencari pelarian di sudut bar itu. Ia tidak percaya pada pertahanannya sendiri jika harus berada dalam satu ruangan dengan Julian. Sebagai gantinya, Tara mengenakan kardigan tebal di atas kaus tidurnya, membuka pintu belakang vilanya, dan melangkah keluar menuju pantai yang gelap.
Ia berjalan menjauh dari arah bar, menyusuri garis pantai di mana cahaya lampu sudah tidak mampu menjangkau. Udara malam terasa dingin menggigit, namun deburan ombak yang ritmis memberikan ketenangan ilusioner. Tara melepaskan sandalnya, membiarkan pasir basah dan buih ombak menyapu telapak kakinya.
Di sinilah ia, Tara sang wanita karier yang selalu memiliki kendali atas dunia, kini terombang-ambing oleh masa lalu yang datang menagih utang, dan masa depan yang hancur berantakan.
"Berjalan sendirian di pantai gelap tanpa penerangan bukanlah keputusan yang cerdas untuk seorang pendatang."
Suara bariton itu menembus suara ombak, menghentikan langkah Tara seketika.
Tara menoleh. Dari balik bayang-bayang tebing karang, sosok jangkung Julian melangkah mendekat. Pria itu mengenakan kemeja flanel gelap yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus putih di baliknya. Matanya menangkap pantulan samar cahaya bulan, menatap Tara dengan intensitas yang membuat napas wanita itu kembali tercekat.
"Bar sedang ramai. Kenapa kau ada di sini?" tanya Tara pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar.
"Aku punya karyawan untuk mengurus bar," jawab Julian datar. Pria itu menghentikan langkahnya sekitar satu meter dari Tara, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya. "Aku melihatmu berjalan ke arah tebing dari jendela belakang. Arus di sekitar sini berbahaya saat malam, Tara. Pasangnya bisa naik tiba-tiba."
Tara memalingkan wajah, menatap ke arah lautan gelap. "Aku hanya butuh udara segar. Kau tidak perlu terus-terusan bertindak sebagai penjagaku, Julian. Aku bukan anak kecil."
"Aku tahu kau bukan anak kecil," Julian membalas dengan cepat, suaranya merendah dan berubah serak. "Jika kau anak kecil, segalanya akan jauh lebih mudah bagiku."
Kata-kata itu menggantung di udara malam yang dingin, sarat akan makna ganda yang berbahaya. Tara menelan ludah. Ia memeluk tubuhnya sendiri, tiba-tiba merasa kedinginan bukan karena angin laut, melainkan karena getaran emosi yang memancar dari pria di hadapannya.
"Kita saling menghindar selama dua hari," ucap Tara akhirnya, memilih untuk memecah kebisuan dengan kejujuran yang telanjang. Ia menatap Julian kembali. "Kau tahu apa yang hampir terjadi sore itu."
Julian mengeras. Rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menonjol. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Tara harus mendongak untuk menatap wajahnya.
"Tentu saja aku tahu," desis Julian, suaranya nyaris terdengar seperti geraman frustrasi. "Kau pikir aku bisa tidur selama dua malam terakhir? Kau pikir aku bisa menuang minuman tanpa membayangkan bagaimana rasanya menyentuhmu lagi?"
Mata Tara membulat, terkejut oleh pengakuan yang begitu blak-blakan dan kasar itu. "Julian..."
"Jangan sebut namaku dengan suara seperti itu, Tara," Julian mengangkat satu tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Tara, namun ia menahannya di udara dengan tangan yang gemetar, lalu mengepalkannya dengan kuat dan menjatuhkannya kembali ke sisi tubuh. "Gencatan senjata ini adalah ide terburuk yang pernah kubuat. Membiarkanmu dekat denganku, membiarkanmu menatapku dengan mata itu... itu membunuhku perlahan-lahan."
Tara merasakan dadanya serasa diremas. Luka masa lalu dan hasrat masa kini berbenturan begitu keras.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" suara Tara pecah, setetes air mata lolos tanpa izin. "Aku tidak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahanku. Aku tahu aku menghancurkanmu. Tapi aku di sini sekarang. Hancur, tersesat, dan... dan aku sangat merindukanmu hingga rasanya aku tidak bisa bernapas."
Pengakuan itu akhirnya keluar. Kalimat yang selama sepuluh tahun ia kubur dalam-dalam demi ambisi. Keheningan pesisir seketika terasa menyedot seluruh udara.
Napas Julian terhenti. Pria itu menatap Tara dengan sorot mata yang dipenuhi keterkejutan, rasa sakit, dan kelaparan yang tak tertahankan. Pertahanan baja yang ia bangun selama sepuluh tahun retak tak bersisa hanya karena satu kalimat dari wanita yang pernah menghancurkannya.
Detik berikutnya, Julian membuang semua logikanya.
Pria itu melangkah maju, memangkas sisa jarak di antara mereka, dan mencengkeram kedua lengan atas Tara dengan kuat. Ia menarik tubuh wanita itu hingga d**a mereka bersentuhan. Aroma laut, wiski, dan keringat Julian langsung menelan kewarasan Tara.
"Kau merindukanku," bisik Julian dengan suara parau yang bergetar hebat di telinga Tara. "Kau membuangku seperti sampah sepuluh tahun lalu, dan sekarang kau datang ke pesisirku, mengacaukan kewarasanku, lalu bilang kau merindukanku?"
"Julian, aku menyesal..." Tara terisak pelan, mendongak menatap mata pria itu. "Aku sangat menyesal."
Tatapan Julian turun ke bibir Tara, lalu kembali menatap matanya dengan intensitas yang membakar. Tangannya melepaskan cengkeraman di lengan Tara, bergerak naik dengan kasar menelusuri leher wanita itu, jempolnya mengusap rahang Tara dengan sentuhan yang posesif dan putus asa.
"Aku seharusnya membencimu," gumam Julian, bibirnya kini berjarak kurang dari satu sentimeter dari bibir Tara. Napasnya menyapu kulit wajah wanita itu, panas dan memabukkan. "Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah menyentuhmu lagi."
"Kalau begitu lepaskan aku," bisik Tara, menantang, meski kedua tangannya justru secara refleks mencengkeram kemeja flanel pria itu, menolak untuk melepaskan.
Julian mendengus sinis, sebuah tawa yang sarat akan kekalahan. "Aku tidak bisa."
Dan tanpa peringatan lagi, Julian menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka.
Ciuman itu jauh dari kata lembut. Itu adalah ciuman yang lahir dari akumulasi amarah, keputusasaan, dan hasrat yang ditekan selama satu dekade. Bibir Julian melumat bibir Tara dengan kasar dan menuntut, seolah pria itu sedang menghukum Tara sekaligus memuja wanita itu di saat yang bersamaan.
Tara mengerang tertahan di dalam mulut pria itu, merasakan lututnya lemas. Ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Julian, membalas ciuman itu dengan keputusasaan yang sama besarnya. Ia membuka mulutnya, membiarkan lidah Julian masuk dan mendominasi, mengecap rasa wiski dan mint yang bercampur dengan air mata asin yang mengalir di pipi Tara.
Dunia di sekitar mereka—suara ombak, angin laut, dan keramaian bar di kejauhan—lenyap tak bersisa. Yang ada hanya panasnya sentuhan Julian, d**a pria itu yang bergemuruh di balik kemejanya, dan ciuman yang memabukkan hingga terasa menghancurkan paru-paru.
Julian menarik pinggang Tara, merapatkan tubuh wanita itu ke tubuhnya yang keras. Ia mencium Tara hingga wanita itu nyaris kehabisan napas, lalu perlahan menarik bibirnya menjauh. Napas keduanya memburu keras di tengah udara malam. Dahi mereka masih saling bersentuhan.
Julian menatap mata Tara yang sayu, tangannya masih mencengkeram pinggang wanita itu dengan erat. Sorot mata Julian kini gelap seutuhnya, berbahaya, dan tidak lagi menyembunyikan peringatan.
"Dengar aku baik-baik, Tara," bisik Julian, suaranya berat dan mengancam. "Ciuman ini adalah batas terakhirnya. Jika kau tidak ingin ini berlanjut, jika kau berencana kembali ke Jakarta dan melupakanku lagi... kemasi barangmu besok pagi dan pergi dari pesisir ini."
Tara menelan ludah, dadanya naik turun meraup oksigen. "Dan jika aku tidak pergi?"
Jemari Julian meremas pinggang Tara dengan posesif, matanya berkilat di bawah cahaya bulan.
"Jika besok kau masih ada di vilamu," Julian menunduk, bibirnya menyapu telinga Tara, mengirimkan getaran hebat ke seluruh saraf wanita itu. "Maka jangan harap aku akan melepaskanmu lagi. Aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melupakan tempatmu seharusnya berada."
Julian melepaskan pelukannya secara perlahan, berbalik, dan berjalan menembus kegelapan malam, kembali ke arah bar. Meninggalkan Tara yang berdiri gemetar di atas pasir basah, menyadari bahwa ia baru saja menyalakan sebuah api yang tidak akan bisa ia padamkan.