Satu minggu sejak "gencatan senjata" disepakati di dalam kabin mobil pikap yang sempit, dinamika antara Tara dan Julian berubah menjadi sebuah tarian yang berhati-hati.
Mereka tidak lagi saling melempar tatapan mematikan atau sindiran beracun jika kebetulan berpapasan di jalan setapak. Julian akan mengangguk pelan sebagai bentuk sapaan, dan Tara akan membalasnya dengan senyum tipis yang sopan. Mereka benar-benar mematuhi aturan untuk bersikap seperti dua orang bertetangga yang kebetulan saling kenal. Tidak kurang, tidak lebih.
Namun, mengabaikan ketegangan tak kasat mata yang terus berdenyut di antara mereka ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada bertengkar secara terbuka.
Kamis sore itu, pesisir diselimuti awan mendung yang menggantung rendah, membuat udara terasa lengket dan gerah. Tara duduk bersila di atas sofa vilanya, menatap layar laptopnya dengan frustrasi. Ikon Wi-Fi di sudut layar menunjukkan tanda silang merah, sementara sinyal seluler di ponselnya benar-benar mati total.
Tara menghela napas kasar. Ia harus mengirimkan satu surel penting ke direktur firmanya di Jakarta untuk memperpanjang masa cutinya. Jika surel itu tidak terkirim hari ini, statusnya akan dianggap mangkir, dan itu adalah bunuh diri karier.
Ia melirik ke arah jendela, menatap bangunan The Driftwood yang tampak sepi. Bar itu baru akan buka tiga jam lagi. Dengan enggan, Tara menutup laptopnya, memeluknya di depan d**a, dan berjalan keluar vila.
Pintu depan The Driftwood sedikit terbuka, diganjal oleh sebuah pot tanaman berukuran kecil. Tara melangkah masuk dengan hati-hati. Suara lonceng kuningan berbunyi pelan. Udara di dalam bar terasa sejuk, berkat kipas angin gantung tua yang berputar ritmis di langit-langit.
"Julian?" panggil Tara pelan, suaranya menggema di ruangan yang kosong.
Tidak ada jawaban, namun terdengar suara ketukan palu dari arah ruang penyimpanan di belakang meja bar. Tara berjalan mendekat. Saat ia mengintip ke balik lorong kecil tersebut, langkahnya terhenti secara otomatis.
Julian sedang berjongkok, memperbaiki rak anggur kayu yang tampaknya baru saja patah. Pria itu tidak mengenakan atasan. Kaus oblongnya disampirkan begitu saja di atas kotak kayu di dekatnya. Cahaya lampu lorong yang redup menyorot langsung ke punggung telanjangnya yang lebar. Keringat membuat kulit kecokelatannya berkilat, mempertegas setiap definisi otot bahu, tulang belikat, dan lengannya yang bergerak seirama dengan ayunan palu.
Tara menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya mendadak terasa sangat kering. Memorinya, yang selama ini ia kunci rapat-rapat, tiba-tiba memutar ulang kilasan masa lalu—pemandangan punggung telanjang yang sama di pagi hari, rasa kulit hangat pria itu di bawah ujung jari-jarinya, dan suara napas Julian di telinganya.
Palu di tangan Julian berhenti mengayun. Pria itu menoleh perlahan dari atas bahunya, seolah insting tajamnya menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.
Mata gelap Julian langsung mengunci sosok Tara yang mematung di ujung lorong. Selama sekian detik, tidak ada yang bersuara. Julian membiarkan tatapan wanita itu menyapu tubuhnya tanpa berusaha menutupi diri. Ia bangkit berdiri dengan gerakan pelan yang disengaja, memperlihatkan dadanya yang bidang dan perutnya yang keras, dihiasi lapisan tipis keringat maskulin.
"Bar belum buka, Tara," ucap Julian. Suaranya rendah dan serak, menyapu udara gerah di antara mereka seperti belaian yang kasar.
"Aku... maaf, pintunya terbuka," Tara tergagap pelan, merutuki dirinya sendiri yang kehilangan kemampuan berbicara hanya karena melihat tubuh setengah telanjang pria itu. Ia mengeratkan pelukannya pada laptop di dadanya, berusaha mengalihkan pandangan ke wajah Julian, meski itu sama berbahayanya. "Sinyal di vilaku mati. Aku harus mengirim satu surel penting ke Jakarta hari ini juga. Apakah... apakah aku boleh meminjam koneksi Wi-Fi di sini sebentar?"
Julian menatapnya dalam diam, ekspresinya sulit dibaca. Perlahan, ia meraih kausnya dari atas kotak kayu dan mengenakannya. Tarikan kain yang menutupi otot-ototnya entah mengapa justru membuat d**a Tara semakin berdebar.
"Duduklah di mana saja," kata Julian akhirnya, berjalan melewati Tara menuju meja bar utama. Aroma kayu pinus dan keringat bersih menguar kuat saat bahu mereka nyaris bersentuhan di lorong sempit itu. "Kata sandinya TequilaSunrise, huruf T dan S kapital."
"Terima kasih," bisik Tara, buru-buru berjalan menuju salah satu meja kayu di dekat jendela dan membuka laptopnya.
Ia mencoba memfokuskan matanya ke layar, mengetik surel secepat mungkin. Namun konsentrasinya hancur lebur. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Julian berdiri di balik meja bar, mencuci tangannya di wastafel, lalu mulai meracik sesuatu. Gemerincing es batu dan suara cairan yang dituang memecah keheningan yang menekan.
Beberapa menit kemudian, sebuah gelas kaca tinggi berisi cairan cokelat pekat dan banyak es diletakkan di atas meja, tepat di sebelah laptop Tara.
Tara mendongak. Julian berdiri menjulang di samping mejanya.
"Kopi dingin," kata Julian datar. "Kau terlihat seperti butuh asupan kafein untuk menghadapi orang-orang korporatmu di ibu kota."
"Kau ingat aku tidak bisa meminum kopi hitam panas di sore hari?" Tara bertanya tanpa sadar, matanya membulat kecil.
"Gencatan senjata tidak berarti aku mengalami amnesia, Tara," balas Julian pelan. Alih-alih pergi, pria itu menarik kursi di seberang meja dan mendudukinya. Ia menyandarkan punggungnya, melipat lengan di depan d**a, dan menatap Tara dengan intensitas yang membuat wanita itu merasa ditelanjangi. "Pekerjaan penting apa yang membuatmu terlihat begitu panik di hari liburmu?"
Tara membasahi bibir bawahnya yang mendadak kering. Matanya beralih ke layar laptop, lalu kembali ke Julian.
"Hanya... mengajukan perpanjangan cuti," jawab Tara jujur. "Jika aku tidak mengirimkannya hari ini, mereka akan menganggapku mengundurkan diri."
"Dan kau takut kehilangan pekerjaanmu," Julian menyimpulkan, sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk senyum miring yang tipis. "Tentu saja. Kariermu adalah identitasmu. Hal terpenting dalam hidupmu."
Ada sindiran halus dalam kalimat itu, gema dari pertengkaran masa lalu mereka. Namun kali ini, tidak ada bisa kemarahan di sana. Hanya observasi tenang yang menuntut kejujuran.
Tara menutup laptopnya dengan pelan. Ia menatap kopi dingin di depannya, melihat titik-titik embun yang terbentuk di dinding gelas.
"Dulu, ya," jawab Tara parau. Ia mengangkat pandangannya, menatap langsung ke dalam mata gelap Julian. "Dulu aku pikir karier adalah segalanya. Aku pikir posisi, uang, dan kendali akan membuatku merasa aman. Tapi beberapa minggu yang lalu, aku menyadari bahwa aku tidak memiliki kendali atas apa pun. Aku mencapai puncak yang aku inginkan, dan di sana... rasanya sangat sepi dan memuakkan."
Pengakuan itu keluar begitu saja. Tara tidak pernah merencanakan untuk menunjukkan kerentanannya sejauh ini, terlebih lagi di hadapan Julian. Namun, keheningan bar ini dan tatapan tajam pria itu seolah memiliki kekuatan untuk menarik keluar kejujuran dari dasar jiwanya.
Julian terdiam. Sorot matanya melembut, meski hanya sepersekian detik. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan lengannya di atas meja kayu, mengikis jarak di antara mereka.
"Lalu kenapa kau memperpanjang cutimu, alih-alih mengundurkan diri dan mencari hidup yang baru?" tanya Julian, suaranya berubah menjadi bariton yang dalam dan intim.
"Karena aku pengecut, Julian," bisik Tara, tawanya terdengar hampa. "Aku tidak tahu siapa diriku jika aku bukan Tara sang eksekutif. Aku tidak punya apa-apa lagi selain pekerjaan ini."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Suara baling-baling kipas angin di langit-langit terasa seirama dengan detak jantung Tara yang berpacu. Julian menatapnya begitu dalam, seakan berusaha menelusuri setiap pecahan jiwa wanita itu dan menyatukannya kembali hanya dengan pandangan matanya.
Perlahan, tangan Julian bergerak melintasi meja. Jari telunjuk dan jari tengahnya yang kasar dan hangat menyentuh punggung tangan Tara yang mencengkeram tepi laptop.
Sentuhan itu sangat ringan, namun efeknya seperti sengatan listrik ribuan volt yang menjalar langsung ke ulu hati Tara. Napas Tara tercekat. Ia secara refleks ingin menarik tangannya, namun kehangatan kulit Julian membius otot-ototnya. Ia mendongak, matanya terkunci dengan tatapan Julian yang kini menggelap, dipenuhi oleh sesuatu yang berbahaya dan membara. Hasrat.
"Kau punya banyak hal, Tara," suara Julian berubah menjadi bisikan parau yang sangat dekat. Wajahnya mencondong melintasi meja, jarak mereka kini begitu dekat hingga Tara bisa mencium aroma kopi, pinus, dan napas pria itu. "Kau hanya lupa cara melihatnya. Karena kau terlalu sibuk berlari."
Mata Julian perlahan turun, menatap bibir Tara yang sedikit terbuka karena napasnya yang memburu. Udara di sekeliling mereka seolah menguap, menyisakan ruang hampa yang hanya berisi mereka berdua. Tarikan gravitasi di antara mereka terlalu kuat untuk dilawan. Gencatan senjata, aturan bertetangga, dan luka masa lalu—semuanya meleleh di bawah panasnya antisipasi ciuman yang terasa tak terhindarkan ini.
Tara memejamkan mata, bulu matanya bergetar, menyerah pada insting yang mendesaknya untuk mencondongkan wajahnya lebih dekat, membiarkan kehangatan napas Julian menyapu bibirnya.
BRUK!
Suara pintu belakang bar yang ditendang terbuka disusul debuman kotak kayu berat yang dijatuhkan ke lantai memecah keheningan bagai tembakan meriam.
"Bos! Es batunya sudah datang!" teriak suara seorang pemuda—pemasok es lokal—dari arah dapur belakang.
Sihir itu hancur berantakan.
Julian menarik napas tajam dan segera menarik tangannya dari tangan Tara, menegakkan punggungnya dengan gerakan kaku dan canggung. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, rahangnya mengeras saat ia berusaha mati-matian mengembalikan kendali atas dirinya sendiri.
Tara terkesiap, buru-buru menarik laptopnya dan memeluknya di d**a, wajahnya memerah padam seperti baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga dadanya terasa sakit.
"Aku... aku harus mengurus pengiriman," kata Julian, suaranya terdengar serak dan tertahan. Pria itu bangkit berdiri, menolak untuk menatap mata Tara. "Koneksinya tidak akan kumatikan. Kau bisa menggunakannya selama yang kau mau."
Tanpa menunggu balasan, Julian berbalik dan melangkah cepat menuju ruang belakang, meninggalkan Tara yang masih gemetar di kursinya.
Tara menyentuh bibirnya dengan jari yang bergetar. Gencatan senjata di antara mereka belum genap seminggu, namun batas aman yang mereka bangun dengan susah payah baru saja terbakar habis. Dan yang paling menakutkan bagi Tara adalah, ia sangat menginginkan api itu membakarnya lebih jauh.