Sinar matahari Minggu pagi terasa seperti ejekan yang kejam bagi Tara. Matanya sembab dan terasa perih. Ia menghabiskan sisa malam setelah ciuman di pantai itu dengan duduk merosot di lantai vilanya, menatap koper besarnya dalam keheningan yang menyiksa.
Ultimatum Julian terus menggema di setiap sudut kepalanya.
Kemasi barangmu besok pagi dan pergi dari pesisir ini. Jika kau menetap, jangan harap aku akan melepaskanmu lagi.
Di masa lalu, pilihan Tara sudah pasti. Insting bertahannya yang egois akan langsung mengambil alih. Ia akan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper, menyalakan mesin mobil sebelum fajar menyingsing, dan melarikan diri kembali ke zona nyamannya di Jakarta. Ia akan bersembunyi di balik tumpukan berkas dan rapat strategi, berpura-pura bahwa hatinya tidak baru saja tertinggal di sebuah desa pesisir.
Namun pagi ini, saat jarum jam dinding berdetak melewati angka sepuluh—waktu di mana seharusnya ia sudah berada di jalan raya—koper di hadapannya justru kosong melompong.
Seluruh isinya telah berpindah ke dalam lemari kayu usang di sudut kamar.
Tara mengusap wajahnya yang lelah. Ia telah mengambil keputusan. Keputusan yang paling menakutkan sekaligus paling melegakan sepanjang hidupnya. Ia tidak akan lari lagi. Ia selesai menjadi pengecut. Jika tetap tinggal berarti ia harus menghadapi badai emosi Julian dan menyerahkan sisa-sisa hatinya yang hancur untuk kembali diremukkan, maka biarlah. Ia lebih rela hancur di tangan pria itu daripada mati rasa dalam kesendirian di ibu kota.
Menjelang pukul tiga sore, langit mulai diwarnai semburat jingga kemerahan. Tara mandi, merias wajahnya tipis-tipis, dan mengenakan dress selutut berbahan katun ringan berwarna putih gading. Ia melangkah keluar dari vilanya dengan jantung yang berdegup liar menghantam tulang rusuk.
The Driftwood terlihat lengang. Sebuah papan kayu bertuliskan TUTUP tergantung di pintu depan. Hari Minggu sore memang jadwal libur rutin bar tersebut.
Alih-alih mengetuk pintu depan, langkah kaki Tara membawanya menyusuri dek samping menuju bagian belakang bangunan. Di sanalah letak ruang privat Julian—sebuah area kecil yang merangkap sebagai kantor dan kamar tidur pria itu.
Pintu kayu di bagian belakang sedikit terbuka, membiarkan angin laut masuk membawa aroma garam. Tara menghentikan langkahnya di ambang pintu, menahan napas.
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Julian sedang duduk di tepi ranjangnya yang berantakan. Pria itu masih mengenakan kemeja flanel yang sama dengan semalam, lengannya digulung asal, rambutnya acak-acakan. Ia menunduk menatap lantai, kedua sikunya bertumpu pada lutut, dan sebuah gelas kristal kosong menjuntai lemas di sela jari-jarinya. Posturnya memancarkan kekalahan yang begitu absolut dan melelahkan.
Julian mengira Tara benar-benar telah pergi.
"Baru pukul tiga sore, dan kau sudah menghabiskan minumanmu?"
Suara Tara memecah keheningan ruangan itu. Lembut, namun cukup keras untuk membuat bahu lebar Julian tersentak hebat.
Gelas di tangan Julian nyaris terlepas. Pria itu mendongak dengan cepat. Saat matanya yang dilingkari bayangan gelap kurang tidur menangkap sosok Tara yang berdiri di ambang pintu, seluruh otot di tubuh pria itu menegang. Udara di dalam ruangan mendadak terasa disedot habis.
Keterkejutan, ketidakpercayaan, dan kelegaan yang luar biasa bertabrakan di mata gelap Julian, sebelum akhirnya digantikan oleh kobaran hasrat yang membuat lutut Tara terasa lemas.
Julian meletakkan gelasnya ke lantai dengan gerakan pelan, bangkit berdiri secara perlahan seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, ilusi di hadapannya akan menghilang.
"Mobilmu tidak ada di depan," suara Julian sangat serak, nyaris seperti geraman yang tertahan di kerongkongan.
"Aku memindahkannya ke garasi samping vila agar tidak terkena getah pinus," jawab Tara, memberanikan diri melangkah masuk, menutup pintu kayu di belakangnya hingga terdengar bunyi klik dari kunci yang terpasang. Sebuah deklarasi tanpa kata.
Mata Julian turun mengikuti gerakan tangan Tara yang mengunci pintu, lalu kembali menatap wajah wanita itu. d**a pria itu naik turun dengan tempo yang tidak teratur.
"Aku memberimu jalan keluar, Tara," bisik Julian, melangkah mendekat bak predator yang mengunci mangsanya. "Aku memberimu kesempatan untuk kembali ke duniamu yang sempurna. Kenapa kau masih di sini?"
Tara tidak mundur. Ia mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata pria yang memegang kendali penuh atas kewarasannya.
"Karena duniaku tidak lagi ada di sana, Julian," balas Tara, suaranya sedikit bergetar namun dipenuhi keyakinan yang tajam. "Karena aku lelah berlari. Dan karena... aku tidak ingin berada di tempat lain selain di sini."
Kata-kata itu menjadi pemutus tali kendali terakhir yang menahan kewarasan Julian.
Dalam sepersekian detik, jarak di antara mereka lenyap. Julian menerjang maju, mencengkeram pinggang Tara dengan kedua tangannya yang besar dan mengangkat tubuh wanita itu hingga kaki Tara terlepas dari lantai. Tara memekik tertahan, secara refleks mengalungkan kakinya ke pinggang kokoh Julian dan memeluk leher pria itu erat-erat.
Julian memutar tubuh mereka dan memojokkan punggung Tara ke pintu kayu yang baru saja dikunci. Benturan pelan itu menggetarkan napas mereka.
"Aku sudah memperingatkanmu semalam," geram Julian tepat di bibir Tara, napasnya memabukkan. "Jika kau menetap, aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan bersikap lembut padamu."
"Aku tidak meminta kelembutanmu," tantang Tara terengah-engah, jemarinya menyusup ke rambut gelap Julian, menariknya pelan. "Lakukan apa pun yang kau mau, Julian."
Persetujuan itu menjadi pemicu ledakan. Julian menundukkan wajahnya, meraup bibir Tara dengan ciuman yang luar biasa menuntut, liar, dan lapar. Tidak ada lagi keraguan atau sisa-sisa gengsi di antara mereka. Sepuluh tahun kerinduan, amarah, dan rasa sakit melebur menjadi gairah murni yang membakar setiap inci kulit yang bersentuhan.
Mulut Julian terbuka di atas mulut Tara, lidahnya mendominasi, menuntut setiap erangan yang lolos dari tenggorokan wanita itu. Ciuman mereka terasa seperti sebuah pertarungan yang dimenangkan oleh keduanya. Tangan Julian meremas pinggul Tara dengan posesif, sementara mulutnya berpindah, menghujani ciuman panas menyengat di sepanjang garis rahang dan leher jenjang Tara.
Tara mengerang keras saat Julian menggigit pelan perpotongan lehernya, meninggalkan jejak kepemilikan yang membuat tubuhnya melengkung meminta lebih. Rasa hangat menjalar dengan cepat ke bagian bawah perutnya.
"Julian..." bisik Tara putus asa.
Tanpa melepaskan ciumannya, Julian membawa tubuh Tara dalam gendongannya, melangkah lebar menuju ranjang di tengah ruangan. Ia membaringkan Tara ke atas kasur yang sedikit berantakan, menindih tubuh ramping itu dengan berat tubuhnya yang maskulin dan kokoh.
Mata gelap Julian menatap Tara dari atas, menyapu wajah wanita itu yang memerah, bibirnya yang membengkak karena ciuman, dan napasnya yang memburu. Tangan pria itu bergerak cepat melepaskan kancing kemeja flanelnya sendiri, melemparnya sembarangan ke lantai, memperlihatkan d**a bidangnya yang berkilat oleh keringat.
"Kau milikku sekarang, Tara," ucap Julian, suaranya dipenuhi klaim absolut yang menggetarkan jiwa. "Tidak ada lagi masa lalu, tidak ada lagi Jakarta, dan tidak ada pria lain. Hanya ada ini. Hanya kita."
"Hanya kita," ulang Tara seperti mantra, menarik tengkuk pria itu agar kembali menunduk ke arahnya.
Saat bibir mereka kembali bertaut dalam ritme yang lebih dalam dan ritmis, pakaian mulai terlepas satu demi satu, jatuh ke lantai kayu bergabung dengan bayang-bayang sore yang memudar. Di dalam ruangan sempit yang diisolasi oleh suara deburan ombak di kejauhan, dua manusia yang pernah saling menghancurkan itu akhirnya menyerah pada gravitasi yang menyatukan mereka kembali.
Dan sore itu, batas antara luka dan penyembuhan sepenuhnya dileburkan oleh keringat, desahan, dan hasrat yang tak lagi memiliki jeda.