Sabtu pagi menyapa dengan langit sebiru kristal dan angin laut yang membawa aroma garam yang khas. Tara terbangun dengan perasaan yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu terakhir, ia tidak langsung disergap oleh rasa sesak di d**a saat membuka mata. Tidak ada sakit kepala atau rasa mual, berkat kualitas wiski pemberian Julian semalam.
Mengingat kejadian semalam, Tara menarik napas panjang. Wajah Julian yang mengeras marah saat mengusir p****************g itu terus berputar di benaknya. Pria itu menolongnya—lagi. Di balik semua kata-kata tajam dan tatapan dinginnya, Julian masih menjadi pelindung yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Fakta itu membuat dinding pertahanan yang dibangun Tara perlahan mulai retak.
Tara menatap langit-langit kayu vilanya. Ia tidak bisa terus-terusan mengurung diri dan mengonsumsi mi instan. Jika ia berniat tinggal di sini selama satu bulan, ia harus mulai hidup layaknya manusia normal. Ia butuh bahan makanan segar.
Setelah mandi dan mengenakan sweter rajut berwarna krem yang dipadukan dengan celana jeans dan sneakers putih, Tara keluar dari vilanya. Ia berencana berjalan kaki ke pasar lokal yang terletak di dekat pelabuhan kecil, arah yang sama dengan kafe yang ia kunjungi beberapa hari lalu.
Perjalanan dua kilometer di bawah sinar matahari pagi terasa jauh lebih ringan dari dugaannya. Namun, setibanya di pasar tradisional pinggir pelabuhan, Tara langsung dihadapkan pada realitas yang sangat jauh dari supermarket ber-AC di Jakarta. Bau amis ikan segar, teriakan para pedagang, lantai pasar yang becek, dan keramaian ibu-ibu yang menawar harga membuat Tara sempat ragu di pintu masuk.
Ia menarik napas panjang, merapatkan sweternya, dan melangkah masuk.
Setengah jam kemudian, Tara keluar dari pasar dengan dua kantong plastik besar berisi sayuran, buah, telur, dan beberapa potong d**a ayam. Tangannya mulai memerah karena menahan beban plastik yang memberat. Ia mengusap peluh di dahinya, menyadari bahwa berjalan kaki sejauh dua kilometer kembali ke vila dengan beban seberat ini adalah ide yang sangat buruk.
"Butuh tumpangan?"
Suara bariton yang berat itu menghentikan langkah Tara. Ia menoleh dan mendapati mobil pikap usang milik Julian menepi di pinggir jalan, tepat di sebelahnya. Kaca jendelanya diturunkan, memperlihatkan Julian yang duduk di balik kemudi. Pria itu mengenakan kaus hitam polos dan kacamata hitam aviator, lengan kirinya bersandar santai di bingkai jendela mobil. Di bak belakangnya, terdapat beberapa kotak kayu berisi pasokan bahan makanan untuk bar.
Tara terdiam sejenak. Jika ini terjadi tiga hari yang lalu, ia pasti akan menolaknya mentah-mentah. Namun, setelah kejadian semalam, menolak tawaran ini hanya akan membuatnya terlihat konyol dan kekanak-kanakan.
"Kau tidak sedang sibuk?" tanya Tara pelan, memastikan pria itu tidak merasa terpaksa.
"Jika aku sibuk, aku tidak akan berhenti dan menawarkan diri," jawab Julian datar. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke kiri dan membuka pintu penumpang dari dalam. "Naiklah. Kecuali kau ingin lenganmu putus sebelum sampai di vila."
Tanpa berdebat lagi, Tara mengangkat kantong belanjanya dan naik ke dalam kabin mobil. Julian membantu mengambil kantong belanja tersebut dan meletakkannya di ruang kosong di belakang kursi mereka, sebelum akhirnya kembali fokus ke jalanan.
Kabin pikap itu tidak terlalu besar. Udara di dalamnya beraroma campuran yang sangat khas—kopi hitam, kulit jok mobil yang sudah usang, dan aroma tubuh Julian. Karena ruang yang sempit, lengan mereka nyaris bersentuhan di atas konsol tengah setiap kali Julian memindahkan gigi persneling.
Suasana di dalam mobil terasa canggung, dipenuhi keheningan yang tebal. Hanya suara deru mesin dan lagu soft rock dari radio tua yang mengisi kekosongan.
Tara menatap profil samping Julian. Rahang pria itu terlihat tegas, bibirnya terkatup rapat, dan pandangannya fokus ke depan. Kacamata hitam menyembunyikan sorot matanya, membuat pria itu semakin sulit dibaca.
"Terima kasih untuk semalam," ucap Tara memecah keheningan, suaranya nyaris berbisik namun cukup jelas terdengar di kabin yang sempit itu. "Dan untuk wiskinya. Itu... membantuku tidur nyenyak."
Julian tidak menoleh, namun bahunya sedikit rileks. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin ada pelanggan yang mati karena tekanan darah tinggi di sudut barku."
Tara tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang tulus. "Tentu saja. Dan aku juga tidak ingin ada berita tentang PR Executive yang memukul pelangganku dengan botol alkohol."
Julian mendengus pelan—sebuah tawa kecil yang lolos dari pertahanannya. Suara tawa itu membuat sesuatu di dalam d**a Tara berdesir hangat. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia mendengar tawa Julian.
"Jadi, apa yang membuat seorang eksekutif sepertimu berakhir di pasar tradisional dengan sepatu putih bersih?" tanya Julian, nada suaranya kini tidak lagi sekasar pertemuan pertama mereka.
"Aku butuh makanan yang bukan berasal dari dalam kemasan plastik. Aku pikir aku bisa mengatasi pasar tradisional," jawab Tara, menunduk menatap ujung sneakers-nya yang kini ternoda lumpur. "Ternyata aku salah memperhitungkan jarak dan berat belanjaan."
"Kau selalu salah memperhitungkan banyak hal di luar duniamu, Tara," gumam Julian. Kalimat itu diucapkan tanpa niat menyerang, namun cukup menyentil kenyataan masa lalu mereka.
Tara terdiam. Matanya menatap keluar jendela, memperhatikan deretan pohon pinus yang bergerak mundur.
"Aku tahu," bisik Tara akhirnya, suaranya sangat lirih. "Aku salah memperhitungkan banyak hal. Termasuk kehidupanku sendiri."
Julian mengalihkan pandangannya dari jalan raya selama beberapa detik, menatap wajah Tara yang terlihat begitu rapuh dari samping. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.
"Apa yang terjadi padamu, Tara?" tanya Julian, suaranya merendah, menanggalkan nada sinisnya. "Apa yang membuat wanita sepertimu, yang selalu memiliki rencana A hingga Z, tiba-tiba kabur ke ujung pulau ini dengan wajah seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya?"
Pertanyaan itu terasa seperti kunci yang diputar paksa ke dalam gembok pertahanan Tara. Selama tiga minggu, ia mengunci rapat mulutnya tentang perselingkuhan Rian. Mengakuinya berarti mengakui bahwa ia telah gagal, bahwa pilihan rasionalnya menghancurkan dirinya sendiri. Dan mengatakannya pada Julian—pria yang ia korbankan demi 'pilihan rasional' tersebut—terasa seperti menelan paku berkarat.
"Hidupku berantakan, Julian," Tara menelan ludah yang terasa menyakitkan. Ia menolak menatap pria itu, takut jika ia melihat tatapan mengasihani atau mencibir dari mata gelap tersebut. "Sesuatu terjadi. Sesuatu yang menghancurkan semua rencanaku. Dan aku... aku tidak cukup kuat untuk menghadapinya di Jakarta."
Mobil pikap itu melambat, berbelok memasuki jalan setapak berkerikil yang menuju ke area vila dan bar.
Julian memarkirkan mobilnya tepat di depan beranda vila Tara dan mematikan mesin. Ia tidak langsung bergerak. Keheningan kembali mengambil alih kabin sempit itu, namun kali ini terasa jauh lebih padat dan menekan.
Perlahan, Julian melepaskan kacamata hitamnya, mengaitkannya di kerah kausnya. Ia memutar tubuhnya sedikit untuk menghadap Tara.
"Kau bukan orang yang lari karena merasa tidak cukup kuat, Tara," ucap Julian pelan, matanya menatap lurus menembus jiwa wanita itu. "Kau lari karena kau terlalu bangga untuk membiarkan orang lain melihatmu hancur."
Napas Tara tercekat. Pria ini mengenalnya. Terlalu mengenal dirinya hingga ke lapisan yang paling dalam. Julian selalu bisa membaca Tara seperti membaca buku terbuka, bahkan setelah sepuluh tahun berlalu.
"Kau berhak tertawa, Julian," suara Tara bergetar. Ia menunduk, menatap tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. "Kau berhak menertawakan kehancuranku. Anggap saja ini karmaku karena dulu aku... karena aku meninggalkanmu."
"Lihat aku, Tara."
Suara Julian bukan permintaan, melainkan perintah yang diucapkan dengan nada berat dan serak.
Dengan enggan, Tara mengangkat wajahnya. Jarak mereka di dalam mobil itu begitu dekat. Ia bisa melihat setiap helai bulu mata pria itu, melihat bekas luka kecil di pelipisnya, dan merasakan napas hangat Julian yang menyapu kulit wajahnya.
"Aku tidak pernah, dan tidak akan pernah menertawakan kehancuranmu," kata Julian dengan intensitas yang membuat d**a Tara berdebar menyakitkan. "Kebencianku padamu karena masa lalu adalah satu hal. Tapi melihatmu hancur... itu sama sekali tidak memberiku kepuasan."
Tara menatap bibir Julian yang bergerak saat mengucapkan kalimat itu, lalu matanya perlahan naik ke sepasang mata gelap yang memancarkan kejujuran absolut. Sesuatu yang berat di d**a Tara seolah runtuh seketika. Pertahanan terakhirnya hancur. Tanpa bisa ditahan, setetes air mata lolos dari sudut matanya, meluncur turun ke pipinya.
Julian terdiam. Rahangnya mengeras. Tangannya yang bertumpu di atas paha bergerak sedikit, seolah instingnya mendesak untuk menghapus air mata itu, namun ia menahannya dengan susah payah. Pria itu mengalihkan pandangannya, menarik napas panjang, dan membuka pintu mobil.
"Aku akan membawakan belanjaanmu ke depan pintu," ucap Julian parau, buru-buru keluar dari kabin sebelum ia melakukan sesuatu yang akan ia sesali nanti.
Tara mengusap air matanya dengan kasar, menarik napas panjang untuk mengembalikan kendali dirinya, lalu menyusul keluar.
Julian meletakkan dua kantong plastik besar itu di atas kursi kayu di beranda vila Tara. Saat Tara melangkah mendekat, Julian tidak langsung pergi. Pria itu berdiri di sana, menjulang di hadapannya, menghalangi cahaya matahari pagi.
"Mulai hari ini, mari kita buat kesepakatan," kata Julian akhirnya, suaranya kembali tenang, meskipun ketegangan masih menguar dari tubuhnya. "Aku tidak akan membahas masa lalu, dan kau tidak perlu menceritakan masalahmu. Kita hanya dua orang asing yang kebetulan bertetangga. Jika kau butuh bantuan, bicaralah. Jangan menyiksa dirimu sendiri hanya demi gengsi bodohmu itu."
Tara menatap pria itu lekat-lekat. "Gencatan senjata?"
"Gencatan senjata," angguk Julian pelan. Matanya menatap bibir Tara sejenak—sebuah gerakan yang sangat cepat namun tidak luput dari perhatian Tara—sebelum kembali menatap matanya. "Tapi jangan salah paham, Tara. Batasnya hanya sampai di situ. Jangan mencoba masuk terlalu dalam ke kehidupanku di sini."
Julian berbalik dan berjalan menuruni tangga beranda.
Tara berdiri mematung, melihat punggung lebar pria itu perlahan menjauh menuju bar. Ia menyadari satu hal yang berbahaya dari gencatan senjata ini. Ketika batas kebencian mulai ditarik, tidak ada lagi perisai yang bisa menahan daya tarik luar biasa di antara mereka. Dan Tara tidak yakin, siapa di antara mereka yang akan melanggar batas itu lebih dulu.