Tiga hari berlalu sejak pertengkaran di beranda The Driftwood.
Selama tiga hari itu pula, Tara menepati janjinya. Ia mengurung diri di dalam vila, hanya keluar sesekali untuk berjalan di sepanjang bibir pantai ke arah yang berlawanan dari bar Julian. Jika ia melihat sosok pria itu dari kejauhan sedang memindahkan barang atau membersihkan pelataran, Tara akan memutar arah. Kesepakatan tidak tertulis telah terbentuk: mereka hidup berdampingan bagai dua garis sejajar yang menolak untuk saling bersinggungan.
Namun, mengisolasi diri terbukti menjadi senjata makan tuan. Tanpa adanya distraksi pekerjaan, tanpa dering telepon, dan tanpa pertengkaran verbal dengan Julian yang memompa adrenalinnya, pikiran Tara justru menjadi musuh terbesarnya.
Setiap kali malam tiba dan kesunyian mencekik vilanya, bayangan Rian dan Sarah di atas ranjang apartemennya kembali memutar kaset rusak di kepalanya. Rasa mual, pengkhianatan, dan pertanyaan menyiksa tentang apa yang salah dengan dirinya terus menghantuinya hingga menjelang pagi. Tara baru bisa tertidur setelah matahari terbit, itupun dengan bantuan kelelahan menangis tanpa suara ke dalam bantal.
Jumat malam tiba dengan membawa perubahan atmosfer yang radikal di pesisir.
Sejak pukul tujuh malam, Tara bisa mendengar deru mesin mobil dan motor yang memasuki area parkir berkerikil di sebelah vilanya. Suara tawa, denting gelas, dan alunan musik live—seorang penyanyi lokal dengan gitar akustik—menggema memecah kesunyian malam. The Driftwood rupanya menjadi magnet bagi penduduk lokal dan beberapa turis pesisir untuk menghabiskan akhir pekan.
Tara berdiri di balik jendela kacanya yang gelap, menatap ke arah bangunan kayu yang kini benderang dan hidup. Keramaian itu memanggilnya. Sepanjang hidupnya di Jakarta, Tara adalah makhluk sosial. Ia terbiasa berada di tengah kerumunan, mengendalikan percakapan, dan menikmati dentuman musik di lounge eksklusif. Kesunyian ekstrem selama hampir seminggu ini nyaris membuatnya gila.
Malam ini, ia tidak ingin sendirian dengan isi kepalanya.
Didorong oleh impulsivitas, Tara melangkah ke depan cermin. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di pesisir ini, ia meraih tas kosmetiknya. Ia memulaskan sedikit concealer untuk menutupi kantung matanya yang hitam, membubuhkan perona pipi tipis agar wajahnya tidak terlihat seperti mayat hidup, dan mengoleskan lipstik berwarna nude. Ia mengganti pakaian kasualnya dengan gaun selutut berlengan panjang warna biru navy yang memeluk lekuk tubuhnya dengan pas, dipadukan dengan sepatu bot kulit.
Tara tahu Julian memintanya menjauh. Namun malam ini bar itu adalah tempat umum, dan ia akan bersikap layaknya pelanggan biasa. Ia hanya akan duduk di sudut tergelap, minum satu atau dua gelas, dan menyerap energi keramaian agar ia tidak merasa terlalu kosong.
Udara di dalam The Driftwood terasa panas dan pekat oleh aroma alkohol, parfum, dan keringat. Tempat itu penuh sesak. Suara obrolan riuh berpadu dengan petikan gitar akustik dari panggung kecil di sudut ruangan.
Tara menyelipkan dirinya melewati kerumunan orang-orang yang berdansa kecil. Matanya secara refleks langsung mencari sosok Julian. Tidak sulit untuk menemukannya. Pria itu berada tepat di balik meja bar yang sibuk, bergerak dengan kecepatan dan presisi yang memukau.
Julian mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit kilau keringat di pangkal lehernya. Pria itu mengocok shaker perak di tangannya, menuang cairan ke dalam gelas berjejer, lalu melempar senyum sekilas pada pelanggan yang memberikan tip. Ada daya tarik maskulin yang begitu mentah dan berbahaya dari cara pria itu menguasai wilayahnya. Tara tanpa sadar menelan ludah, merasakan desir panas yang familiar menjalar di bawah kulitnya.
Buru-buru Tara memalingkan wajah, mengutuk reaksi tubuhnya sendiri. Ia berjalan menuju sebuah meja kosong berukuran kecil di sudut ruangan yang paling remang, memesan segelas Gin and Tonic pada seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat, lalu duduk bersandar sambil mengamati keramaian.
Untuk sesaat, rencananya berhasil. Kehadirannya tidak disadari oleh Julian yang terlalu sibuk. Minumannya datang, dan Tara menyesapnya perlahan, membiarkan alunan musik akustik sedikit meredam suara-suara sumbang di kepalanya.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
"Sendirian saja, Nona?"
Sebuah suara serak menginterupsi lamunannya. Tara mendongak dan mendapati seorang pria berbadan gempal dengan wajah sedikit memerah akibat alkohol berdiri di dekat mejanya. Pria itu menyeringai, matanya menyapu tubuh Tara dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang membuat perut Tara melilit jijik.
"Ya. Dan saya lebih suka tetap sendirian. Terima kasih," jawab Tara sopan namun dengan nada sedingin es, mengeluarkan persona PR Executive-nya yang terbiasa menolak wartawan hidung belang.
Pria itu bukannya mundur, malah tertawa pelan dan menarik kursi di hadapan Tara, mendudukinya tanpa diundang. Aroma bir murahan dan napas asam langsung menusuk hidung Tara.
"Ayolah, jangan sombong begitu. Aku belum pernah melihatmu di sekitar sini. Turis dari kota, ya?" Pria itu mencondongkan tubuhnya melintasi meja kecil itu. "Malam ini terlalu dingin untuk dihabiskan sendirian di sudut gelap. Mau kubelikan minuman yang lebih keras?"
Rahang Tara mengeras. "Saya bilang tidak. Tolong tinggalkan meja saya sebelum saya memanggil keamanan."
"Keamanan? Di sini?" Pria itu tertawa meremehkan. "Ini bar pesisir, Sayang, bukan kelab elit di ibu kota."
Tangan pria itu terulur, jemarinya yang kasar menyentuh pergelangan tangan Tara yang bertumpu di atas meja. Sentuhan itu tidak kuat, namun cukup untuk memicu sisa-sisa trauma pengkhianatan yang membuat Tara merinding. Ia membenci disentuh tanpa persetujuan. Ia membenci pria yang merasa bisa mengambil apa pun yang mereka mau.
"Lepaskan tanganku," desis Tara, suaranya merendah berbahaya. Ia bersiap untuk menyiramkan sisa Gin and Tonic-nya tepat ke wajah pria itu.
Namun, sebelum Tara sempat bergerak, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol tiba-tiba muncul dari belakang pria gempal itu. Tangan itu mencengkeram bahu si pria dengan kekuatan yang terlihat brutal, menghentikan gerakannya seketika.
"Dia bilang, lepaskan tanganmu."
Suara bariton yang berat dan sedingin dasar samudra itu membelah keributan musik.
Tara mendongak. Julian berdiri menjulang di belakang pria itu. Wajahnya yang biasa terlihat tenang kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mematikan. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot di pelipisnya berkedut. Sorot matanya saat menatap pria gempal itu benar-benar mengancam nyawa.
Pria itu terkesiap, wajahnya yang memerah mendadak pucat saat ia menoleh dan menyadari siapa yang mencengkeramnya.
"B-Bos Julian," pria itu tergagap, buru-buru menarik tangannya dari lengan Tara seolah ia baru saja menyentuh besi panas. "Aku... aku cuma mengajak kenalan. Tidak bermaksud bikin keributan."
"Meja ini tidak menerima tamu. Dan bar ini tidak mentolerir pelecehan," desis Julian pelan, nyaris berbisik, namun ancaman di dalamnya terasa sangat nyata. Cengkeramannya di bahu pria itu terlihat semakin mengerat hingga pria itu meringis kesakitan. "Bayar minumanmu, dan keluar dari tempatku sekarang. Sebelum aku yang melemparmu keluar."
"Oke, oke! Aku pergi," pria itu berseru panik. Begitu Julian melepaskan cengkeramannya, ia buru-buru berdiri, menabrak beberapa kursi di sebelahnya, dan setengah berlari menuju pintu keluar.
Julian berdiri diam selama beberapa detik, napasnya sedikit memburu saat ia berusaha mengendalikan emosinya. Matanya yang gelap perlahan turun menatap Tara yang masih duduk kaku di kursinya. Pandangan pria itu jatuh pada pergelangan tangan Tara, tepat di titik di mana pria gempal tadi menyentuhnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Julian menarik kursi yang baru saja ditinggalkan pria itu dan duduk di hadapan Tara. Posturnya tegap, mengambil alih seluruh ruang di meja kecil tersebut.
"Aku sudah bilang padamu untuk menjauh dari pandanganku," ucap Julian akhirnya. Suaranya rendah, nyaris tertelan suara musik, namun ketegangannya terasa mengikat udara di antara mereka.
"Aku tidak mengganggumu," balas Tara defensif. Ia mengangkat dagunya, menolak untuk terlihat terintimidasi, meski jantungnya berdebar kencang melihat betapa protektifnya Julian beberapa detik yang lalu. "Aku duduk di sudut yang paling tidak terlihat. Aku pelanggan yang membayar."
"Pakaian seperti itu, di tempat ini, pada Jumat malam?" Julian menyapu pandangannya pada gaun biru navy yang dikenakan Tara, matanya menggelap selama sepersekian detik sebelum ia memaksa tatapannya kembali ke mata wanita itu. "Itu sama saja dengan menggantung sepotong daging segar di depan kawanan anjing kelaparan, Tara."
"Jangan salahkan pakaianku atas kelakuan b******k laki-laki mabuk," sela Tara tajam.
"Aku tidak menyalahkan pakaianmu. Aku menyalahkan fakta bahwa kau tidak tahu cara melindungi dirimu sendiri di tempat yang tidak kau kenal," balas Julian tak kalah tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat lengannya di depan d**a. "Kenapa kau ada di sini? Vilamu tidak cukup besar untuk menampung egomu malam ini?"
Tara menggigit bibir bawahnya, menahan kata-kata sarkastis yang biasa ia gunakan sebagai tameng. Untuk pertama kalinya, ia terlalu lelah untuk bertengkar. Pertahanan kokohnya sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh kesepian yang menggerogotinya selama tiga hari terakhir.
"Aku tidak bisa tidur," pengakuan itu lolos begitu saja dari bibir Tara. Suaranya pelan, rapuh, dan jujur. "Jika aku berdiam diri di sana lebih lama lagi dengan isi kepalaku sendiri... aku rasa aku akan benar-benar gila."
Julian terdiam. Sorot matanya yang keras perlahan meredup. Ia melihat bayangan gelap di bawah mata Tara yang berusaha ditutupi concealer, dan untuk sesaat, ia melihat kilasan keputusasaan yang sama seperti yang ia rasakan sepuluh tahun lalu ketika Tara meninggalkannya di stasiun.
Keheningan melingkupi meja mereka, terisolasi dari keramaian bar di sekelilingnya. Tidak ada sindiran. Tidak ada kebencian yang dilontarkan. Hanya ada dua manusia yang sama-sama hancur, saling menatap di bawah cahaya lampu remang.
Julian menghela napas panjang, mengusap tengkuknya yang berkeringat. Ia bangkit berdiri.
"Tunggu di sini," perintah Julian pelan.
Pria itu berjalan kembali ke meja bar, meninggalkan Tara yang menatap punggung lebarnya dengan perasaan campur aduk. Beberapa menit kemudian, Julian kembali dengan membawa sebuah gelas pendek berisi cairan keemasan dan satu bola es bulat di tengahnya. Ia meletakkannya di hadapan Tara.
"Minumlah. Ini dari botol simpanan pribadiku di ruang belakang, bukan racikan bir murahan yang ada di menu," kata Julian datar.
Tara menatap gelas itu, lalu menatap Julian. "Aku tidak memesannya."
"Aku tahu. Ini anggap saja permintaan maaf karena pelangganku ada yang bersikap kurang ajar padamu," Julian menumpukan satu tangannya di atas meja, menunduk sedikit agar suaranya bisa didengar Tara di tengah kebisingan. "Duduklah di sini selama yang kau mau. Sudut ini sekarang aman. Tapi begitu bar tutup, kau langsung pulang. Mengerti?"
Tara mengangguk pelan, tenggorokannya mendadak terasa kering. "Terima kasih, Julian."
Pria itu tidak membalas. Ia hanya menahan kontak mata mereka selama beberapa detik ekstra yang terasa menyengat, menyalurkan ribuan kata yang tidak bisa diucapkan, sebelum akhirnya berbalik dan kembali masuk ke dalam keramaian bar, kembali menjadi pria yang tak tersentuh.
Tara menyesap wiski pemberian Julian. Rasanya sangat halus, membakar tenggorokannya dengan kehangatan yang perlahan menjalar ke dadanya. Malam itu, di sudut gelap sebuah bar pesisir yang riuh, es di antara mereka perlahan mulai mencair, menyisakan genangan bahaya yang belum siap mereka hadapi.