Cahaya matahari yang pucat mengintip dari balik celah tirai, jatuh tepat di atas wajah Tara. Ia mengerjap perlahan, menyadari bahwa suara gemuruh angin dan petir yang menakutkan semalam telah berganti dengan kicauan burung camar dan deburan ombak yang ritmis. Badai telah berlalu.
Tara menggeliat di atas sofa. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman, jauh dari rasa beku yang nyaris membunuhnya semalam. Saat ia menarik napas, aroma khas kayu pinus, ozon, dan musk maskulin langsung memenuhi paru-parunya. Matanya terbuka lebar. Ia menunduk dan melihat selimut tebal ekstra yang semalam diselimutkan Julian dengan kasar ke bahunya.
Selimut itu beraroma Julian. Aroma yang begitu familiar, seolah melemparkan Tara kembali ke masa sepuluh tahun lalu, ke dalam pelukan pria itu di kamar kos kecil mereka setiap kali hujan turun di Jakarta.
Tara memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa sesak yang tiba-tiba mengimpit dadanya. Kalimat terakhir Julian sebelum pergi semalam kembali menggema di kepalanya bagai lonceng gereja yang memekakkan telinga.
Malam ini... hanya membuktikan bahwa aku tidak sekejam dirimu.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menyingkirkan selimut itu, dan bangkit duduk. Kepalanya sudah tidak lagi berdenyut, namun kelelahan emosionalnya terasa dua kali lipat lebih berat. Ia baru menyadari betapa parahnya kerusakan yang ia tinggalkan pada diri Julian. Pria itu menolongnya, bukan karena sisa-sisa cinta, melainkan untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia adalah pria yang lebih baik dari wanita yang pernah mengkhianatinya.
Ketukan keras di pintu depan membuyarkan lamunannya.
Tara mengerutkan kening. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, mengencangkan sabuk mantel wolnya, dan melangkah menuju pintu. Ketika ia membukanya, alih-alih sosok jangkung Julian dengan wajah sinisnya, ia mendapati seorang pria paruh baya bertopi usang dan memegang kotak perkakas.
"Pagi, Mbak," sapa pria itu dengan senyum ramah, memperlihatkan deretan giginya yang tidak lagi utuh. "Saya Yanto, tukang kayu dan teknisi listrik di desa ini. Mas Julian tadi pagi-pagi sekali gedor rumah saya, minta saya ke sini buat ganti pemanas air di vila Mbak yang korslet semalam."
Tara tertegun sejenak. "Julian yang menyuruh Bapak?"
"Iya, Mbak. Kata Mas Julian urgen, takut penghuni vilanya kedinginan lagi kalau malam. Padahal saya bilang bisa agak siangan, soalnya jalanan masih banyak ranting pohon patah, tapi Mas Julian maksa dan sudah bayar lunas ongkos kerjanya di depan," Pak Yanto tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Mas Julian memang begitu orangnya, kelihatannya saja kaku dan galak, padahal hatinya paling peduli sama orang lain. Boleh saya masuk, Mbak?"
"Oh, silakan, Pak. Masuk saja. Kamar mandinya ada di sebelah kiri," ucap Tara buru-buru, memberi jalan.
Sambil memperhatikan Pak Yanto bekerja, Tara bersandar di meja dapur. Matanya tertuju pada jendela yang menghadap langsung ke arah The Driftwood. Pria itu bahkan tidak membiarkannya membayar ongkos perbaikan. Julian memastikan pemanas airnya menyala, memastikan ia tidak kedinginan, namun di saat yang sama memastikan jarak di antara mereka tetap terbentang luas bagai samudra.
Satu jam kemudian, Pak Yanto pamit setelah memastikan air panas mengalir deras dari pancuran. Setelah mandi air panas yang luar biasa menyegarkan dan mengganti pakaiannya dengan sweter turtleneck hitam dan celana jeans, Tara menatap bayangannya di cermin. Kulitnya sudah tidak sepucat kemarin, namun matanya masih memancarkan keraguan.
Ia harus berterima kasih. Egonya boleh saja besar, tapi ia bukan manusia yang tidak tahu tata krama. Mengabaikan kebaikan Julian sama saja dengan membenarkan tuduhan pria itu bahwa ia adalah wanita egois yang tidak peduli pada orang lain.
Dengan langkah mantap yang sedikit dipaksakan, Tara keluar dari vila dan berjalan menyusuri jalan setapak berkerikil menuju bar.
Residu badai semalam terlihat jelas. Banyak ranting pohon pinus yang patah berserakan, dan beberapa kursi kayu di beranda luar The Driftwood terguling. Di sanalah ia menemukan Julian.
Pria itu sedang sibuk memindahkan kursi-kursi yang terguling dan menyapu dedaunan basah dari dek kayu. Ia mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu gelap yang bagian punggungnya sudah basah oleh keringat, mencetak jelas otot-otot punggungnya yang bergerak seirama dengan ayunan sapu. Udara pagi pesisir masih cukup dingin, tapi Julian tampaknya tidak peduli.
Tara menghentikan langkahnya di ujung tangga kayu, ragu untuk memanggil. Namun, derit papan kayu di bawah sepatunya sudah mengkhianatinya.
Julian menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, menyandarkan sapu di tangannya pada pagar kayu. Matanya yang gelap menatap Tara dengan intensitas yang sama seperti kemarin, meski kali ini ada lapisan kelelahan yang samar di bawah sana.
"Vilamu rubuh?" tembak Julian langsung tanpa salam, nada suaranya datar.
"Tidak," jawab Tara, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Ia menaiki beberapa anak tangga hingga kini berdiri di dek yang sama dengan pria itu. "Pemanas airnya sudah menyala. Pak Yanto baru saja pulang. Aku... aku datang untuk mengucapkan terima kasih. Dan untuk mengganti uang perbaikan yang kau bayarkan padanya."
Tara merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan menyodorkannya ke arah Julian.
Julian menatap uang itu sejenak, lalu mengangkat pandangannya ke wajah Tara. Ia sama sekali tidak bergerak untuk mengambilnya.
"Simpan uangmu, Tara. Anggap saja itu kompensasi karena pemilik vilamu terlalu pelit untuk menyewa tukang listrik yang benar," tolak Julian dingin. Ia berbalik, mengambil sapunya kembali.
"Aku tidak bisa menerima kebaikanmu begitu saja, Julian. Terutama setelah... setelah pertengkaran kita semalam," Tara bersikeras, melangkah maju dan meletakkan uang tersebut di atas meja kayu terdekat yang sudah ditegakkan Julian. "Aku akan membayarnya. Titik."
Julian menghela napas kasar. Ia melempar sapunya ke lantai dengan suara berdebum yang cukup keras, membuat Tara sedikit tersentak. Pria itu berjalan menghampiri meja, menumpukan kedua tangannya di tepi meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Tara. Jarak mereka kini menyusut drastis.
"Kau pikir ini tentang uang?" suara Julian merendah, berat, dan bergetar karena emosi yang ditahan. "Kau pikir dengan melemparkan beberapa lembar uang di atasku, kau bisa membersihkan rasa bersalahmu karena sudah membuatku menembus badai semalam untuk memastikan kau tidak mati kedinginan?"
"Lalu aku harus bagaimana, Julian?!" Tara balas menatapnya, pertahanannya akhirnya retak. Matanya memanas. "Aku sudah berterima kasih! Aku sudah mengakui bahwa semalam aku butuh bantuanmu! Apa lagi yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku berlutut dan memohon ampun untuk kejadian sepuluh tahun lalu? Apa itu yang akan membuatmu puas?"
Udara di sekitar mereka mendadak membeku. Suara deburan ombak di latar belakang seolah lenyap, menyisakan hanya suara napas mereka yang sama-sama memburu.
Julian menatap mata Tara lekat-lekat. Rahangnya mengeras. Ia melihat genangan air mata yang tertahan di pelupuk mata wanita itu—wanita yang selalu terlihat kuat, wanita yang selalu memiliki rencana, kini terlihat begitu rapuh dan putus asa.
Perlahan, Julian menegakkan tubuhnya, mengusap wajahnya dengan tangan kasar. Kemarahannya menguap, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih kelam dan menyedihkan. Keputusasaan.
"Aku tidak ingin kau memohon ampun, Tara," ucap Julian pelan, suaranya kini terdengar sangat lelah. Ia menatap ke arah laut yang biru, menghindari mata wanita itu. "Aku hanya ingin... aku ingin berhenti peduli padamu."
Kata-kata itu menghantam Tara lebih keras daripada jika Julian menamparnya.
"Semalam, ketika lampu vilamu mati di tengah badai," Julian melanjutkan, matanya masih terpaku pada garis cakrawala. "Otakku berteriak untuk membiarkanmu saja. Kau pantas mendapatkannya. Kau pantas merasakan dinginnya ditinggalkan sendirian. Tapi tubuhku bereaksi lebih cepat dari logikaku. Sebelum aku sadar, aku sudah menyambar jas hujan dan kotak peralatanku."
Julian menoleh, menatap lurus ke kedalaman mata Tara. Sorot matanya memancarkan rasa sakit yang tak terlukiskan.
"Kau tahu betapa menyedihkannya itu?" kekeh Julian sinis pada dirinya sendiri. "Sepuluh tahun kau pergi, sepuluh tahun aku berusaha membangun hidupku kembali dan membencimu. Tapi saat melihatmu kedinginan, insting utamaku tetaplah melindungimu." Pria itu menggeleng pelan. "Kebiasaan lama memang sangat sulit mati."
Air mata yang sejak tadi ditahan Tara akhirnya lolos, menetes mengaliri pipinya yang hangat. Ia ingin menyentuh lengan pria itu, ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh, namun tangannya hanya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia tidak berhak memberikan sentuhan penghiburan setelah ia menjadi penyebab utama luka tersebut.
"Julian... aku..." suara Tara tercekat, tenggorokannya terasa seperti disumbat pasir.
"Ambil uangmu, Tara," potong Julian final, nada suaranya kembali dingin dan tertutup. Ia membalikkan badan, berjalan menuju pintu bar. "Dan tolong, mulai sekarang, menyingkirlah dari jalanku. Aku butuh waktu untuk membunuh sisa-sisa kebiasaan sialan itu. Jangan membuatnya semakin sulit dengan terus muncul di hadapanku."
Pintu kayu berat itu tertutup rapat, meninggalkan bunyi genta angin yang bergemerincing pelan.
Tara berdiri mematung di atas dek kayu, dibalut sinar matahari pagi yang tak mampu menghangatkan hatinya. Di bawah sana, di sudut terdalam hatinya yang hancur, ia menyadari satu kebenaran yang menakutkan. Sama seperti Julian, insting utamanya saat terluka parah di Jakarta adalah melarikan diri untuk mencari tempat bernaung. Dan alam bawah sadarnya secara otomatis membawanya kembali ke satu-satunya pria yang pernah benar-benar membuatnya merasa aman.
Mereka berdua sama-sama tersandera oleh masa lalu, dan tiga puluh hari ke depan tidak akan cukup untuk mengurai benang kusut di antara mereka.