Dua kilometer berjalan kaki menyusuri jalanan pesisir yang menanjak dan berangin sukses membuat betis Tara terasa kebas. Namun, kafe kecil di dekat pelabuhan yang direkomendasikan Julian setidaknya sepadan dengan usahanya. Secangkir Americano panas dengan biji kopi lokal yang disangrai sempurna perlahan mengusir sisa pening di kepalanya.
Tara duduk di sudut kafe selama berjam-jam, menatap layar laptopnya yang menyala redup. Ia berniat memeriksa surel atau menyelesaikan draf rilis pers yang ia tinggalkan sebelum mengambil cuti mendadak. Namun, kursor di layar hanya berkedip mengejeknya. Pikirannya terus kembali pada kejadian pagi tadi. Pada sorot mata Julian yang setajam belati, dan pada kata-kata pria itu yang tanpa ampun menguliti sisa-sisa harga dirinya.
Kau sangat ahli mengurus dirimu sendiri, Tara. Sampai-sampai kau tidak peduli siapa yang harus kau injak...
Tara menutup laptopnya dengan kasar, mengundang tatapan terkejut dari beberapa nelayan lokal di meja seberang. Sialan. Julian benar. Kesuksesan yang ia raih di Jakarta memang dibangun di atas banyak pengorbanan—waktu, teman, dan ya, cinta. Ia telah meyakinkan dirinya sendiri selama sepuluh tahun bahwa meninggalkan Julian adalah keputusan rasional yang harus dilakukan demi masa depannya. Rian, tunangannya yang mapan dan memiliki koneksi kuat, adalah bukti dari rasionalitas itu.
Lalu, apa hasilnya sekarang? Ia berakhir di sebuah desa antah-berantah, sendirian, mengais sisa kewarasannya yang dihancurkan oleh pria rasional pilihannya sendiri.
Menjelang sore, langit pesisir yang awalnya biru cerah berubah menjadi kelabu pekat dalam hitungan menit. Awan kumulonimbus bergulung rendah di atas lautan, membawa aroma basah ozon dan angin yang menderu ganas. Badai pesisir datang tanpa peringatan.
Tara mempercepat langkahnya, setengah berlari di atas jalanan berkerikil saat rintik hujan pertama yang sedingin es mulai turun. Ia tiba di beranda vilanya tepat ketika langit seolah robek dan menumpahkan hujan badai yang luar biasa lebat. Angin menderu, menghantam jendela kaca besar dengan suara yang mengerikan.
Ia mengunci pintu rapat-rapat, menggigil kedinginan. Baju rajutnya sedikit basah di bagian bahu, menempel pada kulitnya. Mengingat cuaca yang mendadak beku ini, satu-satunya hal yang ia inginkan hanyalah mandi air panas untuk merilekskan otot-ototnya yang tegang, lalu membungkus diri di bawah selimut berlapis.
Tara berjalan ke kamar mandi, memutar keran pancuran ke sisi warna merah, dan menunggu. Satu menit. Tiga menit. Air yang keluar tetap sedingin es, nyaris membuat tangannya mati rasa. Ia mendengus kesal, keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit lehernya, dan mulai mencari kotak sekering atau sakelar pemanas air di sekitar dapur kecil.
Di sudut dinding kayu yang lembap, ia menemukan kotak panel listrik tua yang terlihat seperti peninggalan era sembilan puluhan. Ada satu tuas dengan label pudar bertuliskan Heater.
"Hanya perlu dihidupkan, bukan?" gumam Tara pada dirinya sendiri.
Dengan tangan yang masih sedikit basah, ia mendorong tuas tuas itu ke atas.
CTAK.
Kilatan percikan api kecil menyambar dari dalam panel, disusul suara letupan pelan. Dalam sekejap mata, seluruh lampu di vila itu mati total. Suara dengungan kulkas tua di dapur berhenti. Hening.
Kini, satu-satunya sumber cahaya hanyalah kilatan petir yang sesekali menyambar dari luar jendela, menerangi ruangan yang perlahan mulai terasa seperti lemari es.
"Kau pasti bercanda," desis Tara tak percaya. Ia menekan-nekan sakelar lampu di dinding, namun nihil. Ia baru saja membuat seluruh vilanya mati listrik di tengah badai.
Kata-kata Julian pagi tadi kembali menggema di kepalanya bagai kaset rusak. Jangan pikir aku akan membantumu saat pemanas air di vilamu mati...
Egonya meronta. Tidak, ia tidak akan merangkak ke bar sebelah dalam keadaan gelap dan kedinginan untuk mengemis bantuan pada Julian. Lebih baik ia mati membeku di sini malam ini daripada harus melihat senyum meremehkan pria itu.
Tara meraba-raba dalam gelap, menabrak ujung meja kopi hingga lututnya memar, sebelum akhirnya berhasil menemukan ponselnya di dalam tas. Baterainya tinggal belasan persen, namun senternya cukup untuk membantunya mencari selimut ekstra. Ia menggulung dirinya di atas sofa, memakai mantel wolnya di atas sweater, dan memeluk lututnya erat-erat. Suara badai di luar semakin mengganas, membuat kerangka kayu vila itu berderit menakutkan.
Dua jam berlalu. Udara dingin mulai meresap menembus lapisan pakaiannya, membuat giginya bergemeretak tak terkendali. Baterai ponselnya mati. Kegelapan total menyergapnya, membawa serta monster-monster kesepian dan rasa takut yang sejak kemarin berusaha ia tekan. Ia benar-benar sendirian.
Di tengah suara deru angin, sayup-sayup Tara mendengar suara ketukan keras.
Awalnya ia pikir itu hanya ranting pohon yang menghantam dinding luar. Namun ketukan itu terdengar lagi, lebih keras, lebih menuntut, disertai suara berat yang meneriakkan namanya dari balik pintu utama.
"Tara! Buka pintunya!"
Tara tersentak. Itu suara Julian.
Dengan tubuh kaku karena kedinginan, ia bangkit dari sofa, meraba-raba dinding menuju pintu depan. Tangannya yang gemetar kesulitan memutar kunci ganda. Begitu pintu terbuka, angin badai menerobos masuk, membawa serta percikan air hujan yang menerpa wajahnya.
Julian berdiri di depan pintu. Pria itu mengenakan jas hujan tebal berwarna kuning gelap yang basah kuyup, menenteng sebuah kotak perkakas logam di satu tangan dan senter berkekuatan tinggi di tangan lainnya. Cahaya senter itu menyilaukan mata Tara.
"Singkirkan cahaya itu dari wajahku," rutuk Tara sambil menyipitkan mata, menutupi wajahnya dengan punggung tangan.
Julian menurunkan arah senternya ke lantai. Ia menatap Tara yang menggigil hebat, bibirnya sedikit membiru, dan rambutnya berantakan. Rahang pria itu mengeras, terlihat jelas bahwa ia sedang menahan rentetan kalimat makian yang sudah berada di ujung lidah.
"Minggir," perintah Julian kasar. Tanpa menunggu persetujuan, pria itu menerobos masuk, bahu lebarnya menyenggol bahu Tara yang gemetar. Ia menggunakan kakinya untuk menutup pintu dengan keras, memblokir angin badai di luar.
"Aku tidak mengundangmu masuk," ucap Tara defensif, menyilangkan tangan di depan d**a untuk menahan gigilannya.
"Kau membuat seluruh aliran listrik di vilamu korslet," sahut Julian tajam, menyalakan senternya dan mengarahkannya langsung ke kotak panel di dapur. "Sistem listrik vila tua ini terhubung dengan gardu kecil yang membagi daya ke barku. Ketika kau melakukan hal bodoh pada panelmu, lampu di dapur barku ikut berkedip. Aku tidak butuh gelar sarjana untuk tahu bahwa nona kota di sebelah baru saja mengacau."
Wajah Tara memanas di tengah udara yang membeku. Gengsinya terluka parah. "Aku hanya mencoba menyalakan pemanas air."
"Pemanas air itu sudah rusak sejak bulan lalu, Tara. Pemilik vila sialan ini belum sempat menggantinya, dan kau memaksa tuasnya naik saat tanganmu basah." Julian melepaskan jas hujannya, melemparnya ke atas kursi kayu, lalu berjalan mendekati kotak panel. "Kau beruntung tidak tersengat listrik dan mati terpanggang di tempat."
"Aku tidak tahu kalau itu rusak!" Tara membalas, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi dan kedinginan. "Tidak ada catatan apa pun!"
"Karena tempat ini bukan hotel bintang lima yang biasa kau tempati!" suara Julian menggelegar, berbalik menatap Tara dengan sorot mata yang menyala di tengah temaram cahaya senter. Pria itu menghela napas kasar, memijat pangkal hidungnya. "Duduklah di sofa sebelum kau pingsan dan membuatku semakin repot."
Tara ingin mendebatnya, tapi kakinya benar-benar lemas. Ia menurut, menjatuhkan dirinya ke sofa dan menarik selimutnya kembali.
Dalam keheningan yang hanya disela oleh suara gemuruh badai di luar, Tara memperhatikan bayangan punggung Julian yang diterangi cahaya senter. Pria itu bekerja dengan cepat dan efisien. Otot bahu dan punggungnya bergerak teratur saat ia membuka kotak panel, memeriksa kabel-kabel tua dengan obengnya. Ada sesuatu yang sangat maskulin dan menenangkan dari cara pria itu mengambil alih situasi tanpa ragu sedikit pun. Sesuatu yang diam-diam membuat d**a Tara berdesir nyeri karena kerinduan yang seharusnya tidak boleh ada.
"Kenapa kau peduli?" tanya Tara tiba-tiba, suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan.
Gerakan tangan Julian terhenti sejenak. Pria itu tidak menoleh. "Sudah kubilang. Listrikmu memengaruhi listrik di tempatku."
"Bukan itu maksudku." Tara menelan ludah. "Tadi pagi kau bilang tidak akan membantuku. Kau sangat marah padaku. Jadi kenapa kau datang menembus badai hanya untuk mengecek kondisiku?"
Julian memutar obengnya dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari sebelumnya.
"Karena aku bukan kau, Tara," jawab Julian pelan, sangat pelan, namun setiap silabelnya menghujam tepat ke ulu hati wanita itu. "Aku tidak membiarkan orang yang... aku tidak membiarkan orang lain kedinginan sendirian di tengah badai hanya demi egoku."
Kalimat itu menampar Tara lebih keras daripada badai di luar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan air mata yang tiba-tiba mendesak keluar. Ya, ini adalah karmanya. Di hadapannya berdiri pria yang paling berhak membencinya, namun pria itu jugalah yang memastikan ia tidak membeku dalam kegelapan.
KLIK.
Lampu vila tiba-tiba menyala terang, bersamaan dengan suara dengungan kulkas yang kembali hidup. Cahaya kuning yang hangat seketika mengusir kegelapan.
Julian menutup kotak panel itu, memasukkan peralatannya kembali ke dalam kotak logam. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya malam itu, matanya melembut sedikit saat melihat betapa rapuhnya Tara yang meringkuk di atas sofa. Mantel wol tebal wanita itu tidak cukup untuk menghentikan gigilannya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Julian berjalan mendekat. Tara menahan napas saat pria itu menjulang di hadapannya. Aroma air hujan, ozon, dan keringat maskulin menguar kuat dari tubuhnya. Julian membungkuk, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal. Jantung Tara berdegup liar. Ia bisa melihat setiap helai bulu mata Julian, rahang kasarnya, dan sorot matanya yang tidak lagi sedingin tadi pagi.
Namun, alih-alih mengatakan sesuatu yang emosional, Julian hanya menarik tepian selimut ekstra yang terselip di bawah kaki Tara, lalu menyelimutkannya dengan kasar hingga menutupi bahu wanita itu. Punggung tangannya tanpa sengaja menyentuh leher Tara yang dingin, dan sentuhan singkat itu mengirimkan sengatan listrik imajiner yang membuat napas keduanya sempat tercekat.
Julian segera menarik tangannya, berdeham pelan, dan menegakkan tubuh.
"Jangan sentuh pemanas air itu lagi," kata Julian dengan suara yang kembali diatur sedatar mungkin. Ia mengambil jas hujannya. "Panaskan air dengan kompor gas jika kau ingin mandi, atau buat teh panas. Besok pagi aku akan menyuruh tukang memperbaiki pemanas sialan itu."
"Terima kasih," bisik Tara, suaranya nyaris tak terdengar. Gengsinya telah hancur sepenuhnya malam ini.
Julian menghentikan langkahnya di depan pintu. Ia menoleh dari atas bahu, menatap Tara lekat-lekat.
"Jangan berterima kasih, Tara. Aku tidak melakukannya untukmu," ucap Julian, meski matanya menyorotkan sesuatu yang jauh lebih rumit dan menyakitkan. "Malam ini... hanya membuktikan bahwa aku tidak sekejam dirimu."
Pintu kayu itu ditutup dengan suara debuman pelan, meninggalkan Tara sendirian dalam kehangatan lampu yang baru saja kembali. Namun, dingin di hatinya justru terasa semakin menusuk.